Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Loh Udah Akadnya?


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang ditunggu oleh Ryan dan Qilla karena hari ini tepat pernikahan mereka berdua, meskipun belum tepat 4 bulan, tapi Ryan dan Qilla tetap melaksanakan pernikahan karena nenek dari Ryan yang ingin segera melihat Ryan menikah apalagi saat ini nenek Ryan sudah tua takut tidak bisa melihat cucunya menikah. Kurang lebih selama 1 atau 2 bulan Ryan dan Qilla mempersiapkan semuanya.


"Udah siap belum?" tanya Alan.


"Deg-degan banget gue," ucap Ryan.


"Santai aja, nanti lo malah salah sebut nama lagi," ucap Alvin.


"Btw, sersan Ryan udah ketemu sama ayahnya dokter Qilla?" tanya Raka.


"Rahasia kalau itu," ucap Ryan.


"Ngapain pake rahasia segala sih kan nanti juga bakal tau waktu akad," ucap Gara.


"Banyak b*cot," ucap Ryan.


"Astaga, padahal gue ngomongnya baik-baik loh," ucap Gara.


"Yaudah, kalau gitu kita siap-siap ke ruang tamu, pasti udah ada yang datang," ucap Alan dan diangguki Ryan.


Sesampainya di ruang tamu, benar saja semua keluarga Ryan sudah datang bahkan neneknya yang memaksa untuk keluar dari rumah sakit untuk melihat Ryan menikah, "Qilla mana? dia gak kabur kan ya?" tanya Ryan.


"Tenang, dia gak bakal kabur kok, dia lagi siap-siap di kamarnya," ucap Alvin.


Ryan pun duduk di hadapan seorang pria yang akan menjadi wali dari Qilla hari ini, "Saya titip putri saya. Saya sudah sering melukainya, tolong sembuhkan luka itu dengan kebahagiaan bagi Qilla," ucap pria tersebut.


"Pas om, saya akan buat Qilla menjadi wanita beruntung karena telah menjadi milik saya," ucap Ryan dan diangguki pria tersebut.


Disisi lain di kamar Qilla, Qilla sudah cantik dengan gaun sederhananya. Ryan dan Qilla memang memutuskan untuk mengadakan akad nikah saja tanpa menggelar resepsi pernikahan karena Qilla beranggapan jika tidak ada yang harus ia undang saat resepsi dan daripada harus membuang uang untuk resepsi lebih baik uang tersebut digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat dan Ryan sendiri setuju-setuju saja walaupun orangtuanya sempat tidak setuju, tapi lama kelamaan orangtuanya setuju juga apalagi pernikahan mereka ini terkesan mendadak.


"Ryan udah nemuin papa belum ya?" tanya Qilla


"Gue juga gak tahu, waktu gue tanya ke suami gue, dia cuma bilang lihat aja waktu akad," ucap Rea.


"Tapi, kalau papa lo gak datang gak masalahkan La. Kan masih ada Jeffry terus masih ada kita," ucap Nina.


"Iya, gapapa dong," ucap Qilla, yang mencoba untuk tetap tersenyum.


"Btw, mama lo beneran gak ada nanti, padahal ini nikahnya di rumah lo loh?" tanya Nina.


Ya, pernikahan Ryan dan Qilla memang diadakan di rumah Qilla. Hal itu karena permintaan Qilla, bagaimanapun ia ingin menikah di rumahnya walaupun rumahnya adalah luka terbesar bagi Qilla.


"Mama gue gak bisa hadir eh salah maksud gue gak mau hadir soalnya kan dia lagi liburan ke Jerman sama brondongnya," ucap Qilla, yang mencoba menahan air matanya agar tidak keluar.


Mama Qilla sendiri tidak ingin hadir di pernikahan anaknya dan lebih memilih liburan bersama pasangannya, mama Qilla berangkat 2 hari yang lalu. Setelah mendapatkan uang dari Ryan, mama Qilla memang sering keluar bahkan Qilla mendapatkan informasi dari Bi Arum jika mamanya sering bawa pria lain ke rumah dalam keadaan mabuk. Qilla sudah tidak tahu harus berbuat apa untuk mamanya yang benar-benar sudah berubah.


"Sabar ya, La. Kita ada buat lo kok," ucap Sivia.


"Aneh ya, mama gue gak ada waktu gue nikah apalagi ini akadnya di rumah dia loh," gumam Qilla, yang masih dapat di dengar Rea dan Nina.


"Huuuu, peluk Qilla, sayang Qilla," ucap Nina dan memeluk Qilla begitupun dengan Rea dan Sivia yang memeluk Qilla.

__ADS_1


Qilla, Rea, Nina dan Sivia menunggu di dalam kamar dengan obrolan yang membuat Qilla menjadi tenang sedikit karena memang sejak tadi Qilla terus mengatakan jika ia merasa gugup, hingga bunda Nara masuk ke dalam kamar, "Ayo sayang kita ke suami kamu," ucap bunda Nara.


"Loh udah akadnya?" tanya Qilla.


"Astaga, La. Lo gak lihat layar gede di depan sana apa," ucap Nina.


"Kapan kok gue gak tau ya?" tanya Qilla.


"Kayaknya lo lagi ngelamun deh tadi, udah ayo keluar ketemu sama suami lo," ucap Rea.


"Gue udah nikah beneran?" tanya Qilla.


