
"Gak ... lah, ASTAGA REA LUPA KALAU REA UDAH NIKAH!" teriak Rea.
Rea pun segera mengambil ponselnya yang ada di tasnya lalu berusaha untuk memesan taksi agar ia bisa pulang ke rumah Alan, tapi sebelum itu terjadi suara pintu terbuka pun mengalihkan Rea dan segera Rea membalikkan tubuhnya lalu ia dapat melihat seorang pria tampan yang tadi sempat ia lupakan.
Saat melihat Alan, Rea merasa bersalah dan segera memeluk Alan, "Maaf, aku lupa. Aku kira aku masih sendiri, hiks hiks," ucap Rea dan runtuh sudah pertahanan Rea, ia menangis dalam pelukan Alan bisa-bisanya ia melupakan statusnya saat ini.
"Udah gapapa sayang, jangan nangis lagi ya," ucap Alan.
"Astaga, bisa-bisanya kamu lupa, Re," ucap Bunda Nara.
"Namanya juga lupa Bun," ucap Rea.
"Mumpung kalian di sini lebih baik kalian nginep di sini aja gimana?" tanya kak Ray.
"Maunya sih gitu, kak. Tapi, gak bisa kan besok Alan mulai tugas," ucap Alan.
"Yaudah, ayo pulang sekarang kalau gitu," ajak Rea.
"Tapi, kalau emang Rea mau nginep di sini gapapa kok," ucap Alan.
"Gak kok, aku gak mau nginep. Ayo kita pulang pasti Mama nyariin," ucap Rea dan diangguki Alan.
Setelah itu Alan dan Rea pun pamit pada keluarga Bratadikara dan setelah itu Alan melajukan mobilnya menuju kediaman Dhananjaya, "Maaf ya aku tadi bener-bener lupa soalnya tadi lumayan sibuk dan gak kepikiran soal status mungkin juga karena kebiasaan," ucap Rea.
"Iya, gapapa kok sayang," ucap Alan.
"Tapi, kamu kok tahu kalau aku ada di rumahnya Bunda?" tanya Rea.
"Aku tadi sebenarnya nungguin kamu di luar rumah sakit, terus aku lihat kamu sama salah satu temen kamu dan kamu malah naik ke mobil temen kamu, aku telpon kamu tapi gak kamu angkat yaudah aku ngikutin kamu. eh, kamu malah ke rumah Bunda yaudah aku ikutin aja sampe masuk ke dalam rumah," ucap Alan.
Rea yang mendengarnya semakin merasa bersalah karena melupakan Alan, "Udah gak usah di pikirin lagian aku gak masalah kan kamu belum terbiasa untuk pulang ke rumah Mama," ucap Alan dan diangguki Rea.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun sampai di kediaman Dhananjaya. Saat masuk ke dalam rumah, Rea di sambut hangat oleh Mama Dira dan Dea, "Sayang, kamu kok baru pulang sih? emang malam banget ya kalau pulang? Mama khawatir tahu dari tadi, kamu gapapakan?" tanya Mama Dira.
Rea segera memeluk Mama Dira karena merasa bersalah pada Alan dan juga keluarga Dhananjaya belum lagi dengan pertanyaan Mama Dira yang benar-benar mengkhawatirkan dirinya lah sedangkan Rea justru lupa pada Alan dan juga keluarga Dhananjaya. Rea memang menantu yang kurang ajar bisa-bisanya melupakan hal yang sangat penting.
__ADS_1
"Maafin Rea, hiks hiks," ucap Rea dan lagi-lagi ia tidak bisa menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Loh, kok kamu nangis kenapa sayang? Alan jahatin kamu atau gimana?" tanya Mama Dira.
"Pasti ini kak Alan ya kak Rea yang udah sakitin kak Rea?" tanya Dea.
"Gak kok, bukan Mas Alan yang nyakitin Rea, tapi Rea yang nyakitin Mas Alan hiks hiks hiks," ucap Rea.
"Maksudnya gimana?" tanya Mama Dira.
"Ta-tadi Rea pulang ke rumah Bunda, padahal tadi pagi Mas Alan nyuruh Rea buat ngehubungin Mas Alan kalau Rea udah pulang, tapi dengan bodohnya Rea justru pulang ke rumah Bunda soalnya tadi Rea lupa kalau Rea udah nikah dan punya keluarga baru hiks hiks. Rea baru inget pas di rumah Ayah nanyain dimana Mas Alan," ucap Rea.
