
Alan sendiri keluar dari kamar mandi dan tidak mendapati istrinya di sana pun lantas memakai bajunya dan keluar dari kamar, "Kak Ray lihat Rea gak?" tanya Alan.
"Tadi kayaknya Rea lagi di kamar kakak deh sama Gia sama kak Inez, coba kamu cek aja di kamar kakak," ucap kak Ray dan diangguki Alan.
Alan pun menuju kamar kak Ray setelah itu mengetuk pintu, tapi karena tidak ada jawaban akhirnya Alan membuka pintu tersebut dengan pelan, di dalam kamar Alan dapat melihat Rea dan Gia yang tertidur di samping Kaif. Beberapa saat kemudian, kamar mandi pun terbuka dan menampilkan kak Inez.
"Loh, kamu mau jemput Rea ya," ucap kak Inez.
"Iya, kak," ucap Alan.
"Anaknya tidur mau kakak bangunin," ucap kak Inez.
"Gak usah kak biar Alan aja yang gendong Rea," ucap Alan dan menghampiri istrinya yang terlelap di atas kasur.
"Yaudah kamu bawa istri kamu aja biar Gia di sini," ucap kak Inez dan diangguki Alan.
Alan pun mulai menggendong istrinya dengan pelan dan berusaha untuk tidak membangunkan Rea, setelah berhasil Alan pun pamit pada kak Inez dan keluar dari kamar kak Ray dan kak Inez, "Loh Rea tidur?" tanya Bunda Nara.
"Iya, Bun. Alan bawa Rea ke kamar ya," ucap Alan dan diangguki Bunda Nara.
"Iya deh, kasihan juga kalian dari tadi jalan-jalan pasti capek," ucap Bunda Nara.
Alan pun masuk ke dalam kamar dan membaringkan Rea di kasur lalu Alan ikut berbaring di samping Rea hingga tanpa terasa ia pun mengikuti istrinya menuju alam mimpi.
Pagi harinya Rea tiba-tiba merasa sesak, ia pun mulai membuka mata dan hal pertama yang ia lihat adalah dada bidang seseorang. Rea berusaha untuk melihat orang tersebut, tapi begitu melihat rahang tegas orang itu, Rea sudah dapat menebak siapa dia. Siapa lagi jika bukan suaminya, setelah mengetahui dada bidang siapa yang ada di depannya bukannya Rea melepaskan pelukan Alan, Rea justru semakin merapatkan dirinya pada Alan dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya itu.
Rea kembali menutup matanya dan tanpa terasa ia kembali tertidur karena hangat pelukan suaminya. Disisi lain Alan yang merasa terganggu karena gerakan seseorang yang ada di depannya pun mulai membuka matanya dan melihat orang yang ada di depannya yang semakin merapatkan tubuhnya dan tertidur. Alam pun tersenyum dan justru memeluk Rea dan kembali menutup matanya, belum sempat Alan tertidur nyenyak tiba-tiba pintu di ketuk oleh seseorang, Alan melihat Rea yang masih tertidur pun dengan cepat melepaskan pelukannya dan menuju pintu.
"Ada apa Bunda?" tanya Alan, saat melihat Bunda Nara berada di depan pintu.
"Gapapa sih, Bunda cuma mau cek aja soalnya udah jam 11 siang, tali kok kalian belum bangun aja katanya kalian mau ke rumah Mama Dira jam 11," ucap Bunda Nara.
"Iya Bun, tadi Alan juga udah kabarin Mama kalau Alan telat ke rumah sih," ucap Alan.
"Yaudah, kalau gitu lanjutin gih pelukannya," ucap Bunda Nara dan pergi meninggalkan Alan yang tengah tersenyum kaku atas perkataan Bunda Nara.
Alan kembali menutup pintu dan menatap Rea yang masih tidur cantik di balik selimut, "Sayang, bangun yuk," ucap Alan, dengan menggoyangkan lengan Rea.
"Eungh," lenguh Rea dan berusaha untuk mengerjapkan matanya.
"Ayo bangun yuk, kan kita mau pulang ke rumah Mama," ucap Alan.
__ADS_1
Rea pun berhasil membuka matanya dan menatap Alan, Alan sendiri benar-benar merasa gemas melihat istrinya itu. "Udah jam berapa?" tanya Rea, dengan suara serak khas bangun tidurnya.
"Udah jam 11 lebih," ucap Alan.
"Hah! jam 11 lebih kan kita mau ke rumah Mama jam 11. Aduh berarti kita telah dong," ucap Rea dan merubah posisinya menjadi duduk.
