Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Sendirian?


__ADS_3

Tak terasa hari ini Rea harus kembali dengan kegiatannya sebagai dokter, padahal sudah beberapa hari ia nyaman dengan kegiatannya sebagai istri, "Ayo aku antar, aku gak mau istriku ini kenapa," ucap Alan.


"Tapi, nanti kalau ada yang tahu gimana?" tanya Rea.


"Yaudah gapapa," ucap Alan, dengan santai.


"Ish, tapi kan banyak dokter sama perawat yang tahu kamu Mas, aku berangkat sendiri aja ya lagian mobilku kan ada di sini," ucap Rea.


"Gak boleh, aku yang antar kamu. Kamu gak sudah khawatir kan aku cuma di mobil gak keluar," ucap Alan.


Mau tidak mau Rea pun di antar oleh Alan. Sedangkan, Alan sendiri belum masuk karena dia baru masuk besok di tempat barunya. Sebenarnya bukan tempat baru juga karena sebelum Alan di tugaskan ke daerah perbatasan ia berada di pangkalan pusat bersama timnya.


"Nanti pulang kabarin aku ya biar aku jemput," ucap Alan.


"Iya," ucap Rea.


Beberapa saat kemudian, mobil yang Alan kendarai pun sampai di rumah sakit. "Aku masuk dulu ya," ucap Rea dan menyalami tangan Alan lalu mengecup pipi Alan dengan cepat dan keluar dari mobil dengan berlari.


Alan sendiri pun terkejut dan memegang pipinya yang dikecup Rea tadi dan tersenyum cerah bahkan Alan saat ini menjadi salah tingkah. Untung saja tidak ada Rea, Alan dapat pastikan jika ada Rea maka Rea akan meledeknya dan menertawakannya.


Disisi lain Rea berlari hingga ia sampai di ruangannya, "Kenapa Re, batu masuk udah lari-larian aja?" tanya Qilla.


"Gak ... gapapa kok huh huh," ucap Rea, dengan suara yang tersengal-sengal.


"Dokter Rea," panggil Fafi.


"Iya, ada Fi?" tanya Rea.


"Di ruang praktek ada Nyonya Andriani dan ingin bertemu dengan dokter Rea," ucap Fafi.


"Hah! bukannya dia udah di rujuk ke rumah sakit lain, kok dia bisa di sini sih?" tanya Rea.


"Saya juga kurang tahu dok," ucap Fafi.


"Yaudah, ayo ke sana. Gue pergi dulu ya dah," ucap Rea dan berpamitan pada Qilla.


Rea dan Fafi pun sampai di ruangannya dan benar saja di sana sudah ada Andriani, "Selamat pagi Bu Andriani, kalau boleh tahu ada apa ya ibu Andriani datang ke sini dan ingin menemui saya?" tanya Rea.


Sejujurnya Rea ingin sekali menarik Andriani keluar dari ruangannya. Namun, ia masih tahu sopan santun, "Saya hanya ingin melihat bagaimana kondisi dokter Rea setelah melempar saya ke rumah sakit lain," ucap Andriani.


"Ya, seperti yang anda lihat, saya baik-baik saja bahkan sangat baik-baik saja karena beban hidup saya sudah pergi," ucap Rea.

__ADS_1


"Maksud anda mengatakan jika saya beban hidup anda?" tanya Andriani.


"Apakah sayang bilang Bu Andriani beban hidup saya? saya rasa tidak pernah bukannya Bu Andriani yang menyimpulkannya," ucap Rea.


"Saya tidak terima, anda ingat bukan jika suami saya seorang polisi. Saya akan beritahu suami saya untuk memberikan peringatan pada anda karena telah merujuk saya ke rumah sakit yang lebih rendah dari Daiva General Hospital," ucap Andriani.


"Silahkan, saya sangat menunggu hal itu. Seperti yang anda tahu saya juga akan menyewa pengacara dan membuat peringatan pada karena telah mengatur dan mengancam dokter untuk memenuhi segala keinginan anda padahal anda pun tahu jika anda tidak berhak," ucap Rea.


"Saya tidak takut," ucap Andriani dan pergi meninggalkan Rea.


"Dokter Rea tidak apa?" tanya Fafi.


"Saya gapapa kok," ucap Rea.


"Tapi, tadi Nyonya Andriani akan memperingati anda bagaimana ini dokter takutnya rumah sakit tahu dan mengadakan rapat laku menurunkan posisi anda," ucap Fafi.


"Kamu tidak perlu khawatir, saya gapapa lagian kalau memang posisi saya harus turun kuah tidak masalah, saya juga bosan," ucap Rea.


