Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
REA!


__ADS_3

Pagi ini Rea baru saja sampai di rumah sakit dan di buat kesal dengan Qilla yang sejak tadi meminta maaf perihal masalah kemarin, "Re, maafin gue, gue tahu gue salah," ucap Qilla.


"Kalau tahu salah kenapa tetep lo pergi sih, La?" tanya Rea.


"Gue terpaksa soalnya mantan gue ngajak ketemu dan dia ngancem kalau gue gak nemuin dia adik gue bakal kena masalah di sekolahnya, gue gak tahu harus gimana," ucap Qilla.


"Lo tahukan kalau lo bener-bener gak profesional kemarin, oke kalau emang lo ada urusan penting setidaknya kasih tahu gue. Gue bakal dengan senang hati bantuin lo, tapi gak kayak kemarin, kemarin lo bener-bener keterlaluan sampai ninggalin tugas lo sebagai dokter dan dengan seenaknya lo nyuruh Laras buat nyari dokter yang bisa gantiin lo, lo mikir kan kalau seandainya gak ada dokter yang bisa gimana untung kemarin gue belum pulang," ucap Rea.


"Maafin gue," lirih Qilla.


"Gak usah minta maaf ke gue, lebih baik lo minta maaf ke Laras karena dia yang paling sibuk kemarin," ucap Rea dan diangguki Qilla.


"Pasti itu, gue bakal minta maaf ke Laras secepatnya kok," ucap Qilla.


"Udah sana pergi, gue bentar lagi ada jadwal sama pasien gue, tapi inget lo jangan ngelakuin hal itu lagi. Cukup kemarin aja dan gak usah ada kayak gitu lagi untuk kedepannya," ucap Rea.


"Siap, lo gak perlu khawatir, gue bakal bersikap lebih profesional lagi," ucap Qilla.


"Bagus," ucap Rea.


Rea pun pergi dari ruangannya dan menuju kamar inap pasiennya, baru saja Rea masuk ke dalam kamar inap tersebut tiba-tiba orang yang berada di dalam kamar tersebut memanggil namanya dan hal itu tentunya membuat Rea menatap orang tersebut.


"Rea," panggilnya.


"Riko," gumam Rea.


Ya, orang yang memanggil Rea adalah Riko teman SMA Rea yang pernah Alan dan Rea temui saat pernikahan Desti beberapa waktu yang lalu, "Jadi, kamu dokter di Daiva General Hospital. Wah, keren ya kamu bisa jadi dokter di rumah sakit sebesar dan sebagus ini," ucap Riko dan diangguki Rea.


Rea tidak tahu harus menanggapi ruko bagaimana karena ia tidak terlalu akrab dengan Riko baik saat SMA ataupun saat ini jadi Rea memutuskan hanya mengangguk dan memberikan senyum canggungnya. Sedangkan, Riko yang melihat senyum Rea pun merasakan hal yang tidak beres di jantungnya.


Rea menghampiri seorang perempuan yang tengah terbaring lemah di kamar inap tersebut, "Gimana perutnya masih sakit?" tanya Rea.


"Udah gak terlalu dokter, tapi masih sedikit nyeri," ucap Nila.

__ADS_1


"Hal itu wajar kok, kan kamu baru operasi," ucap Rea dan diangguki Nila.


"Jangan banyak gerak dulu ya, jahitannya belum kering soalnya, kalau ada apa-apa panggi dokter ya," ucap Rea.


"Iya dok, makasih ya dokter mau bantu saya," ucap Nila dan diangguki Rea.


"Dokter kenal kak Riko?" tanya Nila.


"Kak Riko itu pernah satu sekolah sama dokter, tapi dokter gak terlalu kenal ataupun akrab kok kalau ketemu juga cuma sekedar say hai aja gak ada obrolan lain jadi gak bisa di bilang temen juga sih, hem dokter cuma kenal aja gak lebih," ucap Rea.


Ya, Rea memang sengaja mengatakan hal tersebut karena niat Nila yang sepertinya menginginkan Rea dekat dengan Riko, bahkan saat Rea mengatakan hal tersebut terlihat jelas wajah sedih dan kecewa dari Nila.


"Kak Riko ini kakaknya Nila loh dok," ucap Nila dan diangguki Rea.


