
Hari ini tepat hari dimana Alan akan ditugaskan di pangkalan militer pusat, "Udah siap?" tanya Alan.
"Belum, ini aku masih pake lipstik, menurut kamu aku pantes pake yang mana ya?" tanya Rea.
"Pake ini aja yang gak terlalu mencolok," ucap Alan dan diangguki Rea.
Rea pun menggunakan lipstik yang di pilih Alan, "Gimana bagus?" tanya Rea, setelah menggunakan lipstik tersebut.
Alan bukannya menjawab pertanyaan Rea, ia justru mendekatkan wajahnya pada wajah Rea lalu sepersekian detik Alan mengecup bibir Rea, "Bagus kok," ucap Alan.
Rea sendiri sudah salah tingkah dibuatnya bahkan Rea tidak bisa menatap wajah Alan karena malu, "Kenapa hem, kok saja tingkah gini?" tanya Alan.
"Apa sih, udah ah aku mau cek lipstik ku dulu siapa tahu rusak," ucap Rea dan beranjak menuju cermin lalu membenarkannya.
"Udah ayo kita berangkat," ucap Alan dan diangguki Rea.
Alan dan Rea pun turun, "Kalian mau berangkat?" tanya Mama Dira.
"Iya Ma," ucap Alan.
"Yaudah ayo sarapan dulu," ajak Mama Dira.
"Gak usah deh, Ma. Kan Alan gak terbiasa buat sarapan," ucap Alan.
"Tapi, aku gak bisa kalau gak sarapan," ucap Rea.
"Yaudah, kita sarapan dulu," ucap Alan.
Mereka pun menyantap makanan dengan lahap hingga selesai sarapan barulah Alan dan Rea mengendarai mobil Alan menuju rumah sakit, "Nanti kalau udah selesai kami kabarin aku ya," ucap Alan dan diangguki Rea.
"Tapi, kalau nantinya kalau kamu ternyata masih sibuk gimana?" tanya Rea.
"Nanti kamu minta anterin temen kamu aja dan pulang ke rumah Bunda biar aku pulang dari pangkalan langsung ke rumah Bunda juga buat jemput kamu," ucap Alan dan diangguki Rea.
Beberapa saat kemudian, Alan dan Rea pun sampai di rumah sakit, "Aku kerja dulu ya," ucap Rea.
"Iya, hati-hati ya," ucap Alan dan diangguki Rea.
Sebelum keluar dari mobil, Rea terlebih dahulu menyalaminya Alan dan tak lupa Alan juga mengecup kening Rea serta pipi Rea. Setelah itu, Rea pun keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah sakit.
"Dokter!" panggil Fafi.
"Ada apa?" tanya Rea.
"Dok, direktur Bagas marah-marah di ruangan dokter Rea," ucap Fafi dan membuat Rea terkejut.
__ADS_1
Dengan cepat Rea pun berlari, "Ada apa ini direktur Bagas?" tanya Rea.
Sejujurnya Rea terkejut setelah melihat ruangannya yang berantakan karena ulah direktur Bagas, "Dasar dokter tidak tahu diri!" bentak direktur Bagas.
"Apa maksud direktur Bagas mengatakan hal seperti itu?" tanya Rea.
Rea berusaha sabar karena saat ini banyak tenaga medis yang menyaksikan aksi direktur Bagas, "Dokter Rea kan yang sudah melaporkan saya pada pimpinan," ucap direktur Bagas.
"Melaporkan apa saya tidak mengerti maksud dari direktur Bagas?" tanya Rea.
"Awas saja, saya masih tidak terima. Saya akan balas semuanya pada dokter Rea!" teriak direktur Bagas dan pergi meninggalkan ruangan Rea.
"Maksudnya apa sih gak paham gue?" tanya Rea.
"Kayaknya semua ini cuma salah paham deh kok tiba-tiba direktur Bagas marah-marah gak jelas gitu," ucap Qilla.
"Udah semuanya balik ke tugas masing-masing," lanjut Qilla.
"Udah gak usah dipikirin," ucap Nina.
Disisi lain, setelah melihat Rea yang masuk ke dalam rumah sakit barulah Alan mengendarai mobilnya menuju pangkalan militer pusat, tidak ada kendala apapun selama perjalanan hingga Alan sampai di pangkalan militer.
"Kapten Alan," sapa salah satu tentara yang ada di sana.
"Letnan Ferdy, senang bertemu dengan letnan Ferdy," ucap Alan.
"Terima kasih atas pujiannya," ucap Alan dan diangguki letnan Ferdy.
"Oh iya, kapten Alan mulai hari ini kan ditugaskan di pangkalan pusat," ucap letnan Ferdy.
"Iya, letnan," ucap Alan.
