
Hari ini Nial terus berada di ruang rawat Maudy, ia hanya takut Maudy pergi seperti kemarin. Sebab itu Nial terus melihat ke arah Maudy yang tengah menatap langit-langit dan berpikir entahlah apa yang ia pikirkan.
Disisi lain Maudy sedikit salah tingkah karena Nial yang terus menatapnya sejak tadi bahkan Maudy rasa Nial tidak berkedip saat melihatnya.
"Sersan Nial gak bosen di sini terus?" tanya Maudy.
Akhirnya Maudy menyerah dan memecahkan keheningan yang terjadi sejak tadi di ruangan tersebut.
"Gak kok, kenapa kamu bosen di sini?" tanya Nial.
"Gak kok sersan," ucap Maudy dan berpikir mengenai biaya yang harus ia bayar jika berada di sini terus menerus.
'Aku harus bayar biaya ini, berarti uang yang aku kirimkan ke bapak dan Caca berkurang dong,' ucap Maudy dalam hati.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Nial.
"Tidak ada sersan, saya tidak memikirkan apapun," ucap Maudy.
"Jangan panggil sersan," ucap Nial.
"Tapi kan, sersan Nial memang sersan," ucap Maudy.
"Panggil nama aja atau gak manggil kayak Daisy, kalian berdua seumuran kan," ucap Nial.
Maudy yang mendengar Nial menyebutkan nama Daisy dan membuat Maudy tersadar bagaimana posisinya saat ini.
'Astaga, apa yang kamu pikirkan Maudy. Kamu jangan baper sama sikapnya sersan Nial ke kamu, lagian sersan Nial ngelakuin ini karena dia kasihan sama kamu yang gak punya siapa-siapa di sini. Gak mungkin lah sersan Nial milih aku si buruk rupa berbeda dengan Bu Daisy yang seorang tuan putri,' ucap Maudy dalam hati.
"Tapi, kurang sopan sersan kalau saya manggil nama," ucap Maudy.
"Yaudah kalau gitu manggil kak aja biar sama kayak Daisy," ucap Nial.
"Tapi, bukankah itu nama khusus dari Bu Daisy masa saya juga harus memanggil sersan Nial seperti itu," ucap Maudy.
"Ya gapapa, nama kak kan bisa digunakan secara luas bukan hanya Daisy aja yang bisa manggil saya dengan panggilan kak kan," ucap Nial.
"Oya juga sih," ucap Maudy.
"Yaudah, sekarang istirahat aja kalau butuh apa-apa aku diluar," ucap Nial dan diangguki Maudy.
Saat keluar ruangan tersebut, Nial melihat bunda Rea dan ayah Alan yang berjalan menghampirinya, "Apa yang dikatakan bunda kamu bener?' tanya ayah Alan.
"Iya Yah," ucap Nial.
"Bisa jelaskan siapa perempuan itu," ucap ayah Alan.
"Duduk dulu Yah, ini Nial jelaskan siapa perempuan yang di dalam," ucap Nial.
Mereka bertiga pun duduk di kursi tunggu yang ada di luar ruangan tersebut.
"Oke, jadi nama perempuan yang ada di dalam itu Maudy Azzurri. Nial pertama kali ketemu sama dia di bus dan ya hanya bertemu saja gak lebih terus pertemuan kedua itu di rayon pelabuhan karena ternyata dia tinggal di sana dan ayahnya juga berjualan di sana. Beberapa kali lah Nial ketemu sama dia selama Nial tugas di sana, tapi udah dua atau tiga bulan sebelumnya Nial selesai bertugas, Nial gak pernah ketemu lagi sama dia dan setelah di selidiki ternyata dia pergi dari daerah tersebut karena ancaman dari istri komandan Ade dan ya kemarin Nial baru ketemu sama dia," ucap Nial.
"Istrinya komandan Ade itu yang Bu Nanda itu?" tanya bunda Rea.
"Iya Bun, Bu Nanda," ucap Nial.
"Bu Nanda ngancem apa ke Maudy?" tanya bunda Rea.
"Tempat tinggal keluarga Maudy saat ini kan milik Bu Nanda lebih tepatnya milik istri para tentara sih dan di sewakan gitu. Tapi, Bu Nanda mengancam akan mengusir Maudy dan keluargamu jika Maudy gak pergi dari sana, karena itu Maudy pergi gitu aja," ucap Nial.
"Tapi, kenapa Bu Nanda nyuruh Maudy pergi?" tanya ayah Alan.
