
Siang harinya Nial sudah berada di sekolah Daisy padahal Daisy belum menghubunginya, tapi mobil Daisy yang dikendarai Nial sudah bertengger manis didepan sekolah tersebut.
Ya, Nial sengaja datang terlebih dahulu karena ingin melihat seseorang yang tadi pagi ia temui, siapa lagi jika bukan Maudy. Tepat jam 2 siang siswa siswi sekolah tersebut mulai keluar dan selang beberapa saat kemudian guru-guru pun ikut keluar.
Nial sendiri menunggu Daisy dengan tenang karena memang Daisy juga sempat memberitahukan pada Nial jika ia akan terlambat.
Kurang lebih 20 menit Nial menunggu hingg Daisy keluar dengan beberapa guru dan pintu gerbang pun di tutup, Nial mengerutkan kening melihat hal itu.
"Kok gerbangnya di tutup, gue belum lihat Maudy keluar dari sekolah," gumam Nial.
Nial menoleh saat melihat Daisy yang sudah duduk di sampingnya, "Ayo kak kita pulang," ajak Daisy.
"Di sekolahan kamu kok udah tutup?" tanya Nial.
"Iya lah kan udah gak ada orangnya makanya di tutup," ucap Daisy.
"Gak ada orang?" tanya Nial.
"Iya, kenapa emangnya kak?" tanya Daisy.
"Gak kenapa-napa juga sih kok tumben aja tutupnya cepet," ucap Nial.
"Kayaknya biasanya juga gitu deh tutupnya cepet soalnya sekolahnya kan lumayan sat set sat set gitu," ucap Daisy.
"Apa coba sat set sat set," ucap Nial.
"Hehehehe, ya pokoknya itu," ucap Daisy.
"Jadi, udah gak ada orang lagi di dalam," ucap Nial, untuk memastikan kembali.
"Iya, udah gak ada lagi orang kecuali satpam sih tentunya buat jaga sekolah," ucap Daisy.
"Kenapa sih kak kok tumben tanya gitu? terus kakak juga aneh soalnya tiba-tiba datang padahal tadi aja gak mau," ucap Daisy.
"Yaudah, kalau gitu kakak gak mau lagi anterin kamu," ucap Nial.
"Eh, jangan dong kak," ucap Daisy.
"Udah, sekarang kita pulang," ucap Nial.
"Oke," ucap Daisy.
Selama dalam perjalanan menuju rumah, Daisy terus bercerita yang entahlah Nial pun tidak tau bahkan respon Nial hanya mengiyakan apa yang Daisy katakan.
"Kakak tau gak tadi itu ada guru yang izin ke rumah sakit tau, soalnya mukanya pucet banget. Kasihan lihatnya," ucap Daisy.
"Sakit apa dia nya?" tanya Nial.
"Gak tau, tapi denger-denger perutnya kram kayak udah beberapa hari gak makan," ucap Daisy.
"Kasihan juga, dia orang gak mampu?" tanya Nial.
"Gak tau, tapi yang Daisy tau dia itu guru baru. Baru beberapa bulan sih," ucap Daisy.
Nial yang mendengar hal itu pun menatap Daisy, "Sekolah kamu gak ngasih gaji ya ke dia?" tanya Nial.
"Enak aja, gak ya. Sekolahan Daisy itu sekolahan swasta terbaik di kota ya, jadi pasti ngasih gaji yang besar," ucap Daisy.
"Iya iya tau, emangnya dia gak punya temen di sana?" tanya Nial.
"Gak kak, dia orangnya cukup tertutup, tapi dia cangik bahkan guru olahraga di sana aja suka sama dia," ucap Daisy.
"Siapa? si James?" tanya Nial.
"Iya, tapi sayang cinta bertepuk sebelah tangan," ucap Daisy.
"Dia ditolak?" tanya Nial.
"Iya, James ditolak," ucap Daisy dan tertawa seolah membayangkannya.
"Emang nama gurunya siapa kok kamu gak pernah cerita padahal kan kamu selalu cerita?" tanya Nial.
"Oh namanya Maudy, Bu Maudy. Cantik ya namanya sesuai sama wajahnya cantik banget mana kalem lagi Bu Maudy," ucap Daisy.
Mendengar nama yang diucapkan Daisy Nial pun menatap Daisy dengan tatapan terkejut bahkan Nial pun menepikan mobilnya dan kembali menatap sang kembaran.
Daisy yang ditatap seperti itu pun bingung apalagi saat Nial menepikan mobilnya, "Kenapa?" tanya Daisy.
"Tadi kamu bilang siapa namanya?" tanya Nial.
"Bu Maudy," ucap Daisy.
"Dia baru berapa bulan kerja?" tanya Nial.
"Gak lama kok kira-kira dua atau tiga bulan," ucap Daisy.
__ADS_1
"Kamu tau di mana rumah sakit tempat dia di rawat?" tanya Nial.
"Gak tau, kenapa emangnya kak?" tanya Daisy.
