
Warning (21+)
*
Saat ini Kaif berada di pangkuan Rea dengan memainkan kancing baju Rea, "Re, kamu udah cocok loh," ucap kak Inez.
"Cocok? cocok apa kak?" tanya Rea.
"Cocok jadi ibu, lihat Kaif seneng gitu ada di pangkuan kamu," ucap kak Inez.
"Masa sih kak, ini mah karena emang Kaif sering main sama aku," ucap Rea.
"Eh, jangan di buka sayang," ucap Alan dan menghentikan tangan Kaif yang berusaha untuk membuka kancing Rea.
"Kamu mau minum ya sayang, kalau mau minum sini sama Bunda," ucap kak Inez dan berusaha mengambil Kaif dari pangkuan Rea.
Tapi, Kaif justru menangis saat kak Inez menggendongnya, "Mau sama aunty ya sayang, sini deh. Tapi, aunty gak punya minuman kamu, yang punya minuman kamu cuma Bunda kamu sayang," ucap Rea.
Kaif semakin gencar membuka kancing Rea bagian Kaif sudah menempel di dada Rea. Alan yang melihatnya pun segera menjauhkan Kaif dari Rea karena ia tidak rela jika Rea harus memberikannya pada Kaif, meskipun Kaif adalah keponakan Rea, tapi tetap saja Alan menginginkan Rea memberikan ASI-nya nanti pada anaknya, egois bukan.
Akhirnya Kaif mau di gendong kak Inez, "Bun Inez mau ke kamar dulu ya, kasihan Kaif biar sekalian dia tidur juga," ucap kak Inez dan diangguki Bunda Nara.
"Iya, kamu ke kamar aja lagian ini juga udah malam," ucap Bunda Nara.
Setelah kak Inez pergi beberapa saat kemudian, semua orang yang ada di sana pun mulai pergi dan masuk ke dalam kamar masing-masing karena hari memang sudah malam dan waktunya untuk tidur.
Alan dan Rea sudah berada di kamar Rea yang terbilang sederhana dengan warna yang di dominasi warna putih dan hijau, "Kamu suka warna hijau ya?" tanya Alan.
"Iya," jawab Rea, yang tengah menggunakan skincare nya.
"Kenapa?" tanya Alan.
"Maksudnya?" tanya Rea.
"Kenapa suka warna hijau?" tanya Alan.
"Hem, menurutku warna hijau itu buat aku tenang gitu apalagi kalau bangun tidur rasanya kayak seger gitu," ucap Rea.
__ADS_1
Rea tidak tahu saja jika sedari tadi Alan menahan diri agar tidak menatap Rea. Bagaimana tidak, saat ini Rea tengah memakai serum untuk bibirnya dan hal itu tentu membuat bibir Rea merah dan terlihat semakin sexy di mata Alan.
'Jangan Alan, ingat tadi Rea gak mau,' ucap Alan, dalam hati.
Rea selesai dengan kegiatan kecantikannya dan berjalan menuju kasur dan duduk di samping Alan, "Kamu setiap malam gunain alat-alat itu?" tanya Alan.
"Alat? alat apa?" tanya Rea.
"Itu alat yang tadi kamu gunain di wajah kamu?" tanya Alan.
"Oh itu, iya aku gunain setiap hari kalau aku gak pake itu nanti yang ada wajahku kusam lagi," ucap Rea.
"Setiap hari?" tanya Alan dan diangguki Rea.
"Terus waktu di kamp militer dulu juga setiap hari gunain itu?" tanya Alan dan Rea kembali menganggukkan kepalanya.
"Sayang," panggil Alan, dengan suara seraknya
"Kenapa?" tanya Rea.
"Aku boleh c**m kamu?" tanya Alan, Alan tidak peduli saat ini gairahnya benar-benar tidak dapat ia kendalikan.
"Maaf, sayang. Tapi, aku udah gak kuat," ucap Alan dan langsung m*nc**m bibir Rea yang sejak tadi sangat menggoda bagi Alan.
Alan m*nc**m Rea tanpa ada l*m*t*n hanya menempel saja, tapi Alan tidak puas dengan cepat Alan pun membuka mulutnya lalu m*l*m*t bibir Rea dan menarik Rea hingga duduk di pangkuannya. Alan benar-benar agresif padahal ini adalah kedua kalinya ia melakukannya, tapi Alan merasa seperti seorang profesional dalam b*rc**m*n.
Rea sendiri pun terkejut saat tiba-tiba Alan m*nc**mny* bahkan m*l*m*tnya apalagi saat Alan menarik tubuhnya hingga ia berada di pangkuan Alan, Rea ingin sekali melepaskan c**m*n tersebut. Tapi, Rea rasa tubuhnya menolak akan hal itu bahkan dengan beraninya tangan Rea saat ini berada di leher Alan dan Rea pun mulai membuka mulutnya dan memejamkan matanya.
