
"Mas," panggil Rea.
"Kenapa hm?" tanya Alan.
"Ehm, tahu gak sih Mas kayaknya Qilla itu sekarang lagi ada masalah deh," ucap Rea.
"Maksudnya?" tanya Rea.
"Iya kayaknya Qilla lagi ada masalah dan aku gak tahu apa masalahnya," ucap Rea.
"Kalau kamu gak tahu masalahnya kamu kok tahu kalau Qilla ada masalah?" tanya Alan.
"Sebenarnya tadi itu aku istirahat di ruangan istirahat kan terus ada tiga orang perempuan gitu yang bicara soal Qilla, katanya kemarin Qilla itu tidur di rumah sakit dan waktu dia masuk ke rumah sakit dia itu nangis gitu," ucap Rea.
"Kamu udah tanya ke Qilla soal itu?" tanya Alan.
"Belum, soalnya tadi aku nyari Qilla, tapi Qilla nya gak ada," ucap Rea.
"Yaudah, kalau gitu besok kamu tanya ke dia secara langsung, kita gak boleh menyimpulkan sesuatu sendiri takutnya apa yan kita pikirkan nanti malah salah," ucap Alan dan diangguki Rea.
"Awsh," rintih Rea.
"Kenapa sayang?" tanya Alan, saya melihat Rea yang kesakitan pada perutnya.
"Gapapa kok, Mas. Biasalah anaknya kalau malam aktif banget," ucap Rea.
"Kamu tahu, setiap kali aku kerja, aku pasti khawatirin kamu dan gak tenang apalagi kalau aku telepon kamu dan kamunya gak angkat itu rasanya jantungku berpacu dengan cepat dan mau meledak tahu gak," ucap Alan.
"Ish lebay deh, lagian nih ya mas. Aku itu juga ada pasien masa harus bawa hp terus sih kalau aku gak angkat biasanya hp ku ada di ruangan ku dan lupa gak aku bawa," ucap Rea.
"Nah itu yang buat aku khawatir karena kamu gak ada kabar," ucap Alan.
"Ada-ada aja gak sampe 1 jam kamu selalu kabari aku," ucap Rea, Alan hanya tersenyum dan mengusap lembut perut Rea.
"Oh iya, Mas. Aku diundang makan malam sama salah satu mantan pasienku besok, boleh gak?" tanya Rea.
"Kamu yakin bisa pergi, bukannya kalau malam baru biasanya perut kamu sakit?" tanya Alan.
"Bisa kok, aku juga jarang banget keluar malam," ucap Rea.
"Kalau kamu memang gak masalah ya aku juga sih oke-oke aja yang penting kamu jaga kesehatan kamu, oh iya kamu ke sananya sama siapa?" tanya Alan.
"Sama Mas Alan dong, masa aku sendirian ke sana," ucap Rea.
"Aku kira sama Qilla atau Nina, kalau sama aku gapapa dong nanti biar aku bisa jaga kamu dan baby-nya," ucap Alan.
"Yaudah, kalau gitu nanti aku kabarin Bu Andriani kalau kit bisa besok ikut makan malamnya," ucap Rea dan diangguki Alan.
"Mas," panggil Rea.
"Kenapa?" tanya Alan.
"Kamu gak mau usg buat liat baby-nya cowok apa cewek gitu?" tanya Rea.
"Pengen sih, tapi gak usah deh biar kejutan aja waktu baby-nya lahir," ucap Alan.
"Lucu kali ya nanti kalau kamu bawa jalan-jalan baby-nya keluar," ucap Rea.
__ADS_1
"Kalau aku jalan-jalan sama baby-nya terus kamu kemana?" tanya Alan.
"Aku ya tidur," ucap Rea.
"Sayang," panggil Alan.
"Iya," jawab Rea, yang masih fokus pada televisi.
"I love you," bisik Alan dan membuat Rea mendongak menatap Alan.
Meskipun ini bukan pertama kalinya Alan mengatakan hal itu, tapi bagi Rea ini pertama kalinya Rea merasakan debaran yang aneh karena kan mengatakan hal itu, "Aku rasa aku benar-benar menyukaimu bahkan aku rasa aku menyukaimu saat pertama kali kita bertemu di bus," ucap Alan.
"Di bus? emang kita pernah ketemu di bus?" tanya Rea.
"Saat pertama kali kamu jadi relawan dan di bus kamu membantu ibu hamil," ucap Alan dan membuat Rea terkejut lalu melepaskan pelukan tersebut.
"Jadi itu Mas Alan?" tanya Rea dan diangguki Alan.
"Mungkin karena aku ngantuk atau apa ya kok aku bisa sampe lupa ya," ucap Rea.
