
Malam harinya, Rea sudah menyiapkan makan malam dan tinggal menunggu Alan pulang. Sedangkan, baby Lea juga sedang bermain di ruang tamu bersama Rea tentunya. Beberapa saat kemudian, Alan pun pulang dan Rea menggendong baby Lea untuk menyambut Alan.
Saat Alan masuk ke dalam rumah, Rea pun menyalami tangan Alan, "Kamu mandi dulu terus makan, tadi aku udah masak soalnya," ucap Rea.
Alan hanya diam dan mengecup wajah baby Lea dan setelah itu pergi meninggalkan Rea di sana dengan terkejut, tidak biasanya Alan pergi begitu saja. Rea tentunya terkejut karena Alan yang biasanya mengecup keningnya, tapi hari ini Alan tidak mengecup keningnya bahkan Alan tidak merespon perkataan Rea.
"Mungkin mas Alan lagi capek," gumam Rea.
Rea pun menuju kamar untuk menyiapkan pakaian Alan, baru saja Rea menaruh pakaian yang akan di kenakan Alan tiba-tiba ia melihat Alan yang masuk ke dalam kamar dengan wajah segar dan pakaian rumahannya.
"Loh, kamu ganti baju juga, padahal ini aku udah siapin baju buat kamu loh," ucap Rea.
Tapi, lagi-lagi Alan tidak merespon ucapan Rea dan mengambil baby Lea dari gendongan Rea dan keluar kamar. Rea tentunya tidak percaya dengan apa yang dilakukan Alan, Rea tahu jika Alan saat ini tengah menghindarinya.
"Aku buat salah ya," gumam Rea.
Rea pun mengikuti Alan dan melihat Alan yang sedang memakan makan malamnya, "Kamu kok gak nungguin aku makannya, biasanya kan kamu nungguin aku kalau makan," ucap Rea dan duduk di depan Alan.
"Hem."
Rea mendelik kesal dengan jawaban Alan, "Kamu marah sama aku?" tanya Rea.
"Gak," ucap Alan dan menyelesaikan makan malamnya lalu menggendong baby Lea ke ruang tamu dan menonton televisi di sana.
"Kenapa sih mas Alan?" tanya Rea, pada dirinya sendiri.
Rea pun makan malam dan setelah itu menghampiri suaminya yang tengah menonton televisi serta bermain dengan baby Lea, "Kamu kenapa?" tanya Rea dan duduk di samping Alan.
"Gapapa," jawab Alan.
"Kalau gapapa kok kamu kayak gini," ucap Rea.
"Udah malam tidur ya sayang," ucap Alan, pada baby Lea dan menggendong baby Lea menuju kamar dan meninggalkan Rea sendirian di ruang tamu.
"Fix, ini pasti aku salah," ucap Rea dan lagi-lagi menghampiri Alan.
"Maaf," ucap Rea dan memeluk Alan dari belakang.
"Apa salahmu?" tanya Alan.
__ADS_1
Rea yang ditanya hal itu pun menggelengkan kepalanya, "Kenapa minta maaf kalau kamu tidak ada salah?" tanya Alan.
"Tapi, aku ngerasa kayak punya salah soalnya kamu diemin aku," ucap Rea.
Alan menghela napasnya dan membalikkan badannya menghadap istrinya itu, "Kamu gak punya salah, aku nya aja yang terlalu lebay," ucap Alan dan merebahkan tubuhnya.
Rea pun menatap Alan dengan tatapan sedih, ia tidak tau harus berbuat apa. Selama ini Alan tidak pernah bersikap seperti ini sehingga Rea tidak tau harus bagaimana menghadapi Alan.
'Gue ini dokter, gue pinter kok bahkan gue lulus dengan pujian, tapi kenapa gue bodoh banget kalau masalah kayak gini,' ucap Rea dalam hati.
Rea mendekati Alan dan memeluk Alan, saat ini akan tidur dengan menghadap Rea. "Kamu marah kenapa? maaf kalau aku punya salah," tanya Rea dan menelusupkan wajahnya pada dada bidang Alan.
"Kamu gak salah, sekarang kamu tidur," ucap Alan.
Alan pun melepaskan pelukan Rea serta menjauhkan wajah Rea yang berada di dadanya. Meksipun begitu Alan tidak tidur dengan membelakangi Rea, "Maaf," ucap Rea.
"Hem," jawab Alan, yang masih memejamkan matanya.
Rea pun mulai terisak melihat sikap Alan yang begitu dingin padanya hingga tanpa terasa ia terlelap, Alan yang tidak mendengar suara dan isak tangis di sebelahnya pun membuka matanya dan yang pertama kali ia lihat adalah wajah sendu istrinya.
