Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
S2 - Meminta Restu


__ADS_3

Hari ini Noah dan Nial sudah dalam perjalanan menemui keluarganya Maudy, dimana Noah mengendarai mobilnya.


Mereka hanya berdua dan untuk Lea sendiri memang tidak ikut karena Noah menolak Lea untuk ikut apalagi saat ini Lea tengah hamil, Noah hanya takut terjadi sesuatu nantinya jika Lea ikut.


Awalnya Lea tetap kekeh ingin ikut, tapi setelah dibujuk oleh semua orang akhirnya Lea pun memutuskan tidak ikut dan hanya mengizinkan Noah pergi selama 2 hari saja dan itu artinya besok ia sudah harus di rumah agar nyonya besarnya tidak marah.


Bahkan daddy Albert dan mommy Emma sampai ke rumah ayah Alan untuk membujuk Lea dan bukan hanya daddy Albert dan mommy Emma, tapi juga ada Tyas yang ikut membujuk Lea.


Mungkin karena kalah pasukan tadi akhirnya Lea memperbolehkan Noah pergi dengan syarat tadi.


"Sejak kapan kamu menyadari kalau kamu suka sama Maudy?" tanya Noah.


"Mungkin sejak Maudy gak ada kabar, Nial benar-benar merasa frustasi mungkin sejak itu Nial sadar jika Nial menyukai Maudy," ucap Nial.


"Jika nanti kamu menikah, jangan seperti kakak," ucap Noah.


"Maksud kak Noah?" tanya Nial.


"Kakak dulu sangat cuek pada kakakmu, kakak dulu terkesan terpaksa dengan pernikahan kakak, tapi itu semua gak bener. Kamu tau kan gimana ceritanya kakak meminta kakak kamu secara langsung sama ayah, yang jelas kakak sayang banget sama kakak kamu. Tapi, karena sikap cuek dan datar kakak jadi banyak yang mengira jika kakak terpaksa dalam pernikahan kakak," ucap Noah.


"Nial inget banget dulu kakak pernah dikerjain ayah kan waktu itu ayah bilang suruh kakak jemput kak Lea di bandara, tali ternyata kakak di suruh jemput uncle Ryan," ucap Nial.


"Iya, kakak inget itu," ucap Noah.


"Tapi,u sekarang Nial lihat kak Lea sangat bahagia sama kakak, apalagi sebentar lagi kan kak Noah sama kak Lea bakal punya baby," ucap Nial.


"Kakak gak mau sok ngasih nasehat atau apapun sama kamu karena pernikahan kakak juga masih baru, tapi kakak cuma mau bilang perlakuan Maudy selayaknya seorang perempuan yang kamu sayangi kayak bunda, kakak sama kembaran kamu," ucap Noah.


"Siap kak, Nial akan berusaha," ucap Nial dan diangguki Noah.


Beberapa jam kemudian, mereka pun sampai di tempat tujuan mereka. Noah memarkirkan mobilnya di parkiran milter karena memang jalanan menuju kediaman keluarga Maudy cukup sempit sehingga mobil mereka tidak kan bisa masuk dan yang bisa hanya sepeda motor saja.


"Gapapakan kak jalan kaki," ucap Nial.


"Gapapalah, kamu lupa kakak ini juga tentara kalau masalah jalan kaki sih udah makanan sehari-hari," ucap Noah.


"Letnan Noah, sersan Nial," panggil seorang pria.


Noah dan Nial pun menatap pria tersebut, "Komandan Ade," ucap Nial.


"Senang sekali saya bisa bertemu dengan letnan Noah dan sersan Nial," ucap komandan Ade.


"Bagaimana kondisi anda?" tanya Nial.


"Saya baik-baik saja sersan Nial," ucap komandan Ade.


"Saya dengar anda memutuskan untuk pensiun," ucap Nial.


"Iya, mungkin saya akan hidup di kampung halaman saya dan menikmati masa tua saya, saya sudah cukup bekerja dan yang saya juga sudah cukup untuk menghidupi saya sendiri," ucap komandan Ade.


"Komandan Ade hanya perlu menunggu waktu 2 tahun," ucap Nial.


"Iya, saya akan menunggu selama itu, saya sangat mencintai istri saya bagaimanapun perbuatannya," ucap komandan Ade.


"Saya mengerti itu," ucap Nial.


"Apa benar anda adalah letnan Noah?" tanya komandan Ade.


"Iya," ucap Noah.


"Senang bertemu dengan anda, saya tidak pernah bertemu secara langsung dengan letnan Noah dan sekarang saya bisa bertemu dengan anda rasanya seperti mimpi. Banyak rekan-rekan saya di dunia militer yang berharap mendapatkan menantu seperti anda, tapi ternyata yang beruntung adalah komandan Alan," ucap komandan Ade.


"Anda dan rekan-rekan anda terlalu berlebihan mengenai hal itu," ucap Noah.


"Letnan Noah adalah salah satu prajurit yang memiliki banyak prestasi bukan hanya itu, tapi rupa letnan Noah juga yang sangat tampan jadi wajar jika banyak yang berharap letnan Noah menjadi menantu mereka," ucap komandan Ade dan Noah hanya menganggukkan kepalanya.


