
Siang harinya, Rea dan Nina tengah malam siang di kantin karena tiba-tiba Rea ingin makan makanan kantin rumah sakit dan mau tidak mau Nina pun menurutinya, tapi sebelum itu Rea sudah memberitahukannya pada Alan dan untungnya Alan setuju dengan alasan untuk anaknya.
Rea memakan makan siangnya dengan lahap hingga Nina hanya mampu menggelengkan kepalanya, "Lo habis segini, wah keren banget," ucap Nina.
"Gue gak tahu ya, tapi gue ngerasa pas hamil nafsu makan gue bertambah bahkan gue ngerasa aneh aja sama diri gue. Gue pengen akan dikit, tapi gak bisa," ucap Rea.
"Gapapa kali, lagian kan lo lagi hamil wajarlah pasti baby-nya juga laper di sana," ucap Qilla.
Saya mereka tengah menikmati makan siang mereka tiba-tiba seseorang duduk di samping Nina dan menaruh kepalanya di atas meja dengan tangan sebagai bantalannya tak lupa ia juga menggerutu tidak jelas, "Kenapa lo dateng-dateng langsung gak jelas kayak gitu?" tanya Nina.
"Gue kesel banget sama gue tadi di jodoh-jodohin sama salah satu tentara yang temennya kapten Alan," ucap Qilla.
Ya, perempuan itu adalah Qilla sahabat mereka berdua yang sejak tadi belum datang dan baru datang kalau merengek seperti anak kecil.
"Di jodohin sama siapa?" tanya Nina.
"Ituloh sama temennya kapten Alan, padahal tadi gue gak sengaja jatuh di depan dia," ucap Qilla.
"Temennya kapten Alan yang mana?" tanya Nina.
Qilla mendongak dan menatap Nina, "Gue gak tahu namanya," ucap Qilla.
"Ganteng gak?" tanya Nina.
"Ish loh mah, semua temennya kapten Alan itu man ada yang jelek sih," ucap Qilla.
"Iya juga sih," ucap Nina.
"Ciri-cirinya gitu," ucap Rea.
"Gimana ya pokoknya dia ganteng, tapi tetep aja malu gue," ucap Qilla.
"Bentar deh gue penasaran sama orangnya," ucap Rea, lalu membuka ponselnya dan menunjukkan pada Qilla beberapa foto anggota tim Alan.
"Yang ini," ucap Nina dan Rea pun melihat foto tersebut.
"Oh Ryan," ucap Rea.
"Mana sih sini gue mau lihat orangnya," ucap nian dan melihat foto tersebut.
"Wah, ganteng juga cocok La, lumayan lah buat memperbaiki keturunan," ucap Nina.
"Ganteng sih iya, tapi gue malu kalau ketemu sama dia," ucap Qilla.
"Emang gimana ceritanya lo ketemu sama dia?" tanya Nina.
__ADS_1
"Tadi itu gue mampir ke persidangannya dokter Shinta dulu nah ternyata di sana itu ada kapten Alan sama beberapa temannya gitu, terus pas di parkiran mau balik ke rumah sakit kaki gue tiba-tiba kena pembatas parkiran ya karena gue main hp terus sih dan pas banget gue jatuh tepat di mobil si cowok tadi dengan posisi terlentang gitu dan pas banget si cowok dateng karena gue kaget tiba-tiba dia dateng ya gue langsung berdiri, tapi naasnya gue justru gak seimbang dan alhasil gue jatuh dengan gak etis tepat di depan cowok itu dan gue malu mana banyak orang lagi di sana, tapi untungnya mereka kayaknya bukan temennya si cowok deh, jadi amanlah gak ada yang tahu dan yang tahu ya cuma gue sama si cowok itu," ucap Qilla.
"Terus?" tanya Nina.
"Ya gue langsung aja minta maaf udah jatuh di mobilnya dan langsung pergi, huuuu malu gue gak mau lagi ketemu sama dia," ucap Qilla.
Rea dan Nina yang mendengar cerita Qilla lun tertawa, "Astaga, lucu banget sih. Gue jadi gak kebayang apa ya first impression nya Ryan pas ketemu sama lo," ucap Rea.
"Ih, malu. Kalau dia ngira gue maling gimana?" tanya Qilla, yang semakin membuat gelak tawa Rea dan Nina.
"Ngaco lo," ucap Nina.
"Lo kenapa harus kabur sih, harusnya itu lo lihat dulu apa reaksi dia gue jadi penasaran gimana ya reaksi dia," ucap Nina.
"Gue udah malu tahu Nina," ucap Qilla.
