
Keesokan harinya Alan dan Rea pergi ke rumah bunda Nara karena memang sudah lama mereka tidak ke rumah bunda Nara, mereka pergi setelah Alan pulang kerja karena hari ini Rea libur jadi ia bisa santai di rumah serta menyiapkan keperluan untuk ke rumah Bunda Nara dan setelah semuanya selesai Rea pun menunggu kedatangan Alan dan setelah Alan pulang barulah mereka berangkat ke rumah bunda Nara.
Saat ini Alan dan Rea dalam perjalanan menuju rumah bunda Nara, "kamu udah kabarin bunda?" tanya Alan.
"Udah kok," ucap Rea.
Beberapa saat kemudian, Alan dan Rea sampai di rumah bunda Nara dan mereka pun langsung masuk ke dalam rumah tersebut, "Assalamualaikum, semuanya. Rea yang cantik datang nih!' pekik Rea, saat masuk ke dalam rumah.
"Astaga, sayang jangan keras-keras," ucap Alan.
"Hehehe, biar seru gitu," ucap Rea.
Baru saja Rea akan melangkah tiba-tiba terdengar suara tangisan anak kecil, "Kamu kalau datang jangan langsung teriak gitu dong, lihat nih anak kakak tidurnya kaget terus nangis gara-gara kamu," ucap kak Ray, yang menggendong anak kecil berusia 1 tahun 2 bulan.
"Aduh, maafin aunty ya sayang sini aunty gendong dulu," ucap Rea dan menghampiri Kaif.
Namun, sebelum itu terjadi Rea sudah ditahan oleh Alan, "Jangan sayang, kamu kan lagi hamil gak boleh gendong Kaif," ucap Alan.
"Oh iya Rea lupa, yaudah kalau gitu sekarang mana bunda, ayah, kak Inez sama Gia?" tanya Rea.
"Ayah, bunda, kak Inez lagi di rumahnya tante Vina kalau Gia mah lagi jalan-jalan sama temennya," ucap kak Ray.
"Loh kenapa mereka ke sana? padahal kan Rea bilang kalau Rea bakal ke sini?" tanya Rea.
"Suaminya Desti meninggal makanya mereka ke sana," ucap kak Ray.
"Innalilahi, terus kenapa kak Ray di sini?" tanya Rea.
"Kaif lagi tidur kasihan kalau ditinggal, dia kan kalau bangun gak ada kakak rewel terus juga di rumah tante Vina butuh beberapa perempuan buat acara tahlil nanti malam," ucap kak Ray dan diangguki Rea.
"Kalau gitu, Rea juga mau ke sana deh," ucap Rea.
"Kamu di rumah aja gak biak buat bumil datang ke sana," ucap Alan.
"Kata siapa gak baik kalau bumil ke sana?" tanya Rea.
"Kata aku, udah kamu di sini aja," ucap Alan.
"Yaudah, kalau gitu kakak titip Kaif ya, kakak mau ke rumahnya tante Vina," ucap kak Ray.
"Ya, padahal kan Rea pengen ke sana," ucap Rea.
"Di rumah aja sama aku," ucap Alan dan mau tidak mau Rea pun menganggukkan kepalanya.
Alan dan Rea saat ini duduk di ruang tamu bersama Kaif yang berada di pangkuan Alan, "Aku jadi kasihan deh sama Desti," ucap Rea.
__ADS_1
"Kasihan kenapa?" tanya Alan.
"Soalnya nih ya Desti kan lagi hamil 3 bulan terus dia udah ditinggal sama suaminya kan kasihan," ucap Rea.
"Namanya juga takdir," ucap Alan.
"Aku kok jadi takut bakal kayak Desti ya," ucap Rea.
"Kamu doain aku cepet meninggal?" tanya Alan.
"Ish, bukan itu. Maksud ku gini suaminya Desti yang kerjanya gak terllau berat aja tiba-tiba meninggal terus apalagi kamu yang jadi tentara bukannya resikonya lebih besaran kamu ya," ucap Rea.
"Aku tahu kamu pasti bakal takut kayak gini, tapi kamu percaya sama aku. Aku bakal berusaha sama kamu terus, tapi aku juga gak bisa janji karena semuanya itu sudah takdir mau aku berusaha kalau Tuhan udah takdirin kematian untuk aku, aku gak bisa ngehindar, yang terpenting kamu doain aku ya," ucap Alan.
"Pasti, aku pasti bakal doain kamu kok. Kamu belum ketemu sama baby-nya, jadi kamu harus bertahan sampai nanti kita tua," ucap Rea dan diangguki Alan.
"Assalamualaikum, Gia yang cantik, pintar sama seksi datang!" pekik Gia.
"Kamu sama Gia ternyata sama ya," ucap Alan.
"Gak mau ya aku disamain sama Gia," ucap Rea.
