Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
PERTUNANGAN!


__ADS_3

Malam harinya Alan dan Rea sudah bersiap untuk pergi ke restoran yang Andriani katakan, "Kamu gak kedinginan pake baju kayak gini, mendingan kamu ganti baju aja deh," ucap Alan, yang khawatir Rea kedinginan karena memakai baju dengan lengan pendek.


"Ish, gapapa kok. Udah ayo kita berangkat," ucap Rea.


Alan yang awalnya menggunakan jas pun langsung melepaskan jasnya dan memakaikannya ke Rea, "Ih, aku gak mau pake jas, gak cocok sama pakaianku," ucap Rea.


"Yaudah, kalau gak mau pake jas, kamu ganti pakaian kamu sama yang lebih ketutup biar gak kedinginan," ucap Alan.


"Gak mau, aku itu lagi pengen pake baju ini lagian aku gak kedinginan kok," ucap Rea dan melepaskan jas tersebut lalu memberikannya pada Alan.


"Tapi, tetep aja sayang kamu itu lagi hamil gak baik buat ibu hamil pake baju yang terbuka," ucap Alan dan kembali memakaikan jasnya pada Rea.


"Ish, kamu tuh kenapa sih akhir-akhir ini sering banget buat aku baper," ucap Rea, dengan malu-malu karena saat ini ia benar-benar salah tingkah dengan perlakuan Alan bahkan karena tidak ingin alan tahu, Rea pun meninggalkan Alan dan masuk ke dalam mobil.


"Kan emang bener gak bagus buat ibu hamil, tapi kok malah baper," ucap Alan.


Alan sebenarnya sedikitpun bingung karena akhir-akhir ini Rea sering kali merasa salah tingkah padahal itu bukan niat Alan membuat Rea salah tingkah.


Alan dan Rea saat ini sudah dalam perjalanan menuju restoran dan sedari tadi juga Rea terus mengeluh jika perutnya merasa tidak enak yang tentunya membuat Alan khawatir, "Yaudah, kita pulang aja ya," ucap Alan.


"Terus makan malamnya gimana, gak enak tahu kalau kita gak datang apalagi aku udah bilang iya," ucap Rea.


"Gapapa, nanti aku yang bilang sama pasien kamu kalau kamu gak bisa karena perut kamu sakit, lagian pasti pasien kamu itu ngerti kok," ucap Alan.


"Gak usah, kita tetep ke restoran aja lagian kan ini cuma nyeri biasa bahkan hampir setiap malam kan aku ngerasain kayak gini," ucap Rea.


"Tapi, tetep aja gak tega aku," ucap Alan.


"Aku gapapa oke, jadi kita tetep ke restoran kasihan kan kalau pasienku nunggu lama," ucap Rea.


"Yaudah, tapi nanti kalau ada apa-apa kamu langsung bilang ya biar aku tahu," ucap Alan dan diangguki Rea.


Beberapa saat kemudian, Alan dan Rea pun sampai di restoran tempat mereka berdua akan makan malam dengan pasien Rea yaitu Andriani.


"Maaf, saya telat," ucap Rea.


"Tidak kok dok, silahkan duduk," ucap Andriani.


Alan dan Rea pun duduk di kursi yang sudah di sediakan untuk mereka berdua, "Ini suami dokter Rea ya?" tanya Andriani dan diangguki Rea.


"Kenalkan ini suami saya dan keluarga saya," ucap Andriani.

__ADS_1


"Saya banyak denger dari Andriani kalau dokter Rea dulu sempat merawat Andriani, tapi karena perilaku Andriani yang kasar sehingga dokter Rea merujuknya ke rumah sakit lain," ucap seorang wanita berumur dengan perhiasan yang cukup meriah di tangannya yang gak lain adalah ibu dari Andriani.


"Ah itu, iya Bu," ucap Rea.


"Saya mengajak dokter Rea untuk makan malam juga karena permintaan maaf saya yang sedalam-dalamnya, saya dulu tidak tahu jika sikap saya membuat dokter Rea tidak nyaman," ucap Andriani.


"Tidak apa-apa seharusnya saya juga yang minta maaf karena tidak sabar dalam menghadapi pasien," ucap Rea.


"Ngomong-ngomong udah berapa bulan kandungannya?" tanya ibu Andriani.


"Sudah 5 bulan Bu," ucap Rea.


"Sehat-sehat ya kamu sama bayinya," ucapnya dan diangguki Rea.


"Ini Bu Andriani benar-benar akan pergi ke Jerman?" tanya Rea.


