
Saat ini adalah hari pernikahan Noah dan Lea, setelah 10 bulan yang lalu perjodohan mereka di rencanakan dan sudah 2 bulan lalu Noah pulang tentunya setelah semua urusannya selesai dimana akhirnya kedua belah pihak akan mengadakan perjanjian untuk kepentingan kedua negara tentunya.
Selama 10 bulan tersebut kedua keluarga membantu mempersiapkan segala urusan pernikahan Noah dan Lea, akhirnya saat yang ditunggu-tunggu oleh mereka pun akan segera terlaksana dimana saat ini Lea sudah cantik dengan riasan naturalnya dan Noah yang sudah gagah dengan jasnya. Noah dan Lea memutuskan untuk menikah secara sederhana di rumah Lea dan tidak mengadakan resepsi, itupun karena usulan dari Noah dan Lea.
Alasan Noah dan Lea tidak mengadakan resepsi adalah karena mereka berdua tidak memiliki banyak teman dan takut jika tidak ada yang datang, sebenarnya itu hanya alasan Lea kalau Noah pun pasti banyak yang datang, tapi karena memang Noah tidak terlalu suka keramaian sebab itu ia pun beralasan yang sama dengan Lea. Mau tidak mau kedua keluarga pun menyetujuinya.
(Jika ada yang tanya kenapa kok gak ada upacara pedang pora atau semacamnya untuk para tentara, jadi author sudah jelaskan sejak awal jika cerita ini tidak mengandung hirarki atau birokrasi dari negara manapun bahkan dari Indonesia. Cerita ini sepenuhnya khayalan author dan jika tidak sesuai dengan apa yang terjadi di dunia nyata, itu wajar bukan. Ingat ini hanya cerita fiktif)
"Cantik banget sih anak bunda," ucap Rea.
"Bunda bisa aja," ucap Lea.
"Gue gak nyangka, sahabat gue satu-satunya bakal nikah. Mana tadi gue liat calon suami lo ganteng banget lagi," ucap Tyas.
"Siapa dulu uang nyari bunda gituloh," ucap Rea.
"Tante ini bisa aja ya," ucap Tyas.
"Kamu di sini dulu ya, sebentar lagi mau akad terus nanti ada yang bakal jemput kamu," ucap Rea dan diangguki Lea.
Lea dapat mendengar suara dari luar yang sepertinya ramai karena di dalam kamar Lea memang tidak disediakan layar untuk melihat keadaan di luar kamar. Selain itu, juga karena tidak ada pengeras suara, sehingga Lea tidak tau kapan acara di mulai.
Disisi lain Noah yang saat ini sudah berada di ruang tamu keluarga Alan pun terlihat gugup, "Jangan gugup santai aja, kalau gugup nanti aja loh waktu malam pertama," ucap kak Ray.
"Kakak nih apaan sih, jangan ngomong kayak gitu," ucap Rea.
Beberapa saat kemudian, Noah pun menjabat tangan Alan dan mengucapkan ijab kabul dengan lantang, "Sekarang Lea sudah menjadi tanggungjawab mu, kau harus jaga dia. Kalau kau sudah tidak sanggup dengan Lea bilang padaku, aku akan bawa Lea," ucap Alan.
"Saya akan berjanji untuk membahagiakan Lea dan tidak akan pernah memberikan Lea pada anda," ucap Noah.
"Aku tidak butuh janjimu," ucap Alan, dengan tegas.
"Saya akan buktikan janji saya," ucap Noah.
"Aku akan selalu mengawasimu," ucap Alan dan diangguki Noah.
"Biar Gia aja ya kak yang manggil Lea," ucap Gia.
"Iya, Gi," ucap Rea.
"Sama Daisy aunty," ucap Daisy.
"Yaudah, ayo," ucap Gia. Gia dan Daisy pun berjalan menuju kamar Lea.
__ADS_1
Lea yang tengah deg-degan pun semakin gugup saat melihat Gia dan Daisy yang masuk ke dalam kamarnya, "Ayo, Lea. Kita keluar, suami kamu udah nungguin loh," ucap Gia.
"Lea di sini aja deh aunty, Lea takut keluar," ucap Lea.
"Kok takut sih, suami kamu udah gak sabar loh pengen ketemu kamu," ucap Gia.
"Iya, kak. Tadi Daisy lihat kak Noah ganteng banget," ucap Daisy.
"Ayo Lea sayang," ucap Gia.
Akhirnya Lea pun berdiri dan dituntun menuju ruang tamu, sesampainya di ruang tamu semua perhatian tertuju pada Lea, Lea hanya mampu menunduk karena saat ini ia benar-benar malu, takut dan gugup tentunya. Setelah sampai di dekat Noah, Gia dan Daisy pun mendudukkan Lea tepat di sebelah Noah.
