Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Saya Sudah Menikah


__ADS_3

Pagi harinya Rea sudah siap dengan barang-barangnya dan menunggu untuk masuk ke dalam bus yang saat ini sejak kemarin sudah terparkir di lapangan. Rea sedari tadi bersama dengan Qilla dan Nina, bahkan saat Rea ingin mengambil minum pun kedua sahabatnya itu mengikutinya.


"Kalian kenapa sih jangan lebay deh, nanti kita bisa ketemu lagi kalau kalian nanti balik ke kota," ucap Rea, yang jengah dengan sikap kedua sahabatnya itu.


"Ya, tapi kan itu nanti, Re. Kalau sekarang mah sekarang lagian nih ya gue pasti bakal kangen banget sama lo," ucap Qilla dan memeluk Rea.


"Ck, ya gue tahu. Gue emang orangnya ngangenin kok, jadi gak usah di kasih tahu juga gue udah tahu kali," ucap Rea.


"Karena hari ini lo bakal balik jadi gue iya in aja deh dan gak mau bantah," ucap Qilla.


"Na, tolong pisahin nih anak dong," ucap Rea, pada Nina yang berada di sebelah kanannya.


Nina pun menatap Qilla dan bukannya melepaskan pelukan Qilla, Nina justru memeluk Rea sama seperti yang dilakukan oleh Qilla. Rea benar-benar jengah dan ingin menghempaskan kedua sahabatnya itu.


"Ish, gue gak bisa napas tahu, kalau mau peluk ya biasa aja dong kalian mau gue mati apa," ucap Rea.


Akhirnya pelukan tersebut pun terlepasnya, Qilla dan Nina hanya cekikikan mendengar perkataan Rea. Tiba-tiba saja dokter Marko datang menghampiri mereka bertiga dan tentunya hal itu membuat ketiga perempuan tersebut terkejut pasalnya dokter Marko salah satu dokter yang di idam-idamkan para perempuan.


"Dokter Marko," sapa Qilla dan dokter Marko hanya tersenyum menanggapi sapaan Qilla.


"Oh iya, di sini siapa saja yang bakal kembali ke kota?" tanya dokter Marko.


"Saya dokter," ucap Rea.


Dokter Marko pun menatap Rea dengan kepala yang manggut-manggut, entahlah Rea tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh dokter Marko.


"Ada apa memangnya dokter?" tanya Qilla.


"Ah, gak ada apa-apa. Saya hanya ingin tahu saja siapa yang dipulangkan," ucap dokter Marko.


"Oh iya, dokter Marko masih di sini atau balik ke kota?" tanya Nina.


"Saya bakal kembali ke kota karena ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan dan untungnya pihak koordinator dan juga pihak rumah sakit mengerti, jadi tidak terlalu susah untuk meminta izin. Apalagi sebenarnya saya juga menjadi salah satu dokter yang menetap di sini kan," ucap dokter Marko.

__ADS_1


"Berarti dokter Marko di gantiin dong sama dokter lain?" tanya Nina dan diangguki dokter Marko.


"Nanti duduk sebelah saya ya," pinta dokter Marko ada Rea.


Rea dan kedua sahabatnya terkejut mendengar hal tersebut karena bagaimanapun dokter Marko salah satu dokter yang paling banyak di sini apalagi terutama di kota dan Rea yakin banyak juga yang akan menatapnya tidak suka. Selain itu juga, Rea tidak ingin orang-orang membicarakan yang tidak-tidak tentang Rea. Rea juga takut jika ia mencemarkan nama baik suaminya, padahal Rea memiliki suami. Tapi, ia justru duduk dengan pria lain, karena hal itu pula akhirnya Rea memilih untuk menekan permintaan dokter Marko secar halus tentunya.


"Maaf, dokter. Saya tidak bisa, saya lebih nyaman duduk sendiri atau dengan sesama perempuan," ucap Rea.


"Ah, iya tidak apa-apa kok, lagian saya juga tidak memaksa. Kalau begitu kita masuk ke dalam bus supaya gak ketinggalan," ucap dokter Marko setelah melihat pintu bus mulai terbuka.


"Dokter Marko silahkan duluan nanti saya akan ke sana kok," ucap Rea dan mau tidak mau dokter Marko lun mengiyakan perkataan Rea dan menaiki bus terlebih dahulu.


