
Satu Minggu telah berlalu dan hari ini adalah hari dimana Nial akan kembali menemui pak Ruslan untuk melamar Maudy secara resmi dan Maudy sendiri juga sudah pulang karena Nial sendiri yang mengantarkan Maudy ke terminal untuk pulang.
Sebenarnya Nial ingin mengantarkan Maudy sampai rumahnya, tapi Maudy menolak karena satu hari setelah itu Nial akan ke rumahnya jadi untuk apa Nial mengantarkannya pulang lebih baik Maudy menggunakan bus saja.
"Sudah siap?" tanya bunda Rea.
"Iya Bun," ucap Nial.
"Yaudah, ayo semuanya udah siap," ucap bunda Rea dan diangguki Nial.
Saat ini Nial berada satu mobil dengan Daisy, Bobby, Bian, Brandon dan Yudha. Sedangkan Noah satu mobil dengan Lea, bunda Rea, ayah Alan dan untuk keluarga lainnya berada di mobil lain.
"Kenapa sayang?" tanya Noah, saat melihat Lea yang bersandar di bahunya.
"Gapapa kok kak," ucap Lea.
"Lea kenapa? pusing sayang?" tanya bunda Rea.
"Gak kok Bun, Lea gapapa," ucap Lea.
Sebenarnya tadi Lea tidak diperbolehkan untuk ikut, tapi Noah bingung harus meninggalkan Lea sendiri karena daddy Albert dan mommy Emma sedang ada perjalanan bisnis di luar negeri. Karena tidak ingin Lea sendiri akhirnya Noah dan bunda Rea serta ayah Alan sepakat untuk memperbolehkan Lea ikut.
"Noah, kamu kasih minum ke Lea," ucap bunda Rea dan memberikan air mineral ke Noah yang berada di belakang.
Noah lun mengambil air mineral tersebut, "Minum dulu ya biar enakan," ucap Noah dan diangguki Lea.
"Udah sekarang tidur lagi," ucap Noah setelah Lea meminum air.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang akhirnya keluarga besar Nial sampai di daerah rumah keluarga Maudy, setelah memarkirkan mobil mereka di parkiran militer, keluarga besar Nial pun berjalan menuju rumah Maudy.
Saat sampai di sana, Nial dapat melihat beberapa warga yang juga berada di sana melihat keluarga besar Nial yang akan ke rumah Maudy.
"Ini rumahnya?" tanya bunda Rea.
"Iya Bun, bunda gak masalah kan?" tanya Nial.
Bunda Rea pun tersenyum, "Gak kok, lagipula buat apa bunda mempermasalahkannya," ucap bunda Rea.
Nial pun mengucapkan salam terlebih dahulu dan setelah itu pak Ruslan pun keluar menyambut keluarga besar Nial, "Silahkan masuk, maaf kalau rumahnya kecil," ucap pak Ruslan.
"Tidak apa-apa pak, kami sangat berterima kasih karena diperbolehkan ke sini," ucap ayah Alan.
"Kalau begitu silahkan di nikmati hidangan yang sudah di siapkan," ucap pak Ruslan dan diangguki keluarga besar Nial.
"Maudy nya mana pak?" tanya bunda Rea.
"Astaga iya saya lupa, sebentar ya saya panggilkan Maudy," ucap pak Ruslan.
Pak Ruslan pun masuk ke dalam kamar Maudy, "Cepat keluar keluarga besar sersan Nial sudah datang, ingat jangan buat malu bapak," ucap pak Ruslan.
"Iya pak," ucap Maudy, yang berusaha mengatur rasa gugupnya.
Beberapa saat kemudian, Maudy pun keluar dan hal itu tentunya membuatnya menjadi pusat perhatian, "Cantik banget calon menantu bunda," ucap bunda Rea dan menghampiri Maudy lalu memeluk calon menantunya itu.
"Maaf, kalau boleh tau dimana ibunya Maudy?" tanya nenek Nara.
"Ibunya Maudy ada di kamar Bu, tapi ibunya Maudy mengalami stroke dan lumpuh jadi tidak bisa ada di sini dan ada di kamar," ucap pak Ruslan.
"Bagaimana kalau acara pertunangannya kita laksanakan di kamar tempat ibunya Maudy saja pak biar beliau juga bisa melihatnya," ucap ayah Alan.
"Boleh, kalau begitu saya siapkan semuanya dulu," ucap pak Ruslan.
"Mari saya bantu," ucap Nial.
"Tidak perlu, ini kan acaranya sersan Nial jadi biar saya saja," ucap pak Ruslan.
"Biar saya saja yang bantu, ayo kalian juga bantu," ucap Noah pada teman-teman Nial.
"Siap letnan," ucap mereka.
Akhirnya setelah semuanya selesai, mereka pun berada di kamar tempat Bu Aini dirawat hanya Nial, Maudy, bunda Rea, ayah Alan dan pak Ruslan yang berada di dalam kamar dan sisanya menyaksikan di luar karena memang kamar tersebut juga sempit tidak muat jika banyak orang yang masuk, tali meskipun begitu pintu kamar tetap dibuka sehingga semua orang dapat menyaksikannya.