"Bu Nanda itu gak suka karena Nial deket sama Maudy padahal Nial sama Maudy gak ada hubungan apa-apa, tapi Bu Nanda menganggap kita berdua memiliki hubungan dan ya bunda tau lah kalau Bu Nanda selalu ngedeketin anaknya sama Nial," ucap Nial.
"Dasar ya Bu Nanda itu, padahal bunda udah tolak loh," ucap bunda Rea.
Ya, bunda Rea memang kenal dengan Bu Nanda karena pernah bertemu beberapa kali dan hampir setiap pertemuan Bu Nanda selalu mempromosikan anaknya dan menjodohkannya dengan Nial, secara tegas pun bunda Rea sudah menolak karena bunda Rea menyerahkan semuanya pada keputusan Nial.
"Terus kenapa dia sakit kayak gini?" tanya ayah Alan.
Nial pun mulai menceritakan semuanya dari awal pertemuannya dengan Maudy setelah Maudy menjauh darinya.
"Kamu suka sama dia?" tanya ayah Alan.
"Gak lah Yah," ucap Nial.
__ADS_1
"Yakin?" tanya ayah Alan.
"Nial gak tau, Nial harus pastiin dulu," ucap Nial.
"Jangan lama-lama mastiinnya," ucap ayah Alan.
"Iya yah," ucap Nial.
"Ayah mau kemana?" tanya bunda Rea, saat melihat ayah Alan berdiri.
"Mau ngelihat calon menantu," ucap ayah Alan dan masuk ke dalam ruang rawat Maudy.
Maudy yang masih menatap langit-langit ruang rawat inapnya pun terkejut saat pintu ruangannya terbuka. Maudy pun melihat siapa yang masuk, tapi ia mengerutkan keningnya karena ia tidak mengenal siapa pria yang baru saja masuk.
"Maudy ya," ucap ayah Alan.
"I-iya om," ucap Maudy.
"Cantik ya," ucap ayah Alan.
"Jangan bilang cewek cantik di depan bunda Yah, nanti kalau ngambek gimana coba," ucap Nial yang baru saja masuk bersama bunda Rea.
'Oh, jadi ini ayahnya sersan Nial, gak salah sih kalau sersan Nial ganteng orangtuanya aja ganteng sama cantik,' ucap Maudy dalam hati.
"Bercanda sayang," ucap ayah Alan.
Bukannya menjawab bunda Rea justru pergi dari ruangan tersebut, "Tuh bidadari nya ngambek," ucap Nial.
"Awas ya kamu, ayah mau samperin bunda kamu dulu jaga calon bidadari kamu sana nanti ikut ngambek kayak bidadari nya ayah," ucap ayah Alan dan pergi dari ruang rawat Maudy.
Maudy sendiri yang mendengar perkataan ayah Alan pun hanya tersenyum kaku, lagi-lagi suasana antara Nial dan Maudy kembali canggung.
"Mau makan?" tanya Nial.
"Tidak sersan, saya masih kenyang," ucap Maudy.
"Kak," ucap Nial.
"Hah! maksudnya?" tanya Maudy.
"Oh iya, lupa sersan eh maksud saya kak Nial," ucap Maudy.
"Nah kalau itu kan lebih enak di dengar," ucap Nial.
Setelah mengatakan itu, Nial pun menghampiri Maudy dan duduk di kursi yang ada di samping brankar Maudy.
"Kenapa?" tanya Maudy, karena Nial yang terus melihat ke arahnya.
"Bukankah harusnya saya yang tanya kenapa?" tanya Nial.
"Maksudnya?" tanya Maudy.
"Kenapa kau pergi tanpa berpamitan pada siapapun?" tanya Nial.
"Oh itu karena saya rasa tidak harus saja asalkan saya sudah berpamitan pada keluarga saya, ya sudah tidak ada masalah, apakah saya salah?" tanya Maudy.
"Jelas-jelas kau salah," ucap Nial.
"Salah? saya salah apa?" tanya Maudy.
"Kau salah karena tidak berpamitan denganku," ucap Nial.
Maudy pun menatap Nial dengan tatapan bingung, "Kenapa saya harus berpamitan pada kak Nial?" tanya Maudy.
"Ya karena kita kan kenal masa tidak berpamitan sih," ucap Nial dan Maudy pun menganggukkan kepalanya.
"Maaf karena Maudy tidak berpamitan dulu," ucap Maudy.