"GIS juga gak mau ya," ucap Gia, yang batu saja masuk ke dalam rumah.
"Kaif udah bangun, makin ganteng aja sih kamu. Nanti kalau udah gede nikah sama kakak ya," ucap Gia.
"Emang kakak tahu kalau anak kakak cewek, kan kakak belum usg?" tanya Gia.
"Eh, iya ya. Kalau gitu kan kakak bisa hamil lagi nanti sampe anak kakak cewek dan bisa dijodohin sama Kaif," ucap Rea.
"Cieeeee kak Rea, kak Alan nih kak Rea udah ngode buat nambah anak nih. Kak Alan mau gak nambah anak?" tanya Gia.
"Kakak sih ayo aja," ucap Alan.
"Ish, salah ngomong lagi, kamu tuh ya," ucap Rea dan Gia hanya cekikikan mendengarnya.
Alan yang mendengar perdebatan antara Rea dan Gia hanya mampu menggelengkan kepalanya karena ia sudah tidak asing lagi dengan perdebatan yang tidak berfaedah tersebut, dengan Rea yang tidak mau kalah dan Gia yang selalu menggoda Rea dan ujung-ujungnya Rea akan menang karena Rea pasti akan mengadu pada bunda Nara, tapi karena hari ini tidak ada bunda Nara maka Gia yang menang.
"Oh iya, kamu tahu suaminya Desti itu kenapa kok bisa meninggal?" tanya Rea.
"Nih ya kak, Gia denger katanya suaminya kak Desti itu tiba-tiba meninggal gitu dan gak ada yang tahu dia bisa meninggal karena apa, tapi ada yang bilang karena karma," ucap Gia.
"Karma? karma apa?" tanya Rea.
"Katanya suaminya kak Desti dulu jahat suka judo, mabuk pokoknya semua yang jahat-jahat itu punya suaminya kak Desti dan karena itu banyak yang bilang kalau ini itu karma," ucap Gia.
__ADS_1
"Lebih baik kalian bicarain hal yang berguna dikit, daripada bicarain orang lain apalagi ini keburukan orang lain," ucap Alan.
"Ya, padahal masih seru loh," ucap Rea.
"Gak boleh, nanti kalau anaknya denger dan waktu gede dia yang kena omongan orang gimana?" tanya Alan.
"Eh, gak boleh. Yaudah, aku diem gak bicarain itu lagi, udah Gia sana kamu pergi kakak kalau deket kamu bawaannya mau gosip terus," ucap Rea.
"Kak Alan," panggil Gia, dengan manis manjanya.
"Idih, pasti ada maunya ini," ucap Rea dan benar saja beberapa saat kemudian Gia pun menyampaikan keinginannya.
"Kak minta uang dong, tadi bunda sama ayah ngasihnya cuma buat pergi sama Hana doang, tapi ini Gia mau pergi ke les sekalian jajan dan bunda sama ayah gak ngasih uang lebih," ucap Gia.
"Ini, jangan dihabisin loh ya biar gak minta terus sama bunda sama ayah," ucap Alan dan memberikan uang pada Gia.
"Inget, jangan dihabisin," ucap Rea.
"Siap kak, yaudah kalau gitu Gia izin mau les dulu ya dadah," pamit Gia dan mengambil tasnya di dalam kamar lalu pergi.
"Kaif, gak rewel ya daritadi," ucap Alan, dengan menatap Kaif yang berada di pangkuannya.
"Kaif itu kalau sama kamu diem banget, kalau sama aku mana bisa dia diem," ucap Rea.
"Aku jadi penasaran deh gimana ya anak kita nanti," ucap Rea.
"Sama, aku juga penasaran dan pengen banget ketemu sama dia," ucap Alan dan mengusap perut Rea.
Alan terus mengusap lembut perut Rea hingga tiba-tiba ia merasakan tendangan yang cukup kuat, "Awsh," rintih Rea.
"Sayang, kamu gapapa?" tanya Alan.
"Aku gapapa kok, tadi baby-nya nendang," ucap Rea.
"Iya, akhirnya aku bisa ngerasain tendangan si baby," ucap Alan.
Memang ini pertama kalinya alam merasakan tendangan anaknya, ia sering mendengar keluhan Rea saat anaknya menendang, tapi ia selalu tidak mendapat kesempatan untuk meresahkannya dan inilah pertama kalinya sehingga membuat Alan begitu senang, tapi ia juga khawatir karena melihat Rea yang kesakitan.
"Kamu beneran gapapa?" tanya Alan.
"Gapapa sayang, aku udah sering ngerasain ini kok, ya walaupun sakit. Tapi, aku bahagia banget," ucap Rea dan membuat Alan tersenyum bahkan Alan juga mengecup seluruh wajah dan perut Rea.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.