Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Mama Sedih


__ADS_3

Saat ini Rea sudah berada di rumah sakit, "Re, gimana sama kapten Alan? kapten Alan ngizinin lo tinggal sama gue gak?" tanya Nina.


"Gak tau," ucap Rea.


"Kok gak tau?" tanya Nina.


"Gue pengen tinggal bareng lo sama Qilla, tapi suami gue justru masih mikir-mikir dia mau ikut apa gak soalnya dia khawatir sama gue kan gue lagi hamil besar gini," ucap Rea.


"Iya juga sih, mendingan lo nurut ajalah sama suami lo daripada kenapa-napa juga," ucap Nina.


"Tapi, gue pengen tinggal di rumah lo," ucap Rea.


"Kapan-kapan lah gampang kalau itu," ucap Nina.


Disisi lain Alan saat ini berada di ruangannya dan timnya, "Jadi gimana kapten Alan bakal ikut ke perbatasan?" tanya Alvin.


"Ya, saya akan ikut ke perbatasan karena kurang satu orang bukan," ucap Alan.


"Iya, Raka tidak bisa ikut karena dia mengalami cidera di bagian lututnya dan saat ini tengah menjalani perawatan di rumah sakit," ucap Alvin.


Sebenarnya Alan tidak harus ikut ke perbatasan karena anggota timnya sudah pas, tapi sayang tadi saat latihan Raka kurang seimbang dan terjatuh dan mengalaminya cidera pada bagian lututnya alhasil tim yang akan ke perbatasan pun kekurangan anggota sehingga mau tidak mau Alan harus ikut ke perbatasan.


"Dokter Rea gimana? dia kan lagi hamil? masa dia ditinggal sendirian di sini?" tanya Ryan.


"Nanti biar Rea kan bisa tinggal sama Mama atau Bunda," ucap Alan dan diangguki anggotanya.


.


Sore harinya Alan dan Rea tengah duduk santai di taman dekat rumah, hari ini mereka memang jalan-jalan santai karena Rea yang tiba-tiba ingin jalan sore hari, "Oh iya, untuk tugas yang ke perbatasan itu gimana? kamu ikut?" tanya Rea.


"Huh, sebenarnya aku gak ingin ikut karena aku khawatir banget sama kamu, tapi karena Raka cidera dan tim kekurangan anggota jadinya aku harus ikut," ucap Alan.


"Raka cidera kok bisa?" tanya Rea.


"Iya, tadi waktu latihan dia kurang seimbang dan jadinya cidera sekarang," ucap Alan.


"Berarti baru tadi pagi dia cideranya?" tanya Rea dan diangguki Alan.


"Terus keadaannya sekarang gimana?" tanya Rea.

__ADS_1


"Dia sekarang masih dalam perawatan di rumah sakit," ucap Alan dan diangguki Rea.


"Emangnya kamu berangkatnya kapan?" tanya Rea.


"Hem, 3 atau 5 hari lagi mungkin dan aku kayaknya gak bisa ninggalin kamu di sini dengan kondisi kamu yang hamil besar," ucap Alan.


"Kamu gak usah khawatir, aku pasti baik-baik aja kok dan karena kamu bakal ke perbatasan aku tinggal sendirian dong nah daripada aku sendirian mendingan aku tinggal sama Nina sama Qilla ya, aku takut di rumah sendirian soalnya," ucap Rea.


"Maaf sayang, tapi gak boleh," ucap Alan.


"Loh kenapa gak boleh? kamu mau aku tinggal sendirian di rumah mana di rumah sepi lagi kan anggota tim kamu gak ada terus nanti kalau aku sama baby-nya kenapa-napa gimana?' tanya Rea.


"Aku juga gak bakal biarin kamu tinggal di rumah sendirian sayang," ucap Alan.


"Terus? kamu bolehin aku tinggal sama Nina sama Qilla?" tanya Rea.


"Gak sayang, maksud aku itu kamu gak bakal tinggal di rumah sendirian karena kamu bakal tinggal di rumah mama, tadi aku udah telpon mama dan mama setuju banget malahan," ucap Alan dan membuat Rea cemberut.


"Ish, kamu mah padahal aku itu mau tinggal sama Nina sama Qilla loh," ucap Rea.


"Jadi, kamu gak mau tinggal sama mama aku sayang?" tanya Alan.


"Maaf ya, karena pernikahan ini kamu jadi kehilangan kebebasan kamu," ucap Alan.


"Iya, aku jadi gak bisa ngapa-ngapain. Walaupun nikah enak, tapi tetep aja aku kangen sama sahabat-sahabat aku, aku boleh ya tinggal di rumahnya Nina. Aku gak mau tinggal sama mama nanti yang ada mama malah heboh dan gak ngebolehin aku ngapa-ngapain lagi karena aku tinggal di sana, aku juga bosen masa ke rumah mama lagi sih," ucap Rea.


