
Saat ini ruang inap Rea sudah ramai karena kedua keluarganya, sahabatnya dan anggota tim Alan yang sudah berada di sana, Gimana keadaan Kino?" tanya Alan.
"Kino baik-baik aja kok, dia juga udah sadar, tapi emang masih susah gerak dan sekarang di ruangannya udah ada beberapa tentara buat jaga," ucap Alvin dan diangguki Alan.
"Siapa nama anak lo?" tanya Ryan.
"Iya udah gak sabar nih pengen tahu namanya," ucap Qilla.
Ya, hari ini adalah hari dimana Alan akan memberitahukan nama putri cantiknya, setelah dua hari kelahiran putri cantiknya itu akhirnya Alan dan Rea akan memberitahukannya hari ini. Putri cantiknya sendiri saat ini sudah berada di gendongan bunda Nara dan tentunya sangat heboh karena jangan lupakan kehadiran mama Dira.
"Iya, siapa nama cucu papa?" tanya papa Aldi.
"Namanya Aleana Aleta Dhananjaya," ucap Alan.
"Namanya bagus, terus panggilannya siapa?" tanya Sivia.
"Lea," ucap Alan.
"Halo Lea cucu oma yang paling cantik," ucap bunda Nara.
Disisi lain tanpa orang ketahui terdapat dua orang yang sedari tadi diam bahkan tidak saling sapa siapa lagi kalau bukan Rea dan Gia, memang sejak kejadian dimana Gia menolak untuk tinggal dirumah hari itu mereka tampak canggung dan tidak ada yang mau membuka suara bahkan saat Rea melahirkan Gia memang datang hanya sebentar, tapi Rea tidak tahu karena saat itu Rea sudah terlelap. Memang yang tahu permasalahan hanya mereka berdua, tapi tentunya ada seseorang yang dapat merasakan atmosfer permusuhan diantara Rea dan Gia, tapi karena ada banyak orang di sini maka orang itu pura-pura tidak tahu saja.
"Gimana sih resep lo Lan sampe punya anak cantik kayak gini?" tanya Ryan.
"Ya tergantung orangtuanya lah, kalau orangtuanya gue sama Rea ya pasti bakal jadi cantik sama ganteng," ucap Alan.
"Hush, gak boleh kayak gitu," ucap Rea.
"Maaf sayang," ucap Alan.
"Bau-bau suami takut istri nih," ejek Ryan.
"Lebih baik suami takut istri daripada suami takut musuh," ucap Alan.
"Udahlah kalah omong gue sama lo," ucap Ryan.
"Nina mana, La?" tanya Rea.
"Gak tau tuh, tadi sih dia di lobby sama dokter Nando," ucap Qilla.
"Loh mereka masih berhubungan juga?" tanya Rea.
"Tau dah gue sama kisah cinta mereka berdua," ucap Qilla.
__ADS_1
"Mereka bakal nikah," ucap Alan.
Semua orang pun menatap Alan dengan tatapan bertanya-tanya, "Maksudnya?" tanya Rea.
"Nando sama sahabat kamu itu bakal nikah sayang," ucap Alan.
"Kok bisa? mereka nikah beda agama? aku gak setuju ya," tanya Rea.
"Nando mualaf," ucap Alan.
"Cuma karena Nina, dokter Nando sampe mualaf. Mana sini orangnya biar aku marahin, aku gak bakal setuju," ucap Rea, yang sudah emosi.
"Gak sayang, bukan karena sahabat kamu Nando jadi mualaf, tapi karena emang kemauan dia kok. Nanti kamu minta penjelasan ke dia ya," ucap Alan, yang berada kursi tepat di samping Rea.
Beberapa saat kemudian, datanglah dua manusia yang ditunggu-tunggu, "Kenapa dokter Nando jadi mualaf? apa karena Nina? kalau emang karena Nina, saya gak bakal setuju," tanya Rea, saat Nando dan Nina baru saja masuk ke dalam ruang rawat inapnya.
"Saya jadi mualaf bukan karena Nina, saya memang dari dulu ingin jadi mualaf bahkan saya sejak di tugaskan di perbatasan selalu bertanya-tanya ke kapten Alan dan anggotanya mengenai ilmu agama, tapi mungkin masih 50% dan mungkin setelah bertemu dengan dokter Nina saya jadi sedikit yakin dengan pilihan saya lalu saya juga minta pendapat dari beberapa teman saya dan akhirnya saya memutuskan untuk menjadi mualaf," ucap Nando.
"Beneran bukan karena Nina? kalau memang karena Nina saya dapat pastikan hubungan kalian berdua gak akan bisa langgeng karena Nina mengambil dokter Nando dari Tuhannya," tanya Qilla.
"Saya bisa jamin jika saya menjadi mualaf bukan karena Nina," ucap Nando.
"Syukur deh," ucap Qilla.
"Iya sayang, bunda taruh di sini ya," ucap bunda Nara dan diangguki Rea.
