Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Sindiran Bunda Nara


__ADS_3

Saat ini Rea berada di mobil bersama Kak Ray, "Gimana enak gak jadi relawan?" tanya Kak Ray.


"Ya, gitulah Kak. Ada enak ada gak nya," ucap Rea.


"Nangis gak pas di sana?" tanya Kak Ray.


"Wah, jangan tanya lagi Kak. Rea sampe habis tisu banyak, nih ya Kak kalau di kamp itu Rea tiba-tiba nangis gitu," ucap Rea.


"Emang dasarannya kamu itu lemah kalau lihat uang kayak gitu makanya kok gampang banget nangis, Kakak sampe heran loh bahkan kalau kamu lihat pengamen di jalan gitu tiba-tiba nangis sendiri," ucap Kak Ray.


"Rea juga gak tahu Kak kok bisa Rea ajak gini," ucap Rea.


"Oh iya, gimana suami kamu?" tanya Kak Ray.


"Suami Rea, ya seperti sebelumnya. Rea udah chat dia kalau Rea bakal balik ke kota, tapi ya gitu dia bilang kalau dia masih ada urusan dan belum bisa ketemu sama Rea," ucap Rea dan Kak Ray hanya menganggukkan kepalanya.


"Kak, sebenarnya suaminya Rea itu kerja apa sih kok kayak sibuk banget?" tanya Rea.


"Eh, kalau itu kamu tanya suami kamu sendiri aja deh. Kakak juga gak tahu pastinya soalnya yang jelas suami kamu itu emang sibuk banget dan yang jelas suami kamu itu memiliki kerjaannya yang cukup berat dan kalau kamu tahu semuanya Kakak harap kamu bisa ngertiin suami kamu," ucap Kak Ray.


"Waktu itu Rea juga sempat tanya ke bunda, tapi bunda bilang Rea suruh tanah langsung sama suaminya Rea. Masalahnya Rea itu gak enak kalau mau tanya soal kerjaannya, Kakak tahu sendiri kan kalau Rea sama dia itu dijodohin dan takutnya nanti suami Rea justru tersinggung dengan pertambahan Rea soal pekerjaannya," ucap Rea.


"Ya, kalau gitu kamu harus sabar aja nunggu suami kamu sendiri yang ngasih tahu semuanya ke kamu," ucap Kak Ray.


Beberapa saat kemudian, Rea dan Kak Ray pun sampai di rumah. Mereka berdua segera masuk ke dalam rumah dan ternyata di dalam ruang tamu terdapat seluruh anggota keluarganya sudah di sana dan saling mengobrol sambil menonton televisi.


"Kak Rea!" panggil Gia dan memeluk Rea.


"Aduh, adek Kakak makin tembem aja nih pipi," ucap Rea.


"Tapi, tetep cantik kan Kak?" tanya Gia.


"Cantik dong, tali ke ih cantikan Kakak," ucap Rea.


Rea pun menghampiri Ayah Argi dan Bunda Nara lalu memeluk dan mencium kedua orang yang sangat ia sayangi itu, "Kamu baik-baik aja kan selama di sana?" tanya Bunda Nara.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Rea di sana baik-baik aja Bunda," ucap Rea.


Setelah itu, Rea menghampiri Kak Inez dan memeluk tak lupa Rea juga mencium pipi tembam keponakan kesayangannya itu, "Aduh! anaknya aunty udah besar ya padahal baru ditinggal satu Minggu loh, tapi pipinya udah kayak bakpao aja sih," ucap Rea, dengan gemas dan mengecup pipi bayi tersebut.


"Kak Rea jangan kenceng-kenceng lihat tuh Kaif kan kasihan, pasti Kaif sekarang lagi ngebatin kok bisa dia punya Tante kayak Kak Rea," ucap Gia.


"Heh, aunty bukan tante, Kakak gak tua-tua banget ya," ucap Rea.


"Hehehehe." Gia hanya mampu menunjukkan deretan giginya.


"Re, katanya kamu mau keluar sama Mama Dira ya?" tanya Bunda Nara.


"Oh iya, Ma. Tapi besok soalnya Mama Dira suruh Rea istirahat dulu," ucap Rea dan diangguki Bunda Nara.


"Kamu gak mau tinggal di rumah keluarga suami kamu atau tinggal di rumah dinas suami kamu?" tanya Ayah Argi.


