Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Mas Suami


__ADS_3

Qilla menghampiri dokter Shinta dan langsung menampar pipi dokter Shinta bahkan Qilla juga memukul kepala anak buah dokter Shinta, "GILA YA LO!" teriak Qilla.


"BERANI-BERANINYA LO NAMPAR GUE!" teriak dokter Shinta.


"Kenapa gak terima! sama gue juga gak terima dengan seenaknya lo buat Rea kayak gini!" pekik Qilla.


"Lo lupa dia itu perempuan gak bener, awas aja nanti lo ikut-ikutan kayak dia lagi yang jadi wanita gatel sampe hamil," ucap dokter Shinta.


"Jaga ucapan lo!" ucap Qilla.


"Kenapa bener kan dia itu perempuan gak bener, hamil di luar nikah," ucap dokter Shinta.


"Tau apa lo soal Rea," ucap Qilla dan menarik rambut dokter Shinta.


Semua orang yang ada di sana terkejut dan langsung mencoba memisahkan mereka berdua, tapi tenaga Qilla cukup kuat. "Gue peringatin ya sana lo, jangan pernah bilang gak gak-gak soal Rea karena lo gak tahu kebenarannya," ucap Qilla.


"Bukannya lo benci dia kenapa lo malah seolah-olah dukung dia, inget La dia udah gak nganggep lo sebagai sahabat," ucap dokter Shinta.


"Gue gak pernah benci Rea, gue cuma kecewa dan butuh waktu. Gue gak bodoh ya mau ninggalin sahabat sebaik Rea, gimanapun sikap Rea je gue dia tetep SAHABAT GUE!" ucap Qilla, dengan lantang.


"Lo itu cuma di bodohi sama dia jangan mau ketipu," ucap dokter Shinta.


"Oh iya, emang gue peduli. Sekali lagi gue bilang ke lo, kalau Rea itu sahabat gue dia pasti punya alasan kenapa dia nyembunyiin semuanya, sampai lo ngelakuin ini lagi habis lo ditangan gue," ucap Qilla, dengan menepuk pelan pipi sebelah kanan dokter Shinta.


"Gue kasihan ya sama kalian berdua masih mau aja sama si gatel," ejek dokter Shinta.


"Yang gatel lo apa Rea? ngaca dulu kalau mau ngehina, udah jebol berapa kali lo eh salah maksudnya udah jebol sama berapa laki lo?" tanya Qilla.


"Lo...," ucap dokter Shinta, yang mulai emosi dengan ucapan Qilla.


"Kenapa gak terima! makanya kalau punya mulut jangan asal jeplak aja kalau gak suka," ucap Qilla dan mendorong tubuh dokter harinya cukup keras hingga tubuh dokter Shinta menabrak anak buahnya.


Qilla dan Nina pun membantu Rea untuk berdiri dan membawa Rea keluar dari kamar mandi, tapi sebelum keluar dari kamar mandi Qilla mengambil ember yang tadi digunakan untuk menyiram Rea dan Qilla langsung menyiram sisa air tersebut ke dokter Shinta dan anak buahnya dan tak lupa Qilla juga menendang kaki dokter Shinta hingga dokter Shinta jatuh.


"Eh, awas lo ya!" teriak dokter Shinta


Saat ini Rea sudah ditangani oleh dokter Karin, "Gimana dok keadaan Rea?" tanya Qilla.


"Dokter Rea tidak apa-apa, dia hanya shock dan butuh istirahat," ucap dokter Karin.

__ADS_1


"Untuk bayinya gimana dok?" tanya Qilla.


"Untung saja bayinya kuat sehingga kondisi bayinya selamat," ucap dokter Karin.


"Syukurlah," gumam Nina, yang berada di samping Qilla.


"Tapi, saya sarankan untuk dokter Rea bed rest selama beberapa hari untuk memulihkan kondisinya," ucap dokter Karin dan diangguki Qilla.


"Oh iya, apa keluarga dokter Rea tahu mengenai kondisinya?" tamat dokter Karin.


Qilla dan Nina pun saling beradu pandang dan menggelengkan kepalanya, "Saya rasa keluarganya harus tahu soal keadaan dokter Rea agar mereka bisa menjaga dan mengawasi dokter Rea," ucap dokter Karin dan diangguki Qilla dan Nina.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi," ucap dokter Karin dan pergi meninggalkan Qilla dan Nina.


"Ini gimana? kita kasih tahu Tante Nara atau siapa? Rea kan udah lainya suami?" tanya Nina.