"Jangan nunduk terus, lihat suami kamu," ucap Rea.
Lea pun mendongak dan menatap Noah, sungguh ia sangat terpesona dengan ketampanan yang dimiliki suaminya itu, tidak salahkan jika Lea mengatakan Noah ini suaminya secara mereka kan sudah sah. "Salim jangan lihat terus, kalau mau terpesona nanti aja waktu di kamar," ucap kak Ray.
"Kakak nih ganggu aja," ucap Gia.
Lea pun mengambil tangan suaminya itu dan menyaliminya hingga beberapa saat kemudian, Lea merasakan benda kenyal yang berada di keningnya. Tubuh Lea tiba-tiba beku tidak bisa bergerak karena Noah uang mengecup keningnya, meskipun hanya kening, yakin Lea dapat merasakan sengatan listrik yang melumpuhkannya. Lebay bukan, tapi memang itulah kenyataannya.
Lea tidak menyangka jika ia akan menikah dengan seorang pria yang sejak kecil ia sukai dan kagumi, bahkan selama bertemu dengan Noah, Lea seorang mencuri pandang dan tentu saja rasa sukanya itu hanya ia yang tau dan tuhan tentunya bahkan keluarganya ataupun sahabatnya tidak ada yang tau, Lea sengaja menutup rapat rahasia itu karena ia pikir ia tidak akan berjodoh dengan Noah yang bisa dibilang terlalu sempurna untuk dirinya, tapi ternyata pikirannya salah.
Setelah menandatangani berkas pernikahan mereka, Noah dan Lea pun diarahkan untuk duduk di sofa yang disiapkan di ruang tamu, "Kalian duduk di sini untuk menyalami tamu undangan," ucap Rea.
"Maafin Lea ya Bun, kalau selama ini Lea ngecewain bunda," ucap Lea.
"Gak sayang, bunda bangga banget sama kamu," ucap Rea.
"Makasih bunda," ucap Lea dan kembali memeluk sang bunda.
"Oh iya Bun, kan gak ada tamu undangan," ucap Lea.
"Iya, tapi kan masih ada keluarga lainnya yang ingin tau kamu sama suami kamu," ucap Rea dan Lea hanya mampu menghela napasnya.
Tiba-tiba saja kesadaran Lea kembali, Lea segera melihat tangan kanannya yang berada di genggaman Noah, ia baru sadar jika setelah menandatangani berkas pernikahan tadi Noah langsung menggenggam tangan Lea dan sampai sekarang tangan itu masih terpaut. Lea berusaha untuk melepaskan genggaman tangan tersebut, tapi hasilnya nihil. Noah justru menggenggam erat tangan Lea.
"Jangan di lepas," ucap Noah.
"Ke-kenapa kak?" tanya Lea.
"Udah suami istri jadi gak masalah kalau kayak gini," ucap Noah dan justru membawa Lea semakin dekat kearahnya dengan tangan yang masih ia genggam.
Lea hanya mengikuti saja apa yang dilakukan Noah bahkan saat duduk Noah menaruh tangan Lea di atas pahanya, "Ka-kak," panggil Lea.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Noah.
"I-ini tangannya," ucap Lea.
"Kenapa emangnya tangannya?" tanya Noah.
"I-itu, dilepas aja ya," ucap Lea.
'Bisa meledak jantung gue kali kayak gini terus, ayo dong kak Noah lepas aja ya tangannya,' ucap Lea, dalam hati.
Lagi-lagi bukannya merespon perkataan Lea, Noah justru menggenggam erat tangan Lea. Namun, kali ini Noah menggenggam tangan Lea dengan kedua tangannya tak lupa Noah juga mengusap pelan tangan Lea.
"Kenapa? gak suka?" tanya Noah.
"Bu-bukan itu," ucap Lea.
"Terus?" tanya Noah.
"Malu," cicit Lea, tapi Noah masih dapat mendengar perkataannya.
"Kenapa harus malu?" tanya Noah dan Lea menggelengkan kepalanya.
"Gak usah malu, kita udah halal kok," ucap Noah dan mengecup tangan Lea yang sejak tadi ia genggam.
"Ekhem, mentang-mentang udah sah ya langsung cium-cium gitu," sindir Dea.
"Aunty mah," ucap Lea.
"Dulu kakak yang kamu ganggu sekarang Lea, astaga Dea Dea," ucap Rea.
"Hehehehe, gak lagi deh kak," ucap Dea dan pergi.
"Udah kalian lanjutin aja, tapi jangan deh nanti aja kalian lanjutin di kamar," ucap Rea.
Lea benar-benar malu karena kepergok, ya walaupun hanya karena Noah mencium tangannya, tapi tetap saja Lea malu.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1