Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Rumah Dinas


__ADS_3

Tak terasa saat ini Alan dan Rea sudah bersiap-siap untuk pindah ke rumah dinas setelah berada di rumah keluarga Dhananjaya selama dua Minggu, "Kamu bawa baju kamu semuanya?" tanya Mama Dira.


"Gak kok, Ma. Rea cuma bawa beberapa aja kan nanti Rea bakal nginep di sini juga sesekali," ucap Rea dan diangguki Mama Dira.


"Yaudah, kalau gitu kamu makan dulu," ucap Mama Dira.


Rea dan Mama Dira pun keluar dari kamar dan menuju meja makan, "Udah siap semuanya, Re?" tanya Papa Aldi, yang sudah duduk di kursi yang ada di meja makan.


"Udah kok, Pa," ucap Rea.


"Alan mana?" tanya Mama Dira.


"Alan tadi sih lagi nyiapin mobilnya," ucap Papa Aldi.


Beberapa saat kemudian, Alan pun datang. "Udah selesai siapin mobilnya?" tanya Papa Aldi dan diangguki Alan.


"Kenapa gak satu Minggu lagi sih, kak? kan Dea belum puas ngobrol sama kak Rea," tanya Dea.


"Kan kakak udah nikah jadi harus mandiri dong, terus kakak kan juga udah di kasih rumah jadi harus di manfaatin," ucap Mama Dira dan membuat Dea cemberut.


"Nanti kapan-kapan kakak bakal ke sini mampir kok atau gak kapan-kapan Dea yang ke rumah," ucap Rea.


"Beneran kak?" tanya Dea dan diangguki Rea.


"Oke deh kalau gitu," ucap Dea.


Mereka pun akhirnya menikmati makan siang hari ini dan setelah itu Alan dan Rea pun berpamitan pada Papa Aldi, Mama Dira dan Dea dengan penuh haru tentunya apalagi Mama Dira dan Dea yang belum juga Rea pamitan sudah menangis.


"Kamu pokoknya harus sering-sering kabarin Mama loh ya," ucap mama Dira.


"Iya, Ma," ucap Rea.


Akhirnya setelah drama yang cukup menguras tenaga, Alan dan Rea saat ini sudah berada di mobil dan mulai mengendarai mobilnya menuju rumah dinas, "Emangnya jauh ya rumahnya?" tanya Rea.


"Gak terlalu sih, nanti kalau kamu mau kerja. Kamu bisa pake mobil ini aja," ucap Alan.


"Terus kamu?" tanya Rea.


"Kan aku ada kendaraan dinas di sana," ucap Alan.


"Emang rumah dinasnya luas ya?' tanya Rea.


"Gak terlalu luas kok, tapi ya cukuplah buat beberapa kendaraan," ucap Alan dan diangguki Rea.


Akhirnya mereka berdua pun memasuki area perumahan, "Kok ada nama tim gitu?" tanya Rea.


"Iya, jadi di sini perumahannya itu di bagi sesuai tim. Kamu lihat kan tadi ada tulisan tim 9 nah itu artinya daerah perumahan ini di tempati sama anggota tim 9," ucap Alan.


"Kamu doang dong berarti, kan yang lainnya masih di daerah perbatasan?" tanya Rea.

__ADS_1


"Ya, gitu deh. Tapi, kadang ada anggota keluarga juga kok yang mampir ke rumah mereka buat cek gitu," ucap Alan dan diangguki Rea.


Alan dan Rea pun sampai di depan rumah dinas, "Bagus ya rumahnya sederhana gitu," ucap Rea dan diangguki Alan.


Alan dan Rea pun keluar dari mobil, "Kapten Alan," sapa seorang pria dengan seragam tentara yang sudah pasti jika dia juga tentara seperti Alan.


"Sersan Zein," sapa Alan.


"Kapten Alan, batu pindahan ke rumah dinas ya?" tanya sersan Zein.


"Ya, begitulah sersan, sersan sedang bertugas ya?" tanya Alan.


"Iya, saya bertugas di tim 7, 8, sama 9," ucap sersan Zein dan diangguki Alan.


"Maaf kapten Alan, kalau boleh tahu siapa perempuan di sebelah kapten Alan ya?" tanya sersan Zein.


"Biasalah sersan nyonya," ucap Alan.


"Wah, cantik kapten," ucap sersan Zein dan Rea sendiri hanya tersenyum canggung.


"Kalau begitu saya permisi kapten," pamit sersan Zein, lalu pergi meninggalkan Alan dan Rea.


"Dia anggota tim kamu juga?" tanya Rea.


"Bukan, dia itu lagi jaga di area perumahan, tapi dia juga ketua di divisi terbaruku," ucap Alan dan diangguki Rea.