Bohong, jika Alan tidak sedih mendengar perkataan Rea, dengan sadar Rea menolak tinggal bersama keluarganya dan memilih tinggal bersama sahabatnya padahal Alan hanya takut jika Nina dan Qilla ceroboh dalam menjaga menjaga istri dan sang anak, tapi Alan sadar, memang benar ia yang salah karena telah merampas kebebasan Rea. Rea sendiri menyadari jika perkataannya cukup menyakitkan bagi Alan dan dengan cepat Rea menatap Alan dan benar saja Alan pun menatap Rea dengan tersenyum.


"Jadi kamu gak mau tinggal sama mama ya, padahal tadi mama seneng banget loh waktu aku bilang kalau menantunya bakal tinggal di sana bahkan mama tadi udah bilang kalau dia besok bakal belanja sama Dea supaya semua kebutuhan kamu sama baby-nya tercukupi, tapi ternyata kamu gak mau ya. Yaudah deh nanti aku bilang ke mama buat batalin rencananya belanja," ucap Alan, yang tentunya membuat Rea semakin merasa bersalah dan tentunya ia baru sadar jika perkataannya tadi membuat Alan sedih.


"Maaf, aku gak bermaksud kayak gitu, aku mau kok tinggal sama mama," ucap Rea.


"Iya, gapapa kok sayang. Nanti biar aku bilang ke mama kalau kamu gak bisa tinggal di sana, sekarang kita pulang ya udah mulai gelap takut kamu sama baby-nya kenapa," ucap Alan dan menggandeng tangan Rea.


"Gak kok, aku mau tinggal di rumahnya mama aja, gak jadi tinggal di rumahnya Nina," ucap Rea.


"Gapapa sayang, kamu di rumahnya Nina aja nanti aku bilang ke mama. Lagian kan nanti kalau udah nikah kamu pasti bakal sibuk sama anak kamu dan jarang kumpul bareng sama Nina sama Qilla dan karena itu kamu maksimalkan waktu kamu sama sahabat kamu sekarang ini ya," ucap Alan.


"Beneran?" tanya Rea dan diangguki Alan.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Rea pun membersihkan tubuhnya dan setelah itu ia memasak untuk makan malam, "Aku udah bilang ke mama kalau kamu gak jadi tinggal di sana," ucap Alan.


"Terus apa kata mama?" tanya Rea.


"Ya, mama sedih, tapi gapapa kok mama gak maksain kamu buat tinggal di sana," ucap Alan.


"Aku tinggal di rumahnya mama aja gapapa kok," ucap Rea.


"Kamu jarang tinggal sama Nina, jadi kamu nikmati waktu kamu sama Nina sama Qilla ya," ucap Alan.


"Terima kasih mas Alan," ucap Rea.


Mereka pun makan malam dengan nikmat, tapi makan malam kali ini tidak seperti biasanya yang masih ada obrolan atau canda tawa. Makan malam kali ini benar-benar sunyi karena Alan yang biasanya mengawali cerita atau pertanyaan hanya diam hingga selesai makan, "Kamu taruh situ aja piringnya biar aku yang cuci," ucap Alan dan diangguki Rea.


"Kamu udah minum susunya?" tanya Alan.


"Udah," ucap Rea.


"Yaudah, kalau gitu kamu istirahat di kamar ya pasti kamu capek banget kan habis jalan-jalan," ucap Alan.


Belum sempat Rea merespon ucapan Alan, Alan sudah pergi meninggalkannya, "Aku pasti tadi buat mas Alan kecewa deh sampe mas Alan gak mau deket aku gitu," gumam Rea.


"Kamu langsung istirahat aja ya," ucap Alan.


"Tapi, mas kamu gak marah kan sama aku?" tanya Rea.


"Gak kok, aku gak marah sama kamu," ucap Alan dan setelah itu Rea pun masuk ke dalam kamarnya.


"Aku emang gak marah, tapi aku kecewa sama diri aku sendiri. Apalagi waktu aku denger mama nangis karena kamu gak jadi tinggal di sana, aku sadar kalau aku udah bersikap kekanak-kanakan kayak gini," gumam Alan, setelah melihat kepergian Rea.


Ya, tadi mama Dira memang sempat menangis saat Alan mengatakan jika Rea tidak jadi menginap di sana karena Rea akan tinggal bersama sahabatnya, Alan mengatakan jika Rea pasti ingin berkumpul dengan sahabatnya sebelum melahirkan dan mama Dira pun setuju walaupun dengan berat hati mengatakannya.


Rea yang berada di kamar hanya mampu menatap jam dinding, sudah 2 jam Alan di luar dan belum juga masuk ke dalam kamar padahal Rea tidak bisa tidur jika tidak di usap oleh Alan, "Kok ayah kamu lama ya," gumam Rea dan mengusap lembut perutnya.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2