"Sebenarnya Rea sih mau-mau aja, tapi ya kok kayak gimana gitu, Yah. Jadi, Rea milih buat tinggal di sana kalau Rea udah ketemu suami Rea aja. Lagian Mama Dira dan Papa Aldi juga nyaranin nya gitu kok," ucap Rea.


"Ya, kalua emang kayak gitu sih, ya ayah gak bisa ngapa-ngapain," ucap Ayah Argi.


"Iya Bunda, tapi bentar lagi ya. Rea masih pengen main sama si gemesin ini," ucap Rea dan memeluk Kaif yang berada di pangkuannya.


"Makanya kalau Kak Rea mau punya kayak Kaif, kamu harus cepet suruh suami Kakak buat pulang dan buat deh," ucap Gia.


"Heh! mulutnya tahu darimana kayak gituan?" tanya Kak Ray.


"Hehehehe, kan di biologi di jelasin Kak," ucap Gia.


"Ada-ada aja," ucap Rea.


Saat hari mulai gelap, barulah Rea memberikan Kaif pada orangtuanya dan ia pamit untuk membersihkan dirinya tak lupa Rea juga mengistirahatkan tubuhnya. Rea menatap ponselnya dan berharap mendapat balasan dari sang suami. Ya, Rea sempat mengirim pesan jika ia sudah sampai di rumahnya.


"Ish, kenapa gak di bales sih," gumam Rea.


Karena menunggu lama tanpa terasa matanya pun mulai memberat dan Rea perlahan-lahan mulai menutup matanya dan terlelap.

__ADS_1


Pagi harinya Rea merasakan sesuatu menimpa tubuhnya dan dengan malas Rea pun membuka matanya. Rea mendengus kesal saat mendapati adik satu-satunya yang berada di sebelah dan tak lupa seorang bayi berada di atasnya. Dengan cekatan Rea pun mengambil alih bayi tersebut.


"Kak Gia ya yang udah jahil bawa si gemesin ke sini hem," ucap Rea dan mengecup wajah Kaif dengan gemas.


"Ish, Kak Rea jorok. Kak Rea jangan cium-cium Kaif, Kak Rea belum mandi jadi bau tahu. Ayo sini karena sama Kak Gia yang cantik, jangan mau sama Kak Rea yang bau ya," ucap Gia.


"Ck, kamu tuh ganggu banget tahu gak, Kakak itu lagi mengarungi mimpi inda eh malah kamu ganggu," ucap Rea.


"Sebenarnya Gia mau ngasih tahu Kakak kalau Mama Dira udah ada di bawah, tapi kalau Kak Rea mau lanjutin tidurnya juga gak masalah kok," ucap Gia.


Ucapan Gia tentunya membuat Rea terkejut dan Rea benar-benar tersadar dari rasa kantuknya, "Kok Mama Dira udah sampe sih," gumam Rea, yang masih dapat di dengar Gia.


"Yeeeeh, Kak Rea nya aja yang terlambat bangun lihat jam deh kak," ucap Gia.


Rea pun menatap dinding dan melihat jam yang tertera di dinding kamarnya, "Hah! jam 10, padahal kan Kakak janjiannya jam 9," ucap Rea.


"Iya, Mama Dira itu udah nunggu Kakak daritadi," ucap Gia.


"Mampus, kayaknya bentar lagi Kakak gak dianggap mantu lagi deh," ucap Rea, dengan panik dan berlari menuju kamar mandi.


Gia yang melihat Kakaknya panik pun tertawa kencang, "Astaga Kak Rea. Kaif nanti jangan cari istri kayak Kak Rea ya, nanti yang ada kamu kena mental lagi," ucap Gia, lalu pergi dari kamar Rea.


Beberapa saat kemudian, Rea pun selesai dengan persiapannya dan setelah itu ia keluar dari kamar menuju ruang tamu dan Rea dapat melihat Mama Dira yang tengah mengobrol dengan Bunda Nara. Rea menghampiri mereka berdua dengan wajah tertunduk malu, kalau Bunda Nara mungkin sudah tahu bagaimana Rea jika hari libur, tapi ini Mama Dira yang tahu dan membuat Rea malu.


"Aduh, anak perawan udah bangun ya," sindir Bunda Nara.


Rea tidak mempedulikan sindiran Bunda Nara dan menyalimi Mama Dira, "Maafin Rea ya, Ma. Rea telat bangunnya," ucap Rea.


"Iya, sayang gapapa kok Mama ngerti," ucap Mama Dira.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2