
"Lea!" panggil Tyas.
"Kenapa Yas? ada masalah?" tanya Lea.
"Gak kok, tapi gue dapat berita kalau proposal yang lo bikin kemarin berhasil tembus ke direktur," ucap Tyas.
"Lo beneran?" tanya Lea.
"Beneran gue gak bercanda Lea," ucap Tyas.
"Tapi, kok cepet banget bisa keterima," gumam Lea.
"Mana gue tau, gue juga kaget kok," ucap Tyas.
"Yaudah, kalau gitu ayi kita ke ruangannya pak Anton pasti sekarang pak Anton seneng banget deh," ucap Lea.
"Iya ayo," ucap Tyas.
Mereka berdua pun sampai di ruangan pak Anton yang berada tepat di dalam ruangan mereka, "Pak Anton gimana kata Bu Maya?" tanya Lea.
"Bu Maya sudah menyetujui proposal kita, sekarang tinggal menunggu kapan persetujuan dari presdir dan setelah itu kita tinggal menunggu dana cair," ucap pak Anton.
"Seneng banget, akhirnya kerja keras kita semua selama ini terbayar dengan diterimanya proposal kita sama Bu Maya," ucap Tyas.
"Ya, pokoknya kalau Bu maya sudah setuju biasanya perizinan ke presdir bakal cepet dan gampang," ucap pak Anton.
Setelah membahas kelanjutan mengenai proyeknya, Lea pun duduk di kursinya dan menatap layar komputer uang tengah menampilkan sebuah video masakan kesukaannya yaitu Pasta.
Karena memang jadwalnya hari ini cukup senggang sehingga Lea dapat bersantai sekarang, "Santai banget loh, Le," ucap Tyas, yang masih duduk di kursinya.
"Iya dong, gue harus menikmati hidup gue ini," ucap Lea.
"Oh iya, lo masih tinggal di rumah tante Rea?" tanya Tyas.
"Iya masih, lagian gue juga bakal tinggal di sana selama 8 bulan, may be," ucap Lea.
"Lama banget lo tinggal di rumah tante Rea, terus gimana sama suami lo?" tanya Tyas.
Ya, Tyas memang belum tau mengenai Noah yang akan ditugaskan ke daerah A, Lea juga tidak memberitahu karena Tyas tidak bertanya, lagipula ini juga urusan rumah tangga Lea kan.
"Kak Noah bakal ditugaskan ke daerah A selama 8 bulan selama itu juga gue bakal tinggal di rumahnya ayah sama bunda, gue gak beranilah sendirian di apartemen," ucap Lea.
"Iya juga sih, gue juga takut kalau tinggal sendirian. Terus kenapa lo gak tinggal sama orangtuanya kak Noah aja?" tanya Tyas dan Lea menggelengkan kepalanya.
"Daddy Albert sama mommy Emma lagi ada urusan di luar negeri, jadi mereka udah beberapa hari gak di rumah dan kembali ke sini lun masih lama sekitar 1 atau 2 tahun lagi makanya gue lebih milih tinggal sama ayah sama bunda," ucap Lea.
__ADS_1
"Kalau gitu, gue bisa nginep di rumah lo dong. Kayak dulu gitu," ucap Tyas
"Bisa dong, lagian kita udah lama banget nih gak tidur bareng, dulu aja setiap Minggu kita selalu nginep di rumah gue atau rumah lo gitu kan. Tapi, setelah lo nikah kita gak pernah kayak gitu lagi," ucap Tyas.
"Iya nih, gue kangen banget kayak gitu," ucap Lea.
"Gue pengen ajak lo, tapi gue takut ganggu karena kan lo juga udah punya suami, jadi gak bisa bebas kayak dulu lagi. Kalau gue kan beda sama lo, gue masih jomblo, jadi bebas buat ngapain aja," ucap Tyas.
"Tapi, kalau lo mau ketemu atau jalan bareng gitu lo tinggal chat gue aja. Gue bakal izin kok ke kak Noah, kak Noah pasti bakal ngerti kok. Lagian lo itu udah gue anggap sebagai saudara bukan temen. Kebangetan sih kalian kak Noah gak izinin gue pergi sama saudara gue," ucap Lea.
"Beneran?" tanya Tyas.
