
"Lo gapapa?" tanya Nina, saat mereka sudah berada di luar restoran dan duduk di salah satu kursi panjang jangan ada di sana.
"Gue gapapa kok, thanks ya karena udah bawa gue pergi," ucap Qilla dan diangguki Nina.
"Gue kaget banget sama mama lo kok dia beda banget sama pas terakhir kali kita ketemu ya," ucap Nina.
"Mama gue emang kayak gitu, selama ini kalian berdua aja yang gak tahu," ucap Qilla.
"Tapi, gimana lo bisa dijodohin sama orang kayak gitu?" tanya Nina.
"Ya, biasalah tuh orang anak orang kaya," ucap Qilla.
"Terus papa lo mana? dia juga setuju soal perjodohan lo ini?" tanya Rea.
Qilla menatap Rea dan tersenyum, "Gue gak tahu dimana papa gue," ucap Qilla, yang membuat Rea dan Nina terkejut.
"Maksud lo?" tanya Nina.
"Gue bakal cerita, tapi gak di sini," ucap Qilla.
"Yaudah, lo hari ini nginep di rumah gue aja terus lo cerita semuanya," ucap Nina.
Akhirnya mereka bertiga berjalan bersama dan menuju mobil yang tadi Qilla kendarai, "Sayang, mau kemana?" tanya Alan dan menghentikan Rea dengan menahan lengan Rea.
"Mau nginep di rumahnya Nina biar bisa denger ceritanya Qilla," ucap Rea, dengan santainya.
"Aku gak izinin ya," ucap Alan.
"Ya, padahal aku udah penasaran banget loh sama ceritanya Qilla," ucap Rea.
"Gak boleh," ucap Alan.
"Kok gak boleh sih, aku kan pengen denger ceritanya Qilla," ucap Rea.
"Besok aja ya minta Qilla jelasin semuanya," ucap Alan.
"Gak seru dong, padahal enak ceritanya nanti di kamarnya Nina gitu," ucap Rea.
"Sayang, gak boleh ya," ucap Alan.
"Iya, Re. Besok gue cerita ke lo kok," ucap Qilla.
"Ish, tapi gak seru dong kalau besok ceritanya di kantor," ucap Rea.
"Btw, cerita gue ini bukan cerita seru loh ya ini itu cerita sedih," ucap Qilla.
__ADS_1
"Udah besok aja, Re," ucap Nina.
"Gak mau, pengennya hari ini," ucap Rea.
"Huh, yaudah kalau gitu gue ga cerita hari ini, tapi gue bakal ceritain semuanya besok ke lo sama Nina," ucap Qilla.
"Iya deh besok aja denger ceritanya," ucap Rea.
Alan dan Rea pun memutuskan untuk pulang dan selama perjalanan pulang Rea terus membicarakan Qilla, "Aku gak nyangka kalau selama ini ternyata Qilla punya masalah sama keluarganya padahal aku kira dia baik-baik aja. Jadi selama ini aku kurang perhatian ya sama Qilla sampe gak tahu kalau Qilla punya masalah yang serius," ucap Rea.
"Kamu gak salah, semua orang punya rahasia masing-masing dan mungkin Qilla sengaja gak cerita ini karena ini masalah keluarganya sama kayak kamu dulu yang gak mau ngasih tahu mengenai pernikahan kita, kamu tunggu ceritanya dia besok, kamu boleh mikirin soal Qilla, tapi juga harusnya mikirin kehamilan kamu," ucap Alan dan diangguki Rea.
Rea merasa tenang setelah di beri penjelasan oleh Alan, Rea akui selama hamil ia lebih suka gegabah dan tidak bisa berpikir jernih bahkan ia merasa sering memikirkan hal yang tidak penting serta parno-an.
"Makasih Mas suami," ucap Rea dan mengecup pipi Alan yang berhasil membuat Alan tersenyum cerah.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun sampai di rumah dan melihat Alvin dan Sivia yang akan pergi, "Kalian mau pergi sekarang," ucap Rea.
"Iya, aku sama Alvin mau pergi nih," ucap Sivia.
"Hati-hati ya," ucap Rea dan diangguki Sivia, setelah itu mereka pun pergi meninggalkan Alan dan Rea.
"Aku jadi kangen mama sama bunda deh," ucap Rea.
"Yaudah, besok kita mampir ke rumah mereka," ucap Alan.
.
Pagi harinya sesuai dengan janjian mereka bertiga kemarin, saat ini mereka sudah berada di rooftop rumah sakit, "Gimana ceritanya?" tanya Nina.
"Huh, jadi sebenarnya papa sama Mama gue udah cerai dan papa gue juga pergi ninggalin gue sama Jeffry sejak kelas 2 SMA dan gue gak tahu dimana papa gue karena udah lama juga terus mama gue nikah lagi sama berondong lah, tapi ya gitu belum sampe 1 tahun mereka berdua udah cerai dan sekarang mama gue single, terus yang kemarin kalian lihat itu mama gue lagi jodohin gue sama anak temennya hiks ... hiks ... hiks, gu-gue udah nolak, tapi mama gue tetep maksa gue buat nikah sama anaknya temennya dan gue juga gak mau datang kemarin, tapi mama gue ngancem bakal pukul Jeffry kalau gue gak mau datang," ucap Qilla, yang sudah tidak mampu lagi menahan tangisannya.
