Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
S2 - Rahasia?


__ADS_3

"Kak Noah yakin ini tempatnya?" tanya Lea.


"Iya, dengan kamu ada ditempat itu. Kamu bisa lihat banyak binatang," ucap Noah.


"Tapi, aku takut ketinggian," ucap Lea.


"Gapapa, ada aku kok. Lagian gak terlalu tinggi," ucap Noah dan menggenggam tangan Lea.


"Ayo," ajak Noah.


Noah dan Lea pun naik ke sebuah rumah pohon yang Baisa digunakan untuk melihat sekeliling hutan, tidak terlalu tinggi. Tapi, mereka dapat melihat sekeliling hutan.


Akhirnya mereka berdua pun sampai di atas rumah pohon tersebut, "Bagaimana? bagus bukan dan gak terlalu tinggi," tanya Noah.


"Iya, tapi aku tetep takut. Nanti kalau tiba-tiba pohonnya tumbang gimana atau gak nanti kayunya rapuh dan tidak gimana?" tanya Lea.


"Gak akan, sekarang kamu bisa ambil video binatang yang ada di hutan," ucap Noah.


"Tapi, mana bisa binatangnya kelihatan?" tanya Lea.


"Kamu coba dulu pake hpku," ucap Noah dan memberikan ponselnya pada Lea.


Lea pun menerima ponsel tersebut dan mulai mengambil beberapa video serta gambar para binatang untuk hukuman anehnya.


"Wah, lihat kak ada rusa," ucap Lea, dengan semangat saat mengambil gambar.


"Kelihatan bukan binatangnya," ucap Noah.


"Iya kak, kelihatan binatangnya. Wah, ponsel kakak bagus ya bahkan Lea bisa lihat binatangnya dari jauh," ucap Lea.


"Kamu sudah pernah aku belikan ponsel seperti ini kan kenapa gak dipakai?" tanya Noah.


"Hehehe, sayang kak kalau Lea ganti yang kak Noah kasih soalnya yang ini masih bagus, kalau yang ini rusak baru Lea pakai hp yang dikasih kak Noah," ucap Lea.


"Terserah kamu," ucap Noah.


"Kak Noah sering ke sini?" tanya Lea.


"Bukan aku, tapi tentara yang lain," ucap Noah.


"Terus kenapa kok sekarang gak ada tentaranya?" tanya Lea.


"Mungkin mereka istirahat karena yang jaga di sini tidak 24 jam, mereka akan di sini dari pukul 7 pagi sampai pukul 2 siang dan setelah itu gak ada yang jaga di sini," ucap Noah dan diangguki Lea.


Beberapa saat kemudian, Lea masih mengambil beberapa video serta gambar binatang dan saat di rasa cukup. Lea pun mengirim video serta foto yang ia ambil tadi ke ponsel miliknya sendiri dan setelah semuanya selesai Lea memberikan ponsel milik Noah pada Noah tentunya.


"Ini kak, makasih ya kak," ucap Lea.

__ADS_1


"Sudah?" tanya Noah dan diangguki Lea.


"Udah kok kak," ucap Lea.


"Yaudah, kalau gitu sekarang kita balik ke asrama, hari udah mulai gelap takutnya nanti di tengah jalan ada binatang," ucap Noah.


"Iya kak," ucap Lea.


Baru saja Lea berdiri tiba-tiba petir pun terlihat dan geledek pun mulai terdengar dan itu cukup mengerikan bagi Lea, Lea sampai terduduk karenanya dan ia juga menutup telinganya karena memang salah satu ketakutan Lea selain, ketinggalan dan kegelapan adalah petir dan geledek.


Beberapa saat kemudian, hujan pun mulai deras dan petir serta geledek mulai bersahut-sahutan seolah saling menyapa diantara hujan.


Noah yang melihat Lea ketakutan pun langsung menarik Lea kedalam pelukannya, Noah tau jika Lea takut dengan petir dan geledek karena memang ayah Alan pernah mengatakannya dan sejak kecil pun Noah pernah melihat secara langsung bagaimana ketakutan Lea.


"Udah gak usah takut, masih ada aku," bisik Noah, yang mencoba menenangkan Lea.


"Takut kak," ucap Lea, yang berada di hadapannya.


"Gak usah takut, ada aku kok dan gak akan terjadi apa-apa," ucap Noah.