"Gapapa, kalau gitu ayo kita balik," ucap Nial dan kembali mengendarai mobilnya menuju ke rumahnya.
"Beneran kak? kok kak Nial kayak nyembunyiin sesuatu dari Daisy," tanya Daisy.
"Iya beneran, kakak gak nyembunyiin apa-apa," ucap Nial.
"Oh yaudah kalau gitu," ucap Daisy.
Meskipun begitu Daisy tetap curiga pada Nial, tapi ia juga tidak tau apa yang sedang di sembunyikan Nial.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun sampai di rumah dan melihat yang sedang memakan buah apel sambil menonton televisi.
"Bunda mana kak?" tanya Daisy.
"Bunda lagi ke rumah sakit, kan hari ini bunda masuknya siang," ucap Lea.
"Kakak gak kerja?" tanya Daisy.
"Mau dipenggal kepala kamu kalau kakak kerja," ucap Lea.
"Emangnya kenapa?" tanya Nial.
"Kan kak Noah ngelarang kak Lea kerja, bahkan waktu itu kak Lea pernah masuk sekali terus kak Noah murka dan nyuruh perusahaan buat ngasih cuti kak Lea sampai melahirkan atau dua tahun gitu kalau gak salah," ucap Daisy.
"Wah, kak Noah sangat berlebihan," ucap Nial.
"Kak Noah sama kak ke situ udah penuh kehilangan anak mereka, jadi menurut Daisy wajar sih kak Noah kalau over protective sama kak Lea," ucap Daisy.
"Ya terserah juga sih," ucap Nial.
"Kamu mau kemana?" tanya Lea, saya melihat Nial yang akan keluar rumah dengan membawa kunci sepeda motornya.
"Mau keluar," ucap Nial.
"Kemana?" tanya Lea.
"Mau ke rumahnya Bian," ucap Nial.
"Nanti kalau pulang jangan lupa bawain kakak es krim rasa vanila dong," ucap Lea.
"Iya, tapi kakak tiba-tiba pengen es krim rasa vanila," ucap Lea.
"Baby-nya yang pengen kali," ucap Daisy.
"Mungkin sih," ucap Lea.
"Iya, tapi nanti ya," ucap Nial.
"Iya, gapapa kok kakak nunggu kamu pulang," ucap Lea.
Setelah itu, Nial pun pergi menggunakan motor sport nya dan menuju rumah Bian. Beberapa saat kemudian, Nial pun sampai di rumah Bian dan tepat sekali Bian berada di luar rumah.
"Kenapa lo ke sini?" tanya Bian.
"Gue butuh bantuan lo," ucap Nial.
"Butuh bantuan apa?" tanya Bian.
"Bisa lo cari rumah sakit yang ada pasien bernama Maudy," ucap Nial.
Bian pun menatap Nial dengan raut wajah bertanya-tanya, "Nanti gue jelasin, tapi sekarang bisa lo cari dulu," ucap Nial.
"Oke, gue coba buat cari," ucap Bian.
Setelah itu, Bian pun mulai mencari dimana rumah sakit yang terdapat pasien bernama Maudy.
"Gak ada pasien bernama Maudy di rumah sakit di kota yang namanya Maudy Azzurri," ucap Bian.
(Author lupa, author udah pernah ngasih nama lengkap Maudy belum ya?)
"Lo yakin?" tanya Nial.
"Iya gue yakin, gak ada nama itu. Emangnya kenapa sih? lo udah ketemu sama Maudy?" tanya Bian.
"Gue tadi nganterin Daisy ke sekolahnya terus gue ngelihat Maudy waktu gue mau turun dari mobil ternyata gerbang di tutup yaudah gue pulang dan rencananya gue bakal nemuin Maudy pas pulang, tapi ternyata gue denger dari Daisy kalau ada guru baru yang sakit dan di bawa ke rumah sakit dan lo tau namanya itu Maudy dan di sana cuma ada satu guru yang namanya Maudy. Makanya itu gue nyuruh lo buat nyari rumah sakit yang ada namanya Maudy siapa tau gue bisa ketemu sama Maudy," ucap Nial.
"Panjang bener dah penjelasan lo, ini beneran Nial yang cueknya minta ampun," ucap Bian.
"Ck, gue lagi males bercanda," ucap Nial.
"Oke oke, jadi setelah gue cari dan gak ada yang namanya Maudy, pikiran gue cuma satu yaitu Maudy yang udah gak ada di rumah sakit mungkin aja Maudy udah pulang," ucap Bian.
__ADS_1
"Iya juga sih," ucap Nial.
"Kenapa emangnya? lo khawatir sama dia?" tanya Bian.
"Gak," ucap Nial.
"Masih aja gengsi, makan tuh gengsi. Nanti kalau Maudy di embat sama orang lain jangan marah lo ya," ucap Bian.
"Ngapain juga marah," ucap Nial.
"Ya, siapa tau lo gak terima," ucap Bian.
"Gak tuh biasa aja," ucap Nial.
.