"Tapi, nanti dokter bisa saja pindah dari VIP ke umum," ucap Fafi.


"Tidak apa-apa Fafi, apa ada pasien lagi?" tanya Rea.


"Untuk saya ini tidak dokter, tapi nanti jam 10 ada Bu Sherly," ucap Fafi.


"Dokter tidak apa-apa? atau perlu saya atur ulang jadwalnya?" tanya Fafi.


"Saya gapapa, jadi kamu gak perlu atur ulang jadwalnya. Saya mau meriksa beberapa riwayat penyakit pasien kalau gitu kamu bisa keluar," ucap Rea dan diangguki Fafi.


"Kalau begitu saya permisi," ucap Fafi.


Setelah Fafi keluar dari ruang praktek, Rea pun mulai membaca riwayat penyakit para pasiennya. Sebenarnya tidak terlalu banyak, tali tetap saja Rea merasa lelah karena kebanyakan sifat pasiennya sangat mengesalkan bagi Rea, "Kapan gue dapat pasien kayak pasiennya Qilla, huh. Astaga Rea gak boleh kayak gitu ah semua pasien itu sama kecuali Andriani," gumam Rea.


Rea terus memeriksa beberapa riwayat pasiennya hingga ketukan pintu pun terdengar, setelah itu Rea pun mempersilahkannya untuk masuk dan ternyata Fafi bersama dengan Bu Sherly, "Dokter ini Bu Sherly sudah datang," ucap Fafi dan diangguki Rea.


"Silahkan duduk, Bu," ucap Rea, dengan sopan.


Rea pun mulai memeriksa keadaan Bu Sherly, "Bu Sherly minum obat yang sudah saya resepkan bukan?" tanya Rea.


"Ya sudahlah? sampe mau muntah tahu gak saya!" ucap Bu Sherly, dengan ketus.


"Memang seperti itu, Bu. Supaya Bu Sherly tidak merasakan sakit," ucap Rea.

__ADS_1


"Kenapa tidak di operasi saja sih?" tamat Bi Sherly.


"Pasti itu, Bu. Tapi, tetap kita harus kiat observasi lagi Bu," ucap Rea.


"Cepetan dong dok saya sudah gak kuat ini," ucap Bu Sherly.


"Iya, saya akan usahakan untuk cepat," ucap Rea.


Setelah memeriksa kembali Bu Sherly, Rea lun mulai sibuk dengan pasien lainnya karena memang sering mendapat pasien saat istirahat atau setelah istirahat seperti saat tadi siang Rea sampai melupakan waktu istirahat karena banyaknya pasien yang datang saat sebelum istirahat. Sejak tadi Rea bersama dengan Fafi dan digantikan oleh Bima karena Fafi harus istirahat. Fafi tentunya menolak, tapi Rea tidak mau Fafi terus bekerja, sebab itu Rea meminta Bima untuk menggantikan Fafi.


"Re, udah selesai belum udah waktunya pulang nih," ucap Qilla, yang muncul di balik pintu ruang praktek Rea.


"Udah jam berapa emang?" tanya Rea dan melihat ke dinding.


Betapa terkejutnya Rea data melihat jam yang menunjukkan pukul 7 malam, itu artinya ia lupa waktu padahal hari ini ia tidak ada jadwal malam. Memang sejak prakteknya tutup Rea bukannya beres-beres untuk pulang, Rea justru memeriksa kembali data pasiennya dan tentunya sendiri karena Fafi dan Bima sudah pulang setelah praktek Rea tutup.


"Ayo pulang bareng gue, lo tadi gak bawa mobil kan soalnya tadi pas gue ke parkiran gak ngelihat mobil lo," ajak Qilla.


"Iya bentar," ucap Rea dan mulai membereskan barang-barangnya.


"Ayo," ajak Rea, lalu mereka berdua pun keluar dari rumah sakit lalu menuju parkiran dan menaiki mobil Qilla.


Setelah mengendarai mobilnya Qilla pun sampai di rumah Rea, "Udah sama masuk," ucap Qilla.


"Oke, makasih ya, La," ucap Rea dan keluar dari mobil Qilla, lalu masuk ke dalam rumahnya.


"Kamu kenapa ke sini, Re?" tanya Bunda.


"Ya, pulanglah Bunda, masa anaknya pulang malah ditanyain sih," ucap Rea.


"Sendirian?" tanya Bunda.


"Ish, ya iyalah Bundaku sayang," ucap Rea.


"Gak sama Alan?" tanya Ayah Argi.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2