"Mungkin sih, kamu saat itu pasti capek banget. Asal kamu tahu saat aku lihat di bus anggota relawan kamu gak ada aku sempat khawatir dan setelah aku tahu kalau kamu ketinggalan aku langsung nyusul kamu ke halte terdekat biar aku bisa satu bus sama kamu dan untungnya aku bisa satu bus sama kamu," ucap Alan.
"Jadi, Mas Alan sengaja jemput aku?" tanya Rea.
"Iya sayang," jawab Alan.
"AAAAA Mas Alan bikin anaknya Bunda Nara baper deh!" ucap Rea dan memeluk Alan dengan erat.
"Astaga sayang jangan kenceng-kenceng meluknya takut baby-nya kegencet," ucap Alan dan Rea pun melepaskan pelukan tersebut.
"Jadi gimana?" tanya Alan.
"Gimana apanya?" tanya Rea.
"Aku itu udah suka sama kamu, kalau kamu gimana? masih butuh waktu kah?" tanya Alan.
"Memang bener ya kata anggota kamu kalau kamu itu gak romantis sama sekali padahal aku tadi udah baper loh," ucap Rea dan Alan sendiri hanya menatap Rea dengan tatapan bingung.
"Huh, kalau aku gak suka sama kamu gak mungkin perut aku kayak gini tahu," ucap Rea.
"Sejak kapan?" tanya Alan.
"Ehm, sejak malam pertama kita kayaknya deh karena aku udah siap ngasih semua milik aku ke kamu itu artinya aku udah suka sama kamu. I love you," ucap Rea dan membisikkan kata terakhirnya.
Alan pun memeluk Rea tentunya tidak Erta karena ia masih memikirkan anaknya, "Oh iya, katanya seminggu lagi bakal ada upacara perayaan ulang tahun tentara ya," ucap Rea.
"Iya, kamu mau datang atau gimana?" tanya Rea.
"Mau banget, aku gak pernah loh lihat secara langsung upacara kayak gitu, bolehkan?" tanya Rea.
"Tentu boleh dong sayang, aku gak bakal larang kamu kalau kamu mau ikut, biasanya Papa, Mama sama Dea juga ikut, tapi gak tahu kalau upacara kali ini mereka ikut atau gak, aku juga belum tanyain ke mereka," ucap Alan.
"Kamu tahu gak aku tuh suka banget kalau kamu pake seragam lengkap, kelihatan gagah gitu," ucap Rea.
"Apa perlu aku pake seragam itu kalau di rumah?" tanya Alan.
"Ish, ya gak perlu lah, malah aneh kalau kamu pakenya di rumah," ucap Rea.
__ADS_1
"Alan," panggil seorang pria dari luar rumah.
"Siapa?" tanya Alan.
"Ini gue Alvin, bisa lo buka sebentar gak," ucap Alvin.
"Bentar ya sayang," ucap Alan dan diangguki Rea.
Alan pun membuka pintu dan menghampiri Alvin, "Apa?" tanya Alan.
"Gue bisa minta bantuan lo gak?" tanya Alvin.
"Ck, dateng-dateng langsung minta bantuan, bantuan apa emangnya?" tanya Alan.
"Suruh masuk dulu kek," ucap Alvin.
"Yaudah, masuk gih," ucap Alan.
"Eh, sersan Alvin," sapa Rea.
"hai dokter Rea," sapa Alvin.
"Apa yang bisa gue bantu?" tanya Alan.
"Sivia besok pulang dari luar negeri nih," ucap Alvin.
"Terus?" tanya Alan.
"Ck, gue gak bisa jemput dia," ucap Alvin.
"Yaudah, lo suruh dia naik taksi aja, kan banyak taksi di bandara," ucap Alan.
"Gak ah, gue takut dia diapa-apain," ucap Alvin.
"Oke, terus mau lo apa?" tanya Alan.
"Lo bisa jemput Sivia gak besok?" tanya Alvin.
"Gak bisa gue besok juga sibuk, mendingan suruh dia minta jemput sama supirnya deh bukannya dia kaya," ucap Alan.
"Masalahnya dia juga pengen ngasih kejutan ke orangtuanya dan minta gue buat jemput, tapi karena gue ada urusan jadi gue gak bisa. Lo lupa lo yang udah ngasih gue kerjaan banyak," ucap Alvin.
"Ya itu udah tugas lo, gue besok juga sibuk jadi gak bisa jemput Sivia," ucap Alan.
"Terus Sivia gimana?" tanya Alvin.
"Ya, mana gue tahu," ucap Alan.
"Sivia siapa?" tanya Rea, yang dari tadi tidak paham apa yang kedua laki-laki itu bicarakan.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1