"Apa susahnya buat jujur sama aku, aku bakal ngerti kok dan bakal berusaha percaya sama kamu. Tapi, kenapa kamu hancurin kepercayaan aku, kalau kamu gak ada apa-apa sama dia bukannya kamu gak perlu sembunyiin semuanya dari aku, bahkan kamu merasa tidak bersalah setelah semua ini, kamu anggap aku apa, Re. Aku marah dan kecewa sama kamu, aku butuh waktu. Aku selama ini berusaha untuk ngertiin kamu, tapi ternyata kamu yang gak ngertiin aku," gumam Alan.
Alan saat ini tengah khawatir dengan istrinya karena istrinya yang berada di rumah Qilla, "Kenapa lo?" tanya Alvin.
"Gue jemput istri gue dulu ya, gue gak tega ngelihat dia naik taksi," ucap Alan.
"Dokter Rea gapapa kali, gak usah sampe segitunya," ucap Ryan.
"Gue tau, tapi gue gak tega. Masa orang hamil suruh naik taksi, gue jemput dia aja," ucap Alan.
"Tapi, nanti lo harus bolak balik loh kalau jemput dokter Rea," ucap Alvin.
"Gak masalah, lebih baik gue yang bolak balik daripada istri gue harus naik taksi," ucap Alan.
"Yaudah, lo jemput dokter Rea dulu sana biar ini gue yang selesain," ucap Alvin.
"Thanks," ucap Alan dan pergi menjemput Rea.
Saat mengendarai mobilnya dan menuju rumah Qilla tiba-tiba Alan melihat sosok yang sangat tidak asing baginya, "Bukannya itu Rea? kenapa dia sama cowok yang katanya temen SMA nya itu?" tanya Alan pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Alan pun mengikuti mereka berdua hingga menuju cafe, "Kenapa mereka ke cafe?" tanya Alan.
Beberapa saat kemudian, Alan mencoba untuk menghubungi istrinya dan menanyakan keberadaannya dan berniat untuk menjemputnya, tapi Alan justru terkejut saya Rea berbohong jika ia berada di rumah Qilla padahal Alan jelas-jelas melihat istrinya berada di cafe bersama seorang pria yang tak lain teman SMA nya dulu, bahkan Alan tau jika teman SMA Rea tersebut memiliki perasaan terhadap Rea.
"Kamu bohongin aku, Re," gumam Alan.
Baru saja Alan akan menghampiri mereka berdua, tapi apa urungkan karena Rea dan Riko keluar dari cafe tersebut dan masuk ke dalam mobil Riko. Alan pun kembali mengikuti mereka berdua dan ternyata mereka berhenti di kompleks perumahannya.
"Bahkan kamu diantar temen kamu itu dan kamu nolak buat aku jemput," ucap Alan dan segera mengendarai mobilnya menjauh dari mobil yang di tumpangi Rea dan Riko.
Alan memilih untuk kembali ke pangkalan dan menyibukkan diri dengan tugas-tugasnya hingga Alan tidak melihat sudah jam berapa sekarang, "Kapten Alan kenapa?" tanya Raka.
Alan hanya menatap Raka dan kembali pada pekerjaannya, saat ini moodnya benar-benar hancur karena Rea yang berbohong padanya dan ia rasanya tidak ingin bertemu Rea. Kekanak-kanakan bukan, tapi Alan merasa benar-benar marah dan ia tidak ingin bertemu Rea juga karena Alan takut Alan melampiaskan kemarahannya pada Rea.
"Udah malam, pulang sana," ucap Alvin.
"Gue lembur," ucap Alan.
"Gak ada yang lembur, kalau mau lembur lo minta tugas ke daerah konflik sana," ucap Alvin.
"Lo pulang dulu aja," ucap Alan.
"Istri lo lagi hamil gak usah sok ngambek," ucap Alvin.
Alan menatap tajam Alvin, "Dah pulang sana," ucap Alvin.
Alan pun akhirnya pulang datang benar saja saat melihat Rea rasanya jika liar Alan kembali muncul, Alan segera pergi karena tidak ingin menyakiti Rea apalagi saat ini Rea tengah hamil, Alan mungkin butuh beberapa hari untuk menenangkan dirinya.
Alan hanya butuh kejujuran Rea, apalagi saat ini Rea adalah istrinya. Wajar bukan kalau Alan marah saat Rea bertemu dengan seorang pria dan Rea justru berbohong mengenai hal itu, apa susahnya terbuka mengenai masalah ini pada Alan.
# Flashback Off #
Pagi harinya Alan bangun terlebih dahulu dan bersiap-siap untuk latihan, tak lupa ia juga menyiapkan beberapa pakaian karena memang latihan kali ini ia akan menginap beberapa hari di asrama militer, selesai itu Alan pun menghampiri baby Lea yang masih terlelap dan mencium wajah putri cantiknya itu dan saat akan keluar kamar ia melihat Rea dan menghampiri Rea lalu mengecup kening Rea dengan cepat dan setelah itu ia benar-benar pergi tanpa berpamitan dan membangunkan Rea.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.