Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Qilla Ada Masalah?


__ADS_3

Setelah mengobrol dengan Andriani, Rea pun untuk langsung menuju rumah sakit karena, "Darimana lo Re?" tanya Nina, saat berpapasan dengan Rea di lobby rumah sakit.


"Oh ini aku tadi habis ngobrol sebentar sama mantan pasienku," ucap Rea.


"Lo gak ada pasien lagi?" tanya Nina.


"Ada, tapi nanti siang kalau pagi gak ada," ucap Rea dan diangguki Nina.


"Yaudah kalau gitu gue duluan deh ya," ucap Nina.


"Iya, hati-hati ya, Na," ucap Rea.


sambil menunggu Rea memutuskan untuk bersantai sebentar di ruang istirahat karena sebenarnya Rea sudah mulai merasa lelah apalagi ia habis jalan padahal Rea jalan cuma beberapa menit saja, tapi Rea sudah merasa lelah.


"Kok capek banget ya," gumam Rea.


"Lama banget gue gak pernah istirahat di sini, gue kira gak ada yang istirahat di sini tenyata masih ada yang nginep di sini," lanjut Rea.


"Loh dokter Rea di sini," ucap salah satu perawat.


"Eh, iya," ucap Rea.


"Tumben banget dokter Rea ada di sini," ucap perawat tersebut.


"Biasalah pengen istirahat," ucap Rea.


"Pasti dokter Rea Rea sering banget ngerasa lelah ya apalagi kandungan dokter Rea juga udah besar," ucapnya.


"Ya begitulah," ucap Rea.


"Dok, saya permisi pamit duluan ya," ucapnya dan diangguki Rea.


Rea cukup malas menanggapi perempuan tadi karena dia adalah salah satu orang yang sempat menuduh Rea dulu meskipun ia tidak terlibat dalam tim dokter Shinta, tapi tetap saja Rea masih ingat betul bagaimana sikap dia dulu. Selain itu, juga karena dia hanya mendapatkan surat peringatan berbeda dengan lainnya yang langsung di keluarkan atau di pindahkan, hal itu karena perempuan tersebut masih memiliki hubungan keluarga dengan pemilik rumah sakit.


Setelah perawat tersebut pergi barulah Rea dapat membaringkan tubuhnya ke salah satu kasur yang memang tersedia di ruangan tersebut, kasur yang ia gunakan terdapat dua yaitu bagian atas dan bawah dan Rea memilih bawah karena ia pasti kesusahan jika harus memilih kasur yang atas. Baru saja Rea memejamkan matanya tiba-tiba beberapa tenaga medis masuk ke ruangan tersebut dan sepertinya mereka tidak mengetahui keberadaan Rea karena memang posisi Rea saya ini terlentang dan di tutupi oleh beberapa selimut yang berada di kasur atas yang hampir jatuh.


Saat Rea akan membenarkan selimut yang menutupinya agar Rea dapat melihat siapa yang masuk, tapi gerakannya terhenti saat ia mendengar apa yang mereka bicarakan, "Kalian tahu gak sih kemarin itu dokter Qilla nginep di sini, kayaknya dokter Qilla lagi ada masalah deh," ucap perempuan pertama.


"Loh masa sih, mungkin aja dokter Qilla cuma pengen nginep di sini," ucap perempuan kedua.


"Masa sih, orang nih ya kemarin itu dokter Qilla sampe nangis waktu kesininya, fix pasti dokter Qilla ada masalah," ucap perempuan pertama.

__ADS_1


"Orang kayak dokter Qilla anda punya masalah sih, nih ya orang tadi aja dokter Qilla masih sempat ketawa bahan sampe cerita heboh gitu kayak gak sedih sama sekali," ucap perempuan ketiga.


"Kadang orang yang ketawanya paling kenceng, dia itu orang yang masalah hidupnya paling banyak. Mungkin aja dokter Qilla sengaja ngelakuin hal itu supaya gak ada yang curiga dan gak ada yang tahu kalau dokter Qilla lagi ada masalah," ucap perempuan pertama.


"Dokter Rea sama dokter Nina tahu gak ya?" tanya perempuan ketiga.


"Kayaknya gak deh, apalagi sekarang dokter Rea kan lagi hamil mungkin aja dokter Qilla gak mau nambah beban pikiran ke dokter Rea takut bayinya kenapa-napa," ucap perempuan pertama.


"Kasihan ya dokter Qilla," ucap perempuan kedua.


"Kasihan sih, tapi gue juga gak tahu pasti loh ya kebenarannya. Gue cuma tahu karena kemarin kan gue jaga malam tuh nah terus gue lihat dokter Qilla yang nangis gitu di ruangan ini," ucap perempuan pertama.