"Iya, Qilla. Kamu udah nikah, kamu udah punya suami," ucap bunda Nara.


"Tadi ada papa gak?" tanya Qilla.


"La, lo beneran gak ngeliat tadi?" tanya Nina dan diangguki Qilla.


"Ya udahlah lo lihat aja sendiri di luar," ucap Nina.


Mereka pun keluar dari kamar dan menuju Ryan, Qilla sendiri terkejut saat melihat sosok yang selama ini ia rindukan. Qilla duduk di samping Ryan dengan tatapan pada sosok di depannya, "Assalamualaikum, istri," bisik Ryan, yang membuat Qilla terkejut dan menatap ke arah Ryan.


"Gak usah terkejut sayang," ucap Ryan.


"Agak geli ya," ucap Qilla dan membuat Ryan tertawa pelan. Qilla pun menyalimi tangan Ryan dan Ryan mengecup kening Qilla, lalu mereka menandatangani berkas-berkas pernikahan mereka.


Setelah akad, Qilla mendatangi orangtua yang sangat ia rindukan, "Papa," panggil Qilla.


Qilla pun menghampiri papanya dan memeluk papanya, "Qilla, kangen banget sama papa. Kenapa papa gak bawa Qilla sama Jeffry pergi jauh sih," ucap Qilla.


"Maafin papa sayang, papa kira kalian akan bahagia bersama mama apalagi saat itu kamu dan Jeffry lagi sekolah pasti butuh bimbingan mama kamu, tapi ternyata papa salah," ucap papa Qilla.


"Qilla kangen banget, Qilla rasanya gak percaya bisa peluk papa kayak gini," ucap Qilla.


"Sama papa juga gak nyangka kalau papa bakal bisa menikahkan putri kesayangan papa," ucap papa Qilla.


"Tapi, kata papa kalau Qilla mau nikah, papa bakal sidang calon suaminya Qilla," ucap Qilla dan diangguki papa Qilla.


"Papa gak perlu sidang segala karena papa yakin Ryan adalah orang yang tepat untuk putri satu-satunya papa ini," ucap papa Qilla.


"Jeffry juga pengen peluk," ucap Jeffry dan memeluk papa dan Qilla.


"Kak Satria mana, pa?" tanya Qilla.


"Kak Satria gak bis datang sayang karena kak Satria harus berobat," ucap papa Qilla.


"Berobat?" tanya Qilla.


"Iya, kak Satria lagi di uji sama tuhan," ucap papa Qilla.


"Maksud papa?" tanya Jeffry.

__ADS_1


"Kak Satria terkena leukemia," ucap papa Qilla dan membuat Qilla dan Jeffry pun terkejut.


"Terus keadaannya sekarang gimana, pa?" tanya Qilla.


"Kak Satria gapapa, makanya sekarang kak Satria lagi berobat biar cepet sembuh dan ketemu sama kalian," ucap papa Qilla.


"Nanti Qilla sama Jeffry bakal jenguk kak Satria ya pa," ucap Qilla dan diangguki papa Qilla.


Akhirnya acara pun selesai dan semuanya sudah pulang ke rumah masing-masing termasuk papa Qilla yang memilih untuk menginap di hotel daripada tidur di rumah tersebut, Qilla pun mau tidak mau memperbolehkannya karena ia tidak mungkin memaksa papanya bukan.


"Jadi, sekarang gimana kok bisa ketemu sama papanya Qilla?" tanya Nina.


"Semua ini berkat Om Aldi," ucap Ryan.


"Hah, papa? emangnya papa ngapain kok semuanya berkat papa?" tanya Rea.


"Saat itu, saya lagi stres mau cari kemana ayahnya Qilla hingga tiba-tiba papa Aldi tanya ke Alan soal ayahnya Qilla karena saya Alan menceritakan masalah saya, Om Aldi merasa kenal dengan orang yang sedang saya cari dan benar saja ternyata ayahnya Qilla adalah koleganya Om Aldi dan setelah itu barulah saya mulai mencari dan menghubungi ayahnya Qilla hingga sampe sekarang saya bisa menikah dengan wali ayahnya Qilla," ucap Ryan.


"Oh begitu, cieeee Qilla yang udah punya suami. Nina kapan nih," goda Rea.


"Gue mah nantilah," ucap Nina.


"Sama anggotanya Alan aja nanti tinggal pilih," ucap Ryan.


"Saya mah gak mau dapet tentara," ucap Nina.


"Terus mau dapet apa dokter? sadar diri tuhan gan merestui kalian berdua," ucap Qilla.


"Diem lo," ucap Nina.


"Sama saya aja dok," ucap Gara.


"Gak mau ya, mendingan sama yang lain aja," ucap Nina.


"Kenapa hem?" tanya Alan, saat melihat Rea mengusap lembut perutnya.


"Lo mau lahiran Re!" pekik Nina.


"Ish bukan, gue cuma kaget aja baby-nya nendang kenceng banget," ucap Rea.


"La, nanti lo juga kayak Rea gitu," ucap Nina.


"Gapapa, kan emang kayak gitu. Lo juga kalau udah nemuin jodohnya bakal kayak gitu," ucap Qilla.


"Yaudah, pulang aja ya," ucap Alan dan diangguki Rea, lebih baik Alan segera membawa istrinya pergi daripada di sini.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2