"Iya gapapa, tapi aku udah tau semuanya ke apa kau memilih pergi dari sana," ucap Nial.
"Apa?" tanya Maudy.
"Karena Bu Nanda bukan," ucap Nial.
Maudy menatap Nial dengan terkejut bagaimana bisa Nial tau mengenai Bu Nanda, "Kak Nial beneran tau mengenai Bu Nanda?" tanya Maudy.
__ADS_1
"Iya, Bu Nanda yang udah ancam kamu kan, lagipula sekarang Bu Nanda sudah di hukum," ucap Nial.
"Dihukum apa?" tamat Maudy.
"Diasingkan mungkin atau lebih parah," ucap Nial.
"Apa tidak berlebihan seperti itu?" tanya Maudy.
"Tidak, karena Bu Nanda merugikan orang lain dan harus di hukum apalagi Bu Nanda memiliki kesalahan lain, bukan hanya mengancammu untuk pergi," ucap Nial.
Maudy hanya menunduk dan tidak berani menatap Nial, Nial yang melihat itu pun menghela nafas panjang dan memegang dagu Maudy hingga Maudy mendongak dan menatapnya.
"Jangan lakuin hal itu lagi," ucap Nial.
Saat ini wajah mereka cukup dekat bahkan Maudy dan Nial dapat merasakan hembusan napas masing-masing. Namun, kegiatan romantis itu harus terhenti karena teriakan bunda Rea.
"Astaga! kalian berdua belum sah gak boleh deket-deket kayak gitu nanti kalau kebablasan gimana coba, kalau kalian berdua udah gak kuat, bunda sama ayah akan nikahkan secepatnya daripada harus diluar batas," ucap bunda Rea dan menarik lengan Nial hingga Nial jauh dari Maudy.
"Apa sih bunda, Nial sama Maudy gak ada apa-apa, tapi itu cuma gak sengaja," ucap Nial.
"Iya, bunda tau kamu gak akan kayak gitu, tapi tetap aja kamu ga boleh kayak gitu," ucap bunda Rea.
"Iya, Nial salah," ucap Nial.
"Emang kamu salah," ucap bunda Rea.
"Aduh, calon menantu bunda gapapa lah kamu sayang? Nial belum melakukan hal lebih kan?" tanya bunda Rea.
"Gak kok tante, tadi itu gak kayak yang tante lihat," ucap Maudy.
"Iya," ucap bunda Rea, dengan tersenyum menggoda.
"Oh iya, tante ke sini mau tau gimana keadaan kamu?" tanya bunda Rea.
"Maudy baik-baik aja tante, mungkin besok Maudy sudah pulang," ucap Maudy.
"Saya sudah izinkan kamu ke sekolah dan sekolah ngasih kamu 3 hari lagi," ucap Nial.
"Tapi, bukannya terlalu lama saya izin," ucap Maudy.
"Lebih penting kesehatanmu daripada hak lain," ucap Nial.
"Jangan kayak gitu, kamu bikin Maudy takut nantinya," ucap bunda Rea.
"huh, iya bunda," ucap Nial.
"Ayah mana bun?" tanya Nial.
"Ayah kamu tadi di telpon sama uncle Ivan kayaknya ada urusan penting deh yaudah ayah kamu ke kantor," ucap bunda Rea dan diangguki Nial.
Beberapa saat kemudian, ponsel Nial pun berdering yang menandakan ada panggilan telepon, "Siapa?" tanya bunda Rea.
"Daisy Bun," ucap Nial.
"Yaudah, kamu angkat gih nanti Daisy ngambek lagi. Kamu tau kan dia gimana kalau ngambek," ucap bunda Rea.
"Iya Bun, yaudah Nial angkat teleponnya dulu ya," cap Nial dan pergi dari ruang rawat Maudy.
'Apa yang kami harapkan dari sikap baik Nial, Maudy. Ayo sadar!' ucap Maudy dalam hati.
"Kenapa sayang?" tanya bunda Rea.
"Gapapa kok tante," ucap Maudy.
"Gak usah sungkan-sungkan ya kalau butuh bantuan tante, tante seneng loh bisa bantu kamu," ucap bunda Rea.
"Iya tante, terima kasih ya karena udah baik banget sama Maudy," ucap Maudy.
"Iya sama-sama, bunda seneng banget kamu apalagi kamu kan temannya Nial," ucap bunda Rea dan diangguki Maudy.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.