Mereka pun akhirnya saling bertukar cerita dan akhirnya sahabat Rea dan Alan pun pergi karena memang mereka cukup lama di sana dan di ruangan tersebut hanya tersisa keluarga Alan dan Rea. Untuk putri cantik mereka juga sudah bangun entahlah tiba-tiba saja dia bangun dan sudah menyusu ke Rea, tenang saja Rea menggunakan penutup saat menyusui Lea.
"Sekarang jelaskan kalian sedang berantem?" tanya ayah Argi.
"Siapa yang berantem Yah?" tanya bunda Nara.
"Anak perempuan kamu," ucap ayah Argi.
"Hah! maksudnya?" tanya bunda Nara.
"Rea, Gia. Bisa jelaskan kenapa kalian berantem?" tanya ayah Argi, yang tentunya membuat semua orang terkejut dan menatap Rea dan Gia bergantian.
Jangan lupakan jika di sana masih ada keluarga Dhananjaya bahkan Alan sendiri juga di sana tepat di samping Rea dan sedari tadi memegang dan mengusap tangan Rea yang saat ini masih menyusui. Rea mengalihkan pandangannya ke arah lain agar tidak bertatapan dengan ayah Argi dan tentunya Alan menyadari akan hal itu.
"Ada apa? kalian berantem? tapi kenapa?" tanya kak Ray. Meskipun kak Ray orangnya ramah, tapi dia bisa memposisikan dirinya sebagai kakak.
"Rea, Gia jawab pertanyaan ayah," ucap ayah Argi, yang mulai meninggi.
__ADS_1
"Jangan berteriak di depan menantu dan cucuku, kita minta penjelasan mereka secara baik-baik," ucap papa Aldi.
"Huh, baiklah. Kalian berdua bisa jelaskan kenapa kalian berantem dan gak tegur sapa?" tanya ayah Argi.
Gia pun mulai buka suara dan menceritakan semua kejadian dimana ia menyinggung perasaan kakaknya itu, hal itu tentunya membuat semua orang terkejut dan tidak percaya pada Gia, "Astaga, Gia. Kenapa kamu kayak gitu, namanya juga orang hamil pasti gak pengen sendirian di rumah dan kamu malah milih pergi sama Hana bahkan kamu ucapin kata-kata yang tentunya menyakitkan buat kakak kamu sayang, sekarang kamu minta maaf ya ke kakak kamu," ucap bunda Nara dan diangguki Gia.
Rea sendiri yang sejak tadi tidak menoleh ke keluarganya pun menahan tangisannya, ia kembali teringat rasa sakit saat Gia menolaknya bahkan menyalahkannya dan tiba-tiba saja air matanya keluar. Untung Alan dengan cepat menghapus air mata itu, "Jangan nangis ya sayang, nanti baby-nya juga ikut nangis loh," ucap Alan dan mengusap lembut punggung Rea, ia tidak tega melihat air mata yang keluar dari istrinya itu.
"Kak, maafin Gia. Gia salah harusnya Gia gak kayak gitu," ucap Gia.
Alan pun memberikan mereka berdua waktu untuk bicara berdua, "Maafin kakak juga yang terlalu manja harusnya kakak ngerti kalau kamu mau bebas," ucap Rea.
"Bukan gitu kak, Gia minta maaf ya lain kali Gia pasti mau kok temenin kakak dan Gia gak bakal lagi kayak gitu," ucap Gia.
"Bener ya?" tanya Rea dan diangguki Gia.
"Mau peluk," ucap Gia.
"Sini, tapi jangan kenceng-kenceng ya soalnya kakak lagi nyusui," ucap Rea dan diangguki Gia, lalu mereka pun berpelukan.
"Nah gini dong kan enak lihatnya, Gia lain kali gak boleh kayak gitu ya. Kalau Gia gak mau temenin kakaknya gapapa, tapi harus jaga ucapannya dan gak boleh sampe ngelukain perasaan kakaknya," ucap mama Dira.
"Iya, ma," ucap Gia.
"Sebagai hukumannya yang sakit kamu akan ayah potong selama dua Minggu," ucap ayah Argi.
"Lama banget Yah dua Minggu," ucap Gia.
"Itu hukuman buat kamu," ucap ayah Argi.
Gia pun akhirnya menerima hukuman tersebut karena memang ia merasa bersalah pada Rea, "Iya deh, tapi nanti setelah hukumannya selesai ayah harus tambahin uang jajannya Gia ya," ucap Gia.
"Iya," ucap ayah Argi.
Akhirnya masalah Rea dan Gia pun terselesaikan, baik Rea ataupun Gia sebenarnya tidak ingin adanya permusuhan diantara mereka apalagi mereka adalah keluarga, tapi mungkin karena gengsi keduanya yang sangat tinggi sehingga permusuhan tersebut tidak dapat di hindari dan untung saja ayah Argi menyadari akan hal itu.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1