
Setelah 5 bulan yang lalu Vander melamar Daisy secara resmi dengan membawa keluarganya dan akhirnya hari ini mereka berdua telah resmi menikah, akad dilaksanakan di salah satu hotel ternama di kota.
Bukan hanya itu bahkan saksi yang didatangkan adalah seorang pengusaha ternama bahkan menjadi orang terkaya di negara tersebut.
Beberapa saat setelah dilaksanakannya akad nikah antara Daisy dan Vander, para tamu pun mulai menyalami kedua pengantin yang sudah duduk manis di atas pelaminan.
"Selamat ya sahabat gue yang paling cerewet," ucap Mutia.
"Makasih Tia," ucap Daisy.
"Gue gak nyangka ternyata lo langsung nikah aja setelah mantan nikah ya," bisik Mutia.
"Iya lah, sahabat lo ini banyak yang naksir ya, tapi emang gue aja yang pemilih," bisik Daisy.
"Gue denger katanya si Ardi lagi ada masalah sama istrinya," bisik Mutia.
"Beneran? bukannya mereka baru aja liburan tahun baru ya," tanya Daisy, dengan suara pelan agar sang suami tidak mendengarnya.
"Gue denger sih, istrinya Ardi selingkuh sama pejabat gitu, tapi ya gak tau lagi sih," ucap Mutia.
"Apa karena Ardi cuma pegawai biasa makanya istrinya lebih milih pejabat?" tanya Daisy.
"Gak tau juga sih, tapi kayaknya sih gitu mana gajinya si Ardi kan dikit gitu, kan istrinya Ardi itu salah satu perempuan yang suka barang-barang mahal. Tapi, ya biarin aja si Ardi dapat balasannya, dia sih milih nikah sama perempuan pilihan orangtuanya dan ninggalin perempuan pilihannya sendiri yang jelas-jelas dari keluarga terpandang," bisik Mutia.
"Gue malah berterima kasih sama Ardi dan keluarganya karena gue gak jadi Noah sama Ardi jadinya gue ketemu sama Vander yang jauh lebih baik dari pada Ardi," bisik Daisy.
"Bener sih, kalau kata gue mah lebih baik Vander daripada Ardi, bahkan menurut gue lebih gantengan Vander. Mana lebih kaya Vander lagi," bisik Mutia.
"Bener gue setuju, pokonya Vander itu terbaik deh buat gue," bisik Daisy.
"Kalau mau bicara soal mantan jangan di sini ya, nanti aja kalau kalian lagi berdua soalnya di sini pengantin cowoknya cemburuan," bisik Vander pada Daisy dan Mutia.
"Hehehe, maaf ya Vander suaminya Daisy tadi itu cuma bercanda kok," ucap Mutia.
"Udah sana lo pergi," usir Daisy.
"Dasar pengantin baru ya, lengket terus," ucap Mutia dan Daisy hanya menjulurkan lidahnya.
"Selamat Sy, gue gak nyangka lo nikah duluan. Padahal dulu gue pernah bilang kalau gue yang bakal nikah duluan eh taunya lo yang nikah duluan," ucap Dandi.
"Makanya si Vera jangan di anggurin, kalau suka langsung nikahin dia kalau gak nanti lo keduluan loh," ucap Daisy.
"Mau saya ajarkan caranya untuk menikahi perempuan dalam waktu singkat?" tanya Vander.
"Eh, gak usah deh jadi gak enak nih," ucap Dandi.
"Ini ada hadiah dari gue, nanti malam aja di nuaknya sekalian di pake," ucap Dandi dan memberikan hadiah tersebut pada Daisy.
"Makasih ya Dan, ini kalung yang pernah gue bilang ke lo ya kok ada kotak beludrunya gitu," ucap Daisy.
"Ada lah pokoknya, nanti aja deh lo buka. Kalau lo buka sekarang takutnya banyak yang iri sama hadiah gue," ucap Dandi.
"Siap, makasih ya," ucap Daisy.
"Iya, sama-sama," ucap Dandi dan pergi.
Setelah teman-teman Daisy tibalah teman-teman Vander, "Gue gak nyangka lo bakal nikah sama putrinya komandan Alan," ucap Aris.
