
revisi -
#
Saat ini Rea dan para relawan lainnya serta anggota tim Alan masih dalam perjalanan menuju desa yang akan mereka bantu. Rea merasa kepalanya pusing karena jalanan yang rusak bahkan Rea dapat melihat seluruh penumpang yang ada di sana saling berpegangan karena takut jatuh. Begitupun dengan Rea, ia juga saat ini berpegangan dengan Alan. Rea memegang kuat celana Alan dan Alan pun memegang tangan Rea, awalnya Rea ingin protes, tapi kondisi benar-benar tidak memungkinkan alhasil Rea hanya pasrah saat tangannya di genggam oleh Alan.
"Kapten, sepertinya truk kita terjebak," ucap penumpang yang ada di samping supir.
Alan dapat mendengar dengan jelas teriakan orang itu, dengan cepat Alan mengeluarkan HT dan berkomunikasi dengan supir yang juga merupakan anggota timnya.
"Bagaimana situasinya?" tanya Alan.
"Banyak batu dan sedikit sulit untuk mengendalikan truk militernya kapten," ucap Iko.
"Apa kau bisa mengemudikannya atau perlu aku gantikan?" tanya Alan.
"Sangat sulit kapten, tapi akan saya coba untuk mengemudikannya," ucap Iko.
Iko pun mencoba untuk mengemudikan truk militer tersebut, saat Iko mulai mengendarai truk militer tersebut para penumpang yang ada di belakang benar-benar merasa terguncang bahkan ada beberapa orang yang terjatuh. Untuk Rea jangan tanyakan bagaimana dia karena sedari tadi Alan memeluk pinggangnya dan membuat Rea tidak jatuh, tapi justru membuat Rea dekat dengan Alan.
"Kapten, sepertinya kita terjebak di lumpur," ucap Iko.
"Kalau begitu kita keluarkan semua orang dan biar aku yang mengendarainya," ucap Alan.
Akhirnya Iko pun berhenti dan keluar lalu membuka pintu belakang, "Semua turun ya soalnya bannya terjebak di lumpur," ucap Iko.
Semua orang pun mulai keluar dari truk, "Bisa jalan?" tanya Alan dan diangguki Rea.
Alan terus menggandeng tangan Rea dan membantu Rea turun dari truk, tindakan Alan tentunya menarik perhatian para anggota timnya yang sadar jika sikap Alan pada Rea berbeda dengan sikap Alan pada relawan lainnya.
"Ayo, dokter Rea kita cari tempat yang lumayan jauh," ajak Ryan.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun berhenti di tempat yang cukup jauh dari truk militer tersebut, hal itu agar saat Alan mengendarai truk militer tersebut lumpur yang ada tidak mengenai yang lainnya.
"Lihat, Re. Kapten Alan keren banget mana ototnya wow banget lagi, apalagi kapten Alan keringetan kayak gitu makin seksi aja gak sih, gue jadi pengen pegang deh, btw gimana tadi lo sama kapten Alan, lo pasti bisa ngerasain ototnya kapten Alan bukan secara tadi duduk lo deket banget loh bahkan kapten Alan sampe meluk pinggang lo," ucap Qilla.
"Apa sih lo mah kalau ngomong gak ada yang penting," ucap Rea.
Rea menatap lekat Alan yang sedang mengendarai truk militer, benar kata Qilla Alan begitu seksi saat ini bahkan keringatnya yang membasahi tubuh Alan dan membuat ototnya semakin terlihat jelas membuat kadar ketampanan Alan semakin bertambah.
'Aduh, Rea lo mikirin apa sih inget, Re. Lo udah punya suami, apa jangan-jangan suami gue kapten Alan, hehehehe ada-ada aja lo Re. Mana mungkin suami gue kapten Alan mentang-mentang nama mereka sama,' ucap Rea dalam hati.
Setelah beberapa saat kemudian, Alan sudah turun dari kemudi dan semua orang pun kembali menuju truk militer, Rea saat ini duduk di samping Qilla dan Nina. Sedangkan, Alan duduk di dekat pintu, sehingga ia dapat melihat Rea yang duduk dengan teman-temannya.
Setelah 20 menit mereka pun sampai di desa yang mereka tuju, Rea dapat melihat bagaimana memprihatinkan kondisi saat ini.
