
Malam harinya Alan dan Rea berada di halaman, "Kamu tahu gak?" tanya Alan dan menatap Rea, Rea menoleh pada Alan dan menggelengkan kepalanya.
"Aku bahagia bisa menikah dan kamu, aku gak tahu gimana kalau waktu itu aku nolak perjodohan ini," ucap Alan.
"Aku boleh tanya sama kamu?" tanya Alan.
"Boleh," ucap Rea.
"Ehm, tadi pagi itu first kiss kamu atau bukan?" tanya Alan.
"Kamu tanya kayak gitu ke aku?" tanya Rea dan diangguki Alan.
"Kalau kamu gak mau ngasih tahu juga gapapa kok," ucap Alan.
"Kamu tahu gak kalau aku itu gak pernah deket sama siapapun?" tanya Rea dan Alan kembali menganggukkan kepalanya.
"Terus kamu masih tanya ke aku, tadi pagi first kiss aku atau gak, harusnya kan kamu udah tahu jawabannya," ucap Rea.
"Berarti tadi pagi itu first kiss kamu?" tanya Alan dan diangguki Rea.
"Makanya masih kaku," lanjut Alan.
"Kalau kamu kayaknya bukan first kiss deh soalnya kamu kayak udah handal gitu," ucap Rea.
"Mana ada orang yang tadi pagi itu juga first kiss aku," ucap Alan.
"Masa sih?" tanya Rea dan diangguki Alan.
"Tapi, kok kamu kayak jago gitu bahkan aku aja gak tahu gimana balasnya dan kamu tahu?" tanya Rea.
"Aku tahu juga dari para anggotaku," ucap Alan.
"Anggota kamu? emangnya kamu tanya ke mereka gitu?" tanya Rea.
"Ya, gak dong sayang. Mereka kan habis ciuman kayak gitu terus kamu tahu Ryan kan dia itu orangnya super kepo dan dia tanya terus ya para anggotaku yang pernah ngelakuin itu cerita di sana dan ada aku tentunya yaudah karena inget cerita mereka makanya aku tahu," ucap Alan.
"Tapi kan para tentara itu gak pulang ke rumah mereka terus mereka ciuman itu sama siapa?" tanya Rea.
"Kamu tahu tempat yang ada di belakang persediaan obat waktu itu?" tanya Alan.
"Tempat yang ada di belakang persediaan obat? dimananya?" tanya Rea.
__ADS_1
"Kamu inget waktu malam-malam aku mergokin kamu yang mau ke bangunan belakang terus kamu nemuin kalungku yang jatuh?" tanya Alan.
Rea sempat berpikir beberapa saat hingga tiba-tiba ia teringat kejadian yang dimaksud Alan, "Yang pas aku denger suara aneh itu?" tanya Rea dan diangguki Alan.
"Memangnya kenapa sama bangunan itu bukannya kamu bilang kalau bangunan itu khusus tentara dan para relawan ataupun warga gak boleh ada yang masuk?" tanya Rea.
"Sebenarnya itu adalah tempat untuk para tentara memuaskan nafsu mereka," ucap Alan.
"Nafsu? maksud kamu itu tempat buat berhubungan badan?" tanya Rea.
"Ya, bisa di bilang seperti itu atau kalau jaman sekarang bilik cinta," ucap Alan.
"Berarti pasangan mereka ada di sana dong?" tanya Rea.
"Gak dong sayang, biasanya mereka menyewa perempuan malam yang ada di dekat sana karena perempuan di sana cukup menarik," ucap Alan.
Rea menatap tajam ke arah Alan dan Alan sadar akan hal itu, "Kenapa?" tanya Alan.
"Kamu kok tahu kalau perempuan di sana menarik, apa jangan-jangan kamu pernah nyobain perempuan yang ada di sana?" tanya Rea.
"Astaga, ya gak lah orang tadi pagi aja first kiss aku," ucap Alan.
"Ya, gak enak dong sayang masa nyobain tapi gak pake kiss," ucap Alan.
"Aw," rintih Alan saat mendapatkan pukulan di lengannya.
"Kok di pukul sih," ucap Alan.
"Ya, habisnya kamu malah ngomong kayak gitu, berarti kamu aku nyobain perempuan yang di sana gitu. Aku yakin kalau kamu belum nikah pasti kamu bakal nyobain perempuan di sana kan," ucap Rea.