"Ayo masuk," ajak Alan.


"Bagus banget, ini emang udah dari sananya atau kamu yang atur sendiri?" tanya Rea.


"Ini semua Mama uang atur, setelah aku nikah aku pernah bilang kalau aku akan tinggal di rumah dinas dan karena itu Mama yang urus semuanya. Aku aja baru tahu kalau hasilnya seperti ini," ucap Alan.


"Kamu suka?" tanya Alan.


"Sangat, rumahnya bikin tenang, terus juga rumahnya sederhana gitu buat kita yang cuma berdua" ucap Rea.


"Nanti kalau kita udah punya baby baru kita tinggal di apartemen aku," ucap Alan.


"Emangnya kenapa kita gak langsung pindah ke apartemen kamu aja?" tanya Rea.


"Apartemen aku itu nanti kalau udah ada baby dan lagian untuk sekarang apartemen aku lagi di renovasi biar nanti bisa kita tempati gak hanya berdua, tapi sama anak-anak juga," ucap Alan.


"Sebenarnya aku punya rumah, tapi aku gak pengen aja nempatin rumah itu gak tahu kenapa," lanjut Alan.


"Gapapa, kita di sini aja dulu. Lagian kita kan juga harus mandiri dulu," ucap Rea.


Alan dan Rea pun merapikan barang-barang yang tadi ia bawa dari rumah keluarga Dhananjaya, "Oh iya, di sini belum ada bahan makanan. Setelah semuanya beres kamu mau beli atau gimana?" tanya Alan.


"Boleh, nanti setelah ini beres kita beli bahan makanan," ucap Rea.

__ADS_1


Mereka pun kembali ke aktifitas mereka yaitu merapikan barang-barang mereka hingga semuanya selesai barulah mereka mengistirahatkan tubuh mereka, Alan berbaring di lantai sedangkan Rea berbaring di sofa.


"Capek," gumam Rea, yang masih dapat di dengar Alan.


"Kamu laper gak?" tanya Rea.


"Ya, lumayan sih," ucap Alan.


"Mau belanja sekarang?" tanya Rea.


"Boleh," ucap Alan.


"Yaudah, aku siap-siap bentar," ucap Rea.


Setelah siap Alan dan Rea pun kembali masuk ke dalam mobil, "Kita belanjanya dia supermarket yang agak jauh aja ya soalnya kalau minimarket yang deket sini setahuku belum terlalu lengkap," ucap Alan.


"Iya, gapapa nanti kapan-kapan lah aku coba cek-cek ada apa di minimarket deket rumah," ucap Rea.


Alan dan Rea pun sampai di tempat tujuan dan segera membeli bahan makanan serta beberapa peralatan rumah tangga yang sekira tidak ada di rumah. Setelah itu, mereka memutuskan untuk jalan-jalan ke taman yang ada di area rumah dinas.


"Kalau disini emang sepi banget ya?" tanya Rea.


"Ya, kadang sepi kadang gak, kalau para anggotanya lagi tugas ya sepi, tapi kalau mereka pulang ya pasti rame kok bahkan bisa seharian rumah itu rame," ucap Alan.


"Berarti banyak yang tugas ya soalnya sepi," ucap Rea dan diangguki Alan.


"Kamu suatu hari nanti bisa ditugaskan juga gak ke daerah terpencil atau daerah perbatasan kayak dulu?" tanya Rea.


"Ya, aku gak tahu kalau soal itu karena semua itu kan di pilih sama atasan," ucap Alan.


"Tapi, kalau seandainya ada keluarga yan nentang gitu gimana? kamu tetep pergi?" tanya Rea.


"Ya, itu udah tanggungjawab aku, kalau ada anggota keluargaku yang gak setuju ya itu tugasku buat bujuk," ucap Alan.


"Kenapa emangnya kamu gak setuju kalau aku ditugaskan ke daerah-daerah kayak gitu?" tanya Alan dan diangguki Rea.


Alan pun segera membawa Rea ke dalam pelukannya, "Aku gak tahu gimana caranya buat nenangin kamu, yang jelas aku punya kewajiban selain kamu yaitu tugasku sebagai prajurit, aku gak bisa janji apa-apa yang jelas aku akan berusaha untuk bertahan dan kembali," ucap Alan.


"Tapi, aku takut," cicit Rea.


"Gak perlu takut sayang, lagian ini juga kalau aku ditugaskan," ucap Alan.


Rea membalas pelukan hangat Alan, rasanya ia tidak rela jika suatu saat nanti Alan harus pergi meninggalkannya karena tugas yang di berikan padanya.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2