"Iya, saya benar-benar ke Jerman dan saya juga kurang tahu kapan saya akan kembali ke negara ini," ucap Andriani.


"Dengan keluarga atau hanya dengan suami?" tanya Rea.


"Dengan seluruh keluarga dan suami saya tentunya, kita bakal menetap di sana," ucap Andriani.


Mereka pun makan malam dengan tenang dan sesekali mengobrol hingga beberapa saat kemudian mereka selesai menyantap makan malam tersebut, "Terima kasih atas undangan makan malamnya," ucap Rea.


"Kalau begitu kami izin pamit untuk pulang terlebih dahulu karena hari sudah malam dan tidak baik untuk kandungan istri saya," ucap Alan.


"Silahkan, saya dan keluarga juga akan pulang karena kita harus menyiapkan segala keperluan kita sebelum pindah," ucap Andriani.


Akhirnya Alan dan Rea pun pergi dari meja tersebut dan berniat keluar dari restoran, tapi saat Alan dan Rea baru saja sampai di taman yang ada di tengah-tengah restoran tiba-tiba Rea mendengar suara orang bertengkar dan Rea merasa ia kenal dengan pemilik suara itu.


"Kenapa?" tanya Alan, saya Rea tiba-tiba berhenti.


"Kamu denger ada orang yang berantem gak?" tanya Rea.


"Berantem, gak denger aku, mungkin kamu cuma salah denger kali, kan kalau hamil biasanya ada aja gangguannya," ucap Alan.


"Gak aku denger kok," ucap Rea dan berjalan mendekat ke arah suara yang membuatnya penasaran.


Saat berada di dekat suara itu Rea pun mendongak dan menatap salah satu meja yang di sana ternyata ada beberapa orang dan Rea tahu betul dua perempuan yang saat ini tengah berhadapan dan sepertinya mereka tengah beradu mulut, Rea pun mendekat ke arah mereka berdua.


"Qilla, tante," panggil Rea dan membuat semua orang yang ada di sana menatap Rea.

__ADS_1


"Rea," lirih Qilla.


"Kenapa kamu di sini?" tanya Mama Qilla.


"Ma," panggil Qilla, karena Mamanya memanggil Rea dengan suara yang keras bahkan terkesan membentak.


Rea benar-benar terkejut karena ini pertama kalinya ia melihat Mama Qilla marah bahkan Rea tidak melakukan apapun, tapi Mama Qilla begitu marah padanya.


"Maaf ya, istri saya hanya menyapa kalian karena istri saya kenal dengan kalian, tapi anda justru membentak istri saya, anda pikir itu sopan," ucap Alan, yang sedari tadi berada di belakang Rea.


"Jangan sok tahu kamu, udahlah kalian berdua pergi aja sana jangan ikut campur. Ini urusan saya dan keluarga saya," ucap Mama Qilla.


"Tante kenapa kok kayak gini?" tanya Rea, yang Rea tahu Mama Qilla sangat baik padanya.


"Saya bilang pergi!" bentak Mama Qilla dan membuat Rea kembali terkejut.


"Tante!" panggil seorang perempuan yakni Nina yang baru saja datang bersama dengan seorang pria yang Rea kenali yaitu dokter Nando.


"Nina," lirih Qilla.


"Kenapa tante bentak Nina?" tanya Nina.


"Itu bukan urusan kalian, lebih baik kalian pergi dari sini. Ini urusan saya dan keluarga saya," ucap Mama Qilla.


"Ayo jeng kita bicarakan lagi soal pertunangan Qilla dan anak saya Diky," ucap Bu Amrita.


"APA! PERTUNANGAN!" teriak Rea dan Nina.


"Gak ya, saya gak setuju Qilla sama cowok yang modelannya kayak adonan tepung gitu lembek," ucap Nina.


"Apa kamu bilang, kamu ngehina anak saya!" teriak Bu Amrita.


"Memang kenyataan udah saya gak setuju lagian nanti yang ada Qilla kdrt ke anak ibu, jadi gak usah lagian Nina itu udah punya calon suami seorang tentara dan yang jelas dia ganteng dari pada anak ibu, ayo La kita pergi hari ini lo tidur di rumah gue aja," ucap Nina dan menarik Qilla dari meja tempatnya makan.


Tak lupa Rea juga ikut menarik Qilla hingga ketiga perempuan tersebut pun keluar dari restoran tersebut dan meninggalkan Alan dan Nando yang saling memandang satu sama lain dan setelah itu mereka pun mengikuti ketiga perempuan tersebut.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2