
Noah sendiri yang tengah berada di kantor militer pun terkejut saat tiba-tiba Nial masuk ke dalam ruangannya dengan tergesa-gesa.
"Ada apa?" tanya Noah.
"Kak Noah mau pulang?" tanya Nial.
"Tidak, ini mau ke bagian kedisiplinan karena ada anggota timku yang izin," ucap Noah.
"Kakak tadi dikabarin kak Lea?" tanya Nial.
"Yang ke minimarket?" tanya Noah.
"Iya," ucap Nial.
"Udah, tadi Lea udah izin. Kenapa emangnya?" tanya Noah.
"Kak Lea udah pulang belum kak?" tanya Nial.
"Maksudnya?" tanya Noah.
"Tadi bunda telpon nanyain kak Lea," ucap Nial.
"Lea belum pulang?" tanya Noah dan diangguki Nial.
"Tapi, Lea pergi ke minimarket udah dua jam yang lalu masa sampe sekarang belum pulang," ucap Noah.
"Kata bunda emang gitu kak," ucap Nial.
Noah pun mengambil ponselnya dan menghubungi nomor istrinya, tapi tidak ada respon bahkan Noah sudah mengirimkan pesan pada istrinya itu dan tetap saja tidak ada respon dari istrinya.
"Kalua gitu, kakak akan ke minimarket tempat Lea belanja," ucap Noah.
"Nial ikut kak," ucap Nial.
Saat Noah dan Nial akan keluar ruangan tiba-tiba Tian masuk, "Gawat!" ucap Tian.
"Kenapa?" tanya Noah.
"Pemberontak yang kemarin ditangkap komandan Bima kabur dan bawa pasukannya buat nyerang warga dan sekarang mereka lagi di minimarket dekat rumah lo," ucap Tian.
Noah yang mendengarnya pun terkejut dan tiba-tiba ia mengingat sang istri yang juga belanja di minimarket dekat rumah dan jangan lupakan kabar jika Lea belum pulang sejak tadi.
Noah menatap Nial yang juga menatapnya, setelah itu Noah pun berlari keluar ruangan tersebut dan diikuti Nial. Tian yang tidak tau apa-apa pun mengikuti Noah hingga mereka sampai di mobil milik Noah.
Noah mengemudikan mobilnya seperti orang kesetanan, bagaimana tidak dipikiran Noah saat ini hanyalah sang istri yang belum ada kabar.
Saat tengah fokus pada jalanan yang cukup macet tiba-tiba saja ponsel milik Noah berdering, "Nial, angkat teleponnya," ucap Noah.
Nial pun menurunkan mengangkat sambungan telepon tersebut,
^^^Halo Bun, ini Nial^^^
Nial, gimana ini kakak kamu belum pulang
^^^Ini Nial sama kak Noah lagi nyari kak Lea Bun^^^
Astaga bunda takut terjadi apa-apa sama Lea apalagi bunda baru dapat kabar kalau minimarket dekat halte ada penyekapan, Lea juga kan tadi bilangnya mau ke minimarket itu hiks hiks
^^^Bunda gak usah khawatir ya, ini Nial sama kak Noah juga aku periksa kok. Bunda jaga Ivan di rumah aja pokoknya jangan kemana-mana^^^
Iya, Nial. Nanti kalau ada apa-apa kabarin bunda ya
^^^Iya Bun, oh iya ayah udah tau soal ini?^^^
Udah, tapi ayah kamu kan masih ada urusan dengan jenderal jadi ayah kamu belum bisa melihat apa Lea salah satu korban penyekapan
^^^Kalau gitu bunda tenang dulu ya, ini Nial mau mastiin dulu. Nial matiin ya bunda soalnya Nial mau nyampe^^^
Iya, hati-hati ya
Beberapa saat kemudian, mereka bertiga sudah sampai di minimarket dan dapat disana banyak orang yang melihat ke arah minimarket meskipun begitu jarak mereka cukup jauh dan ada beberapa polisi juga yang tengah berjaga dan mengatur strategi untuk membebaskan para sandera.
Noah menghampiri para polisi tersebut, "Letnan Noah," panggil salah satu polisi yan bernama Jordi.
"Bagaimana keadaan di dalam?" tanya Noah.
"Salah satu anggota saya sudah masuk dan berpura-pura menjadi sandera, tapi dilihat dari situasi di dalam cukup susah untuk kembali masuk apalagi pintu yang tadi digunakan anggota saya sudah ditutup," ucap Jordi.
"Bisa lihat video yang terekam," ucap Noah.
"Bisa, ini video yang terekam," ucap Jordi dan memperlihatkan keadaan di dalam minimarket.
"Kak, itu kak Lea," ucap Nial.
__ADS_1
Noah pun menatap seorang perempuan yang duduk di barisan depan, meskipun tidak terlalu jelas, tapi ia orang terdekat Lea tahu jika perempuan itu adalah Lea.
Noah dapat melihat keadaan lemah Lea bahkan Lea hanya menunduk dan hal itu membuat Noah ingin membunuh orang-orang yang telah menyakiti istrinya.
"Aku akan masuk," ucap Noah.
