
Setelah menginap di rumah ayah Argi, Alan Adan Rea pun saat ini menuju ruang sakit, ya karena Rea langsung berangkat ke rumah sakit dan Alan yang akan kembali ke pangkalan militer. "Nanti aku jemput ya," ucap Alan.
"Iya, yaudah aku duluan ya," pamit Rea dan diangguki Alan.
Setelah mobil yang Alan kendarai meninggalkan rumah sakit, barulah Rea melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit meskipun banyak yang menatap Rea dengan tatapan tidak suka, Rea tidak peduli dan memilih untuk ke ruangannya, "Eh, si gatel udah datang," ucap dokter Shinta.
Rea hanya menatap dokter Shinta lalu menuju mejanya, di ruangan tersebut bukan hanya ada dokter Shinta, tapi juga beberapa perawat. Namun, di ruangan tersebut tidak ada Nina dan juga Qilla entahlah Rea juga tidak tahu dimana mereka.
"Berani-beraninya lo nyuekin gue, emang ya lo yang mulai gara-gara," ucap dokter Shinta dan mendekati Rea.
"Saya rasa yang nyari gara-gara itu dokter Shinta deh karena dokter Shinta yang ikut campur urusan saya, oh iya saya lupa dokter Shinta kan masih dendam sama saya karena direktur Bagas di pecat. Kasihan ya," ucap Rea.
"Lo...," ucapan dokter Shinta terhenti lantaran Rea menyelanya.
"Saya masih ada kerjaan lain, kalau dokter Shinta ingin menghina saya lagi nanti ya setelah kerjaan saya selesai," ucap Rea dan keluar dari ruangan tersebut.
"Awas aja lo, gue bakal kasih pelajaran buat lo," gumam dokter Shinta, dengan mengepalkan tangannya.
Disisi lain Alan yang sudah sampai di pangkalan militer langsung menuju lapangan dimana anggotanya sudah berada di sana, "Kapten Alan," panggil Gara.
"Ada apa? aku dengar tadi pagi Iko berkelahi dengan anggota kapten Timothy?" tanya Alan.
"Tadi anggota kapten Timothy tiba-tiba saja memukul Iko kapten, terus Iko tidak terima dan akhirnya memukul balik," ucap Gara.
"Huh, sekarang dimana Iko?" tanya Alan.
"Iko sedang di ruangan komandan Ivan bersama dengan anggota kapten Timothy dan juga sersan Alvin," ucap Gara.
"Yasudah, kalau gitu kau berlatih lagi biar aku urus semuanya," ucap Alan dan diangguki Gara.
Alan pun menuju ruangan komandan Ivan dan setelah dipersilahkan untuk masuk barulah Alan masuk ke dalam ruangan tersebut, "Oh ini ya kaptennya," ucap kapten Timothy, dengan sinis.
"Maaf karena saya terlambat, saya rasa ada kesalahpahaman di sini," ucap Alan
"Tidak ada kesalahpahaman di sini, tapi ya emang anggotanya aja yang gak sopan santun," ucap kapten Timothy.
"Apa kita bisa periksa kamera pengawasnya bukankah komandan Ivan memiliki beberapa kamera pengawas yang tidak diketahui para tentara lain," ucap Alan.
"Saya sudah periksa semuanya dan dari kamera tersebut menunjukkan jika anggota kapten Timothy yang tiba-tiba memukul anggota kapten Alan saat tengah berjalan bersama anggota lainnya dan karena merasa tidak terima anggota kapten Alan pun memukul balik anggota kapten Timothy. Untuk kasus ini anggota kapten Timothy akan saya berikan surat peringatan dan jika hal seperti ini terjadi lagi saya akan membawa kasusnya langsung ke pengadilan tinggi militer," ucap komandan Ivan.
"Tapi, komandan pasti ada alasan kenapa anggota saya memukul anggota dia kan," ucap kapten Timothy.
__ADS_1
"Iya, benar kalau begitu kita denger penjelasan dari anggota kapten Timothy. Silahkan," ucap komandan Ivan.
Sedangkan, anggota kapten Timothy hanya diam dan menunduk. "Apa tidak ada alasan untuk membela diri?" tanya Alan.
Anggota kapten Timothy tetap diam dan tidak merespon pertanyaan Alan, "Saya rasa semuanya sudah jelas bukan, meskipun ada alasan yang logis, tapi tetap saja tindakan anggota kapten Timothy tidak di benarkan. Kalau begitu semuanya boleh pergi dan kapten Alan ada hal penting yang harus hatus saya bicarakan," ucap komandan Ivan.
"Baik, komandan," ucap Alan.
