Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Perjodohan Bodoh


__ADS_3

Ucapan Raka kembali membuat semua orang yang ada di sana terkejut tak terkecuali Rea, yang menatap Raka dengan tatapan yang sulit diartikan. Bahkan Alan yang sedari tadi memperhatikan Rea pun tiba-tiba merasa gugup saat melihat Rea diam saja karena ucapan Raka, rasanya Alan ingin menceburkan Raka ke sumur.


"Kenapa semuanya natap aku sih?" tanya Raka.


"Udah, semuanya makan aja. Aku mau ke kamar dulu ya," ucap Rea dan pergi dari ruang tamu.


"Awsh, sakit," ucap Raka, karena tiba-tiba Ryan memukul kepalanya menggunakan bantal.


"Syukurin, kalau perlu gue pukul pala lo sama tongkat baseball," ucap Ryan.


"Lah, kenapa gitu?" tanya Raka.


"Lain kali kalau bicara di pikir-pikir dulu jangan asal bicara, kita gak tahu kan siapa yang bakal merasa sakit hati dengan apa yang kita bicarakan. Kalian silahkan lanjutkan, kalau kalian makan ya ambil sendiri kalau kalian mau pulang juga silahkan, tapi jangan lupa ruang tamu di bersihkan lagi," ucap Alan, lalu pergi meninggalkan ruang tamu dan menghampiri Rea yang ada di kamar.


"Lo sih," ucap Gara.


"Lah kok gue sih," ucap Raka.


"Ngapain lo bahas soal dokter Sandra kan lo tahu kalau kapten Alan udah punya istri," ucap Gara.


"Kan tadi pas di ruangan juga bahas soal dokter Sandra gak ada masalah," ucap Raka.


"Ya, itukan tadi kalau barusan kan ada istrinya kapten Alan, bisa-bisa dokter Rea cemburu dan yang kena kan pasti kapten Alan," ucap Iko.


"Masa dokter Rea cemburu sih kayaknya gak mungkin deh," ucap Raka.


"Gak ada yang tahu gimana perasaan dokter Rea setelah dengar ucapan lo tadi yang jelas dokter Rea pasti merasa sedih dan gue harap jangan lagi bahas masalah itu apalagi saat ada dokter Rea bukan hanya saat ada dokter Rea, tapi juga saat ada pasangan gue," ucap Alvin.


"Maaf, sersan Alvin tadi saya kurang hati-hati saat bicara," ucap Raka.


"Seharusnya lo minta maaf ke kapten Alan sama dokter Rea, lebih baik kita balik ke rumah masing-masing gak enak kalau kita di sini," ucap Alvin dan diangguki semua orang yang ada di sana.


Di sisi lain, Alan yang baru saja masuk ke dalam kamar pun melihat Rea yang tidur di kasur dengan membelakanginya, Alan segera mendekati Rea dan menunduk tepat di hadapan Rea. Ia melihat Rea yang memejamkan matanya, tapi dengan menangis.


"Sayang, kok nangis," ucap Alan, ia merasa panik saat melihat air mata Rea.


Rea sendiri yang mendengar suara Alan pun segera membuka matanya dan betapa terkejutnya Rea saat melihat Alan yang berada di hadapannya, "Kenapa hem kok nangis?" tanya Alan.

__ADS_1


Rea pun segera bangkit dan menghapus air matanya, "Kenapa Mas Alan di sini? anggota yang lain udah pulang?" tanya Rea.


"Gak tahu," ucap Alan.


"Loh kok gak tahu, Mas kesana gih gak enak loh ninggalin tamu," ucap Rea.


"Gak mau, Mas mau di sini sama kamu," ucap Alan.


"Rea gapapa kok, Rea juga mau tidur," ucap Rea.


"Yaudah, Mas juga tidur," ucap Alan dan merangkak naik ke kasur dan duduk di sebelah Rea.


"Mas, gak enak kalau tamunya di tinggal," ucap Rea.


"Gapapa sayang, udah ayo tidur," ucap Alan.


Alan pun menarik tubuh Rea dan memeluknya lalu merebahkan tubuhnya dan juga tubuh Rea di kasur, Alan mendekap erat tubuh Rea seolah tidak ingin kehilangan Rea.


"Kamu jujur sama Mas, kenapa kamu nangis? kamu nangis karena ucapan Raka tadi?" tanya Alan.


"Gak kok, Rea gak masalah sama ucapannya sersan Raka," ucap Rea.


Rea pun mendongak dan menatap Alan, "Kenapa hem?" tanya Alan, saat di perhatikan oleh Rea.


"Katanya mau jelasin ke Rea, yaudah sekarang jelasin semuanya," ucap Rea.