"Udah gak usah malu, btw lo ke persidangannya dokter Shinta kok bisa?" tanya Rea.
"Ya, bisalah kan persidangannya terbuka untuk umum," ucap Qilla.
"Terus gimana sama dokter Shinta gue denger katanya persidangan ini tuh persidangan terakhir ya berarti putusan dong, emang apa putusannya?" tanya Nina.
"Dokter Shinta di hukum 8 bulan penjara dan denda berapa gitu gue lupa dendanya pokonya puluhan juta gitu, tapi dokter Shinta bakalan di rawat dulu baru setelah itu dokter Shinta jalanin hukumannya," ucap Qilla.
"Dokter Shinta ternyata mengalami anxiety disorder," ucap Qilla, yang tentunya membuat Rea dan Nina terkejut.
"Hah, kok bisa? sejak kapan? gak kelihatan loh," tanya Nina.
"Gue juga gak tahu, tapi Kayaknya dari dulu deh dan katanya dokter Shinta itu kayak cemas kalau ada yang ngalahin dia makanya kenapa dokter Shinta kayak gak suka sama Rea ya karena dokter Shinta merasa tersaingi sama lo Re," ucap Qilla.
"Gue gak nyangka sih kalau dokter Shinta ternyata kayak gitu," ucap Nina.
"Pasti jadi dokter Shinta berat deh, kok gue jadi kasihan ya sama dokter Shinta," ucap Rea.
"Ish, tapi kelakuannya itu bener-bener di luar batas dan gak bisa dimaafin," ucap Qilla.
"Setuju gue," ucap Nina.
"Mungkin gak sih semua ini juga gara-gara pernikahan dokter Shinta yang batal sama direktur Bagas?" tanya Rea.
"Mungkin juga sih, gak ada yang tahu juga," ucap Qilla.
"Ngomong-ngomong, gue jadi penasaran deh sama yang ngelaporin direktur Bagas, siapa ya yang ngelaporin direktur Bagas?" tanya Nina.
"Kalau gue bilang gue yang ngelaporin kalian percaya gak?" tanya Qilla.
__ADS_1
"APA!" pekik Rea dan Nina, yang membuat semua orang menatap mereka saat ini.
"Bercanda lo gak lucu, La," ucap Rea.
"He'em, masa lo yang ngelaporin, jangan bercanda deh," ucap Nina.
"Gak bercanda, gue tahu semuanya. Lo di lecehin direktur Bagas kan dan Rea nolongin lo," ucap Qilla.
"Gimana ceritanya lo bisa tahu?" tanya Rea.
"Lo ngelihat langsung gimana direktur Bagas ngelecehin Nina?" tanya Rea.
"Gue gak ada saat direktur Bagas ngelecehin Nina, kalau gue ada di sana udah gue tebas kepalanya direktur Bagas," ucap Qilla.
"Terus gimana lo bisa tahu kalau direktur Bagas ngelecehin Nina?" tanya Rea.
"Gue waktu itu pinjam laptop dokter Shinta buat lihat data pasien gitu soalnya laptop gue tiba-tiba eror dan pas gue ngelihat ada flashdisk di laptopnya dokter Shinta dan di laptop itu juga ada video, ya karena jiwa penasaran gue meronta-ronta akhirnya gue buka. Ternyata itu video cctv di ruangannya direktur Bagas dari situ gue tahu semuanya dan gue copy videonya terus gue laporin direktur Bagas ke komite kedisiplinan," ucap Qilla.
"Kenapa lo gak bilang ke gue kalau lo tahu semuanya?" tanya Nina.
"Ya, biar gue gak dicurigai aja," ucap Qilla.
"Tapi, gue yang dicurigai," ucap Rea.
"Hehehehe, iya. Gapapa kan karena itu juga sekarang sih dokter Shinta udah gak ada di rumah sakit ini lagi," ucap Qilla.
"Terus dokter Shinta gak curiga sama lo?" tanya Nina.
"Gak sama sekali," ucap Qilla.
"Lo keren banget, makasih ya La udah ngelaporin direktur Bagas," ucap Nina.
"Gapapa kali, gue juga gedek sama tuh orang beraninya ngelakuin itu ke sahabat gue. Lo sekarang gapapakan?" tanya Qilla.
"Gue udah gapapa kok dan untungnya gue gak sampe trauma berkepanjangan gitu," ucap Nina.
Nina dan Rea merasa lega karena akhirnya siapa yang melaporkan direktur Bagas sudah terungkap, mereka berdua tidak menyangka jika orang tersebut salah Qilla karena selama ini Qilla tidak menunjukkan gelagat yang patut di curigai.
.
.
.
Tbca.
__ADS_1