Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Pulang


__ADS_3

Hari ini ini adalah hari dimana para relawan harus kembali ke kota dan rumah sakit masing-masing setelah beberapa bulan bertugas sebagai relawan, "Gue masih gak nyangka bakal pergi dari tempat secantik ini," ucap Qilla.


"Sama, padahal gue ngerasa kalau gue cuma semingguan di sini eh ternyata udah pulang aja," ucap Nina.


"Oke, sekarang kita naik ke bus," ucap dokter Danu.


Rea pun melihat ke arah Alan yang saat ini juga tengah menatapnya dan tersenyum serta menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Rea pun naik ke dalam bus dengan diikuti para relawan lainnya. Di dalam bus semua relawan melambaikan tangannya kepada para tentara dan juga pada beberapa warga yang memang sengaja datang ke sana.


Bus pun berangkat menuju kota, entahlah Rea merasa sedih harus pergi dari tempat tersebut. Tapi, ia juga ingin kembali ke kota karena Rea memang bukan tipe orang yang suka berada di daerah perbatasan seperti itu.


"Lo tahu gak," ucap Nina, yang menyadarkan lamunan Rea.


Saat ini Rea dudu bersama dengan Nina, untuk Qilla entahlah Rea juga tidak tahu yang jelas tadi saat masuk ke dalam bus tiba-tiba Nina menarik tangan Rea dan menyuruhnya duduk di sebelahnya.


"Tahu apa?" tanya Rea.


"Dari tadi kapten Alan ngelihatin lo loh," ucap Nina.


"Masa sih, kok gue gak tahu. Mungkin cuma menurut lo aja kali, bisa aja kapten Alan ngelihatin semuanya, tapi pas ke gue aja lo lihat," ucap Rea.


"Gak Re, orang tadi gue ngelihat sendiri kok bahkan nih ya kedua matanya kapten Alan tadi itu kayak gak bergerak sama sekali dan ngelihatin lo terus," ucap Nina.


"Udah ah, jangan bahas kapten Alan lagi. Sekarang kita ini mau balik ke kota, jadi mari kita lupakan itu oke," ucap Rea.


"Mana bisa gue lupain itu," ucap Nina.


"Bisa kok, udah diem gak usah protes," ucap Rea.


Beberapa jam setelah perjalanan yang melelahkan mereka pun sampai di Daiva General Hospital, "Lo udah di jemput?" tanya Qilla.


"Belum deh kayaknya bentar lagi sepuluh gue bakal jemput gue," ucap Nina.


"Kalau lo, Re?" tanya Qilla.


"Gue udah di jemput tuh orangnya," ucap Rea dan menunjuk ke arah mobil kak Ray yang terparkir rapih di depan rumah sakit.

__ADS_1


Ya, Rea kemarin mengatakan jika ia akan pulang hari ini dan tadi saat dekat dengan rumah sakit, Rea minta di jemput di rumah sakit sebab itu kak Ray saat ini berada di rumah sakit untuk menjemputnya.


"Kalau lo udah di jemput?" tanya Nina.


"Udah dong, gebetan baru nih yang jemput, gue pergi dulu ya dah," ucap Qilla dan pergi meninggalkan Rea dan Nina.


"Gonta-ganti muluh tuh anak," ucap Nina.


"Biarin sih, namanya juga Qilla, dia itu gak betah kalau deket cowok lama," ucap Rea.


"Re, gue udah di jemput itu sepupu gue kalau gitu gue pergi ya," ucap Nina.


"Yaudah, gue juga mau ke kak Ray nanti kalau gue lama ke sananya bisa-bisa dia ngomel lagi," ucap Rea.


Rea pun masuk ke dalam mobil kak Ray setelah menaruh kopernya di bagasi tentunya, "Lama amat sih," ucap kak Ray.


Benar kan, kak Ray pasti bakal mengomelinya, "Tadi salah perpisahan dulu," ucap Rea.


"Lagian nih ya nanti kamu bakal kerja lagi di rumah sakit, jadi ngapain pake salam perpisahan sih kayak mau pindah ke mana gitu," ucap kak Ray dan mengendarai mobilnya menuju rumah.


"Lama gak ketemu kak Ray ternyata mulut kakak masih lemes ya," ucap Rea.