"Jadi, kedatangan kami sekeluarga ke sini adalah untuk meminang putri bapak yang bernama Maudy Azzurri untuk putra kami yang bernama Danial Aziel Dhananjaya," ucap ayah Alan.
"Saya sekeluarga sangat berterima kasih pada pak Alan dan sekeluarga karena memiliki niat baik pada putri kami, tapi untuk masalah tersebut semua keputusan ada di tangan Maudy, saya hanya akan mendukung apapun keputusan Maudy karena itu pasti yang terbaik buat dirinya," ucap pak Ruslan.
"Bagaimana nak Maudy? apa nak Maudy menerima pinangan dari Nial?" tanya ayah Alan.
"Bismillah, insyaallah saya terima pinangan dari kak Nial," ucap Maudy.
Semua orang yang ada di sana mengucapkan syukur karena apa yang mereka takutkan tidak terjadi yaitu dimana Maudy menolak Nial, "Kalau begitu kalian silahkan tukar cincin," ucap bunda Rea.
Setelah tukar cincin mereka pun mengobrol santai, "Sebelumnya maaf pak, tapi kalau boleh tau Bu Aini sudah berapa lama sakit seperti ini pak?" tanya bunda Rea.
"Sudah lama Bu, semenjak putri pertama kami meninggal," ucap pak Ruslan.
"Maaf pak, saya tidak bermaksud membuka luka lama pak Ruslan," ucap bunda Rea.
__ADS_1
"Iya, tidak apa-apa Bu," ucap pak Ruslan.
"Kalau begitu kita ke ruang tamu saja bagaimana, karena saya yakin Bu Aini juga butuh istirahat," ucap bunda Rea.
Saat ini semua orang sudah berada di ruang tamu ruang Maudy dan menikmati hidangan yang disajikan di hadapan mereka.
"Mau lagi?" tanya Noah setelah menyuapi Lea.
"Udah kak kenyang," ucap Lea.
"Yaudah, minum dulu ya," ucap Noah dan diangguki Lea.
"Mau nyemil?" tanya Noah, ia tau jika Lea memiliki kebiasaan baru yaitu nyemil setelah makan.
"Boleh kak, Lea pengen jeruk deh," ucap Lea.
"Yaudah, aku ke ayah dulu ya, mau ambil jeruk buat kamu," ucap Noah.
"Iya kak," ucap Lea.
Memang tempat jeruk tersebut cukup jauh dari Noah karena berada di dekat ayah Alan dan Nial yang tengah berbicara dengan pak Ruslan.
"Kak ada bibit pelakor tuh," bisik Daisy yang berada di samping Lea.
"Maksudnya?" tanya Lea.
"Tuh," ucap Daisy dan menunjuk ke arah belakang Lea menggunakan dagunya.
Lea pun menatap ke arah belakang dan melihat sang suami yang tengah mengambil beberapa jeruk serta cemilan lain tengah diketahui oleh seorang gadis yang Lea tau adalah adik dari Maudy.
"Pelakornya kok bocil sih," gumam Lea dan Daisy tertawa mendengarnya.
"Jaman sekarang pelakor gak mandang usia kak," ucap Daisy.
"Kak Noah," panggil Lea.
Noah uang selesai mengambilkan cemilan untuk istrinya pun menghampiri Lea dan meletakan cemilan tersebut tepat di hadapan Lea.
Tapi, jangan lupakan Caca yang juga mengikuti Noah bahkan ia sudah duduk tak jauh dari Noah.
"Kenapa?" tanya Noah.
"Pengen ke kamar mandi," ucap Lea.
"Mau Maudy anterin kak," ucap Maudy yang mendengar jika Lea ingin ke kamar mandi.
"Dimana kamar mandinya?" tanya Noah.
"Itu kak," ucap Maudy dan menunjuk kamar pintu kamar mandi yang ternyata terlihat dari ruang tamu.
"Yaudah ayo," ajak Noah dan menuntun Lea.
"Kak Noah ikut masuk ya," ucap Lea.
Noah menatap ke ayah sang istri, ia cukup heran dengan Lea karena tidak biasa Lea seperti ini.
"Gak mau ya, yaudah gapapa kok," ucap Lea dan tersenyum.
"Iya mau kok, aku ikut masuk," ucap Noah.
Ya, mereka pun masuk ke dalam kamar mandi berdua dan tentunya hal itu membuat semua orang yang ada di sana menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup.
"Kenapa mereka berdua masuk ke dalam bersama?" tanya bunda Rea.
"Biasa Bun, baby-nya yang pengen," ucap Daisy yang sengaja sedikit meninggikan suaranya.
Caca sendiri yang melihat fan mendengar hak itu pun terkejut lantas ia pun menatap Daisy, "Maksudnya baby apa?" tanya Caca.
"Kak Lea itu lagi hamil," ucap Daisy.
