Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
S2 - Kebenaran


__ADS_3

Hari ini Maudy sudah sehat dan memulai kembali hidupnya seperti semula. Ya, izin tiga harinya selesai dan keadaan Maudy pun semakin membaik.


Saat ini Maudy sudah bersiap untuk kembali mengajar, "Kamu mau berangkat Dy?" tanya Dena.


"Iya mbak, Maudy berangkat dulu ya," ucap Maudy.


"Oh iya, di depan ada cowok yang kemarin," ucap Dena.


"Hah! cowok yang kemarin," ucap Maudy.


"Iya, coba deh kamu lihat," ucap Dena.


"Makasih ya mbak," ucap Maudy dan diangguki Dena.


Maudy pun berjalan keluar rumah kos dan saat di luar ia lihat Nial yang duduk di kursi teras.


"Sersan Nial," panggil Maudy.


"Udah mau berangkat?" tanya Nial.


"Iya sersan," ucap Maudy.


"Huh, jangan panggil sersan," ucap Nial.


"Iya maaf sersan eh maksud saya kak," ucap Maudy.


"Yaudah ayo," ajak Nial.


"Ayo kemana?" tanya Maudy.


"Ayo aku anter," ucap Nial.


"Tidak usah kak, aku bisa berangkat sendiri," ucap Maudy.


"Gak ada penolakan, kamu ambil barang-barang kamu dan aku antar sekarang," ucap Nial.


Maudy pun akhirnya menurut dan mengambil tasnya lalu keluar rumah kos dan masuk ke dalam mobil Nial. Setelah Maudy masuk ke dalam mobil, Nial pun melajukan mobilnya menuju sekolah tempat Maudy mengajar.


"Udah makan?" tanya Nial, yang masih fokus pada jalanan.


"Udah kak," ucap Maudy dan Nial menganggukkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun sampai di sekolah tempat Maudy mengajar. Tapi, Nial berhenti cukup jauh dari sekolah karena Maudy yang memintanya agar tidak ada yang curiga dan Nial hanya menurut saja.


"Makasih ya kak," ucap Maudy.


"Iya sama-sama, oh iya ini ambil," ucap Nial dan mengambil sebuah kotak makanan lalu ia berikan pada Maudy.


"Gak usah kak, tadi saya udah makan kok," ucap Maudy.


"Ambil aja ini dari bunda," ucap Nial.


"Tapi, kak...," cap Maudy.


"Ambil aja kasihan bunda udah bikin ini," ucap Nial.


Akhirnya Maudy pun mengambil kotak makanan itu, "Makasih dan tolong bilang makasih juga ke tante Rea kak," ucap Maudy.


"Iya, jangan lupa minum obat," ucap Nial.


"Iya kak, kalau gitu Maudy pergi dulu ya kak," pamit Maudy.


"Iya, hati-hati," ucap Nial dan Maudy hanya tersenyum lalu keluar dari mobil.


Saat ia keluar dari mobil, mata Maudy tidak sengaja menatap seorang perempuan yang saat ini menatap tajam kearah Maudy serta ke mobil Nial.


Maudy yang menyadari hal itu pun langsung segera pergi dari mobil Nial dan hendak menghampiri perempuan tersebut. Tapi, perempuan tersebut justru pergi dan masuk ke dalam sekolah.


Perempuan tersebut adalah Daisy, ya Daisy yang tadi berangkat lebih pagi dan menyapa murid-murid nya di gerbang sekolah terkejut saya melihat mobil yang tak asing baginya yaitu mobil Nial bahkan ia dapat melihat Nial bersama seorang perempuan di dalam mobil meskipun tidak terlalu jelas.


Daisy tau jika yang di dalam adalah Nial karena tadi Nial juga pergi menggunakan mobil tersebut. Saat Daisy melihat Maudy keluar dari mobil tersebut ia cukup terkejut pasalnya Nial tidak pernah cerita apapun mengenai Maudy hingga ia tersadar dengan sikap Nial saya dirinya atau bunda Rea membahas mengenai Maudy.


'Apa mereka ada hubungan ya?' tanya Daisy dalam hati.


Daisy menatap Maudy dan mobil Nial secara bergantian hingga ia dan Maudy saling tatap, Daisy pun segera merubah ekspresi penasaran serta bertanya-tanya dan setelah itu ia memutuskan untuk pergi dari sana dan amsuk ke dalam.