"Kalau boleh tau ada apa ya sersan Nial dan letnan Noah ke sini? apa ada keperluan di sini?" tanya komandan Ade.

__ADS_1


"Iya, kita ada kepercayaan dan mungkin sekarang kita harus pergi dan menyelesaikan keperluan itu," ucap Noah.


"Oh iya, silahkan, tapi maaf saya tidak bisa menemani karena saya ada urusan," ucap komandan Ade.


"Iya, tidak apa-apa kalau begitu kami pergi dulu," pamit Noah.


Noah dan Nial pun berjalan menuju rumah keluarga Maudy, mereka hari ini menggunakan kemeja sehingga ketampanan mereka berdua semakin terpancar bahkan selama perjalanan tersebut banyak para wanita yang menatap kagum pada Nial dan Noah.


"Ini rumahnya kak," ucap Nial, setelah sampai di depan rumah sederhana milik Maudy.


Noah menatap Nial seolah bertanya apa benar ini rumahnya dan untungnya Nial paham maksud tatapan Noah, "Iya, ini rumahnya Maudy, mungkin memang sederhana. Tapi, Nial menyukai Maudy dan tidak melihat bagaimana latar belakang keluarga Maudy," ucap Nial.


"Kakak paham, kakak juga tidak memandang rendah latar belakang keluarga Maudy, kakak hanya bertanya apakah benar takutnya nanti kita salah rumah," ucap Noah.


"Tidak kak, kita sudah di rumah yang benar," ucap Nial.


"Yaudah, ketuk pintunya," ucap Noah dan diangguki Nial.


Nial pun mengetuk pintu rumah tersebut dan beberapa saat kemudian pintu rumah tersebut terbuka sehingga terlihat seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih bahkan kantung mata yang sudah terlihat.


"Sersan Nial," ucap pak Ruslan yang terkejut melihat Nial di hadapannya.


"Bagaimana keadaan pak Ruslan?" tanya Nial.


"Baik, ada apa ya sersan Nial dan ...," ucapan pak Ruslan terhenti dan menatap Noah.


"Ini kakak ipar saya pak namanya kak Noah," ucap Nial dan diangguki pak Ruslan.


"Silahkan masuk terlebih dahulu, kita bicarakan maksud sersan Nial ke sini," ucap pak Ruslan.


Noah dan Nial pun duduk di bawah dengan menggunakan karpet karena memang tidak ada kursi di sana.


"Ini, silahkan di minum. Maaf saya hanya bisa memberikan air mineral dan tidak bisa menyajikan cemilan," ucap pak Ruslan.


"Tidak apa-apa pak, kita di sini juga hanya ingin mengobrol saja," ucap Noah.


"Iya," ucap Noah.


"Berarti anda ini letnan Noah," ucap pak Ruslan dan diangguki Noah.


"Senang sekali bisa bertemu langsung dengan letnan Noah," ucap pak Ruslan.


"Tidak, justru saya yang senang bis bertemu dengan anda," ucap Noah.


"Kalua boleh tau ada apa ya sersan Nial dan letnan Noah ke sini?" tanya pak Ruslan.


"Baik, jadi di sini saya ingin meminta izin pada pak Ruslan untuk meminang putri bapak, saya berniat menjadikan Maudy istri saya dan tentunya saya harus mengatakan niat baik saya pada pak Ruslan," ucap Nial.


Pak Ruslan sendiri terkejut dan menatap tidak percaya ke arah Nial, "Maksud sersan Nial di sini sersan Nial meminta restu saya untuk menikah dengan anak saya Maudy?" tanya pak Ruslan.


"Iya pak, saya serius. Saya akan membahagiakan Maudy, saya janji itu," ucap Nial.


"Maaf, saya tidak bisa memberikan restu pada sersan Nial," ucap pak Ruslan.


"Kenapa pak?" tanya Nial.


"Saya rasa sersan Nial mampu mendapatkan yang lebih baik dan tentunya bukan Maudy perempuan itu," ucap pak Ruslan.


"Tapi, pak. Saya serius dengan Maudy, saya menyukai Maudy dan menginginkan Maudy menjadi istri saya," ucap Nial.


"Saya tetap tidak merestui sersan Nial dan Maudy," ucap pak Ruslan.


"Kenapa? apa karena latar belakang keluarga?" tanya Nial.


Pak Ruslan diam karena memang itulah alasan utamanya menolak Nial karena tidak ingin Nial malu memiliki hubungan dengan Maudy yang berasal dari keluarga miskin dan berbeda dengan Nial yang berasal dari keluarga terpandang di dunia militer.


"Keluarga kami tidak pernah melihat seseorang dari latar belakangnya pak, jika memang Nial menyukai putri bapak maka kami sebagai keluarga hanya mendukung karena kami tau itu yang terbaik buat Nial. Keluarga kami juga tidak mempermasalahkan mengenai kondisi keluarga Maudy," ucap Noah.