"Gue juga ga tahu, gue gak tahu siapa suaminya Rea," ucap Qilla.


"Tunggu bentar," ucap Nina dan pergi meninggalkan Qilla.


Hingga beberapa saat kemudian, Nina pun kembali dan memberikan ponsel milik Rea pada Qilla, "Kok hp nya Rea ada di lo?" tanya Qilla.


"Kalau gitu kita cari kontak suaminya, tapi gapapakan kan ini?" tanya Nina.


"Gapapa, lagian kita udah gak ada pilihan lain," ucap Qilla.


Qilla pun mencari kontak suami Rea hingga bertanya menatap nama kontak "Mas Suami", "Ini deh kayaknya," ucap Qilla.


Qilla pun menekan tombol hijau dan menghubungi nomor tersebut, tak lupa Qilla juga menyala pengeras suara.


Halo sayang ada apa?


Qilla dan Nina yang mendengarnya pun menelan ludah dan saling tatap.


^^^Maaf, ini saya Qilla sahabatnya dokter Rea, ini saya cuma mau bilang kalau dokter Rea tidak sadarkan diri dan dokter Rea juga saat ini tengah di rawat karena kondisinya yang memburuk, ehm apa anda bisa ke sini karena saya tidak tahu harus mengubungi siapa.^^^


Baik, saya akan ke sana sekarang.


Setelah mendapat jawaban Qilla pun memutuskan sambungan telepon tersebut, "Qilla beneran udah nikah ya?" tanya Nina.

__ADS_1


"Iya, gue kira dia bercanda ternyata beneran," ucap Qilla.


"Lo masih marah sama Rea?" tanya Nina.


"Kalau ditanya marah atau gak ya gak juga sih gue lebih ke kecewa, tapi gimana lagi gue yakin Rea gak bermaksud sembunyiin semuanya dari kita. Gue cuma pengen nenangin diri dulu, gue takut lepas kendali sama Rea," ucap Qilla dan diangguki Nina.


Disisi lain Alan yang baru sampai di pangkalan militer setelah menyelesaikan pelatihan bersama anggotanya, ia pun terkejut saat ponselnya berdering yang menampilkan nama cantik istrinya, Alan segera mengangkat sambungan telepon tersebut. Namun, betapa terkejutnya saya mendengar kondisi Rea, dengan cepat Alan berlari menuju mobilnya yang ada di parkiran dan tentunya hal itu membuat anggotanya terkejut.


"Ada apa kapten Alan?" tanya Raka.


"Ada hal penting yang harus aku urus, Vin tolong urus semuanya gue harus segera nemuin Rea," ucap Alan dan diangguki Alvin.


"Lo hati-hati," ucap Alvin.


Setelah itu Alan pun mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, ia sangat khawatir dengan keadaan istri dan calon anaknya. Selama perjalanan menuju ruang sakit Alan selalu menggumamkan kata maaf karena tidak ada saat istrinya membutuhkannya. Beberapa saat kemudian, Alan pun sampai di rumah sakit dan setelah itu ia segera masuk ke dalam ruang sakit. Saya Alan masuk ke dalam rumah sakit banyak tatapan memuja bagaimana tidak Alan sangat tampan dengan seragam lengkapnya, Alan terlihat gagah saat ini bahkan banyak perempuan yang secara terang-terangan menarik perhatian Alan.


Alan tidak mempedulikan mereka dan menuju resepsionis lalu menanyakan tempat Rea di rawat, "Maaf, saya mau tanya dokter Rea di rawat dimana ya?" tanya Alan.


"Eh, I-itu dokter Rea di rawat di kamar 02 sebelah tangga," ucapnya yang sedari tadi memperhatikan Alan.


Alan menganggukkan kepalanya dan menuju ruangan uang di katakan perempuan tadi. Namun, langkahnya terhenti karena ada yang memanggil namanya, "Kapten Alan," panggil Fafi.


"Ada apa?" tanya Alan.


"Kapten Alan kok bisa di sini?" tanya Fafi.


"Ya, ini tempat umum bukan," ucap Alan dan pergi meninggalkan Fafi yang tersenyum tidak jelas.


"Lo kenal dia? siapa kok ganteng banget?" tanya Laras.


"Dia cowok yang pernah aku bilang ke kamu itu loh," ucap Fafi.


"Oh cowok yang lo suka itu kan, ganteng banget," ucap Laras dan diangguki Fafi.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2