Semua orang pun pergi dan hanya tersisa Alan dan komandan Ivan di dalam ruangan tersebut, "Ada apa komandan menyuruh saya tetap di sini?" tanya Alan.
"Besok kau dan anggotamu akan mengikuti latihan serempak bukan?" tanya komandan Ivan.
"Iya, komandan," ucap Alan.
"Terus istrimu bagaimana? apa dia setuju?" tanya komandan Ivan.
"Iya, dia setuju. Ya, walaupun harus ada drama terlebih dahulu, tali dia setuju," ucap Alan.
"Ini alasan kenapa dulu kau takut kalau kau menikah karena aku takut jika pasanganmu tidak menyukai pekerjaanmu dan berakhir kau harus mengorbankan salah satu," ucap komandan Ivan.
"Saya dulu juga berpikir untuk tidak menikah karena bagi saya tugas saya lebih penting, tapi komandan tahu sendiri bagaimana orangtua saya bukan. Mau tidak mau saya akhirnya haru menikah dan ya menurut saya menikah tidak seburuk yang saya pikirkan," ucap Alan.
"Syukurlah kalau memang kau senang dengan pernikahanmu lagipula aku bangga padamu karena bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Oh iya, aku juga mau ucapakan selamat atas kehamilan istrimu," ucap komandan Ivan.
"Itu tadi ucapan dari seorang paman loh," ucap komandan Ivan dan membuat Alan terkekeh.
"Terima kasih paman Ivan," ucap Alan.
"Sama-sama, aku sudah tidak sabar ingin mendapatkan ponakan yang lucu," ucap komandan Ivan.
Beberapa saat kemudian, Alan pun keluar dari rumah tersebut, baru saja keluar tiba-tiba ia sudah dihadang oleh anggotanya, "Ada apa?" tanya Alan, dengan menaikkan alis sebelah kanannya.
"Komandan Ivan bilang apa aja ke kapten Alan? komandan Ivan bakal berhenti saya ya?" tanya Iko.
"Kau tidak perlu khawatir komandan Ivan tidak membahas mengenai hal itu kok, lebih baik kita bersiap-siap karena besok kita harus mulai berlatih," ucap Alan dan diangguki oleh anggota timnya.
Anggota Alan pun pergi dan hanya Alvin yang masih berada di sana dan menatap Alan, "Kenapa?" tanya Alan.
"Ada apa dengan dokter Rea?" tanya Alvin.
"Maksudnya?" tanya Alan.
__ADS_1
"Tadi gue denger kalian di dalam bahas soal dokter Rea, ada apa dengan dokter Rea?" tanya Alvin.
Alvin memang selalu curiga terhadap Alan dan memang curiganya tepat sasaran lagipula Alan seperti tidak bisa berbohong jika dengan Alvin karena Alvin selalu tahu kapan Alan tidak jujur atau menyembunyikan sesuatu, bukan hanya Alan tapi hampir seluruh anggotanya pernah mendapat pertanyaan dari Alvin.
"Huh, Rea lagi hamil," ucap Alan.
"APA! HAMIL!" pekik Ryan.
Alan dan Alvin pun menatap Ryan yang ternyata masih di sana bukan hanya Ryan ,tapi anggota lainnya juga berada di sana dengan raut wajah entahlah Alan malas untuk mendeskripsikannya. "Dokter Rea beneran hamil?" tanya Ryan dan menghampiri Alan serta Alvin.
"Hem," jawab Alan.
"Yes! akhirnya kita bakal punya keponakan," ucap Ryan.
"Wah, gak sabar pengen ketemu ponakan deh," ucap Raka.
"Anaknya cowok apa cewek kapten?" tanya Kino.
"Rea aja hamilnya belum 4 bulan gimana mau tahu cowok apa cewek," ucap Alan.
"Oh, saya kira langsung tahu," ucap Kino.
"Dokter Rea masih kerja?" tanya Ryan.
"Hem,"
"Kenapa gak istirahat di rumah aja kasihan kalau dokter Rea kecapean," ucap Ryan.
"Iya, bener kapten," ucap Kino.
"Tapi, Rea nya yang mau. Di paksa pun juga percuma nanti yang ada dia marah," ucap Alan.
"Wah, kapten Alan ini calon suami-suami takut istri nih," ucap Raka.
"Terus masalah pelatihan besok gimana? kan dokter Rea lagi hamil masa dokter Rea ditinggal sendirian?" tanya Ryan.
"Nanti Rea bakal tinggal di rumah keluarganya, gue juga gak mungkinlah biarin dia sendirian di rumah," ucap Alan dan diangguki anggotanya.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.