"Iya, gue kira lo gak suka cewek soalnya banyak yang nembak lo, tapi lo tolak," ucap Tomy.
"Gak usah ngada-ngada, gue tetep suka cewek ya Daisy salah satunya," ucap Vander.
__ADS_1
Daisy yang berada di sebelah Vander pun tersipu malu untung saja hari ini ia menggunakan make up yang cukup tebal sehingga rona merah di pipinya tidak terlihat jelas.
Vander dan Daisy pun memutuskan untuk kembali duduk, namun baru beberapa saja mereka duduk tiba-tiba seorang pria datang sendirian.
"Selamat," ucap pria tersebut yang tak lain adalah Ardi mantan kekasih Daisy.
"Makasih," ucap Daisy dan tersenyum pada Ardi.
"Semoga kian berdua bahagia dan segera di karuniai momongan," ucap Ardi.
"Makasih doanya, itu juga salah satu doa kami agar segera di karuniai momongan," ucap Vander dan Ardi tersenyum mendengar jawaban Vander.
"Anda datang sendirian?" tanya Vander.
"Iya, saya sendirian. Saya di sini ingin mengucapkan selamat dan mungkin setelah ini saya harus ke laut kota karena keluarga saya pindah ke sana," ucap Ardi dan Daisy hany menganggukkan kepalanya.
"Apa kamu tidak ingin bertanya kenapa aku dan keluargaku pindah?" tanya Ardi pada Daisy.
"Saya rasa tidak, karena itu tidak ada hubungannya dengan saya jadi untuk apa saya bertanya mengenai hal itu," ucap Daisy.
"Aku dan istriku akan cerai dan aku akan pergi ke rumah nenekku dan memungkinkan menetap di sana," ucap Ardi dan Daisy hanya menganggukkan kepalanya.
"Ayahku juga sedang dalam perawatan penyakit jantungnya di luar negeri yang ditemani ibu dan kakakku, ayahku sakit karena mendengar berita mengenai perceraianku dengan istriku. Ayah menjodohkanku dengan istriku karena perusahaan sedang dalam darurat dan ayah dari istriku berhasil menyelamatkan perusahaan ayah, ya bisa dibilang sebagai bentuk balas Budi. Selain itu juga karena ayahku dan ayah dari istriku sudah bersahabat sejak sekolah, aku sudah berusaha untuk menolak, tapi ternyata tidak bisa dan akhirnya aku harus menikah dengan istriku," lanjut Ardi.
"Anda tidak harus mengatakan itu karena saya sungguh tidak tertarik dengan cerita anda karena saya sudah memiliki suami dan tidak baiknya anda bercerita mengenai hal itu di depan saya dan suami saya. Jika memang anda butuh teman curhat anda bisa ke orang lain dan yang jelas orang itu bukan saya," ucap Daisy.
Ardi pun tersenyum, "Maaf jika perkataanku tadi menyinggungmu, sekali lagi selamat untuk kalian berdua," ucap Ardi dan turun dari pelaminan.
Setelah Ardi turun dari pelaminan, Daisy pun menatap Vander, "kenapa?" tanya Vander karena tiba-tiba Daisy menatapnya.
"Kenapa tadi kamu gak nyela bicaranya Ardi?" tanya Daisy.
"Gak baik buat nyela pembicaraan orang, tali emang aku harus bicara apa ke dia?" hanya Vander.
"Gak, emangnya kenapa aku harus buat Ardi mati kutu?" tanya Vander.
"Kok kamu ngeselin sih," ucap Daisy.
"Kai gak ngeselin, tapi apa yang aku bilang kan memang bener. Lagian aku percaya dengan istriku, dia pasti sudah melupakan mantannya dan buktinya bener kan," ucap Vander.
"Kamu tau gak, aku itu harusnya marah sama kamu, yakin aku gak bisa," ucap Daisy.
"Lagian gak baik juga marahan sama suami," ucap Vander.
"Pacaran terus," sindir Elvan.
"Biarin, mending jomblo diem deh," ucap Daisy.
.
Malam harinya di kamar hotel mereka berdua memutuskan untuk membuka kado pernikahan mereka.
"Ini tadi dari Dandi, di buka sekarang ya kak. Kayaknya hadiahnya kalung deh lihat ini aja bludru bagus banget," ucap Daisy.