'Gue bakal tanya langsung di rumah, enak aja deket sama cewek gak ngasih tau gue,' ucap Daisy dalam hati.


Tiba-tiba saja ia merasa kesal karena Nial tidak memberitahukannya pada Daisy padahal Daisy selalu memberitahu semuanya pada Nial bahan hal sekecil apapun selalu ia ceritakan pada Nial.


Siang harinya Maudy yang akan makan siang dengan guru lainnya pun menuju kantin dan duduk di salah satu kursi, lagi-lagi Maudy bertemu dengan Daisy.


Maudy berusaha tersenyum saya Daisy menatapnya, tapi Maudy dapat melihat arah mata Daisy yaitu tertuju pada kotak makanan yang diberikan Nial padanya.


'Apa Bu Daisy tau kalau ini dari kak Nial, pasti Bu Daisy marah,' ucap Maudy dalam hati.


Perasaannya semakin tidak tenang karena Daisy pergi dari kantin padahal makanannya belum habis, Maudy terus menyalahkan dirinya karena ia Daisy marah.


Maudy menutup kembali kotak makanan tersebut dan mengejar Daisy, ia tidak ingin menjadi penyebab masalah antara Daisy dan Nial.


"Bu Daisy," sanggup Maudy.


Daisy pun berhenti dan membalikkan tubuhnya menatap datar Maudy, "Bu Daisy salah paham," ucap Maudy.


"Salah paham apa?" tanya Daisy.


"Saya dan sersan Nial tidak memiliki hubungan apapun," ucap Maudy.


"Yakin?" tanya Daisy.


"Iya," ucap Maudy.


"Kalau tidak memiliki hubungan apapun kenapa sampe di kasih bekal segala?" tanya Daisy.


Maudy terdiam, ia tidak tau harus menjawab apa. 'Pasti Bu Daisy salah paham ini,' ucap Maudy dalam hati.

__ADS_1


"Ini dari tante Rea karena beberapa hari yang lalu saya di rawat di rumah sakit dan mungkin tante Rea kasihan dengan saya makanya tante Rea membuatkan ini," ucap Maudy.


"Oke, sekarang saya yang tanya sama Bu Maudy. Bu Maudy ada hubungan apa sama kak Nial?" tanya Daisy.


"Saya tidak ada hubungan apapun," ucap Maudy.


"Tapi, kenapa sampe dianterin?" tanya Daisy.


"Semuanya karena kasihan, baik itu sersan Nial, tante Rea, om alam sama kak Lea itu semua hanya kasihan sama saya," ucap Maudy.


"Bu Maudy udah kenal sama semua keluarganya kak Nial?" tanya Daisy.


"Iya, waktu saya di rawat mereka datang menjenguk," ucap Maudy.


"Wah! benar-benar ya mereka," ucap Daisy.


Tentu saja Daisy merasa kesal dan kecewa karena hanya dirinya yang tidak tau mengenai Maudy dan Nial.


"Gimana Bu Maudy kenapa dengan kak Nial?" tanya Daisy.


Maudy pun mulai menceritakan semuanya sama seperti yang pernah ia ceritakan pada bunda Rea dan ayah akan serta Lea.


"Oh, jadi gitu," ucap Daisy.


"Iya, jadi Bu Daisy tidak perlu salah paham," ucap Maudy.


"Siapa juga yang salah paham, gak ada yang salah paham kok," ucap Daisy.


"Syukurlah kalau Bu Daisy tidak salah paham antara saya dan serba Nial," ucap Maudy.


"Kalau gitu saya permisi Bu Maudy dan jangan lupa dimakan masakannya bunda Rea. Gak bakal nyesel deh kalau nyobain masakannya bunda Rea," ucap Daisy dan pergi meninggalkan Maudy.


'Bahkan Bu Daisy manggilnya bunda Rea," gumam Maudy.


Sore harinya Maudy bersiap untuk pulang, hari ini cukup melelahkan karena ada rapat yang cukup lama bahkan sampai sore.


"Bu Maudy," panggil Daisy.


"Bu Daisy ada apa?" tanya Maudy.


"Bu Maudy mau pulang ya," ucap Daisy.


"Iya Bu, ada apa memangnya?" tanya Maudy.


