
Disisi lain Alan tengah berada di ruangan komandan Ivan karena tadi ia di panggil, "Oke, jadi begini saya sudah memutuskan jika kapten Alan akan kembali ke timnya dan di divisi 1 akan di gantikan oleh letnan Vincent, saya harap sersan Zein mengerti," ucap komandan Ivan.
"Iya, komandan," ucap sersan Zein.
"Baiklah kalau begitu sersan Zein dapat kembali ke ruangan karena ada yang harus saya bicarakan dengan kapten Alan dan tim," ucap komandan Ivan.
Setelah itu sersan Zein pun kembali ke ruangannya dan di ruangan komandan Ivan hanya ada Alan serta anggota timnya yang memang sejak tadi berada di sana, "Maaf kalau saya seenaknya saja, tapi saya sudah berkoordinasi dengan pimpinan mengenai ini dan kapten Alan saya berharap kapten Alan dan tim dapat melakukan tugas yang sudah ada di tangan kapten Alan dan anggota timnya," ucap komandan Ivan.
"Terima kasih komandan," ucap anggota tim Alan dan memeluk komandan Ivan.
Memang anggota tim Alan sangat lengket bahkan sudah dianggap anak sendiri oleh komandan Ivan sebab itu mereka tidak sungkan lagi untuk memeluk komandan Ivan, "Berarti ini komandan Ivan yang sudah membantu mereka kembali?" tanya Rea.
"Ya, bisa dibilang begitu. Tapi, kamu tidak perlu saya melakukannya karena memang banyak yang berminat untuk ditugaskan di daerah perbatasan," ucap komandan Ivan.
"Tapi, kenapa jadi banyak yang berminat ya padahal dulu waktu ada tawaran tugas di sana tidak ada yang berminat?" tanya Raka.
"Mungkin karena bilik cinta," ucap Ryan dan tentunya membuat semua yang ada di sana tertawa kecuali Alan dan Alvin tentunya.
Setelah drama yang dibuat anggotanya saat ini Alan dan anggotanya tengah berada di ruangan tim mereka, "Akhirnya kita bisa di sini setelah berbulan-bulan kita tugas di daerah perbatasan," ucap Ryan.
"Iya, kita udah lama banget gak di sini ya, jadi kangen waktu pulang malam terus kita makan di restoran dekat perumahan," ucap Raka.
"Alah lo mah kangen sama Via anaknya pemilik restoran," ucap Ryan.
"Hehehe, tahu aja sersan Ryan ini," ucap Raka.
"Cepet tembak Ka, sebelum si Via di pepet sama Iko, lo kan tahu Iko itu sukanya nikung gebetan orang," ucap Ryan.
"Mati dong nanti Via nya," ucap Kino.
"Ya, gimana ya jelasinnya," ucap Ryan.
"Udah gak usah di jelasin kalau lo jelasin yang ada lo bakal pusing," ucap Alvin.
"Iya juga sih," ucap Ryan.
"Oh iya Vin, koordinasiin sama Tama, apa pihak polisi butuh bantuan kita atau gak. Gue gak mau kejadian beberapa tahun lalu terulang karena kurangnya koordinasi dari pihak polisi akhirnya kita telat buat nyelamatin korban," ucap Alan.
"Siap, lagian besok Tama juga minta ketemu. Besok lo ikut atau gimana?" tanya Alvin.
__ADS_1
"Lo aja sama beberapa anggota lainnya, tapi sebelum lo ketemu sama Tama, lo ikut cek kesehatan dulu biar pihak dokter gak kesusahan datanya," ucap Alan dan diangguki Alvin.
"Besok ada cek kesehatan?" tanya Ryan.
"Hem," jawab Alan.
"Besok dokter dari militer atau gimana?" tanya Ryan.
"Kalau gak salah dari militer sih," ucap Alan.
"Berarti besok ada dokter Sandra dong," ucap Raka.
Ucapan Raka tentunya membuat semua orang yang ada di sana menatapnya tajam, "Hehehehe, maaf keceplosan," ucap Raka.
"Semuanya udah masa lalu lagian baik gue ataupun Alan udah punya pasangan masing-masing jadi gak usah ngerasa gak enak kali," ucap Alvin.
"Tapi, saya denger-denger kalau sekarang dokter Sandra tambah cantik loh," ucap Raka.
"RAKA!" teriak semua orang.
"Salah lagi," ucap Raka.