"Beneran dong, jaman sekarang itu banyak orang yang ngakunya sahabat dekat gitu, tapi setelah dia nikah kayak lupain kita gitu. Sebenarnya gak ada masalah sih sama hal itu karena orang itu juga punya prioritas sendiri gitu ya kan, tapi kadang tuh orang-orang kayak mereka ngeselin. Maksudnya gini loh, kita ini udah sahabatan dari dulu bahkan sebelum sahabat kita itu kenal sama pasangannya, tapi dengan mudahnya mereka menjauh dan menciptakan suasana canggung antara persahabatan itu. Yang awalnya sahabat berubah jadi orang asing dan gue gak mau itu terjadi," ucap Lea dan berhenti sejenak mengatur nafas.
"Gue mau tetep seperti dulu sebelum gue nikah karena saat gue nganggep seseorang sebagai sahabat gue, gue bakal prioritasin dia sebagai keluarga gue," lanjut Lea.
"Hiks hiks, terharu gue," ucap Tyas.
"Dasar cengeng, makanya kalau ada apa-apa jangan sungkan buat cari gue karena gue selalu ada buat lo," ucap Lea.
Tyas pun berdiri dan berlari ke arah kursi Lea dan tiba-tiba saja Tyas memeluk Lea.
"Heh! ngapain lo meluk gue," ucap Lea.
"Ish, lepasin. Gue gak bisa napas tau," ucap Lea.
"Hehehe, maafkan diriku ini," ucap Tyas.
"Kalian ngapain tadi peluk-pelukkan?" tanya Rudy, yang baru saja datang.
"Kepo lo," ucap Tyas.
"Gue gak kepo, tapi gue pengen ikutan. Yuk pelukan lagi, tapi sekarang gue ikut," ucap Rudy.
"Pelukan sama bantal guling sono," ucap Tyas dan kembali ke kursinya.
"Galak amat ibu Tyas yang terhormat," ucap Rudy.
"Bodoh," ucap Tyas dengan ketus.
"Nanti kalau galak-galak gak ada yang mau loh," ucap Rudy.
Tyas pun menatap Rudy secara intens, "Istri lo galak, tapi dia ada yang gitu. Buktinya lo mau sama istri lo, padahal kan istri lo dikenal galaknya gak ketulungan," ucap Tyas.
"Jangan bawa istri gue, kalau dia tau bisa-bisa hancur dunia," ucap Rudy dan membuat gelak tawa tanya dan Lea.
__ADS_1
.
Sore harinya Lea sudah berada di apartemen setelah tadi ia dijemput oleh Noah. "Kakak mau bawa satu tas ini doang?" tanya Lea.
"Iya," jawab Noah.
Hari ini Lea membantu Noah untuk mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa suaminya itu ke tempat bertugasnya.
"Tapi, kan kakak di sana selama 8 bulan masa cuma bawa satu tas ini doang. Gak bakal cukup kak kalau segini," ucap Lea.
"Cukup kok, tinggal pilih pakaian yang hanya di pakai saja tidak perlu membawa banyak pakaian cadangan yang tidak akan terpakai," ucap Noah dan diangguki Lea.
Le lun menyiapkan segala keperluan Noah hingga 2 jam berlalu akhirnya Lea berhasil menyiapkan semuanya.
"Kamu kenapa sampe berkeringat segala sih," ucap Noah dan menghapus keringat yang membasahi wajah cantik istrinya itu.
"Hehehe, ternyata butuh waktu lama ya," ucap Lea.
"Lebih dari 2 jam buat siapin semuanya," ucap Noah.
"Memang kakak biasanya membutuhkan waktu selama ini ya buat siapin barang-barang yang mau kakak bawa?" tanya Lea.
"Kalau aku cuma 10 atau 20 menit aja sih," ucap Noah.
"Hah! kok cepet banget sih bahkan gak ada setengahnya Lea?" tanya Lea.
"Karena aku cuma bawa apa yang benar-benar perlu dan akan di bawa, selain itu juga aku gak peduli soal warna. Yang jelas pakaian itu buat aku nyaman yaudah aku pakai," ucap Noah.
"Kalau Lea mah gak harus sesuai sama sepatu yang nanti kak Noah pakai, terus juga warna baju dan celana yang harus selaras" ucap Lea.
"Makanya jadi lama," ucap Noah dan mencubit pelan hidung Lea.
"Yaudah, kita istirahat ya, kamu pasti capek kan," ucap Noah.
"Iya kak, capek banget," ucap Lea.
Mereka berdua pun beristirahat bersama untuk menghilangkan rasa lelah setelah lama menyiapkan barang milik Noah. Bukan Noah sih yang lelah, tapi Lea.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1