
"Re, lo mau pulang ya?" tanya Nina.
"Iya, kenapa emangnya?" tanya Rea.
"Gapapa sih, udah di jemput ya?" tanya Nina.
"Iya, cepetan kalau ada perlu bilang aja, ada apa?" tanya Rea.
"Hehehe, lo tahu aja sih. Jadi, gini gue besok kan ada seminar gitu, lo bisa bantuin gue handle pasien gak?" tanya Nina.
"Gak bisa," ucap Rea.
"Loh kenapa gak bisa?" tanya Nina.
"Kan besok gue libur sayangku, lagian lo kalau mau ikut seminar itu dilihat dulu ada pasien apa gak, kan kalau gini jadi ribet," ucap Rea.
"Ya, seminar besok temanya menarik jadinya gue pengen ikut deh," ucap Nina.
"Lo kayaknya patut dikasih gelar sebagaimana dokter yang kecanduan seminar deh," ucap Rea.
"Ngelawak aja lo Re," ucap Nina.
Baru saja Rea akan merespon tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka dan menampilkan sosok tampan yang sudah menjadi suaminya, "Kok lama sih, katanya mau jalan keluar. Ini malah masih di sini," ucap Alan dan menghampiri Rea lalu mengecup kening istrinya itu.
"Hehehe, tadi aku itu emang mau keluar kok, tapi nih sih Nina malah ngajak bicara jadi ketahan di sini deh sampe lupa kalau kamu udah datang, maaf ya," ucap Rea.
"Iya sayang gapapa kok, yaudah mau pulang sekarang atau ada yang dibicarakan lagi sama Nina?" tanya Alan.
"Udah kok, tadi gue cuma bicara itu aja, Re. Kalau lo mau pulang gapapa pulang aja gue cari yang lain aja," ucap Nina.
"Yaudah, gue pulang ya. Lo cari aja Qilla siapa tahu dia mau pokoknya lain kali dilihat dulu jadwal lo jangan langsung daftar aja paham," ucap Rea.
"Siap bumil," ucap Nina.
"Yaudah, ayo," ajak Rea.
Alan pun mengangguk dan menggenggam tangan Rea lupa ia juga memegang pundak Rea, entahlah di usia kehamilan Rea yang menginjak usia 21 Minggu ini, Alan khawatir karena Rea sering mengeluh sakit pada perutnya dan kakinya pun mulai bengkak bahkan Rea juga jadi malas bergerak kemana-mana katanya baru berjalan beberapa langkah saja ia sudah mulai engap. Alan sempat menyuruh Rea untuk cuti karena takut Rea dan baby-nya kenapa-napa, tapi Rea malah tertawa dan mengatakan jika ia akan mengambil cuti di usia kehamilannya memasuki 8 bulan, tentunya kan tidak terima karena ia terlalu takut terjadi apa-apa dengan mereka berdua, tapi ya sudahlah mau bagaimana lagi Alan pun harus menurutinya karena Mama Dira pun mengatakan tidak apa-apa jika Rea belum mengambilnya cutinya.
"Sayang, mau beli apa dulu?" tanya Alan.
"Apa ya? kayak ya gak ada deh," ucap Rea.
"Berarti ini kita langsung pulang aja ya," ucap Alan dan diangguki Rea.
Beberapa saat kemudian, Alan dan Rea pun sampai di rumah, Alan dengan pelan-pelan membantu istrinya itu. "Ish, aku itu masih bisa sendiri ya walaupun agak susah," ucap Rea. Rea merasa seperti orang lumpuh karena selalu dituntun kemana-mana padahal ia masih bisa berjalan walaupun pelan-pelan.
__ADS_1
"Aku itu khawatir sayang," ucap Alan.
"Gapapa Mas, astaga aku kayak udah tua aja jalan sampe di tuntun," ucap Rea.
"Udah kamu nurut aja ya," ucap Alan.
Rea memutuskan untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu dan Alan memilih untuk bermain ps sambil menunggu Rea mandi. Satu lagi perubahan yang Alan rasakan dari Rea yaitu saat hamil Rea mandi dengan lama bukan mandi sih, tapi di dalam kamar mandi bahkan pernah Rea di dalam kamar mandi sampai setengah jam dan saat Alan tanya katanya Rea pengen lama-lama aja di kamar mandi dan berbicara dengan dirinya sendiri, aneh bukan. Alan juga berpikir itu aneh, tapi ya sudah mungkin bawaan bayi padahal dulu sebelum hamil, Rea termasuk perempuan yang mandi tidak lama. Alan pernah mengetuk pintu kamar mandi dan meminta Rea untuk cepat, tapi yang ada Rea justru ngambek dan setelah itu Alan sudah tidak berani menganggu Rea.