Beberapa saat kemudian, Rea dan kak Ray pun sampai di rumah. Rea keluar dari mobil, "Kak nanti kopernya Rea tolong bawa ke dalam ya dah makasih kakakku yang ganteng!" teriak Rea dan masuk ke dama rumah.


"Astaga, untung adik sendiri kalau gak udah habis tuh kepala," gumam kak Ray.


Rea sendiri saat masuk ke dalan rumah langsung di sambut Mama Dira dan hal itu tentunya membuat Rea terkejut, "Mama kok ada di sini?" tanya Rea.


"Mama kangen banget sama kamu sayang, ke apa kamu gak bilang kalau kamu balik ke daerah perbatasan?" tanya Mama Dira.


"Hehehe, lupa Ma," ucap Rea.


"Mama Dira udah lama ya di sini?" tanya Rea.


"Baru kak, Mama Dira ke sini mungkin ada 10 menitan," ucap Gia.

__ADS_1


Memang seluruh keluarga Rea memanggil Mama Dira dengan sebutan Mama, kecuali Ayah Argi dan Bunda Dira tentunya bahkan kak Ray dan kak Inez pun memanggil Mama Dira dengan sebutan Mama. Mereka awalnya memanggil Mama Dira dengan sebutan Tante, tapi Mama Dira justru menyuruh mereka memanggilnya Mama.


"Gak usah kamu pikirin itu lebih baik sekarang ke kamar, kamu pasti capek kan jadi kamu bersih-bersih terus istirahat ya," ucap Mama Dira.


"Tapi, mama Dira gimana? masa Rea istirahat sedangkan Mama Dira ada di sini?" tanya Rea.


"Gapapa kok, Mama Dira juga mau pulang nanti Mama Dira ke sini lagi deh," ucap Mama Dira.


"Tapi, Mama nanti yang capek. Ehm, gimana kalau Rea aja yang ke rumahnya Mama, nanti kalau Rea habis istirahat atau gak besok deh Rea ke rumahnya Mama," ucap Rea.


"Beneran kamu mah ke rumahnya Mama?" tanya Mama Dira, dengan antusiasnya.


"Iya dong, Rea mau ke rumahnya Mama," ucap Rea.


"Wah! Mama seneng banget yaudah deh kamu besok aja ke rumahnya Mama. Khusus hari ini kamu istirahat aja biar besok kita bisa ngelakuin banyak hal," ucap Mama Dira dan diangguki Rea.


"Mama pulang naik apa?" tanya kak Ray.


"Mama udah di jemput kok, ini supir Mama baru ngabarin kalau udah di depan. Kalau gitu kamu kabarin Mama ya jam berapa kamu ke rumah Mama," ucap mama Dira.


"Iya, Ma," ucap Rea.


Mama Dira pun berpamitan pada semua orang dan pergi dari rumah tersebut, "Bunda, Rea mau ke kamar dulu ya," ucap Rea dan diangguki bunda Nara.


Rea pun sampai di kamarnya dan segera membersihkan tubuhnya setelah itu ia pun membaringkan tubuhnya di kasur empuknya, "Akhirnya punggung gue bisa ngerasain kasur seenak ini," ucap Rea dan perlahan matanya pun tertutup rapat hingga menuju alam mimpi.


Cukup lama Rea tertidur, Rea pun bangun dan menatap jam. "Masih jam 9 malam," gumam Rea dan kembali melanjutkan tidurnya.


Namun, sayang perutnya tidak bisa di kondisikan Rea pun akhirnya memilih untuk kembali membuka mata dan setelah beberapa saat Rea pun duduk barulah setelah puas duduk, Rea berdiri dan cuci muka setelah itu keluar kamar untuk menenangkan perutnya yang tengah demo.


Saat keluar kamar dan menuju meja makan, Rea dapat melihat kak Ray dan kak Inez yang tengah makan di meja makan. Mereka berdua makan hanya dengan satu piring dan satu sendok karena kak Inez yang menyuapi kak Ray, Rea sendiri hanya menatap jengah ke kedua pasangan itu, sebenarnya hal seperti ini bukan hanya sekali atau dua kali Rea lihat bahkan waktu mereka baru saja menikah dulu kak Ray dan kak Inez, sering mengumbar kemesraannya di depan Rea. Rea mengabaikan kedua pasangan tersebut dan memilih untuk melanjutkan makan.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2