Alan yang merasakan tangan Rea pada lehernya serta Rea yang mulai membuka mulutnya pun terkejut dan membuka matanya, betapa terkejutnya ia saat melihat Rea yang menutup matanya. Dalam c**m*n tersebut Alan tersenyum bahagia karena Rea membalas c**m*nny*, dengan cepat Alan kembali menutup matanya lalu mulai mengabsen setiap inci mulut Rea, dengan tangan kanan Alan yang memegang tengkuk Rea dan tangan kirinya yang memeluk pinggang Rea dengan posesif seakan-akan takut Rea pergi. Beberapa saat kemudian, Alan merasakan tepukan di bahunya dan karena Alan mengerti maksud Rea, Alan pun segera melepaskan c**m*n tersebut, tapi tidak dengan tubuh Rea yang saat ini berada di pangkuannya.
"Huh ... huh, a-aku kayak mau mati gak bisa napas tahu," ucap Rea dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Cup
Alan tidak merespon perkataan Rea dan justru kembali m*nc**m bibir Rea yang saat ini sudah menjadi candu baginya, hanya menempel tidak m*l*m*tnya seperti tadi.
Alan hanya diam dan memandangi wajah cantik istrinya itu yang tengah menghirup udara, setelah Rea lebih baik, Alan pun kembali meraup bibir Rea dan tak lupa Alan juga m*l*m*tnya bahkan Alan sampai menggigit bibir Rea dan membuat Rea terkejut lalu melepaskan c**m*n tersebut.
__ADS_1
"Kenapa di gigit kan sakit?" tanya Rea dan mengusap bibirnya.
"Maaf sayang, tadi kelepasan," ucap Alan dan mengusap bibir Rea dengan lembut.
"Di lanjut ya," ucap Alan.
"Gak mau ah, nanti di gigit lagi," ucap Rea.
"Gak akan kok," ucap Alan.
Rea bahkan belum menjawabnya Alan kembali m*nc**m Rea. Namun, kali ini Alan m*nc**mny* dengan lembut hingga Rea berhasil terbuai dan membalas c**m*n tersebut, Rea menaruh tangannya di leher Alan setelah Alan menggapai tangannya dan menaruh tangan Rea di lehernya.
Setelah di bibir Rea, Alan pun mulai berganti pada leher Rea. Alan mulai m*nc**m dan menjelajahi leher jenjang istrinya dan hal itu membuat Rea merinding bahkan Rea hanya mampu menutup matanya saat merasakan bibir Alan yang mengenai lehernya. Yang Rea tahu saat ini lehernya mulai b*s*h bahkan Rea mulai mengeluarkan suara-suara yang tidak harusnya Rea keluarkan.
Alan benar-benar frustasi karena leher jenjang istrinya itu, dengan gemas Alan menggigit leher Rea dan membuat Rea mendorong pelan kepala Alan, "kok di gigit lagi sih kan sakit?" tanya Rea.
"Maaf sayang, udah ayo lanjut," ucap Alan.
"Gak, aku takut nanti di gigit lagi sama kamu," ucap Rea.
Alan tidak mendengarkan perkataan Rea dan justru menarik Rea untuk mendekat lalu Alan m*nc**m kembali bibir istrinya itu dan tidak mempedulikan Rea yang berusaha untuk melepaskan c**m*n tersebut, tapi usaha Alan tidak sia-sia karena beberapa saat kemudian, Rea membalas c**m*nny*. Dengan cekatan Alan melepaskan satu persatu kancing baju Rea tanpa melepaskan c**m*nny* hingga baju yang Rea ke akan terlepas dan saat ini hanya menyisakan pakaian dalam milik Rea. Setelah berhasil melepaskan baju Rea, Alan langsung memeluk Rea dan tentunya tetap m*nc**m Rea.
C**m*n tersebut semakin panas di saat Alan kembali menjelajahi leher jenjang istrinya dan mulai menyentuh area d*d* Rea, bahkan Alan semakin bergairah saat mendengar d*s*h*n Rea yang tak terkendalikan.
"Engh."
Setelah mendengar itu, Alan pun mulai melepaskan kaos yang ia gunakan dan saat ini ia sudah bertelanjang dada sehingga memperlihatkan tubuh kekarnya. Rea yang melihat itu langsung menoleh ke samping karena merasa malu, Rea pun sadar jika ia sudah tidak menggunakan bajunya dengan cepat Rea mengambil bajunya. Namun, ia kalah cepat karena Alan melemparkan bajunya ke lantai dan memeluk Rea.
Rea merasakan tubuhnya yang menempel sempurna pada tubuh atas Alan, beberapa saat kemudian Alan kembali m*nc**m Rea. Namun, kali ini Alan m*nc**m Rea pada bagian telinga dan tentunya hal itu membuat Rea terkejut hingga mengeluarkan d*s*h*n yang cukup kencang dan memegang pundak Alan dengan erat.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1
Jadi ini kata-katanya ada yang di sensor ya soalnya Bab ini beberapa kali gagal review makanya author sensor.