__ADS_1


"Tapi, saya rasa Maudy tidak pantas bersama dengan sersan Nial," ucap pak Ruslan.


"Kita hanya manusia pak, tidak pantas memberikan penilaian seperti itu. Pantas tidaknya seseorang itu hanya tuhan yang tau, yang terpenting di sini Nial menyukai Maudy dan Maudy pun sudah memberikan kesempatan untuk Nial," ucap Noah.


"Maudy setuju?" tanya pak Ruslan.


"Iya pak, Maudy setuju. Tapi, meskipun begitu Maudy juga seperti pak Ruslan yang menolak saya dengan alasan yang sama," ucap Nial.


"Saya hanya takut sersan Nial menyesal karena salah memilih istri nantinya," ucap pak Ruslan.


"Saya tidak pernah berpikir mengenai hal itu, saya menyukai Maudy dan berjanji akan menjaga dan mencintainya sampai nanti," ucap Nial.


"Saya tetap tidak bisa merestui sersan Nial dengan Maudy," ucap pak Ruslan.


"Bu Nanda sudah di hukum dan Freya juga sudah di pindahkan ke luar negeri, saya menyukai Maudy benar-benar dari hati dan tulus. Kalau memang pak Ruslan tidak percaya, pak Ruslan bisa menguji saya dan membuktikannya sendiri," ucap Nial.


Pak Ruslan diam tidak menjawab perkataan Nial, "Kalau begitu berikan saya berikan syarat pada sersan Nial Jiak ingin menikah dengan Maudy yaitu berikan uang 100 juta maka saya akan merestui sersan Nial dan Maudy," ucap pak Ruslan.


"Pak Ruslan menguji saya dengan uang," ucap Nial, ia tidak percaya jika pak Ruslan justru meminta uang padanya bukankah itu artinya pak Ruslan menukarkan Maudy dengan uang 100 juta.


"Iya, saya hanya meminta uang 100 juta dan setelah itu sersan Nial bisa menikahi Maudy," ucap pak Ruslan.


Nial menatap Noah, "Bagaimana? apa kau mau tetap menikahi Maudy?" tanya Noah.


"Iya kak," ucap Nial.


"Kalau memang begitu syarat yang anda inginkan akan segera Nial penuhi, tapi kamu akan datang Minggu depan dengan melamar Maudy secara resmi dan kamu akan membawa keluarga kami, oh dan juga uang 100 juta sesuai dengan permintaan pak Ruslan," ucap Noah.


"Baik, saya tunggu kedatangan anda dan sekeluarga," ucap pak Ruslan.


Akhirnya obrolan mereka pun selesai, banyak hal yang mereka obrolkan, tapi Nial tetap memikirkan syarat dari pak Ruslan yang menurutnya tidak pantas diucapkan seorang ayah.


Saat mereka akan pergi tiba-tiba pintu rumah terbuka dan menampakkan seorang gadis, "Sersan Nial," ucap Caca dan Nial hanya menganggukkan kepala.


"Kakak siapa?" tanya Caca pada Noah.


Terlihat jelas jika Caca kagum pada ketampanan Noah, "Dia kakaknya sersan Nial namanya letnan Noah," ucap pak Ruslan.


"Letnan Noah, tentara juga ternyata ya. Ganteng banget letnan Noah, oh iya kenalin kak nama saya Caca, tapi kalau mau manggil adek juga gapapa kok," ucap Caca, yang bersikap centil dan genit pada Noah.


Noah hanya menatap datar dan dingin ke arah Caca, buat apa Noah tergoda pada bocah ingusan seperti Caca sedangkan di rumahnya sudah ada istrinya yang lebih menarik, cantik dan seksi tentunya apalagi karena kehamilannya yang semakin membuatnya berisi dan jauh lebih seksi dari sebelumnya.


"Kalau begitu kamu permisi pak," ucap Noah dan mereka berdua pun pergi.


"Hati-hati letnan Noah sayang!" teriak Caca.


"Gila," gumam Noah.


Nial dan Noah saat ini sudah dalam perjalanan menuju kota karena tadi bunda Rea mengatakan jika Lea menangis karena rindu dengan Noah. Tapi, untung saja urusannya sudah selesai sehingga ia bisa cepat pulang menemui sang istri yang sedang manja-manjanya.


"Kamu mikir soal syarat dari pak Ruslan?" tanya Noah.


"Iya kak, bagaimana bisa seorang ayah mengajukan syarat seperti itu, bukankah pak Ruslan seolah-olah menjual Maudy pada Nial," ucap Nial.


"Kita anggap saya begitu," ucap Noah.


"Nial semakin ingin memiliki Maudy dan menjaga Maudy kak, sepertinya selama ini hidup Maudy benar-benar buruk," ucap Nial.


"Kamu siapkan saja uangnya dan Minggu depan kamu akan melamar Maudy setelah itu barulah kalian akan secepatnya menikah dan setelah menikah ingat janjimu pada dirimu sendiri yang akan membahagiakan Maudy," ucap Noah.


"Iya kak, Nial akan selalu ingat apa yang Nial janjikan pada diri Nial," ucap Nial.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2