
Rea benar-benar sibuk karena tiba-tiba Qilla izin dan akhirnya ia harus bekerja ekstra apalagi saya ia harus menggantikan Qilla melakukan operasi padahal setelah jadwal malam kemarin Rea ingin cepat kembali ke rumah, tapi sayang baru saja Rea keluar dari ruangan untuk pulang karena jam menunjukkan pukul 7 pagi dan tiba-tiba ia di suruh menggantikan Qilla dan mau tidak mau Rea pun harus melakukannya dan untung saja ia sudah mengabari akan dan Alan pun mengizinkannya.
"Dokter Rea mau istirahat dulu, dari tadi dokter Rea belum istirahat sama sekali," ucap Laras, salah satu perawat di rumah sakit.
"Iya, sebentar lagi. Oh iya sekarang jam berapa?" tanya Rea.
"Sekarang sudah jam 11 dok," ucap Laras.
"Berarti lama juga, aku harus segera pulang kasihan mas Alan," ucap Rea.
"Tapi, dok sebentar lagi ada pemeriksaan pasien dokter Qilla," ucap Laras.
"Kemana sih tuh anak main ngilang aja gak bertanggungjawab sama tugasnya?" tanya Rea, yang benar-benar kesal dengan Qilla.
"Saya juga kurang tahu dok," ucap Laras, ia cukup terkejut dan takut melihat amarah Rea.
"Cepat hubungi dokter Qilla," ucap Rea dan diangguki Laras.
Laras pun menghubungi Qilla dan tetap saja tidak di jawab oleh Qilla, "Sebentar cina saya hubungi dia," ucap Rea dan menelpon Qilla.
Ponsel Qilla hanya berdering, tapi tidak di jawab bahkan beberapa saat kemudian Qilla menolak panggilannya, "Gila nih anak malah di matiin," ucap Rea.
"Kalau gitu ini pasien terakhir lain kali kalau dokter Qilla gak ada gak usah panggil dokter lain ganti jadwal aja kecuali kalau emang pasien itu penting," ucap Rea dan diangguki Laras.
Rea pun akhirnya menggantikan tugas Qilla, Rea menatap jam dan saat ini sudah jam 1 padahal tadi ia mengatakan akan memeriksa satu pasien saja, tapi dengan seenaknya Qilla membuat janji dengan tiga pasien, Rea sudah menolak untuk memeriksa dua pasien lainnya, tapi mereka tidak terima dan menahan Rea, akhirnya Rea pun memeriksa mereka dan setelah itu Rea langsung pulang. Rea takut Alan sudah pulang karena Alan mengatakan jika hari ini ia akan pulang lebih cepat dan Rea takutnya Alan pulang terlebih dahulu daripada dia.
"Aduh haus banget lagi, kok tiba-tiba pengen minuman jeruk ya, hem ke minimarket deket rumah aja deh sekalian beli beberapa cemilan dan bahan lainnya kayaknya udah ada yang mau habis deh," gumam Rea.
Rea pun mengendarai mobilnya dan menuju minimarket yang ada di dekat perumahan tersebut, setelah itu Rea segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam minimarket. Rea memilih apa yang dia butuhkan dan setelah itu membayarnya, saat Rea berjalan menuju mobilnya tiba-tiba ia melihat cafe yang sepertinya cukup ramai, "Kayaknya Vanilla Latte enak nih," gumam Rea.
__ADS_1
Rea pun melangkahkan kakinya menuju cafe tersebut dan masuk ke dalam lalu memesan apa yang ia inginkan yaitu Vanilla Latte, Rea tengah menunggu minumannya pun menatap ke sekeliling cafe hingga bertanya menatap sepasang manusia yang tengah mengobrol, entah apa yang mereka bicarakan. Rea terus menatap keduanya dan segera mengalihkan pandangannya saat kedua manusia tersebut berdiri dan sepertinya akan ke kasir.
Rea pura-pura sibuk hingga minumannya pun jadi dan Rea segera membayarnya, Rea ingin cepat-cepat pergi dari tempat tersebut. Namun, naasnya saat Rea membalikkan tubuhnya ternyata kedua manusia tersebut juga sudah berada di sana tepat di belakang Rea. Rea menatap kedua manusia tersebut yang tampak seperti pasangan kekasih, Rea menatap kedua secara bergantian hingga suara salah satu dari mereka membuat Rea sadar.
"Maaf, apa mbak nya sudah selesai?" tanya perempuan yang ada di samping pria yang ada di hadapan Rea.