"Apa ya kira-kira masalah yang di alami dokter Qilla? masalah ekonomi kayak kita kah? tapi kayaknya gak deh orang dokter Qilla kan kaya, terus apa dong? kehidupan dokter Qilla itu menurut gue sempurna," tanya perempuan ketiga.


"Gak ada yang tahu gimana hidup seseorang, jaman sekarang banyak orang yang pake topeng untuk menutupi masalah yang mereka hadapi," ucap perempuan pertama.


"Udah ah kita ke kantin aja yuk, mumpung hari ini gue lumayan sepi," ajak perempuan kedua.


"Yaudah ayo," ucap perempuan ketiga.


Ketiga perempuan tersebut pun pergi dari ruangan dan membuat Rea bisa bernapas lega, lalu ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang, "Qilla ada masalah? tapi masalah apa? kenapa gue gak tahu? gue harus temuin Qilla sekarang dan minta penjelasan sama dia," tanya Rea dan berdiri lalu keluar dari ruangan tersebut.


Cukup lama Rea mencari keberadaan Qilla, tapi tetap ia tidak dapat menemukan Qilla, "Pandu," panggil Rea.


"Hem, kamu lihat dokter Qilla gak?" tanya Rea.


"Loh, bukannya dokter Qilla izin ya hari ini," ucap Pandu.


"Hah, izin? Izin kenapa?" tanya Rea.


"Saya juga kurang tahu pasti, tapi setelah pasien kedua tadi tiba-tiba ada yang nelpon dokter Qilla dan dokter Qilla langsung nutup jadwal praktek dan meminta izin," ucap Pandu.


"Kok gue gak tahu, Emangnya dokter Qilla udah lama perginya?" tanya Rea.


"Ya lumayan sih, mungkin ada satu jam-an dok," ucap Pandu.


"Oalah oke deh kalau gitu makasih ya Pandu," ucap Rea dan diangguki Pandu.


"Berarti Qilla pergi waktu gue keluar sama Andriani dong, Qilla ada masalah apa ya," gumam Rea.


Sebenarnya Rea ingin sekali mencari tahu keberadaan Rea, tapi karena saat ini waktunya untuk buka praktek akhirnya Rea pun mengurungkan niatnya.

__ADS_1


.


"Sayang, udah gak ada yang ketinggalan?" tanya Alan, saat Rea baru saja masuk ke dalam mobil.


"Sudah, Mas," ucap Rea.


"Yaudah, kalau gitu kita pulang ya," ucap Alan dan diangguki Rea.


Saat ini Rea sudah berada di rumah bersama Alan tentunya karena setelah menjemput Rea tadi, Alan langsung kembali ke tempat latihan karena ada beberapa hal yang harus ia urus. Rea sendiri sudah membersihkan tubuhnya dan saat ini Alan yang tengah membersihkan tubuhnya. Sambil menunggu Alan, Rea pun menyiapkan beberapa makanan karena ia yakin Alan pasti lapar.


"Mau masak apa ya?" tanya Rea, pada dirinya sendiri.


Ia pun membuka kulkas, tapi ternyata bahan makanan sudah habis dan hanya tersisa telur dan sayur-sayuran, "Lupa kan kemarin bahan makanannya udah di pake semuanya terus lupa belum beli, buat nasi goreng aja lah untung tadi udah buat nasi," ucap Rea dan Rea pun mulai melakukan kegiatan masak memasaknya.


Semua makanan selesai bertepatan dengan Alan yang keluar dari kamar mandi, "Hem harumnya," ucap Alan dan duduk di kursi meja makan.


"Iya dong, kan aku yang masak, tapi hari ini nasi goreng dulu gapapakan ya?" tanya Rea.


"Gapapa sayang, apapun yang kamu masak aku bakal makan kok. Yang penting kamu yang buat," ucap Alan.


"Ish, gombal, kalau seandainya makanan buatanku ternyata rasanya asin banget masa kamu mau makan sih," ucap Rea.


"Iya sayang, apapun yang kamu masak pasti bakal aku makan kalau bisa kamu sekalian aku makan," ucap Alan.


"Halah, yaudah kalau gitu kapan-kapan aku masak yang asin buat kamu," ucap Rea.


"Gemes banget sama Bunda," ucap Alan dan mencubit pelan pipi tembam Rea.


"Jangan cubit-cubit sakit tahu pipiku," ucap Rea.


"Eh, iya sayang maaf ya habisnya gemes banget," ucap Alan.


"Yaudah kalau gitu kita makan," ucap Rea.


Mereka pun mulai makan dengan tenang dan selesai makan mereka pun memutuskan untuk bersantai di ruang tamu dengan posisi Alan berada di belakang Rea dan memeluk Rea dan mengusap lembut perut Rea yang berada di depannya tak lupa mereka juga menonton salah satu tayangan televisi.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2