Sedangkan Rea memilih untuk membiarkan dokter Marko masuk terlebih dahulu ke dalam bus karena Rea ingin mengucapkan salam perpisahan untuk kedua sahabatnya ini, "Kalau ada apa-apa jangan lupa kabari terus juga gue doain semoga kalian berdua dapat jodoh di sini," ucap Rea.


"Amin!" pekik Qilla dan Nina secara bersama-sama.


"Jangan teriak-teriak gitu kali sampe sakit telinga gue," ucap Rea.


"Hehehehe, refleks tadi itu," ucap Qilla.


Namun, baru saja ia akan memasuki bus tiba-tiba seseorang menahan tangannya dan membuat langkah Rea pun ikut terhenti. Rea membalikkan tubuhnya dan menatap Alan yang berada ditempat di hadapannya. Ini adalah pertama kalinya alam dan Rea salin tetap setelah beberapa hari akan selalu sibuk dengan tugasnya dan begitupun dengan Rea.


"Ada apa kapten Alan?" tanya Rea dan melepaskan tangan Alan yang berada di lengannya.


Alan yang sadar pun langsung melepaskan tangannya dan menatap Rea, "Saya ingin memberikan ini pada dokter Rea," ucap Alan dan memberikan sebuah kotak kecil pada Rea.


"Saya tidak bisa menerimnya kapten Alan," ucap Rea, sejujurnya ia merasa kurang enak jika harus menerima barang tersebut.


"Terima saja anggap sebagai kenang-kenangan," ucap Alan.


"Kalau begitu terima kasih," ucap Rea.


"Apa dokter Rea sudah memiliki pasangan?" tanya Alan.

__ADS_1


Rea pun menatap tajam Alan dan tersenyum cerah, "Saya sudah menikah, ini cincin pernikahan saya dan saya sangat menyayangi suami saya," ucap Rea dan menunjukkan cincin yang tersemat indah di kalung yang berada di leher Rea.


Ya, selama ini Rea tidak memakai cincinnya karena takut nanti ada yang curiga selain itu juga karena pekerjaannya sebagai dokter yang tidak memungkinkan untuk memakai cincin di tangannya karena takut saat melakukan operasi dan Rea lupa melepaskannya maka akan berdampak fatal bagi pasiennya dan sebab itu Rea memutuskan untuk menaruh cincin tersebut di kalungnya. Kalung itu sendiri di Rea dapat dari mertuanya saat mereka jalan-jalan di taman setelah pernikahan Rea dan suaminya.


Tanpa Rea sadari Alan tersenyum mendengar perkataan Rea yang seolah menutup semua laki-laki untuk mendekatinya kecuali suaminya, 'Terima kasih tuhan karena kau hadirkan bidadari seperti istriku,' ucap Alan dalam hati dan menatap lekat Rea.


Rea yang ditatap pun merasa aneh, apa perkataannya tadi menyinggung atau bagaimana karena Alan tetap menatap Rea.


"Kapten Alan kenapa lihat saya begitu?" tanya Rea.


"Ah, tidak saya hanya sedikit terkejut karena dokter Rea sudah menikah. Saya kira dokter Rea masih sendiri karena saya dengar dari orang-orang dokter Rea sendiri dan tidak memiliki pasangan," ucap Alan.


"Kapten Alan adalah orang pertama yang tahu saya sudah menikah selain keluarga saya bahkan sahabat saya saja tidak tahu mengenai pernikahan saya," ucap Rea.


"Kenapa dokter Rea mengatakan semuanya ke saya?" tahap Alan.


"Entahlah saya rasa kapten Alan harus tahu saja dan saya harap untuk kapten Alan tidak memberitahukannya pada orang lain baik itu sahabat saya atau siapapun itu," ucap Rea.


"Kenapa dokter Rea ingin menyembunyikan hubungan dokter Rea?" tanya Alan.


"Ada hal yang harus saya bicarakan dengan suami saya secara langsung jadi saya tidak akan mengumumkan mengenai hubungan saya sebelum saya membicarakan hal tersebut," ucap Rea.


Baru saja Alan akan menjawab tiba-tiba teriakan dokter Danu mengehentikan nya, "Semua relawan yang akan dipulangkan segera masuk ke dalam bus karena sebentar lagi bus akan berangkat!" teriak dokter Danu.


"Kalau begitu saya permisi kapten," pamit Rea.


"Bodoh kau Alan kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya sih," gumam Alan.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2