Alan pun tersenyum mendengarnya dan semakin mengeratkan pelukannya, "Oke, Mas akan jelaskan semuanya, tapi kalau kamu gak kuat pengen nangis atau marah kamu bilang ke Mas ya biar mas gak kaget," ucap Alan dan Rea pun hanya menganggukkan kepalanya.


"Huh, Sandra itu perempuan yang pernah dijodohkan dengan Mas ...," ucap Alan.


"Banyak banget sih perempuan yang dijodohkan sama Mas Alan," ucap Rea.


"Jangan di potong ucapannya Mas sayang," ucap Alan.


"Hehehe lupa, siapkan dilanjutkan lagi ceritanya," ucap Rea.


"Jadi, dulu ayahnya dokter Sandra itu akan kerja Papa dan ya tahulah kalau orangtua saling kenal dan punya anak pasti bakal di jodohin gitu kayak kita, nah Papa sama orangtuanya dokter Sandra jodohin kita berdua bahkan dulu orangtuanya dokter Sandra sempat membahas masalah pernikahan dengan Mas ...," ucap Alan.

__ADS_1


Belum sempat Alan melanjutkan ceritanya tiba-tiba Rea menyelanya kembali, "Jadi, Mas Alan dulu pernah hampir nikah sama dia?" tanya Rea dan diangguki Alan.


"Tapi, itu bukan keinginan Mas ataupun keluarga Mas karena Mas udah nolak makanya keluarga Mas juga gak maksa, tapi lebih tepatnya hanya keinginan keluarga dokter Sandra, Mas gak pernah ada perasaan apapun dengan dokter Sandra karena Mas tahu kalau sahabat Mas suka dengan dokter Sandra," ucap Alan.


"Sahabat Mas? siapa?" tanya Rea.


"Alvin," ucap Alan.


"Hah, sersan Alvin suka sama dokter Sandra?" tanya Rea dan diangguki Alan.


"Iya, tapi karena perjodohan bodoh dari pihak keluarga dokter Sandra yang buat hubungan persahabatan Mas sama Alvin rusak bahkan Alvin perlahan ngejauh dari Mas, tapi Mas udah jelasin semuanya ke Alvin dan Mas juga kasih pengertian lagipula saat itu dokter Sandra juga sependapat dengan Mas yaitu menolak adanya pernikahan, Mas berusaha semaksimal mungkin supaya Alvin gak salah paham lagi dan untungnya Alvin mengerti. Kamu harus percaya jika gak ada perempuan lain yang berhasil merebut hati Mas bahkan sehebat apapun itu gak ada kecuali satu orang yaitu kamu, Mas harap kamu gak salah paham mengenai hubungan Mas dan dokter Sandra. Untuk di cafe tadi Mas juga bakal jelasin kenapa Mas bisa ada di sana sama dokter Sandra," ucap Alan.


Mengalirlah cerita Alan mengenai kejadian tadi yang membuatnya salah paham dan sempat sakit hati. Setelah mendengarkan cerita Alan pun membuat Rea semakin terisak karena merasa bersalah, ia telah menuduh Alan yang bukan-bukan. Setelah Alan menceritakan semuanya Rea pun segera memeluk Alan dan menangis dalam dekapan hangat sang suami.


"Maaf, aku udah mikir yang gak-gak, harusnya aku dengerin penjelasan kamu dulu," ucap Rea.


"Iya, sayang gapapa. Wajar kok kalau kamu marah dan sedih," ucap Alan dan membalas pelukan Rea yang tak kalah erat.


"Aku kayak anak kecil ya dikit-dikit marah gak mau dengar penjelasan dari kamu," ucap Rea.


"Gak sayang, Mas bisa ngertiin semuanya kok. Udah kamu pasti capek kan soalnya kamu kan kemarin pasti gak tidur," ucap Alan dan diangguki Rea.


"Tapi, anggota kamu gimana?" tanya Rea.


"Udah biarin aja mereka, lagian mereka tahu jalan pulang kok," ucap Alan.


"Oh iya, berarti anggota kamu tahu semua mengenai hubungan kamu sama dokter Sandra?" tanya Rea dan diangguki Alan.


"Mereka juga tahu karena masalah Mas sama Alvin, tapi kamu gak perlu khawatir karena Alvin sudah memiliki tambatan hati begitu juga dengan Mas," ucap Alan.


Rea memeluk suaminya dan mulai memejamkan matanya, perasaannya lega karena semuanya sudah jelas. Semua ini juga salah Rea karena menyimpulkan masalah ini sendiri tanpa mendengarkan penjelasan dari Alan.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2