"Tidak bisa letnan, semua pintu sudah dijaga. Sudah tidak ada celah untuk masuk ke dalam," ucap Jordi.
"Gampang, kita lemahkan penjagaan di bagian pintu itu," ucap Noah.
"Caranya?" tanya Jordi.
"Tian, alihkan perhatian orang yang berjaga di pintu tembak jendela bawa kalau bisa tembak mengenai kakinya," ucap Noah.
"Tapi, kita tidak ditugaskan untuk melakukan ini apalagi menggunakan senjata," ucap Tian.
"Lakukan saja," ucap Noah.
"Tidak bisa, komandan harus memerintahkan kita terlebih dahulu bahkan tidak ada surat perintah dari kepolisian atau militer," ucap Tian.
"Istriku ada di dalam dan kau ingin aku diam saja begitu sama ada perintah!" teriak Noah.
"Aku tau itu, tapi kita akan terkena masalah jika kita bertindak diluar tanggung jawab kita," ucap Tian.
"Aku yang akan bertanggungjawab untuk hal itu, sekarang anggap aku sedang meminta bantuanmu sebagai seorang suami yang ingin membebaskan istrinya," ucap Noah.
"Biar Nial saja kak," ucap Nial.
"Tidak, kau akan mengalihkan para penjaga dari depan," ucap Noah dan diangguki Nial.
Semua pun mengikuti strategi Noah, begitupun dengan Tian yang melakukan apa yang dikatakan Noah.
Setelah perhatian para pemberontak teralihkan, Noah pun akan masuk ke dalam. Tapi, strategi Noah harus gagal karena salah satu polisi datang dan menggeret Noah hingga ke mobil polisi.
"Apa maksudmu?" tanya Noah.
"Kau tidak boleh melakukan itu, bagaimanapun ini adalah tugas polisi," ucap Dika.
"Apa aku harus diam saja saat istriku sedang dalam bahaya iya?" tamat Noah dan mulai emosi karena rencananya gagal.
"Percayakan saja pada kami," ucap Dika.
"Tidak bisa, saya tidak akan percaya pada polisi," ucap Noah.
"Iya, semua rencanaku gagal dan kita akan semakin sulit untuk mengalihkan perhatian mereka lagi," ucap Noah.
Suasana saat ini benar-benar tegang karena Noah dan Dika yang sama-sama kekeh dan tidak mau kalah hingga berapa saat kemudian Tian datang.
"Ada apa?" tanya Noah.
"Ini komandan Arga mengeluarkan surat perintah untuk membantu para sandera," ucap Tian dan memberikan surat yang baru saja ia dapat dari salah satu anggota tentara.
"Kenapa bisa secepat itu?" tanya Noah.
"Gak tau, tapi tiba-tiba aja ada anggota tentara yang datang dan ngasih surat ini. Kayaknya komandan Alan deh yang buat surat ini lebih cepat," ucap Tian dan Noah seperti membenarkan apa yang dikatakan Tian.
"Bagaimana? apa saya bisa membantu istri saya?" tanya Noah pada Dika.
"Ya, sekarang letnan Noah bisa melakukan tugas letnan Noah," ucap Dika.
"Tapi, bagaimana cara kita masuk ke dalam?" tanya Nial.
"Kita lewat atap," ucap Noah.
"Maksudnya?" tanya Tian.
"Jalan kita satu-satunya hanya lewat atap lalu kita serang mereka, tapi yang terpenting kita lumpuhkan pemimpinnya baru anak buahnya," ucap Noah.
"Katanya tadi ada manager minimarket kan?" tanya Noah.
"Iya, dia di sana," ucap Jordi.
Noah pun menghampiri manager tersebut, "Pak, di sana ada atap yang terhubung dengan bagian dalam?" tanya Noah.
"Ada, atapnya di tengah," ucap manager tersebut.
"Kalau begitu nanti aku, Tian sama dua orang polisi akan masuk dan menyergap pemberontak," ucap Noah.
Beberapa saat kemudian, Noah dan yang lain pun mulai menjalankan rencana mereka dimulai dari Noah yang mulai masuk ke dalam atap dengan diikuti Tian dan dua polisi lainnya.
Untung saja atap minimarket tersebut kuat sehingga mereka bisa berada di sana dengan aman, mereka dapat melihat apa yang dilakukan para pemberontak di dalam minimarket.
Tahan Noah mengeras saat melihat sang istri yang ditampar bahkan di tendang, "Sekarang," gumam Noah dan mereka lun mulai melancarkan aksinya.
__ADS_1
Noah segera menendang atap dan langsung menendang pemimpin mereka, tapi meskipun begitu para anak buah pemberontak tersebut melindungi pemimpin mereka sehingga cukup sulit bagi Noah dan yang lainnya bahkan Noah terkena beberapa pukulan di wajah tampannya dan untungnya Noah bisa melawan dan menghindar.
Saat tengah menghindar tiba-tiba saja salah satu anak buah pemberontak tersebut mengeluarkan pistol dan menembakkannya pada Noah hingga akhirnya Noah terkena tembakan tepat di bahu kanannya sehingga mengeluarkan darah yang cukup banyak.