"Tadi aku sempet izin telat kok ke mama," ucap Alan.
"Yaudah kalau gitu aku mau mandi dulu," ucap Rea.
Belum sempat Rea turun dari ranjangnya tiba-tiba Alan menahan tangan Rea dan berhasil membuat Rea mendongak ke atas menatap suaminya, "Ada apa?" tanya Rea.
"Gapapa," ucap Alan dan menggendong Rea menuju kamar mandi.
Rea pun duduk di sebelah bathtub, "Kenapa kok masih di sini?" tanya Rea.
"Kita mandi bareng," ucap Alan dan dengan santainya membuka pakaiannya.
"Gak deh, kamu mandi duluan aja kalau gitu," ucap Rea dan abru saja melangkahkan kakinya menuju pintu kamar mandi, tapi Alan sudah menahan tangannya dan membuka pakaian yang Rea kenakan. Akhirnya mereka berdua pun mandi bersama, ingat hanya mandi tidak lebih dari itu.
Setelah mandi bersama, Alan dan Rea pun berpamitan pada keluarga Bratadikara dan setelah itu mereka mengendarai mobil Alan menuju kediaman Dhananjaya hingga beberapa saat kemudian, Alan dan Rea sampai di kediaman Dhananjaya.
"Halo kakak cantik!" sapa Dea, yang baru saja keluar dari mobil Papa Aldi.
"Dea dari dokter Kaili kakak cantik," ucap Dea.
"Dokter Kaili?" tanya Rea.
"Iya dokternya Dea," ucap Dea dan diangguki Rea.
"Dea, ayo minum obat dulu di dalem," ajak Papa Aldi.
"Iya, Pa. Ayo kakak cantik," ajak Dea.
"Iya, ayo," ucap Rea.
"Dokter Kaili itu psikiaternya Dea," ucap Alan.
"Separah itu ya?" tanya Rea.
"Ya, lumayan sih. Kayaknya Dea kambuh deh makanya kok di bawa ke dokter Kaili," ucap Alan.
__ADS_1
Rea yang menatap Alan pun segera menggenggam tangan suaminya itu, "Dea pasti baik-baik aja, aku yakin itu karena Dea anaknya kuat," ucap Rea dan dibalas senyum manis oleh Alan.
Alan dan Rea pun masuk ke dalam rumah, "Kalian nih ya masa janjinya jam 11 eh malah telat," ucap Mama Dira.
"Namanya juga masih pengantin baru, Ma. Ya, jelaslah mereka gak mau jauh-jauh dari yang namanya kasur," ucap Papa Aldi.
"Papa emang yang terbaik," ucap Alan.
"Huh, ada-ada aja. Oh iya gimana sama keluarga kamu, mereka kaget gak ketemu sama suami kamu sayang?" tanya Mama Dira.
"Ya, gitu Ma. Tapi, gak kaget banget sih kan mereka udah pernah ketemu sama mas Alan cuma Rea aja yang belum pernah ketemu," ucap Rea.
"Mas Alan?" tanya Mama Dira.
"Iya, Rea sekarang panggil Mas Alan, kan gak sopan juga manggil suami pake nama," ucap Rea.
"Mama seneng deh dengernya," ucap Mama Dira.
"Terus Dea harus panggil kak Alan pake Mas juga gak?" tanya Dea.
"Kamu gak usah manggil kak Alan pake Mas, cukup kak aja soalnya yang boleh manggil kak Alan pake Mas cuma kak Rea aja," ucap Alan.
"Ish, iya iya," ucap Dea.
"Kamu istirahat ya Dea jangan capek-capek," ucap Mama Dira setelah melihat Dea yang selesai meminum obat.
"Iya, Ma," ucap Dea dan pergi menuju kamarnya.
"Dea kambuh lagi, Ma?" tanya Alan.
"Iya, tadi Mama kaget pas kamar Dea berisik ternyata dia kambuh," ucap Mama Dira.
"Tapi, penyebab dia kambuh apa, Ma?" tanya Rea.
"Mama juga gak tahu, namanya juga penyakit sayang bisa kambuh kapan aja," ucap Mama Dira, yang terlihat berusahalah tegar.
Rea pun mendekat pada Mama Dira dan memeluk Mama Dira, "Mama yang sabar ya, Mama gak sendirian kok kan sekarang udah Rea. Rea bakal terus jaga Dea juga kok," ucap Rea dan diangguki Mama Dira.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.