"Re, jangan nangis," bisik Nina.
Rea sudah mulai berkaca-kaca saat baru sampai di sana, "Iya, gue tahu. Gue bakal coba buat gak nangis," ucap Rea.
Disisi lain Alan melihat Rea yang seperti menahan air matanya, Alan sudah tahu jika Rea selalu tidak mau jika di rumah sakit ada pendaftaran relawan untuk bencana karena Rea yang mudah terbawa suasana.
Alan hanya menatap punggung Alvin dan setelah itu ia pun mengikuti Alvin untuk menurunkan barang-barang yang ada di truk militer, "Udah semua kan?" tanya Alan.
"Iya, udah kapten," ucap Iko.
Alan menghampiri Raka yang sedang berbicara dengan salah satu relawan, "Ka, gimana udah dapet tempat yang cocok belum?" tanya Alan.
"Sudah ada kapten, tempat di lapangan dekat kamp di sana sudah bersih dari ranjau dan para dokter pun kalau mau meriksa tidak perlu menggunakan mobil mereka bisa jalan kaki mungkin cuma 5 menitan dari kamp," ucap Raka.
"Kapan kira-kira para warga bakal pindah?" tanya Alan.
"Kalau bisa secepatnya kapten, soalnya tanah di sini cukup menakutkan takutnya nanti terjadi longsor," ucap Raka.
"Kalau begitu siapkan semua prosesnya," ucap Alan.
"Siap kapten," ucap Raka. Setelah itu, Alan pun pergi dan menghampiri beberapa Anggita lainnya.
__ADS_1
"Kapten Alan itu emang suka merintah ya?" tanya dokter yang bersama dengan Raka.
"Mungkin karena kau tidak tahu bagaimana seorang kapten Alan, makanya kau bilang kapten Alan suka merintah padahal aku sebagai anggota timnya bahkan bisa dibilang aku ini anak buahnya tidak pernah merasa seperti anak buahnya, kapten Alan itu dalam memimpin selalu memberikan contoh. Setiap anggota tim memilih kapten bukan, dan setiap kapten pasti dipilih dengan ketat dan gak asal-asalan salah satunya kapten Alan," ucap Raka.
"Aku denger kapten Alan nakutin bener gak sih?" tanyanya.
"Ya, kapten Alan itu nakutin kalau kita buat salah, tapi kalau kita gak buat salah kapten Alan gak nakutin kok bahkan kapten Alan itu seperti kakak di tim," ucap Raka.
"Jangan gosip terus, ini masih banyak warga yang butuh bantuan," ucap salah satu relawan di sana.
Semua orang yang ada di sana sangat sibuk mulai dari para relawan dokter yang membantu para warga yang mengalami beberapa masalah kesehatan dan untuk para tentara yang membantu pindahan para warga ke tempat baru karena takutnya hujan lebat dan berakibat tanah longsor dan jika itu terjadi dapat dipastikan jika tanah yang saat ini mereka tempati akan tertutup tanah.
"Kapten, sepertinya kita harus segera melakukan pemindahan karena ahli sudah mengatakan jika akan terjadi hujan lebat dalam beberapa hari," ucap Raka.
"Kalau begitu kita pindahkan para warga yang sudah bisa dipindahkan, tapi sebelum itu kita pilih jalan bagian selatan yang tidak rusak untuk para warga dan untuk barang-barang kita bisa gunakan jalan tadi," ucap Alan.
"Tapi, bukankah itu jika gunakan jalan selatan akan memakan waktu yang cukup lama," ucap Raka.
"Tapi, jika menggunakan jalan tadi maka kita tidak bisa menjamin keselamatan dari para warga, kau tahu sendiri bukan gimana jalannya tadi. Kalau mereka harus keluar pun sangat sulit untuk mengevakuasi mereka," ucap Alan.
"Benar kata Alan," ucap Alvin.
"Kita harus cepat menyelesaikan tenda untuk pemindahannya," ucap Alan.
"Semuanya sudah siap tinggal dipasang saja kapten," ucap Raka dan diangguki Alan.
"Kalau begitu suruh beberapa anggota untuk memasangnya!" perintah Alan dan diangguki Raka.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1