
Akhirnya pekerjaan Lea sudah selesai dan dia pun berniat untuk pulang, "Lo tadi kemana aja?" tanya Tyas.
"Gue tadi ke rooftop," ucap Lea.
"Lah, kenapa lo ke rooftop?" tanya Tyas.
"Biasa ada pengganggu," ucap Lea.
"Mark," tebak Tyas.
"Hem, siapa lagi coba pengganggunya kalau bukan dia," ucap Lea.
"Kenapa sih kok Mark gak nyerah aja padahal nih ya dia ganteng pasti banyaklah yang suka sama dia?" tanya Tyas.
"Mana gue tau, gue sampe bosen nolak dia terus kadang gue juga ngerasa bersalah karena terlalu kasar sama dia, tapi ya gimana lagi dia orangnya nyebelin banget mana keras kepala lagi," ucap Lea.
"Hari ini lo pulang dijemput atau bareng gue?" tanya Tyas.
"Tadi katanya kak Noah jemput sih," ucap Lea.
"Ekhem, enak banget ya yang dijemput sama pacar halalnya," goda Tyas.
"Ya, enak dong, jomblo mah gak tau rasanya makanya nikah biar tau gimana rasanya," ucap Lea.
"Ck, emang gimana rasanya?" tanya Tyas.
"Rasanya ah mantap," ucap Lea dan tertawa melihat raut wajah Tyas.
"Udah ah ayo pulang," ucap Tyas dan berjalan terlebih dahulu.
"Ish, gitu aja ngambek," ucap Lea.
Mereka berdua pun keluar dari kantor dan Lea memutuskan untuk duduk di kursi yang ada di luar kantornya sendirian karena Tyas sudah ia suruh pergi tadi, sebenarnya Tyas ingin menemani Lea, tapi Lea menolak karena takutnya Tyas menunggu lama lagipula Tyas juga ada acara dengan mamanya.
"Mana sih kak Noah kok gak datang-datang, katanya tadi udah deket," gumam Lea.
Saat Lea menunggu Noah tiba-tiba seseorang duduk di sebelahnya dan Lea pun menatap orang tersebut, "Hai Lea," sapa orang tersebut.
"Lo lagi lo lagi, bosen banget gue ketemu terus sama lo," ucap Lea.
"Kangen kan kalau gak ketemu sama aku," ucap Mark, ya orang tersebut adalah Mark.
"Gak lah, gue malah sujud syukur kalau gak ada lo," ucap Lea.
__ADS_1
"Jangan gitu, nanti kangen loh," ucap Mark.
Lea hanya memutar bola matanya malas dan lebih memilih melihat jalanan hingga beberapa saat kemudian terdapat sebuah mobil yang sangat ia kenali berhenti tepat di depan Lea dan Mark.
"Siapa sih yang parkir sembarangan gini," ucap Mark, dengan kesal.
Lea pun berdiri ketika sang pengemudi turun dari mobil dan menghampiri Lea, "Sayang," panggil Lea dan mengecup bibir Noah.
Hal itu membuat Noah terkejut, tapi ia berhasil menyembunyikan keterkejutannya dan tersenyum lalu membalas kecupan Lea dengan mengecup bibir serta pelipis Lea.
"Gimana hari ini?" tanya Noah.
"Gak gimana-gimana," ucap Lea.
"Yaudah, udah selesai kan?" tanya Noah.
"Udah kok," ucap Lea.
"Yaudah, ayo pulang," ajak Noah dan diangguki Lea dan ia pun segera memeluk lengan kekar Noah.
"Lea, dia siapa?" tanya Mark, saat Lea dan Noah akan pergi dari sana.
"Siapa ya?" tanya Noah.
"Oh, cinta bertepuk sebelah tangan," ucap Noah.
"Yup, betul. Ayo kita pergi aja," ucap Lea.
"Gak bisa gitu, kamu belum jawab pertanyaan aku, siapa dia?" tanya Mark lagi.