"Kau gak yakin kalau ini kalung, apalagi temen kamu yang satu itu kayak gak bener gitu," ucap Vander.
"Gak boleh kayak gitu, kita itu harus berpikir positif sama Dandi ya walaupun memang sih mukanya gan meyakinkan," ucap Daisy.
Daisy pun mulai membuka kado yang diberikan Dandi dan betapa terkejutnya Daisy serta Vander saat melihat di dalam kotak beludru tersebut yang ternyata adalah sebuah alat kontrasepsi dan lingerie.
"Dandi s*alan," umpat Daisy.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Daisy merasakan sakit pada bibirnya karena Vander yang memeluk pelan bibirnya, "Kenapa dipukul?" tanya Daisy.
"Gak boleh bicara kasar," ucap Vander.
"Tapi, lihat Dandi ngasih hadiahnya aneh banget udah deh dibuang aja," ucap Daisy.
Daisy yang akan membuang hadiah tersebut pun terkejut karena tiba-tiba tangannya dihentikan oleh Vander, "Kenapa?" tanya Daisy.
"Sayang kalau di buang, lebih baik di simpan aja siapa tau nanti kita butuh," ucap Vander.
"Emang kamu mau pake itu?" tanya Daisy.
"Ya, mau aja sih, tapi kalau yang pertama gak usah pake itu dulu. Nanti kalau udah sering baru pake itu," ucap Vander.
"Malu," ucap Daisy dengan pelan.
"Kenapa harus malu?" tanya Vander.
"Ya, kamu sih bicaranya terlalu vulgar," ucap Daisy.
"Lagian kita juga udah nikah, bahkan kita ngelakuin sekarang loh gapapa," ucap Vander.
"Beneran?" tanya Daisy.
"Iya, mau hubungan badan sekarang?" tanya Vander dengan singkat, jelas dan padat.
"Boleh, ayo. Aku juga penasaran kayak gimana sih rasanya malam pertama," ucap Daisy.
Tanpa basa basi Vander pun segera menyerang Daisy dengan kenikmatan dunia yang tiada tara dan Daisy pun menerima segala perilaku lembut sang suami dan akhirnya malam itu mereka pun melakukan apa yang hubungan suami istri pada umumnya yaitu malam pertama.
Pagi harinya Daisy benar-benar dibuat tidak bis berjalan oleh Vander, "Kenapa?" tanya Vander saat Daisy menatapnya tajam.
"Sakit," rengek Daisy.
Vander yang berada di samping Daisy pun segera menarik Daisy agar mendekat ke arahnya dan setelah itu Vander memeluk Daisy serta tak lupa ia juga mengecup kening Daisy berkali-kali.
"Maaf ya, padahal aku kemarin udah pelan-pelan loh," ucap Vander.
"Ya, aku juga sih yang penasaran jadi kayak gini deh," ucap Daisy dan tersenyum cerah.
"Mau makan?" tanya Vander.
"Gak mau, maunya di kamar aja berduaan," ucap Daisy dan semakin memeluk Vander.
"Kamu tau gak, kalau juniorku udah bangun," ucap Vander.
Daisy yang mengerti ucapan sang suami lun terkejut, "Kok bisa bangun sih?" tanya Daisy.
"Ya, gimana gak bangun orang kamu aja meluknya kenceng banget mana kita berdua lagi gak pake baju lagi, jadi aku bisa ngerasain semuanya," ucap Vander.
"Udah gak usah dilanjutin, aku paham maksud kamu. Kalau gitu aku ganti baju dulu dan setelah itu kita bisa peluk-pelukkan lagi," ucap Daisy dan beranjak dari kasur.
Tapi, sayang karena ia tidak berjalan dengan Norman sehingga Daisy pun terjatuh, untung saja ada Vander yang peka dan langsung memegang pundak Daisy.
Tanpa aba-aba Vander pun langsung menggendong Daisy menuju kamar mandi, "Kita mandi bareng, aku janji kok cuma mandi gak ngelakuin lagi," ucap Vander.
Benar saja, mereka berdua hanya mandi tanpa melakukan ronde kedua .
.
.
__ADS_1
.
Tbc.