Rea pun melihat perempuan cantik yang berada di samping pria itu, "Iya, saya sudah selesai maaf menganggu," ucap Rea, lalu pergi meninggalkan kedua manusia itu.
"Aneh ya," ucap perempuan tersebut yang masih dapat Rea dengar, Rea segera keluar dari cafe dan menuju mobilnya lalu mengendarainya dan pulang.
Seketika Rea merasa menyesal karena telah masuk ke dalam cafe, seandainya saja Rea segera pulang setelah dari minimarket ia yakin pasti ia tidak akan merasakan sakit.
.
Disisi lain setelah cek kesehatan Alan ingin segera pulang karena ia takut Rea sudah berada di rumah, tapi justru dokter Sandra yang tadi melakukan cek kesehatan mengajaknya mengobrol di cafe dekat perumahan.
"Ayo kapten Alan, udah lama loh kita gak saling ngobrol," ajak Sandra.
"Kenapa harus manggil dok sih, bukannya dulu kapten Alan kalau manggil itu Sandra aja?" tanya Sandra.
"Itu dulu, kalau sekarang saya ingin memanggil dengan cara yang lebih sopan yaitu dokter Sandra," ucap Alan.
"Kalau begitu, untuk kali ini saja kapten Alan mau ya mengobrol dengan saya," ucap Sandra.
"Maaf saya tidak bisa," ucap Alan dan segera pergi meninggalkan Sandra.
"Kalau kapten Alan tidak mau maka saya akan bilang ke semua orang jika kapten Alan berniat ingin melecehkan saya," ucap Sandra.
"Silahkan dan saya akan menggugat anda atas pencemaran nama baik," ucap Alan dan kembali melangkah meninggalkan Alan.
__ADS_1
Sandar sendiri sudah takut dengan ucapan Alan, ia tahu jika Alan tidak akan main-main dengan ucapannya itu, "Kapten Alan tolonglah sekali saja, saya akan di pindahkan ke luar negeri dan saya ingin berbicara dengan kapten Alan untuk terakhir kalinya," ucap Sandra.
Memang berita mengenai Sandra yang akan di pindahkan ke luar negeri sempat ia dengar dan akhirnya dengan terpaksa Alan pun mengiyakan permintaan Sandra, "Tapi hanya sebentar dan saya tidak ingin berlama-lama karena ada hal yang lebih penting daripada anda," ucap Alan.
"Iya, saya mengerti," ucap Sandra.
Mereka pun berbicara di cafe yang ada di dekat perumahan karena itu memang pilihan Sandra sendiri. Mereka mengobrol tidak sampai 5 menit Alan sudah bosan dan berniat untuk kembali karena ia rasa apa yang dibicarakan Sandra tidak penting dan hanya mengulang masa lalu yang sudah ia lupakan bahkan sudah tidak ada jejaknya bagi Alan, Alan pun memilih untuk membayar minuman yang ia pesan.
"Saya bayar sendiri dan anda bayar minuman anda sendiri," ucap Alan.
"Kenapa tidak jadi satu aja kapten Alan? nanti malah cafe ngehabisin struk lagi kalau bayar sendiri-sendiri," tanya Sandra.
"Cafe tidak akan bangkrut jika struk berkurang satu," ucap Alan.
"Tapi, enak jadi satu kapten," ucap Sandra.
"Anda tidak akan miskin hanya dengan membayar secara terpisah," ucap Alan dan pergi meninggalkan Sandra yang duduk di kursi tersebut.
Alan pun melangkah menuju kasir dan menunggu di belakang perempuan yang tidak asing baginya, tapi Alan rasa ia salah jadi ia hanya diam dan menunggu hingga beberapa saat kemudian setelah perempuan yang ada di depannya membayar minumannya dan membalikkan tubuhnya betapa terkejutnya Alan saya melihat perempuan tersebut yakni istrinya sendiri. Tiba-tiba Alan tidak bisa berkata terutama saat Rea menatap dirinya dan Sandra yang tepat berada di sampingnya bahkan hingga Rea pergi meninggalkannya Alan barulah sadar saat Sandra menggoyangkan lengannya.
"Kapten Alan gapapa?" tanya Sandra.
Alan tidak menjawab pertanyaan Sandra dan segera membayar minumannya sendiri, lalu pergi meninggalkan sandar sendirian di cafe. Pikiran Alan kacau, ia takut Rea salah paham mengenai hubungannya dengan Sandra.
"Ish, kenapa ditinggal sih, kayaknya gue emang udah gak ada kesempatan lagi deh. Gue nyesel banget udah nolak saat ayah jodohin gue sama kapten Alan," gumam Sandra.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.