Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Di Kejar Hewan Buas?


__ADS_3

"Kalau saya antarkan dokter Rea?' tanya Ryan.


Gara yang berada di samping Ryan pun segera memeluk pundak Ryan, "Wah, sersan Ryan lupa ya kalau kita kan masih ada latihan," ucap Gara.


"Hah! bukannya latihannya udah selesai ya terus dilanjut besok," ucap Ryan.


Gara hanya menampilkan senyum terpaksanya mendengar perkataan Ryan, "Sersan Ryan lupa ya kalau kapten Alan menambah durasi latihan karena sersan Ryan waktu itu bilang kalau sersan Ryan belum menguasai beberapa teknik memanah," ucap Gara.


Ryan pun menatap Gara dengan pandangan yang entahlah Gara pun tak tahu, "Kenapa gue bilang kayak gitu ya, harusnya gue bilang kalau gue udah bisa," ucap Ryan.


"Mana saya tahu, ayo sersan Ryan kita ke lapangan sebelum kapten Alan marah," ucap Gara dan menarik Ryan menjauh dari Rea.


Rea hanya tersenyum melihat kelakuan para tentara itu, saat tersenyum tiba-tiba pandangannya jatuh pada Alan. Rea langsung mengalihkan pandangannya, ia teringat kejadian memalukan saat meminta Alan untuk menemaninya.


Rea segera pergi dari tempat tersebut dan menuju ke tempat persediaan obat, sesampainya Rea di sana ia pun masuk ke dalam. Namun, saat tengah mengambil beberapa obat untuk pasien tiba-tiba Rea mendengar suara perempuan yang cukup ia kenali dan ia pun mendekat karena penasaran pa ayang tengah mereka bicarakan, yang membuat Rea penasaran ialah karena ia mendengar namanya di sebuah dalam pembicaraan mereka.


Rea pun mengintip dari cela etalase dan melihat Fafi bersama dokter Jihan, "Kenapa tadi gue denger mereka sebut nama gue ya," gumam Rea dan berjalan mendekati kedua orang tersebut agar ia mendengar suara mereka.


"Dokter yakin saya harus ke dokter Rea?" tanya Fafi.


"Iya, saya dengar kalau dokter Rea itu dekat dan kenal sama kapten Alan," ucap dokter Jihan.


"Tapi, kalau kapten Alan dan dokter Rea punya hubungan gimana?" tanya Fafi.


"Gak mungkin, soalnya waktu itu banyak dokter, warga bahkan para tentara kok yang tanya langsung sama dokter Rea soal hubungannya sama kapten Alan, tapi dokter Rea justru bilang kalau mereka gak ada hubungan apa-apa," ucap dokter Jihan.


"Berarti saya lebih baik minta bantuan dokter Rea buat dekat sama kapten Alan dong, dok," ucap Fafi.


"Iya, lebih baik kamu minta bantuan sama dokter Rea, tapi saya dengar kapten Alan itu sulit untuk di dekati bahkan dokter secantik dokter Gina saja gagal buat menarik perhatiannya kapten Alan," ucap dokter Jihan.


"Kalau saya gagal gimana?" tanya Fafi.


"Makanya kamu minta bantuan sama dokter Rea, saya yakin pasti kamu berhasil buat menarik perhatian kapten Alan. Lagian kamu sama kapten Alan cocok banget loh dan saya yakin nanti kalau kalian berhasil menjalin hubungan pasti kamu bakal jadi perempuan yang paling beruntung di dunia," ucap dokter Jihan.


"Beneran dok?" tanya Fafi.


"Iya, saya yakin," ucap dokter Jihan.

__ADS_1


Rea yang mendengar itu merasa api keluar dari kepalanya, 'Apa katanya tadi minta bantuan gue buat deketin dia sama kapten Alan, maaf maaf nih ya, kapten Alan itu suami gue. Ya, kali gue mau bantuin lo, ogah banget. Walaupun gue masih kecewa sama kapten Alan, tapi gue gak mau di duain ataupun jadi janda,' ucap Rea, dalam hati.


"Kalau begitu saya mau cari dokter Rea deh, biar saya bisa kenalan sama kapten Alan lebih jauh lagi," ucap Fafi.


Rea yang mendengar hal itupun segera pergi dari tempat tersebut setelah mengambil obat secukupnya dan ia berlari menuju tempat pengungsian. Dalam perjalanan menuju tempat pengungsian, Rea bertemu dengan Ryan dan Gara, "Dokter Rea!" panggil Ryan.