Rea benar-benar tidak berminat membahas Mengani Riko, rasanya Rea ingin menutup mulut Nila karena telah membahas Riko. Padahal Rea merasa tidak penting mengenai hal tersebut, "Oh iya, dokter harus ke pasien lain ya kamu gapapakan dokter tinggal?" tanya Rea.


Rea sengaja menyela ucapan Bila karena ia hanya ingin pergi dari kamar inap tersebut, "Ya, padahal Nila pengen dokter Rea masih di sini loh," ucap Nila.


"Janji ya dok," ucap Nila dan diangguki Rea.


"Yaudah deh," ucap Nila.


Akhirnya Rea dapat terbebas dari Bila, Rea pun mulai memeriksa pasiennya karena ia harus segera cepat menyelesaikan tugasnya sebab hari ini ia akan ada operasi dengan Qilla. Ya, setelah meminta maaf tadi Qilla juga mengatakan jika ia butuh bantuan Rea untuk melakukan operasi hari ini dan karena Rea baik hati dan tidak sombong makanya Rea pun mengiyakan permintaan Qilla.


"Astag, padahal baru segini aja udah capek, gue kayak kehabisan napas gini. Tapi, kenapa badan gue capek banget ya biasanya gak pernah kayak gini loh," gumam Rea, yang sudah duduk di kursi ruangannya.


Di ruangan tersebut bukan hanya ada dirinya, tapi juga Fafi, "Fi, setelah ini ada pasien lagi tidak?" tanya Rea.


"Tidak dok, setelah ini dokter Rea tidak ada pasien, dokter Rea kan tahu kalau mau weekend itu cukup sepi pasien," ucap Fafi dan diangguki Rea.


"Terus kenapa kamu masih ada di sini?" tanya Rea.


"Oh itu, saya mau ambil pelatihan lagi dok makanya saya butuh belajar lagi dan dokter Nina ngasih saya bukunya buat belajar, tapi harus di baca di ruangan soalnya takut ada yang lihat buku ini kata dokter Nina buku ini edisi terbatas makanya harus sembunyi-sembunyi belajarnya, kan dokter Nina pernah ikut pelatihan siapa tahu kan saya nanti bisa belajar banyak dari buku ini," ucap Fafi dan Rea pun tersenyum dengan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Yaudah, kalau gitu semangat ya," ucap Rea dan diangguki Fafi.


Saat tiba waktu operasi Rea pun masuk ke dalam ruang operasi bersama Qilla dan perawat serta dokter pendamping lainnya, "Mati kita mulai," ucap Qilla.


Operasi pun terus berjalan hingga tak terasa kurang lebih selama 3-4 jam mereka d i ruang operasi dan operasi berjalan dengan lancar meskipun sempat ada beberapa hal yang mengkhawatirkan, takut untungnya ada Rea di sana sehingga semuanya teratasi.


"Terima kasih untuk semuanya, pasien akan di pindahkan terlebih dahulu, tapi Alan tetap di awasi kondisinya," ucap Qilla.


Satu persatu dari mereka pun keluar dari ruang operasi, "Emang ya operasi kalau ada dokter Rea itu semuanya bakal teratasi," ucap Qilla.


"Apa sih lebay, gue laper mau makan. Lo mau makan gak?" tanya Rea.


"Boleh deh yuk ke kantin," ajak Qilla dan diangguki Rea.


Rea berjalan terlebih dahulu dan Qilla hanya tersenyum melihat Rea yang tidak sabar ingin sampai di rumah sakit. Namun, saat matanya fokus pada Rea tiba-tiba Qilla terkejut saya melihat Rea yang pingsan, dengan cepat Qilla berlari menghampiri Rea karena ia tiba-tiba merasa takut dan panik sendiri.


"REA!" teriak Qilla.


Qilla menepuk pelan pipi Rea, tapi tidak ada respon, "Rea sadar," ucap Qilla.


Namun, tetap tidak ada respon dari Rea. Qilla pun meminta bantuan tenaga medis yang menghampirinya dan Rea, "Ini dokter Rea kenapa?" tanya dokter Gabby.


"Saya juga kurang tahu dok tiba-tiba saja Rea pingsan," ucap Qilla.


"Yaudah, kalau gitu kita bawa dokter Rea ke ruangan saya," ucap dokter Gabby dan diangguki orang-orang yang ada di sana. Mereka pun membawa Rea menuju ruangan dokter Gabby untuk di periksa.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2