Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Jaga Rahasia


__ADS_3

Bukannya merespon perkataan Fafi Rea saat ini justru memilih untuk merebahkan tubuhnya di kasurnya, "Dokter Rea," panggil Fafi.


"Iya, kenapa Fi?" tanya Rea.


"Kapten Alan ganteng ya, kira-kira kapten Alan itu punya pacar gak ya," ucap Fafi.


Rea yang mendengar perkataan Fafi hanya diam saja karena sejujurnya Rea sedikit jenuh mendengar Fafi yang terus mengatakan jika Alan tampan, "Kamu istirahat jangan bahas kapten Alan terus sampe sakit telingaku gara-gara kamu bahas kapten Alan terus," ucap Rea.


"Hehehehe, iya dokter Rea," ucap Fafi.


Rea dan Fafi benar-benar terlelap bahkan tanpa mereka sadari hati mulai gelap, saat tengah terlelap tiba-tiba tidur Rea terganggu. Rea pun membuka matanya dan minat Nina yang tengah menggoyangkan lengannya.


Kenapa, Na?" tanya Rea.


"Kenapa-napa, kalian berdua lama banget tidurnya sampe kalian tekat makan siang," ucap Nina.


"Memangnya sekarang jam berapa?" tanya Rea.


"Sekarang udah jam 6," ucap Nina.


"Ya udahlah nanti malam aja sekalian makan malam, gue masih ngantuk banget nih," ucap Rea.


"Lo gak mau mandi apa?" tanya Nina.


"Emang siapa aja yang belum mandi, Fafi sama siapa lagi?" tanya Rea.


"Tinggal lo doang," ucap Nina.


Ucapan Nina berhasil membuat Rea sadar dari rasa kantuknya, "Kok tinggal gue doang, Fafi udah mandi?" tanya Rea.


"Fafi udah mandi, gue nyuruh dia mandi duluan soalnya lo daritadi lama banget di bangunin," ucap Nina.


Baru saja akan menjawab tiba-tiba Fafi masuk dengan muka segarnya, "Berarti gue mandi sendiri dong,' ucap Rea dan diangguki Nina.


"Temenin dong," ucap Rea.


"Gak mau ah, mending lo sendiri aja lagian kan lo tahu dimana kamar mandinya," ucap Nina.


"Ya walaupun gue tahu tempatnya, takut tetep takutlah mana kamar mandi harus turun gitu ke hutan," ucap Rea.


"Tenang Rea banyak lampu, mending lo cepet mandi sekarang daripada keburu malam," ucap Nina.

__ADS_1


Mau tidak mau Rea pun menuju kamar Andi sendiri, saat dalam perjalanan Rea berpapasan dengan dokter Jasmine yang sepertinya selesai mandi, "Dokter Rea," panggil dokter Jasmine.


"Dokter Jasmine selesai mandi ya?" tanya Rea dan diangguki dokter Jasmine.


"Dokter Rea baru mau mandi?" tanya dokter Jasmine.


"Iya dok, tadi saya ketiduran," ucap Rea.


"Kalau gitu dokter Rea ke bawah aja lagian di bawah banyak orang kok," ucap dokter Jasmine.


"Beneran dok, di bawah banyak orang?" tanya Rea dan diangguki dokter Jasmine.


"Untunglah, padahal saya takut banget kalau di bawah sepi kalau gitu saya turun ke bawah dulu ya," ucap Rea dan diangguki dokter Jasmine.


Benar kata dokter Jasmine ternyata di sana banyak orang bukan hanya para relawan perempuan, tapi juga beberapa warga perempuan dan anak kecil. Rea sangat beruntung karena ia tidak sendirian padahal data di kamp tadi Rea sudah berpikir bahwa ia akan sendirian.


Selesai mandi Rea segera keluar dari kamar Andi dan berniat untuk kembali ke kamp, tapi langkahnya terhenti lantaran seorang ibu-ibu memanggilnya, "Dokter Rea," panggil ibu-ibu tersebut.


"Iya Bu, ada apa?" tanya Rea.


"Ini kalungnya dokter Rea ketinggalan," ucap ibu-ibu tersebut.


"Astaga, iya Bu saya lupa. Terima kasih Bu," ucap Rea dan diangguki ibu-ibu tersebut.


Untungnya saat ini ibu-ibu tersebut berada di dekatnya dan kamar mandi perempuan cukup ramai sehingga pertanyaan ibu-ibu tersebut hanya Rea yang dapat mendengarnya. Rea tersenyum mendengar pertanyaan ibu-ibu tersebut dan menganggukkan kepalanya.


