
Hari ini Lea dan anggota timnya sudah berada di bandara untuk melakukan penerbangan ke tempat yang akan mereka liput.
"Kemana ya kita kok sampe naik pesawat?" tanya Rudy.
Memang tidak ada yang tau kemana mereka akan pergi, karena tiket di bawa oleh ketua tim yang entah kemana. Namun, mereka tau jika mereka akan pergi ke tempat yang ada di dalam negeri karena mereka tidak disuruh membawa paspor, tapi semua orang berjaga-jaga dengan membawa paspor.
"Apa jangan-jangan kita bakal ke luar negeri eh, ah gue seneng banget akhirnya bisa jalan-jalan," ucap Tyas.
"Udah, ayo," ucap Bu Marsya.
"Galak banget sih," bisik Tyas.
"Hush, jangan ngomong kayak gitu nanti ibunya denger lagi. Ayo keburu telat nanti," ucap Lea.
Mereka pun akhirnya menuju tempat yang akan mereka datangi untuk liputan, selama di bandara tersebut as tak ada henti-hentinya kagum pada pemandangan di luar bahkan suara Tyas membuat Lea pusing dan memutuskan untuk tidur.
Sebenarnya Lea sangat malas jika harus menaiki pesawat bagaimana tidak, Lea dapat pastikan jika ia akan mengalami jet lag. Karena itu, Lea jarang bepergian menggunakan pesawat, ia lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi.
Akhirnya setelah beberapa jam mengarungi langit, rombongan tim kreatif tersebut pun tiba di bandara tempat tujuan, "Loh ini bukannya bandara A ya," ucap Rudy.
"Kita akan ke sini, wah gue denger katanya di sini pantainya bagus banget tau gak," ucap Tyas.
"Ayo, gak usah banyak ngomong deh kalian," ucap Bu Marsya.
"Lagi-lagi tuh orang galaknya ngalahin mama gue," bisik Tyas.
"Bu Marsya emang gitu. Cantik, tapi sayang galak," bisik Rudy.
Memang Tyas dan Rudy adalah perpaduan yang sangat cocok, karakter mereka hampir sama yang membedakan hanya statusnya saja, Tyas masih jomblo dan Rudy uang sudah menikah dan dikaruniai anak perempuan 1, namun istri Rudy saat ini tengah hamil kira-kira 4 bulan.
"Mungkin karena itu ya Bu Marsya sampe sekarang jomblo," ucap Tyas.
"Iya, Bu Marsya itu terkenal dengan julukan perawan tua loh sama karyawan-karyawan yang gak suka sama dia," ucap Rudy.
Lea menghela napasnya dan heran dengan kedua rekan kerjanya, apa mereka tidak bosan setiap hari bergosip ria.
"Kalian berdua nih ya, gak di kantor gak di luar kantor kerjaannya gosipin orang terus," ucap Lea.
"Gapapa lah Le, hidup itu harus dinikmati dan cara gue sama Tyas nikmati hidup itu dengan bergosip," ucap Rudy.
"Sip, gue kasih dua jempol kaki gue buat lo," ucap Tyas.
Akhirnya setelah perdebatan yang tidak jelas tersebut, mereka pun menaiki bus mini yang disediakan untuk kedua tim.
Untuk pak Anton memang hanya ada 4 orang termasuk pak Anton itu sendiri. Sedangkan, untuk tim Bu Marsya ada 7 anggota termasuk Bu Marsya dan jangan lupakan Pak Dirga perwakilan dati direktur untuk mengawasi kegiatan yang akan diliput kedua tim tersebut. Karena itu mereka membutuhkan bus mini untuk menuju tempat tersebut.
__ADS_1
Bus yang mereka tumpangi pun akhirnya melaju, "Wah, bagus banget ya. Mana udaranya seger banget lagi," ucap Tyas.
Lea merasakan angin menerpa kulitnya karena memang Tyas membuka jendela yang ada di kursi mereka.
"Pokoknya kita harus ke pantai," ucap Tyas.
"Kita di sini itu buat liputan bukan buat liburan, bisa bedakan bukan," ucap Bu Marsya, yang ternyata berada di samping kursi Lea dan Tyas.
Tyas pun seketika diam seribu bahasa dan melirik ke samping tempat Bu Marsya.
"Nyaut aja tuh orang," bisik Tyas.
"Udah makanya diem aja," ucap Lea.
Beberapa saat kemudian, bus mereka pun sampai di sebuah tempat dengan lapangan yang luas. Bus tersebut berhenti di sisi lapangan karena di tengah lapangan cukup ramai orang uang sedang olahraga.
"Ganteng-ganteng ya di sini," ucap Tyas.
Jelas saja Tyas mengatakan hal tersebut karena Tyas melihat ke luar jendela bus, dimana ia melihat beberapa pria yang tengah berolahraga di sana.