Rea hanya melirik Ryan dan menganggukkan kepalanya sebentar dan kembali berlari hingga tempat pengungsian, "Huh huh huh, selamat," gumam Rea, setelah sampai di tempat pengungsian dan Rea melihat di arah belakang tidak terlihat Fafi.


"Lo kenapa kayak habis di kejar hantu aja?" tanya Qilla dan mengambil obat yang berad di tangan Rea lalu pergi.


"Lebih parah lagi, gue habis di kejar sama hewan buas," ucap Rea dan menghampiri Qilla.


"Hewan buas? hewan apa emangnya?" tanya Qilla.


"Gak tahu, pokoknya hewan buas," ucap Rea.


"Ck, lo nih ya, padahal tepat obat deket. Tapi, lo sampe 15 menit lebih buat ngambilnya," ucap Nina, yang baru saja datang.


"Lo gak mau ngambil juga, untung aja gue mau ngambil padahal yang disuruh sama dokter Nando tadi lo," ucap Rea.


"Hehehe, emang lo dokter terbaik sih," ucap Nina.


"Lo juga manusia jaman sekarang kali," ucap Nina.


"Udah gak usah berantem sekarang bantuin gue buat ngitung berapa obatnya, soalnya tadi gara-gara kalian berantem gue jadi lupa," ucap Qilla.


.


Disisi lain Alan menghampiri Ryan, setelah mendengar Ryan memanggil nama istrinya, "Kenapa?" tanya Ryan.


"Tadi ke apa dokter Rea?" tanya Alan.


"Gak tahu, orang tadi gue panggil malah cuma ngangguk doang gak ngejawab sapaan gue," ucap Ryan.


Alvin menatap lekat Alan, "Kenapa?" tanya Alan, yang merasa di perhatikan oleh Alvin.


Bahkan Alan tidak menatap Alvin, tapi bagaimana bisa Alan tahu jika Alvin menatapnya. Memang tidak salah Alan menjadi kapten di daerah perbatasan, "Kenapa?" tanya Alan lagi.

__ADS_1


"Gak kenapa-napa," jawab Ryan.


"Ck, bukan lo, tapi orang yang ada di belakang gue," ucap Alan dan diangguki Ryan, lalu Ryan pun bergerak ke samping dan melihat siapa yang berada di belakang Alan dan ternyata orang itu adalah Alvin.


"Kenapa, Vin?" tanya Ryan.


"Gak kenapa-napa, kenapa emangnya?" tanya Alvin.


"Lah, kok makin bingung sih gue nya, tadi kata Alan dia tanya ke lo kenapa, eh sekarang ko malah tanya ke gue kenapa," ucap Ryan.


"Udah biar gak bingung kita latihan lagi sersan Ryan," ucap Gara dan menarik Ryan untuk kembali ke lapangan.


"TIDAK!" teriak Ryan, dengan mendramatisir.


"Kenapa?" tanya Alan lagi, setelah melihat Ryan pergi.


Alvin yang berada di belakang Alan pun berjalan menuju hadapan Alan, "Lo ada hubungan kan sama dokter Rea?" tanya Alvin.


"Iya," jawab Alan.


"Beneran?" tanya Alan, dengan keterkejutannya.


"Hem," jawab Alan, dengan singkat dan jelas.


"Padahal gue cuma nebak aja, tapi ternyata tebakan gue bener. Sejak kapan?" taya Alvin.


"Nanti lo bakal tahu, untuk saat ini lo belum boleh tahu apapun soal hubungan gue sama dokter Rea," ucap Alan.


"Kenapa? gue ini sahabat lo. Tapi, kenapa gue gak boleh tahu? Lo nganggep gue sahabat kan?" tanya Alvin.


"Sekarang gue tanya kapan gue gak nganggep lo sebagai sahabat gue? gak pernah kan. Lo inget lo dulu pernah bilang gini *selesain dulu urusan lo dan kalau emang gue gak bisa ngatasin itu, lo boleh bilang ke gue dan gue bakal bantuin lo sebisa mungkin. Hal itu bisa sebagai bukti kalau lo emang orang yang layak buat di bantu karena lo udah berusaha* Itu kata yang selalu gue inget, gue masih bisa urus masalah gue, kalau semuanya udah selesai gue janji gue bakal bilang ke lo dan gue juga gak mau kalau gue cerita sama lo saat butuhnya doang," ucap Alan.


"Gue percaya sama lo," ucap Alvin dan diangguki Alan.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2