.
Disisi lain Rea saat ini berada di ruang praktek dan pintu di buka dengan kasar oleh seorang wanita, "Maaf dokter tadi saya sudah menghentikannya, tapi ibu ini tidak mau dan bersikeras ingin bertemu dokter Rea," ucap Fafi.
"Huh, yaudah tidak apa-apa kau bisa kembali ke tempatmu," ucap Rea dan diangguki Fafi.
Setelah Fafi pergi barulah Rea menatap wanita yang lancang masuk ke ruang prakteknya, "Ada apa ya Bu kalau boleh tahu?" tanya Rea.
"Saya dengar anda yang sudah melaporkan anak saya ke komite kedisiplinan," ucap wanita tersebut.
"Melaporkan anak ibu? kalau boleh tahu anak ibu siapa ya saya tidak kenal anak ibu?" tanya Rea.
"Alah, gak usah pura-pura kamu, kamu yang udah ngelaporin anak saya ke komite kedisiplinan ngaku aja kamu," ucap wanita tersebut.
"Huh, tapi saya tidak tahu siapa anak ibu, setidaknya kalau marah-marah ibu bilang ke saya siapa anak ibu," ucap Rea.
"Bagas, direktur di rumah sakit ini. Gara-gara kamu dia di pecat dan saya gak terima, saya akan laporkan kamu ke komite kedisiplinan atas pencemaran nama baik," ucap wanita tersebut.
__ADS_1
"Oalah ini masih soal pemecatan direktur Bagas, sampe bosen saya seharian denger soal kasus ini dan sampe bosen saya harus menjelaskan jika saya tidak ada sangkut pautnya sama sekali dalam pelaporan dan pemecatan direktur Bagas," ucap Rea.
"Emang kamu pelakunya," ucap wanita tersebut.
"Terserahlah ibu mau bicara apa saya gak peduli, kalau emang ibu mau melaporkan saya silahkan saya tidak peduli lagi," ucap Rea.
"Ternyata ini dokter kebanggaan rumah sakit, ternyata selera rumah sakit rendah ya padahal Daiva General Hospital termasuk rumah sakit elit," ucap wanita tersebut.
"Saya juga bingung gimana bisa rumah sakit elit seperti ini memiliki mantan direktur yang kelakuan bejat, makanya saya jadi penasaran gimana cara rumah sakit memilih seorang direktur? oh atau jangan-jangan tergantung dompet mana yang ngeluarin banyak uang," ucap Rea.
"Kurang ajar kamu!" bentak wanita tersebut dan bersiap untuk menampar pipi Rea.
Namun, sebelum itu terjadi Rea terlebih dahulu menahan tangan wanita tersebut sehingga pipi mulusnya tidak mengenai tangan wanita tersebut dan tangan wanita tersebut justru masih di tahan Rea, "Saya gak akan biarkan pipi saya terkena tangan kotor untuk kedua kalinya," ucap Rea dan menurunkan tangan wanita tersebut dengan kasar.
Rea dan wanita tersebut saling tatap hingga pintu ruangan terbuka dan menampilkan perempuan yang membuat Rea tidak dapat menahannya lagi, dengan cepat Rea menghampiri perempuan tersebut dan menamparnya.
"Heh! berani-beraninya kamu menampar calon menantu saya!" teriak perempuan tersebut.
"Saya cuma membalaskan apa yang tadi dilakukan dokter Shinta pada saya, padahal saya sejak tadi diam, tapi karena anda datang dan ingin menampar saya maka saya tidak terima dan menampar dokter Shinta seperti dokter Shinta menampar saya tadi," ucap Rea.
"Kamu tahu saya siapa?" tanya wanita tersebut.
"Tidak tahu dan tidak mau serta tidak penting," ucap Rea.
"Kamu benar-benar dokter tidak tahu diri ya, lihat saja saya akan laporkan kamu ke komite kedisiplinan," ucapnya.
"Silahkan, kalau begitu kalian bisa pergi karena saya benar-benar sibuk," ucap Rea dan duduk di kursinya laku fokus pada pekerjaannya.
"Ayo Ma kita keluar," ajak dokter Shinta dan mereka pun keluar dari ruangan tersebut.
"Akhirnya pengganggu udah pergi, kenapa semuanya nuduh gue sih, gue harus segera cari tahu siapa yang udah ngelaporin direktur Bagas," gumam Rea.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1