Saat tengah memeluk Lea suara HT pun menyala dan terdengar suara Tian yang menanyakan keadaannya, "Bagaimana keadaan lo sama Lea?" tanya Tian.


"Semuanya aman, kayaknya kita berdua akan di sini sampai hujan reda. Gue gak mungkin balik saya Lea takut," ucap Noah.


"Oke, kalau emang nanti lo gak bisa balik atau butuh bantuan, lo tinggal hubungi kita aja," ucap Tian.


" disini juga sama aja hujan deras bahkan air mulai menggenangi lapangan," ucap Tian.


"Gue serahin semuanya sama lo, nanti setelah hujannya reda gue balik," ucap Noah dan mematikan sambungan telepon tersebut.


Ya, memang Noah tadi sempat mengabari anggotanya jika ia akan menemani Lea untuk mengambil video di hutan karena memang tadi pelatihan juga sudah selesai sehingga Noah bisa menemani Lea dan ia tidak meninggalkan tugasnya sebagai ketua pelaksana.


"Kenapa kak?" tanya Lea, yang berada di pelukan sang suami.


"Gak kenapa-napa kok, kamu masih takut?" tanya Noah.


"Iya kak," gumam Lea dan Noah semakin mengeratkan pelukannya.


"Udah ya, kamu gak usah takut," ucap Noah.


"Tapi, kak ini udah mau malam dan sekarang juga hari mulai gelap, gimana kita baliknya," ucap Lea.


"Kalua hujan masih belum reda, kita di sini saja sampai hujan reda dan setelah itu kita balik ke asrama," ucap Noah.


"Tapi, videonya gimana? nanti kalau pak Anton marah terus Lea di kasih penilaian yang jelek untuk Lea gimana?" tanya Lea, dengan segala ketakutannya.


"Kalaupun kamu di pecat, kamu gak akan miskin. Masih ada aku yang bisa menafkahi kamu," ucap Noah.

__ADS_1


"Kak Noah," rengek Lea.


"Tapi, emang bener kan apa yang aku bicarain tadi kalau aku bisa nafkahin kamu bahkan lebih besar daripada gaji kamu di kantor," ucap Noah.


"Ish, kak Noah mah. Lea tahu itu, tapi kan Lea udah seneng sama pekerjaan Lea, jadi Lea gak pengen dipecat atau berhenti. Apalagi perjuangan Lea buat ada di posisi sekarang ini gak mudah, ya kecuali...," ucap Lea dan menggantungkan kata terakhirnya.


"Kecuali, kecuali apa?" tanya Noah.


"Kecuali kalau Lea udah punya anak," ucap Lea dan tersipu malu lalu menyembunyikan wajahnya pada dada bidang suaminya itu.


Noah pun tersenyum tipis melihat Lea yang malu setelah mengucapkan hal tersebut, "Kenapa emangnya kok berhenti kerja kalau udah punya anak?" tanya Noah dan mengusap lembut punggung Lea.


"Ya, karena Lea mau fokus untuk tumbuh kembang anak Lea nanti, terus ya nanti Lea juga mau ngurus sendiri anaknya Lea tanpa bantuan baby sitter," ucap Lea.


"Kalau kamu berhenti, sayang dong dengan usaha kamu buat jadi jurnalis," ucap Noah.


"Ya, gapapa juga sih kak. Itu kan keputusan yang memang Lea ambil buat Lea dan juga buat anaknya Lea nantinya," ucap Lea.


"Anak kita sayang," ucap Noah dan mencubit pelan hidung Lea.


"Hehehehe, iya kak. Itu maksudnya Lea," ucap Lea dan berusaha menyembunyikan salah tingkahnya.


"Le," panggil Noah.


"Iya, kenapa kak?" tanya Lea.


"Kamu mau tau sebuah rahasia?" tanya Noah.


"Rahasia? rahasianya siapa?" tanya Lea.


"Rahasia seseorang," ucap Noah.


"Orang itu siapa?" tanya Lea.


"Aku," ucap Noah dan membuat Lea terkejut karena ini adalah pertama kalinya Noah mau terbuka dengan Lea.


"Emang apa rahasianya, kak?" tanya Lea, ia sudah tidak sabar ingin tau apa rahasia yang dimiliki tentara tampannya itu.


"Tapi, kamu janji jangan bilang ke siapa-siapa soal rahasia ini," ucap Noah.


"Iya, janji. Lea gak bakal ngasih tau sama siapapun rahasia ini," ucap Lea.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2