"Terus kenapa letnan Noah yang nemenin kak Lea?" tanya Caca.
"Kan kak Noah itu suaminya kak Lea, jadi wajar dong kalau kak Noah nemenin kak Lea," ucap Daisy.
"Letnan Noah udah nikah," ucap Caca.
"Iya, udah lama kali," ucap Daisy.
"Pasti bohong, gak mungkin letnan Noah udah nikah," ucap Caca.
Belum sempat Daisy menjawab tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan Caca pun refleks menatap Noah yang tengah menuntun Lea untuk duduk kembali ke tempatnya tadi.
"Makan jeruknya sekarang?" tanya Noah.
"Iya kak," ucap Lea.
Noah lun mengambil satu jeruk dan mengupasnya lalu setelah itu ia memberikannya pada Lea.
__ADS_1
"Kenapa sakit perutnya?" tanya Noah, saat melihat Lea yang memegang perutnya.
"Gak kok kak, cuma tiba-tiba perutnya bunyi aja," ucap Lea.
"Mau makan lagi?" tanya Noah.
"Gak kak, makan jeruknya aja," ucap Lea dan diangguki Noah.
Caca yang melihat hal tersebut pun panas dan memilih pergi lalu masuk ke dalam kamarnya.
"Kenapa tuh orang pasti kayak cacing kepanasan ngelihat kak Lea sama kak Noah," bisik Daisy.
"Bocil kayak gitu kok mau ngelawan kakak," bisik Lea.
"Kakak tadi sengaja ya," bisik Daisy.
"Iya dong," ucap Lea.
"Sayang, tadi kamu sengaja ya?" tanya Noah.
"Sengaja kenapa?" tanya Lea dan tersenyum.
"Kenapa tadi mau ke kamar mandi kalau gak ngapa-ngapain ke kamar mandi masa tadi cuma diam aja di kamar mandi," ucap Noah.
"Hehehe, gapapa kak. Tadi baby-nya tiba-tiba pengen aja ke kamar mandi," ucap Lea.
"Gemes banget sih sama kamu," ucap Noah.
"Kak," panggil Nial.
Noah yang mengerti kenapa Nial memanggilnya pun segera bangkit, "Aku temenin Nial dulu ya," ucap Noah dan diangguki Lea.
Nial dan Noah saat ini berada di kamar pribadi milik pak Ruslan, "Ini uang yang bapak inginkan," ucap Nial dan memberikan sebuah cek dengan uang yang sesuai perkataan pak Ruslan.
"Baik, saya akan merestui kalian berdua," ucap pak Ruslan.
"Kalua boleh tau, kenapa pak Ruslan meminta syarat berupa uang? apa pak Ruslan tidak sadar jika pak Ruslan barusan menjual Maudy?" tanya Noah.
"Alasannya akan saya katakan setelah kalian menikah nanti," ucap pak Ruslan.
Setelah berbincang-bincang sebentar akhirnya keluarga besar Nial pun kembali ke kota karena besok mereka akan kembali beraktifitas seperti biasa. Untuk pernikahan Nial dan Maudy sendiri sudah disepakati akan dilaksanakan 4 bulan lagi.
"Kamu suka km sama Maudy? kamu gak main-main kan sama Maudy?" tanya bunda Rea, saya mereka sudah sampai di rumah.
"Gak Bun, Nial gak akan main-main dengan hal ini," ucap Nial.
"Bagus, bunda berharap juga begitu karena bunda sangat setuju kamu dengan Maudy," ucap bunda Rea dan diangguki Nial.
"Setelah ini, kamu urus berkas pernikahan kamu, kamu tidak perlu khawatir nanti ayah Alan minta bantuan uncle Ivan," ucap ayah Alan.
"Iya yah," ucap Nial.
"Lea kayaknya ngantuk banget, kamu ajak ke kamar gih," ucap bunda Rea.
"Iya Bun," ucap Noah dan menggendong Lea menuju kamar.
"Ayah tau, kalau ayahnya Maudy meminta uang 100 juta bukan," ucap ayah Alan dan membuat Nial terkejut.
"Ayah tau darimana?" tanya Nial.
"Dari kakak," ucap Noah.
"Lea udah tidur?" tanya bunda Rea.
"Iya Bun, Lea udah tidur," ucap Noah.
"Kenapa kak Noah kasih tau ayah?" tanya Nial.
"Ayah harus tau masalah ini karena menurut kakak ini adalah hal yang gak harus kamu sembunyikan," ucap Noah.
"Kamu berikan uangnya?" tanya ayah Alan.
"Iya Yah," ucap Nial.
"Bagus, berikan saja uangnya dan setelah kalian menikah kirim uang untuk keluarga Maudy," ucap ayah Alan.
"Maksud ayah?" tanya Nial.
"Setelah menikah keluargamu bukan hanya ayah, bunda, Daisy, Lea dan Noah. Tapi, juga keluarga Maudy," ucap ayah Alan dan Nial paham maksud ayah Alan.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1