Disisi lain, terdapat seorang perempuan yang tengah merintih kesakitan di dalam kamar kos sederhananya.
"Sakit," rintih perempuan tersebut.
Perempuan itu adalah Maudy. Ya, Maudy memutuskan untuk kembali ke kosnya karena tadi saat di rumah sakit Maudy hanya periksa dan mengambil obat saja padahal dokter
# Flashback On #
Maudy diantar pak Dino ke rumah sakit siang karena Maudy ada beberapa berkas yang atau ia urus sebelum ke rumah sakit, saat sampai di rumah sakit sebenarnya Maudy sedikit ragu untuk masuk, bagaimanapun tidak pak Dino mengantarnya ke Daiva General Hospital salah satu rumah sakit terbaik di kota bahkan rumah sakit ini terkenal dengan biaya perawatannya yang cukup mahal. Tapi, Maudy harus periksa karena memang saat ini perutnya sangat sakit, Maudy pun daftar untuk di periksa hingga beberapa saat kemudian ia pun di periksa oleh dokter yaitu dokter Farah dan dokter Farah mengatakan jika Maudy mengalami dehidrasi dan kram perut.
"Sebaiknya Bu Maudy di rawat di rumah sakit selama tiga hari," ucap dokter Farah.
"Tiga hari dok, ehm sepertinya saya hanya butuh obat dan istirahat di rumah saja dok," ucap Maudy.
"Tapi, kondisi Bu Maudy cukup memprihatinkan jika tidak di rawat di rumah sakit," ucap dokter Farah.
"Tidak apa-apa dok, saya lebih baik di rumah saja mungkin saya hanya minum obat saja biasanya juga begitu kok," ucap Maudy.
Tentunya Maudy tidak ingin lama-lama di rumah sakit karena hal itu bisa membuat uangnya habis, sekolah tidak membayar pengobatan Maudy karena Maudy termasuk guru baru dan belum satu tahun mengajar di sekolah tersebut sehingga Maudy belum bisa mendapatkan fasilitas kesehatan yang di sediakan sekolah dimana sekolah akan memberikan seluruh fasilitas sekolah untuk guru yang sudah mengajar minimal 6 bulan.
"Yasudah kalau begitu saya akan resepkan obat untuk Bu Maudy," ucap dokter Farah.
"Iya dok," ucap Maudy.
Beberapa saat kemudian, Maudy pun keluar dari ruangan dokter Farah dan pergi untuk menebus obatnya dan setelah itu ia harus kembali ke ruangan dokter Farah untuk mengambil obat yang khusus ada di sana.
Saat masuk ke dalam ruangan dokter Farah, Maudy melihat seorang perempuan yang juga seorang dokter cantik yang duduk di kursi yang tadi ia duduki, "Eh, ada pasien ya," ucap perempuan tersebut.
"Gak apa-apa lo di sini aja, Maudy kamu mau ambil obat kan," ucap dokter Farah dan diangguki Maudy.
"Ini obatnya sudah rasa atur semuanya untuk kam konsumsi, semua penjelasannya ada di kertas yang di dalam plastik," ucap dokter Farah.
"Terima kasih dok," ucap Maudy.
"Iya sama-sama," ucap dokter Farah.
"Kamu gak di rawat aja, lihat muka kamu pucet banget loh," ucap perempuan tersebut.
"Iya, tadi saya sudah usulkan itu pada Bu Maudy, tapi Bu Maudy gak mau," ucap dokter Farah.
"Kamu di rawat aja ya," ucap perempuan tersebut.
"Tidak perlu dok, saya tidak apa-apa kok. Mungkin istirahat seven sudah sembuh," ucap Maudy.
"Kalau memang begitu saya juga tidak bisa memaksa kamu, tapi kalua ada apa-apa kamu segera ke sini ya," ucapnya.
"Iya dok, kalau begitu permisi," pamit Maudy.
Setelah itu, Maudy pun pulang ke rumahnya dan baru saja datang tiba-tiba Maudy merasakan sakit yang teramat di perutnya.
# Flashback Off #
"Sakit," rintih Maudy lagi.
Maudy memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya di kasur sederhananya.
Meskipun Maudy sudah bekerja, tapi Maudy serba kekurangan karena gajinya sebagian ia kirim ke keluarganya, tapi sering sekali Caca yang meminta Maudy bahkan meminta uang yang cukup banyak sehingga tabungan Maudy pun hampir terkuras.
Caca selalu mengancam jika tidak di berikan uang maka ia akan pergi dari rumah, ia tidak ingin Caca pergi dari rumah karena Ruslan sangat menyayangi Caca bahkan bisa dibilang Caca adalah anak kesayangan Ruslan dan Ruslan juga penegak mengatakan hidupnya akan hancur jika Caca pergi dari rumah sebab itu Maudy memberikan apapun agar Caca tidak pergi dari rumah.
"Huh, ayo semua Maudy kamu bisa," gumam Maudy dan setelah itu ia tidak sadarkan diri.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1