"Wah, saya kira dokter Rea masih sendiri," ucapnya.


"Ehm, Bu. saya boleh minta tolong ke ibu buat gak ngasih tahu siapapun soal itu karena bagi saya itu masih rahasia," ucap Rea.


"Tentu dokter, saya bisa jaga rahasia kok," ucapnya.


Setelah memastikan bahwa ibu-ibu tersebut tidak akan membuat rahasianya Rea pun naik ke atas menuju kamp dan saat akan masuk ke dalam kamp Rea dapat melihat beberapa anggota tentara yang tengah berjalan menuju kamp militer mereka.


"Kenapa di luar?" tanya Alvin.


Pertanyaan Alvin membuat Rea tersadar dan menatap Alvin, "Ya gak kenapa-napa, kalau begitu saya masuk dulu kapten," ucap Rea.


"Tunggu dokter Rea," ucap Alvin.


Rea yang awalnya memegang gagang pintu pun berhenti dan membalikkan badannya, "Ada apa sersan Alvin?" tanya Rea.

__ADS_1


"Hem, apa dokter Rea memiliki hubungan dengan kapten Alan?" tanya Alvin.


"Huh, pertanyaan itu lagi sampe bosen saya dengarnya," ucap Rea, lalu masuk ke dalam kamp.


Alvin yang melihatnya pun menatap tidak percaya karena ini pertama kalinya seorang perempuan mengacuhkannya, tapi mau bagaimana lagi Alvin tidak bisa berbuat apa-apa juga.


.


Alan sendiri setelah keluar dari kamp militer langsung menuju pengungsian dan saat ia sedang berjaga dengan anggota lain, akan tiba-tiba melihat Alvin yang menatapnya tajam dan menghampirinya, "Kenapa?" tanya Alan.


"Jangan di sini," ucap Alvin, lalu menarik Alan untuk menjauh dari anggota lainnya.


"Kenapa?" tanya Alan lagi.


"Bukannya harusnya gue yang tanya ya, kenapa?' tanya Alvin.


"Kenapa apanya?" taubat Alan.


"Ck, seorang kapten Alan mau menggendong seorang perempuan itu sangat mustahil bahkan anak dari komandan Arga dulu sampe berdarah pun seorang kapten Alan gak pernah mau gendong dan justru nyuruh anggotanya buat gendong, tapi ini beda loh soalnya kapten Alan sendiri yang malah gendong dokter Rea, sebenernya ada hubungan apa kapten Alan sama dokter Rea?" tanya Alvin.


"Gak usah sok mendramatisir deh," ucap Alan dan pergi meninggalkan Alvin.


"Lo pacaran kan sama dokter Rea?" tanya Alvin, yang berhasil menghentikan langkah Alan.


"Gue bakal kasih tahu nanti dan bukan sekarang," ucap Alan.


"Kenapa harus nanti sih?" tanya Alvin dan Alan hanya mengangkat bahunya acuh.


"Sabar, Vin. Lo itu punya sahabat yang irit ngomong," gumam Alvin.


Alan sendiri setelah waktu jaganya berganti pun memutuskan untuk kembali ke kamp militer dan setelah itu masuk ke dalam ruangannya, Alan melihat banyaknya berkas yang harus ia urus mengenai pemindahannya. Ya, Alan memang berencana akan pindah ke pangkalan militer yang ada di kota karena bagaimanapun ia saat ini sudah menikah dan tentunya pernikahannya harus segera ia beritahukan pada atasannya agar pemindahan Alan cepat selesai dan di setujui.


Meksipun begitu Alan rasa pemindahannya kali ini tidak akan mudah karena hampir 5 tahun ia berada di pangkalan perbatasan dan tentunya hanya orang-orang terpilihlah yang layak untuk menjadi pemimpin di pangkalan perbatasan. Bahkan pemimpin sebelumnya memimpin pangkalan perbatasan cukup lama sampai 19 tahun dan akhirnya beliau memilih pensiun. Namun, untuk Alan saat ini ia harus memikirkan Rea yang juga bekerja di rumah sakit.


Alan terus mengecek bagaimana persiapannya hingga tak terasa malam pun datang, "Wah, udah malam aja," gumam Alan dan melihat pada jam dinding yang menunjukkan pukul 10 malam.


"Sepertinya aku harus memeriksa persediaan senjata di gudang karena tadi Raka bilang kalau sengaja ada yang di gunakan untuk latihan," gumam Alan dan beranjak dari duduknya, lalu keluar menuju tempat persenjataan.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2