"Ish, gue udah pernah bilang kan kalau gue udah punya suami dan dia ini adalah suami gue," ucap Lea.
"Gak percaya aku, kamu pasti sewa orang kan buat jadi suami kamu biar aku gak lagi deketin kamu," ucap Mark.
"Gak lah, gue gak serendah itu ya sampe nyewa orang," ucap Lea.
"Kenapa anda tidak percaya kalau saya suaminya?" tanya Noah.
"Karena gue yakin, Lea itu jodoh gue dan dia itu sayang sama gue, kayak gue sayang sama dia," ucap Mark.
"Itu menurut anda bukan, tapi buktinya Lea sudah jadi istri saya," ucap Noah.
"Bilang kalau semuanya bohong Lea," ucap Mark.
__ADS_1
"Tapi, sayang semuanya gak bohong, semuanya nyata. Emang dia ini suami gue namanya Noah," ucap Lea.
"Gue kalah," gumam Mark.
"Saya tau anda pasti sakit hati, tapi saya yakin anda akan mendapatkan yang lebih baik. Jangan terpaku pada istri saya terus menerus itu tidak baik untuk anda dan calon pasangan anda nantinya, cobalah menerima semuanya dan cari kebahagiaan yang belum Anda dapatkan saat ini. Tentunya dengan tidak menyakiti orang lain," ucap Noah.
"Gue bakal ngerelain Lea buat lo, tapi kalau sampai gue denger Lea gak bahagia sama lo bahkan dia sampe nangis maka gue adalah orang pertama yang akan gue salahin. Gue bakal kasih pelajaran buat lo," ucap Mark.
"Saya tidak akan pernah membuat le menangis kecuali menangis bahagia," ucap Noah.
"Gue pegang omongan lo," ucap Mark.
Mark pun menghampiri Lea, tapi Lea justru bersembunyi di belakang Noah. "Maafin aku karena udah buat kamu gak nyaman atas keras kepalaku. Aku salah, tapi aku ngelakuin semuanya karena aku sayang sama kamu, aku pengen jadi orang yang bisa kamu andalkan dan selalu ada buat kamu. Tapi, setelah aku tau kamu udah punya seseorang yang bisa melindungi kamu bahkan kamu menyukai orang tersebut maka aku gak gak bisa berbuat apa-apa, aku masih mau berjuang jika kamu belum menikah, tapi setelah kamu menikah aku gak mau merusak hubungan kamu. Hiks hiks semoga kamu bahagia dengan suami kamu, kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan cari aku," ucap Mark.
"Maaf," ucap Lea.
Lea merasa bersalah dengan semua yang ia lakukan saat ia melihat Mark menangis dan ia teringat akan kata-kata kasar yang sering ia lontarkan pada Mark.
"Gapapa kok, bahagia terus ya, kalau begitu aku pergi," pamit Mark.
Namun, sebelum Mark pergi ia menatap Noah dan menepuk pelan bahu Noah, "Jaga dia ya, dia orang yang gue sayang," ucap Mark.
"Pasti," ucap Noah, dengan tegas dan yakin.
Setelah kepergian Mark, Lea pun menatap Noah yang menampilkan raut wajah yang susah untuk di tebak, "Kak Noah gak marah?" tanya Lea.
"Marah buat apa?" tanya Noah.
"Karena Mark suka sama Lea," ucap Lea.
"Gak sayang, justru saya senang itu artinya saya berhasil mengalahkan Mark untuk mendapatkan hati tuan putri Lea," ucap Noah dan mengecup pipi Lea.
Seketika pipi ke Apun merah akibat perkataan serta kecupan yang diberikan oleh sang suami itu, "Kenapa cium-cium segala sih, kan malu mana di depan umum lagi?" tanya Lea
"Habisnya kamu bikin saya gemes sih," ucap Noah.
"Udah ah, yuk pulang. Pasti bunda nyariin deh," ajak Lea.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.