"Padahal dulu kapten Alan juga bertugas di sini, tapi karena komandan Baron akhirnya kapten di pindah tugaskan, tapi untung saja sekarang kapten dapat ditugaskan di sini lagi," ucap letnan Ferdy.
"Oh iya, kapten Alan kok bisa di pindah tugaskan padahal dulu kapten Alan sempat mengajukan pemindahan, tapi di tolak?" tanya letnan Ferdy.
"Saya juga kurang tahu pasti, kalau begitu saya permisi dulu ya letnan Ferdy. Saya ingin menghadap Komandan Ivan," ucap Alan.
"Silahkan kapten," ucap letnan Ferdy. Setelah itu, Alan pun menuju ke sebuah ruangan.
Tok tok tok
Alan pun mengetuk pintu tersebut dan setelah di perbolehkan masuk barulah Alan masuk ke dalam ruangan tersebut, Alan pun masuk ke dalam dan mendapati seorang pria berumur tengah memeriksa berkas yang entahlah Alan pun tidak tahu.
"Komandan Ivan," panggil Alan.
__ADS_1
"Astaga! kapten Alan!" pekik komandan Ivan dan menutup berkas-berkasnya lalu menghampiri Alan dan memeluk Alan.
"Senang bertemu denganmu, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Terakhir kita bertemu saat pernikahanmu," ucap komandan Ivan.
Ya, komandan Ivan mengetahui perihal pernikahan Alan karena komandan Ivan merupakan salah satu orang yang mengurus serta mendaftarkan pernikahan Alan dan Rea di militer sebab itu Rea tidak perlu mengurusnya. Selain itu, komandan Ivan juga merupakan adik dari Papa Aldi, meskipun komandan Ivan hanya anak angkat, tapi keluarga besar Papa Aldi tidak mempermasalahkannya dan menganggap komandan Ivan sebagai keluarga mereka sebab itu komandan Ivan sangat berhutang budi dan tetap menjadi bagian dari keluarga Dhananjaya. Untuk pemindahan Alan juga termasuk campur tangan komandan Ivan, bagaimanapun komandan Ivan adalah jajaran tertinggi di militer sebab itu sangat mudah bagi Komandan Ivan untuk memindah tugaskan.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya komandan Ivan.
"Saya baik-baik saja komandan," ucap Alan.
"Syukurlah, aku sempat terkejut saat pernikahanmu bagaimana bisa komandan Arga menyuruhmu pergi saat itu padahal kau sedang menikah," ucap komandan Ivan.
"Itu memang sudah tugas saya komandan," ucap Alan.
"Ya, aku tahu. Kalau begitu kau harusnya sudah tahu bukan kau akan di tempatkan di divisi 1, kau akan bekerja bersama sersan Zein," ucap komandan Ivan.
"Iya komandan," ucap Alan.
"Baiklah, aku sudah menandatangani surat ini dan kau bisa menyerahkannya pada sersan Zein," ucap komandan Ivan.
"Siap, komandan!" ucap Alan, dengan lantang.
"Oh iya, kapan kamu akan menempati rumah dinas yang sudah lama tidak menepatinya?" tanya komandan Ivan.
"Secepatnya komandan, untuk saat ini Rea masih belum siap ditinggal sendiri," ucap Alan dan diangguki komandan Ivan.
"Pasti istrimu itu kaget saat tahu jika suaminya salah tentara, semoga hubungan kalian harmonis selalu ya dan cepat memiliki momongan. Hidupmu saat ini benar-benar lengkap karena semua yang kau butuhkan sudah kau dapat, kau sudah memiliki pekerjaan, jabatan, rumah, keluarga," ucap komandan Ivan.
"Ya, komandan dan saya sangat bersyukur akan hal itu," ucap Alan.
"Aku sudah bertemu dengan istrimu dan menurutku dia adalah orang yang cerdas," ucap komandan Ivan dan diangguki Alan.
"Kalau begitu kau bisa bertemu dengan sersan Zein," ucap komandan Ivan.
Alan pun pergi setelah memberikan hormat pada komandan Ivan, Alan menyusuri koridor hingga tertulis divisi 1, dengan segera Alan pun masuk ke dalam. "Selamat datang kapten Alan!" teriak semua orang yang ada di sana.
"Hem, terima kasih semuanya," ucap Alan. Alan tidak menyangka jika ia akan di sambut hangat oleh semua orang yang ada di sana.
"Kapten Alan keren, kapten tahu gak karena kapten Alan banyak dari divisi 1 yang mengajukan diri untuk bertugas di daerah perbatasan padahal dulu tidak ada yang mau, tapi karena melihat kapten Alan semuanya jadi mengajukan diri loh, sampe kewalahan saya sebagai ketuanya," ucap sersan Zein dan Alan hanya tersenyum karena Alan memang sedikit sulit berbaur terutama untuk orang baru.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.