Rea selesai mandi dan menghampiri Alan yang tengah tiduran di sofa, lihatlah Alan sampai lelah menunggu Rea yang berada di dalam kamar mandi bahkan ps yang sedari tadi ia mainkan pun sudah selesai dan barang-barang yang tadi berserakan sudah rapi dan bersih tentunya.
"Aku udah selesai kamu mandi sana," ucap Rea.
"Iya sayang," jawab Alan, lalu melenggang pergi menuju kamar mandi.
"Kok pengen es krim ya, ehm lihat di kulkas ada es krim gak ya. Tapi, kalau Mas Alan marah gimana kan gue gak boleh makan es krim soalnya kemarin udah, nanti aja deh pas malam-malam pas Mas Alan udah tidur, dia pasti gak akan tahu kan," gumam Rea.
Beberapa saat kemudian, Alan pun keluar dari kamar mandi dengan keadaan lebih segar, "Mau makan sekarang?" tanya Alan.
"Gak deh, sekarang masih sore, nanti aja jam 7 an," ucap Rea.
"Tumben biasanya langsung makan gak lihat jam," ucap Alan.
"Ish, ya gapapa dong terserah aku," ucap Rea.
"Gemes banget sih kalau ngambek kayak gini," ucap Alan dan mencubit pipi Rea yang lebih berisi.
"Iya sayang maaf ya, kaki kamu sakit ya?" tanya Alan.
"Ya gitu deh, tapi aku udah tanya dokter Karin katanya wajar kalau kehamilannya mulai besar," ucap Rea.
"Kalau perut kamu gimana masih suka nyeri?" tanya Alan.
"Masih, baby-nya aktif banget di dalam," ucap Rea.
"Artinya baby-nya bahagia sekarang," ucap Alan.
"Masa?" tanya Rea.
"Iya kok," ucap Alan.
"Ada perubahan lain gak yang kamu rasain?" tanya Alan.
"Payudara aku rasanya kayak penuh gitu Mas terus kadang-kadang suka nyeri juga sih," ucap Rea.
"Terus gimana? apa kita ke dokter aja?' tanya Alan.
__ADS_1
"Gak usah Mas, aku pernah lihat di internet kalau itu hal wajar katanya di trimester kedua kehamilan, payudara semakin bertambah besar dan berat gitu," ucap Rea dan diangguki Alan.
"Tapi, nanti kita periksa ke dokter lagi ya," ucap Alan dan diangguki Rea.
"Mas, besok kita beli bra yuk," ajak Rea.
"Hah, bu-buat apa? bra kamu kan masih banyak bahkan yang baru juga belum kamu pake?" tanya Alan, satu lagi perubahan Rea yaitu mulai terbuka dengannya dan sudah tidak malu-malu untuk mengucapkan apapun meskipun itu mengenai sesuatu yang bersifat privasi.
Alan tentunya senang dengan perubahan itu, tapi Alan sendiri kadang malu karena Rea terlalu santai mengucapkan hal-hal yang masih baru untuk Alan.
"Ya kan payudara aku udah mulai besar gitu nah pasti bra aku biasanya gak muat, nih lihat udah tambah besar jadi harus beli yang baru. Biar payudara aku nyaman gitu, terus nanti aku juga mau beli bra untuk keseharian sama buat tidur, soalnya kalau di internet itu usahakan bra nya beda biar nyaman gitu kan bahannya juga beda makanya aku mau beli," ucap Rea.
"Yaudah, besok kita beli yang kamu mau, tapi besok setelah aku latihan ya. Gak lama kok mungkin jam 11 aku latihannya udah selesai terus jam 4 sore aku balik lagi," ucap Alan.
"Ay ay capten," ucap Rea dan hormat pada Alan.
"Kebalik sayang, kalau di rumah aku yang hormat sama kamu," ucap Alan.
"Loh kok gitu, kan kamu pemimpin di dalam rumah tangga," ucap Rea.
"Iya, tapi aku mau hormat sama kamu yang udah hamil dengan susah payah bahkan kamu ngerasain sakit yang aku sendiri gak bisa bayangin. Kamu patut mendapatkan kehormatan bukan hanya kamu, tapi semua ibu patut mendapatkan kehormatan," ucap Alan.
"Ish, kok gemes sih aku sama suami aku. Mas kita ibadah yuk," ajak Rea.
"Mau sholat ashar?" tanya Alan.
"Bukan," ucap Rea.
"Sholat Maghrib, tapi kan belum waktunya?" tanya Alan.
"Bukan, ibadah suami istri di atas ranjang," ucap Rea dan duduk di pangkuan Alan.
"Emang boleh kamu kan lagi hamil?" tanya Alan.
"Boleh kok, asal pelan-pelan ya," ucap Rea.
"Yaudah gas lah," ucap Alan dan menggendong Rea ala bridal style.
Dan setelah itu hanya mereka berdua dan tuhan lah yang tahu kelanjutannya.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.