"Gapapa sih, ayo saya ikut keluar," ucap Daisy.


Mereka berdua pun keluar sekolah dan Daisy langsung liat mobil Nial yang terparkir rapi seperti tadi pagi, "Sepertinya Bu Maudy udah di jemput," ucap Daisy.


Maudy pun menatap arah mata Daisy dan niat sebuah mobil yang tadi pagi baru saja ia tumpangi.


"Mungkin sersan Nial ingin menjemput Bu Daisy," ucap Maudy.


"Kayaknya gak deh Bu Maudy, soalnya kalau kak Nial jemput saya itu selalu di depan sekolah, tapi ini justru jauh dari sekolah bahan mobil itu ada di tempat tadi saat pagi," ucap Daisy.


"Mungkin sersan Nial hanya iseng, lebih baik saya pulang menggunakan bus saja Bu," ucap Maudy dan bersiap untuk pergi.


"Ngapain masuk juga?" tanya Nial.


"Maaf sersan saya salah," ucap Maudy.


"Bukan kamu, tapi Daisy," ucap Nial.


"Biarin sih, ayo pulang kak. Aku capek pengen istirahat," ucap Daisy.


"Mana mobilmu?" tanya Nial.


"Tadi berangkatnya kan bareng ayah," ucap Daisy dan diangguki Nial.


"Oh iya, bunda nyuruh aku bawa kamu ke rumah," ucap Nial.


"Saya?" tanya Maudy.


"Iya," ucap Nial.


"Tapi, untuk apa saya ke rumahnya tante Rea?" tamat Maudy.


"Di rumah lagi kumpul-kumpul sahabat ayah sama bunda, jadi karena itu bunda nyuruh aku ajak kamu," ucap Nial.


"Tapi, nanti kalau saya justru mengacaukan acara kumpul keluarganya gimana?" tanya Maudy.


"Gak akan, ada aku kok di sana," ucap Nial.


Maudy melirik Daisy yang asik dengan ponselnya tanpa berbicara apapun, 'Apa Bu Daisy marah ya sama aku?' tanya Maudy dalam hati.


"Tidak usah deh sersan, lebih baik saya langsung pulang aja," ucap Maudy.


"Manggil kak lagi," ucap Nial.


"Eh, maaf maksud saya kak," ucap Maudy.


"Ikut aja kasihan nanti bunda sedih," ucap Daisy dan masih fokus pada ponselnya.


'Bu Daisy sabar banget ngelihat pasangannya perhatian ke perempuan lain,' ucap Maudy dalam hati.


Beberapa saat kemudian, mereka bertiga pun sampai di rumah ayah Alan. Maudy yang melihat rumah megah tersebut pun kagum karena ini adalah pertama kalinya bagi Maudy menginjakkan kakinya di rumah megah seperti ini.


"Ayo masuk," aja Nial.


"Iya kak," ucap Maudy.


"Kamu gak masuk?" tamat Nial.


"Sebentar kak, tadi kata kak Kyra. Kak Kyra pesan pizza jadi Daisy di sini nunggu pizza nya," ucap Daisy.


"Yaudah, kakak duluan," ucap Nial.

__ADS_1


"Okey kak," ucap Daisy.


"Ayo," ajak Nial.


Nial dan Maudy pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dan baru saja pintu terbuka suara bising dari ruang tamu terdengar.


"Eh Nial udah datang mana Maudy nya?" tanya bunda Rea.


"Ayo masuk," ajak Nial karena Maudy justru berdiri di depan pintu.


Maudy benar-benar ragu untuk masuk karena di dalam adalah keluarga Nial dan ia dapat pastikan semuanya pasti memiliki hidup yang lebih baik darinya, Maudy terus bertanya-tanya pada dirinya apakah dia pantas saat ini berada di sini sebab itu Maudy memilih diam di depan pintu.


"Saya pulang aja kak, gak usah kak Nial antar saya pulang sendiri aja," ucap Maudy dan berbalik.


Nial tentunya terkejut dan refleks berlari lalu menahan lengan Maudy, "Ngapain pulang? udah sampe sini juga," tanya Nial.


"Gapapa kak, saya pulang aja lagian kan ada Bu Daisy di sini gak enak kalau saya juga di sini," ucap Maudy.