Rea dan Nina pun memeluk Qilla dan menyalurkan kekuatan untuk Qilla, "Terus Jeffry gimana?" tanya Rea.
"Jeffry milih buat tinggal di asrama karena kalau di rumah dia selalu di marah-marahin sama mama dan mungkin karena ini juga Jeffry jadi anak pembangkang, dia udah kayak anak nakal, " ucap Qilla.
"Maafin gue gak tahu soal masalah lo," ucap Nina.
"Gue yang harus minta maaf karena udah sembunyiin semuanya, gue emang sengaja sembunyiin semuanya karena bagi gue ini adalah aib keluarga gue dan gak seharusnya semua orang tahu, tapi gue rasa pemikiran gue salah karena setelah gue ceritain ke kalian soal masalah gue, gue jadi sedikit tenang," ucap Qilla.
"Apa saat lo nginep di rumah sakit terus nangis itu karena ada masalah sama mama lo?" tanya Rea.
"Darimana lo tahu kalau gue nginep di rumah sakit?" tanya Qilla.
"Gue tahu dari beberapa orang di rumah sakit sih yang bilang kalau lo nginep di rumah sakit dan nangis gitu," ucap Rea.
__ADS_1
"Iya, lebih tepatnya hari dimana gue ke rumah lo dan gue pulangnya sama Qilla, disitu pulangnya pas sampe rumah ternyata udah ada mama gue sama keluarga temennya mama itu dan mereka semacam bahas soal hubungan gue sama anak temannya mama itu padahal gue udah bilang kalau gue gak suka sama anaknya dan nolak, tapi ternyata mama gue gak patah semangat dan terus jodohin gue sama anak temennya itu," ucap Qilla.
"Berarti selama ini lo sering Izin gara-gara mama lo?" tanya Nina.
"Kalau gue izin itu karena Jeffry, mulai dari dia yang berantem terus sampai masuk rumah sakit. Mama gue gak mau ngurusin Jeffry karena itu gue yang harus ngurusin Jeffry, gue juga gak mau Jeffry ngerasa gak punya keluarga, biarlah mama gue bahagia dengan hidupnya yang penting gue sama Jeffry bisa bertahan berdua bahkan gue dan Jeffry sepakat kalau kita berdua itu anak yatim piatu karena gak punya sosok orangtua yang dijadikan panutan," ucap Qilla dan setelah itu mengalirlah cerita Qilla mulai dari berubahnya sikap mamanya yang semakin matre dan semuanya serba uang.
Setelah penjelasan panjang lebar dari Qilla tiba-tiba saja terdengar suara Isak tangis dari Rea, "Lo kok nangis," ucap Qilla.
"Sedih, gue gak nyangka kalau selama ini hidup lo berat, harusnya gue jadi temen ada saat lo butuh," ucap Rea.
"Hey, jangan nangis gue gapapa kok. Asal kalian tahu setelah ngelewatin semua ini gue itu jadi perempuan yang kuat gue jadi bisa bersyukur dengan apa yang gue punya," ucap Qilla.
"La, gue salut banget sama lo, gue kira lo itu cuma orang modal candaan doang ternyata hidup lo berat banget dan gue bener-bener bangga punya sahabat kayak lo," ucap Nina.
"Terus lo mau tinggal dimana setelah ini?" tanya Rea.
"Sama gue aja lagian kan nyokap sama bokap gue juga udah pindah ke rumah nenek gue," ucap Nina.
"Gue pengen tinggal sendiri sebenarnya," ucap Qilla.
"Jangan, bener kata Nina mendingan lo tinggal sama Nina aja, lo juga harus memenuhi kebutuhan Jeffry bukan dan belum lagi lo harus nabung buat anda depan lo sama Jeffry, setidaknya kalau sama Nina lo bisa hemat untuk biaya hidup," ucap Rea.
"Iya, lo bisa sama gue. Gue seneng banget kalau ada temennya," ucap Nina.
"Tapi, gue gak enak kalau di rumah lo," ucap Qilla.
"Gak enak apa sih, orang biasanya juga lo b aja," ucap Nina.
"Gimana kalau gue di rumah lo semacam ngekos gitu biar gue gak kayak numpang banget," ucap Qilla.
"Gak perlu kali, gue gak butuh uang lo, gue emang pengen ada temennya aja," ucap Nina.
"Kalau lo gak mau yaudah, gue cari apartemen deket sini aja," ucap Qilla.
"Eh, jangan dong, yaudah deh gue mau," ucap Nina. Mereka pun mulai membicarakan mengenai biaya yang harus Qilla bayar untuk tinggal di rumah Nina.
"Oke, nanti gue bakal transfer ke lo," ucap Qilla dan diangguki Nina.
Mereka pun kembali mengobrol dan tiba-tiba Qilla menatap tajam Nina, "Kenapa?" tanya Nina.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.