Namun, bukan Noah jika tidak bisa membasmi para serangga itu, dengan cepat Noah menembak satu persatu kaki para pemberontak setelah di rasa semuanya tumbang polisi pun membuka pintu dan Tian mengamankan para pemberontak.
"S*alan," umpat pemimpin mereka dengan lemah.
Noah sendiri sangat emosi saat melihat istrinya yang lemah seperti saat ini, dengan langkah cerita noah menghampiri pemimpin mereka yang tadi menampar dan menendang Lea.
Noah juga melakukan hal yang sama bahkan berkali-kali lipat lebih kuat daripada pemimpin itu. Noah memukul pemimpin tersebut bahkan dapat dipastikan jika pemimpin mereka dalam keadaan kritis, tapi Noah tentunya tidak peduli akan hal itu karena yang terpenting saat ini adalah memberikan pelajaran pada orang yang telah melukai istrinya.
Tian yang melihatnya pun terkejut dan langsung menghampiri Noah mencoba untuk menghentikan Noah, "Udah jangan kayak gini," ucap Tian.
"Dia udah ngelukain istri gue, bahkan gue gak berani buat istri gue luka sedikitpun," ucap Noah.
"Tapi, sekarang lo jangan mikirin dia lebih baik lo mikirin kondisi istri lo," ucap Tian.
Ucapan tahun berhasil membuat Noah sadar dan langsung melihat ke arah istrinya yang sedang dibantu oleh polisi bahkan dengan seenak jidatnya polisi tersebut memegang lengan Lea.
Noah tidak terima dan langsung menghampiri Lea, "Sayang," panggil Noah dan menghempaskan tangan polisi tersebut yang tak lain adalah Dika.
"Letnan Noah kenal dengan perempuan ini?" tanya Dika.
"Iya, dia istri saya," ucap Noah.
"Kak Noah bawa kak Lea ke rumah sakit, biar pemberontak ini anggota lainnya akan menyelesaikannya," ucap Nial.
Noah lun menggendong Lea yang saat ini benar-benar lemah bahkan bibir Lea mengeluarkan darah dan Lea sudah tidak sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian, Noah pun sampai di rumah sakit. "Loh Noah, Lea kenapa?" tanya Nina.
"Aunty tolong Lea, tadi dia korban penyekapan," ucap Noah.
Nina pun terkejut dan langsung membawa Lea untuk diperiksa. Selama Lea di periksa dokter, Noah menunggu di luar ruangan dan berharap keadaan Lea baik-baik saja.
Saat tengah menunggu tiba-tiba pintu ruangan terbuka, "Bagaimana keadaan Lea?" tanya Noah.
"Keadaan pasien tidak apa-apa hanya saja pasien mengalami luka ringan, tapi meskipun begitu saya menyarankan agar pasien di rawat di rumah sakit sampai kondisinya benar-benar membaik," ucap dokter dan diangguki Noah.
Setelah itu, Lea pun dipindahkan ke ruang rawat inap, di sana Noah terus menggenggam tangan istrinya.
"Kak," lirih Lea.
"Kenapa sayang? ada yang sakit? mana yang sakit hem?' tanya Noah.
"Maaf," lirih Lea.
"Gak sayang, kamu gak ada salah sama aku, jadi kamu gak perlu minta maaf ya," ucap Noah.
Baru saja Lea akan berbicara tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan menampilkan bunda Rea, Maudy, Daisy dan ayah Alan serta Vian yang berada di gendongan Maudy.
"Sayang, kamu gapapakan hiks hiks?" tanya bunda Rea dan menangis karena niat kondisi Lea yang cukup memprihatinkan.
"Lea gapapa kok Bun," ucap Lea dan berusaha tersenyum.
"Gapapa apanya, lihat muka kamu aja masih lebam gini," ucap bunda Rea.
"Lea beneran gapapa kok Bun," ucap Lea.
"Syukurlah kalau memang kamu gapapa, bunda bener-bener khawatir sama kamu. Kamu sih kalau dibilangin jangan ngeyel kan jadi kayak gini, kalau bunda atau Noah ngelarang ku itu artinya kita itu sayang sama kamu," ucap bunda Rea.
Lea hanya menganggukkan kepalanya karena apa yang dikatakan bunda Rea memang benar dan Lea pun sadar semua ini salahnya karena tidak menuruti apa yang dikatakan bunda Rea dan Noah.
"Bun, udah ya. Lea gak salah kok, anggap aja ini sebagai pembelajaran dan gak usah dibahas lagi," ucap Noah.
"Huh, maafin bunda karena udah bilang kayak tadi," ucap bunda Rea.
"Gak kok Bun, harusnya Lea yang minta maaf karena gak nurut sama bunda," ucap Lea.
"Udah kita lupakan masalah ini ya, sekarang gimana keadaan kamu?" tanya bunda Rea.
"Baik Bun, Lea udah mendingan kok," ucap Lea.
"Kamu harus di rawat di sini sampai kondisi kamu bener-bener pulih dan untuk kali ini kamu harus nurut sama bunda," ucap bunda Rea.
"Iya Bun," ucap Lea.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.