"Terus kak Alan ke rumah Bunda Nara?" tanya Dea.
"Iya, ternyata kak Alan udah di depan rumah sakit buat jemput aku terus karena aku pulang bareng temen aku akhirnya kak Alan ngikutin aku sampe rumah Bunda," ucap Rea.
"Udah gapapa sayang, kamu gak salah kok kan namanya juga lupa," ucap Mama Dira.
"Tapi, tetep aja Ma. Rea keterlaluan banget sampe lupa kalau Rea udah nikah," ucap Rea.
"Gapapa sayang, aku gak mempermasalahkan kan," ucap Alan.
"Mama Dira tahu darimana?" tanya Rea.
"Bunda Nara yang bilang ke Mama, kalau kamu pulang malem padahal kamu gak ada jadwal malam itu biasanya kamu sibuk dan ngelupain makan siang," ucap Mama Dira dan diangguki Rea.
Alan dan Rea pun masuk ke dalam kamar, Rea sendiri sudah berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya sedangkan Alan sedang mengurus berkas yang akan besok ia gunakan untuk menghadap komandan pusat. Setelah beberapa menit, akhirnya Rea keluar dari kamar mandi.
"Ayo turun ke bawah, kamu pasti laper kan," ucap Alan dan diangguki Rea.
Alan dan Rea pun menuju meja makan dan sesampainya di sana sudah ada Papa Aldi, Mama Dira dan Dea, "Papa denger tadi katanya Rea tadi pulang ke rumah Argi ya karena dia lupa kalau udah nikah, itu bener?" tanya Papa Aldi.
"I-iya, Pa," ucap Rea, yang sangat gugup karena ia takut Papa Aldi marah.
Namun, tidak sesuai dengan apa yang Rea banyangkan, bukannya marah Papa Aldi justru tertawa. "Kenapa Papa ketawa? ada yang salah ya?" tanya Rea.
__ADS_1
"Gak ada sayang, Papa cuma merasa lucu aja," ucap Papa Aldi.
"Udah ah jangan ketawa terus," ucap mama Dira.
"Iya iya, sekarang lebih baik kita makan ya," ucap Papa Aldi.
Selesai makan malam, mereka tidak pergi ke kamar terlebih dahulu karena ingin mengobrol di ruang tamu, lebih tepatnya hanya Papa Aldi, Mama Dira dan akan saja karena Dea dan Rea saat ini berada di kamar Dea setelah Dea tadi merengek pada Alan untuk membawa Rea ke kamar hanya berdua. Mau tidak mau Alan pun memperbolehkannya karena melihat wajah sedih adiknya.
"Kamu besok kan udah mulai tugas kamu di Pangkalan pusat," ucap Papa Aldi dan diangguki Alan.
"Kamu harus beradaptasi dengan tim baru lagi," lanjut Papa Aldi.
"Iya, Pa. Mau gimana lagi," ucap Alan.
"Terus untuk anggota tim kamu yang di daerah perbatasan gimana? mereka udah ada kapten baru?" tanya Papa Aldi.
"Sampai saat ini belum ada, Papa tahu kan gimana susahnya buat mimpin di daerah perbatasan," ucap Alan.
"Huh, bukannya ada tim 2 yang bisa dibilang cukup mumpuni," ucap Papa Aldi.
Ya, ada banyak tim tentara yang ada dan memang hanya ada dua tim yang dianggap cukup hebat di dunia militer yaitu tim 2 yang di pimpin oleh kapten Timothy dan juga Tim 9 yang di pimpin kapten Alan.
"Alan juga gak tahu soal itu, waktu itu Alan udah pernah mengajukan tim 2 untuk menggantikan Alan dan tim Alan, tapi pihak pusat justru menolaknya," ucap Alan.
"Kamu masih marah sama Timothy?" tanya Papa Aldi.
"Wajarlah Pa kalau Alan marah, rekan tim Alan harus meninggal karena kecerobohan yang dia perbuat dan dengan mudahnya dia justru diangkat menjadi kapten bukankah itu hal yang bisa buat marah," ucap Alan.
"Itu udah 4 tahun yang lalu, lupakan Lan. Mama takut Timothy melakukan hal-hal yang diluar batas," ucap Mama Dira.
"Iya, Ma. Alan paham kok, lagian Alan juga udah gak mau lagi berhadapan dengan dia," ucap Alan.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.