"Oke, jadi ini adalah tempat kita. Kalian begitu ayo turun," ucap pak Dirga.
Akhirnya Lea pun keluar dari bus dan melihat ke sekelilingnya, "Lo tadi liat tulisan di depan sana gak?" tanya Lea.
"Gak, kenapa emangnya?" tanya Tyas.
"Gak tau, gue tadi ngeliat pantai sama cowok-cowok ganteng di lapangan," ucap Tyas.
"Ck, kebiasaan," gumam Lea.
"Selamat siang, dengan bapak Dirga," ucap seorang pria, yang baru saja datang dan membuat semua orang yang ada di sana menatap pria tersebut.
"Selamat siang, iya saya sendiri. Jadi, begini mas kami tim jurnalis dari kota ingin meliput kegiatan yang diadakan di sini. Kami di rekomendasikan langsung oleh jenderal," ucap pak Dirga.
"Iya, saya tau pak, untuk kali ini saya yang akan menjelaskan mengenai acara di sini. Sebenarnya terdapat ketua tim, tapi beliau tengah sibuk dengan urusan lain, jadi maaf beliau tidak bisa menyambut bapak. Tapi, nanti saat kita mengelilingi tempat ini, kita akan bertemu dengan beliau," ucap pria tersebut.
"Baik mas," ucap pak Dirga.
"Mungkin ada yang ditanyakan?" tanya pria tersebut.
"Ada mas, saya!" ucap Tyas.
"Iya, apa yang ingin anda tanyakan?' tanya pria tersebut.
"Kalau boleh tau nama mas nya siapa?" tanya Tyas, dengan tidak tau malunya.
__ADS_1
"Tyas," geram Lea, yang melihat tingkah sahabatnya itu.
"Nama saya Carlos," ucap Carlos.
"Nama yang bagus kayak orangnya," ucap Tyas, tanpa sadar mengatakan hal itu tepat di hadapan semua orang.
"Maaf mas, teman saya memang begitu orangnya," ucap Lea dan menarik lengan Tyas agar mundur.
"Iya, tidak apa-apa. Kalau begitu mari saya antarkan Kelian berkeliling untuk mengenal terlebih dahulu tempat ini karena bagaimanapun kalian akan tinggal di sini beberapa bulan," ucap Carlos.
Mereka pun berjalan mengelilingi sebagian tempat tersebut, "Itu adalah ketua tim di sini. Kita kan menghampiri beliau," ucap Carlos.
Mereka semua pun menuju pria tersebut, "Letnan Noah," panggil Carlos dan membuat pria tersebut berbalik badan.
Lea sendiri yang mendengar nama sang suami dipanggil pun mendongakkan kepalanya lalu menatap pria yang baru saja membalikkan tubuhnya dan membuat Lea terkejut bahkan Lea sampai mengerjapkan matanya berkali-kali akibat melihat pria tersebut yang tak lain adalah sang suami
Sebenarnya Noah juga tak kalah terkejutnya dari Lea, tapi Noah dapat mengatur ekspresinya sehingga tidak ada yang tau jika Noah saat ini tengah terkejut karena melihat sang istri yang saat ini berada tepat di hadapannya.
"Letnan, mereka ini adalah jurnalis yang pernah dikatakan jenderal beberapa waktu aku," ucap Carlos.
Noah pun mulai tersadar akan lamunannya dan menatap Carlos, "Tunjukkan pada mereka asrama yang akan mereka gunakan dan minta bantuan letnan Bondan atau letnan Tian," ucap Noah.
"Siap letnan," ucap Carlos.
"Mari, saya antarkan untuk menuju asrama yang akan kalian tempati beberapa bulan ke depan," ucap Carlos.
Selama perjalanan Carlos pun menjelaskan mengenai kegiatan yang akan mereka liput hingga membahas mengenai beberapa hal.
Akhirnya mereka pun sampai di asrama, "Ini asrama pria dan yang di belakang asrama perempuan, kalian bisa beristirahat di sana dan kalian diizinkan untuk meliput saya besok pagi. Kalian akan memiliki jadwal sama seperti prajurit sehingga nanti kalian akan mendapatkan pelatihan sedikit mengenai kedisiplinan dan juga beberapa hal mengenai keamanan," ucap Carlos.
"Nanti malam juga akan ada sambutan dari ketua tim, jadi harap intim tidak terlambat. Jika terlambat kalian akan mendapatkan hukuman, kalau begitu saya permisi," ucap Carlos.
"Terima kasih," ucap pak Dirga dan diangguki Carlos, kalau setelah itu Carlos pun pergi.
"Ini kita mau latihan militer atau liputan sih, gini amat," keluh Tyas.
"Gak usah ngelu, nanti kalau Bu Maya tau bisa-bisa hilang reputasi lo," ucap Lea.
"Iya iya," ucap Tyas.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.