"Loh ngapain kak nial sama Bu Maudy di luar bukannya masuk?" tanya Daisy yang menenteng pizza.


"Kita masih ada urusan, kamu masuk aja dulu," ucap Nial.


"Oke, Daisy masuk dulu ya dadah," ucap Daisy dan pergi.


"Oke, sekarang jelasin kenapa kamu mau pulang aja?" tanya Nial.


"Gapapa, tapi saya rasa lebih baik saya pulang," ucap Maudy.


"Kenapa harus pulang? kan tante yang meminta kamu datang ayo masuk," ucap bunda Rea dan menarik lembut tangan Maudy.


Maudy ingin sekali melepaskan tangan bunda Rea yang tengah menariknya, tapi merasakan sentuhan bunda Rea tiba-tiba saja Maudy merasakan lembutnya tangan ibunya saat sebelum mengalami musibah.


"Siapa dia?" tanya Qilla, saat melihat bunda re membawa Maudy masuk ke dalam rumah.


"Ini Maudy, yang waktu itu gue aku ceritain," ucap bunda Rea.


"Oh ini, cangik loh ya," ucap Nina.


"Loh kak Maudy!" panggil Elvan, dengan suara yang menggelegar.


"Elvan," ucap Maudy.


"Gianna keadaan kak Maudy?" tanya Elvan.


"Keadaan kakak baik kok," ucap Maudy.


"Kenapa kak Maudy ada di sini?" tanya Elvan.


"Karen tante Rea yang minta Maudy di sini," ucap Maudy.


"Bukan karena kak Nial ya," goda Elvan.


"Seratus persen untuk Elvan," ucap Lea.


"Gimana Daisy, setuju gak kalau Nial nikah?" tanya Ryan.


"Setuju aja sih uncle, tapi jangan ejekin Daisy karena belum nikah," ucap Maudy.


"Katanya pernikahan Ardi diundur," ucap Erika.


"Doanya Daisy kuat juga ya sampe pernikahannya Ardi di undur," ucap Ryan.


"Iya dong uncle, Daisy gitu loh," ucap Daisy.


Maudy menatap heran semua orang, bukannya memberikan semangat pada Daisy mereka justru mengatakan Nial dengan Maudy.


"Emang udah siap ditinggal Nial?" tanya Lea.


"Ya siap aja sih kak, yang penting nanti istri kak Nial harus sering sama aku. Enak aja udah ngerebut kembaranku," ucap Daisy.


Ucapan Daisy tentunya membuat Maudy terkejut bahkan ia yang saat ini membawa gelas pun terjatuh dan membasahi karpet mahal bunda Rea.


Tapi, untung saja minuman tersebut air mineral sehingga tidak berbau dan menimbulkan bekas.


Kebenaran apa ini yang tidak ia tau jika Daisy adalah kembaran Nial bahan selama Nial bertugas tida pernah ada yang menyinggung masalah kembaran Nial.


"Maaf tante, Maudy gak sengaja," ucap Maudy.


"Iya gapapa kok," ucap bunda Rea.


"Ehm, Bu Daisy jembatan sersan Nial?" tanya Maudy.


Semua orang yang ada di sana pun menatap Maudy, "Iya, kamu gak di kasih tau kak Nial?" tanya Daisy dan Maudy menggelengkan kepalanya.


"Wah, jangan-jangan Bu Maudy salah paham nih antara saya sama kak Nial," ucap Daisy.


Maudy pun tersenyum canggung dan menganggukkan kepalanya.


"Pasti Maudy ngiranya merek pacaran ya?" tanya Nina.


"Iya tante," ucap Maudy.


"Astaga, Bu Maudy. Saya gak pacaran sama kak Nial, saya ini kembarannya kak Nial," ucap Daisy.


"Ehm, maaf saya gak tau soal itu," ucap Maudy.


"Iya, gapapa kok. Makanya tadi Bu Maudy terus menjelaskan mengenai hubungannya Bu Maudy sama kak Nial karena Bu Maudy mikirnya saya pacarnya kak Nial," ucap Daisy dan lagi-lagi Maudy hanya tersenyum canggung.


"Saya tidak memiliki pasangan," bisik Nial.


Bisikan nial mampu membuat jantung Maudy berdetak lebih cepat dari biasanya, 'Jangan baper Maudy,' ucap Maudy dalam hati.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2