"Gak sayang, aku bercanda tahu," ucap Alan.
"Ish, yaudah ceritain lagi," ucap Rea.
"Ceritain lagi? emangnya cerita apa lagi?" tanya Alan.
"Soal tempat itu kenapa harus ada? apa para tentara yang melakukan itu gak punya pasangan?" tanya Rea.
"Kalau kamu tanya kenapa tempat itu harus ada ya karena memang keinginan para tentara bisa di bilang suara mayoritas gitu, jadi mau gak mau ya kita siapkan karena mereka juga gak mungkin harus menahan nafsu mereka selama jangka waktu yang panjang bukan apalagi mereka yang sudah menikah dan sudah pernah melakukannya pasti akan merasa sakit dan kalau kamu tanya mereka punya pasangan atau gak ya aku bakal jawab ada yang udah dan juga yang belum, kembali lagi mereka melakukan itu karena nafsu mereka itu adalah pilihan mereka. Ya, semoga saja pasangan mereka tidak ada yang tahu," ucap Alan dan diangguki Rea.
"Kamu beneran gak pernah kan?" tanya Rea.
__ADS_1
"Beneran sayang, aku gak pernah kayak gitu, orang aku aja gak tahu gimana caranya nanti kalau kita mau ngelakuin itu kita lihat video dulu ya biar sama-sama belajar soalnya aku gak tahu, orang kamu aja perempuan pertama yang mau aku deketin," ucap Alan.
"Aku denger dari Dea katanya kamu dulu pernah di jodohin sama anak atasan kamu itu bener?" tanya Rea.
"Ya, gitu deh," ucap Alan.
"Terus juga kata Dea anak atasan kamu itu pernah ikut kontes kecantikan berarti dia cantik dong, tapi kenapa kamu nolak dia?" tanya Rea.
"Seberapa banyak Dea cerita ke kamu soal hal-hal yang gak penting itu?" tanya Alan.
"Em, gak banyak kok. Orang cuma anak atasan kamu doang, ayo cerita aku pengen tahu soalnya," ucap Rea.
"Jadi dulu itu setelah pelantikan mungkin, nah slaha komandanku minta aku ke rumahnya karena aku gak enak harus nolak yaudah aku ke rumahnya dan ternyata di sana komandanku ngenalin aku ke anaknya yang aku aja gak tahu dan bahkan aku gak tertarik dan selama di rumah itu aku gak ngobrol sama dia kalaupun aku ngobrol itu karena dia tanya udah itu aja terus pas terakhir-terakhir sebelum aku pulang akhirnya komandanku itu mengatakan niatnya yang sebenarnya dimana dia pengen jodohin aku sama anaknya dan karena aku tahu niatnya dari awal ya aku tolak aja langsung setelah itu aku pulang. Eh, pagi harinya aku dapat kabar kalau aku dan timku di pindahkan ke daerah perbatasan sama komandan itu padahal sebelumnya dia mengatakan kalau aku anak emas, jadi dia gak bakal bolehin aku ninggalin pusat, ternyata dia sendiri yang ngirim aku ke pusat," ucap Alan.
"Tahu gak, aku denger dari semua orang yang dekat dengan kamu katanya kamu itu cuek, datar, dingin dan irit bicara, tapi aku ngerasa gak tuh," ucap Rea.
"Aku emang sengaja mau ngerubah sifat jelekku buat kamu," ucap Alan.
"Oke, blok ke cerita tadi, jadi kamu di jodohin itu langsung setelah pelantikan dan di undang ke rumah komandan kamu?" tanya Rea dan diangguki Alan.
"Siapa nama anak komandan kamu?" tanya Rea.
"Aku juga agak lupa namanya sih, tunggu kalau gak salah sih namanya Viona atau siapa gitu aku lupa," ucap Alan.
"Hah! Viona! model internasional itu," ucap Rea dan mengambil ponselnya lalu mengarahkan layar ponselnya pada Alan.
"Yang ini?" tanya Rea dan diangguki Alan.
"Kamu kenal dia?" tanya Alan.
"Siapa sih perempuan di seluruh negeri ini yang gak tahu Viona perempuan cantik bahkan banyak yang bermimpi jadi dia," ucap Rea.
"Menurutku dia b aja sih," ucap Alan.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1