
revisi -
#
"Ayo Nina pergi!" ajak Rea.
"Gue masih mau di sini, Re. Sayang banget kalau gue pergi," ucap Nina.
"Huh, nih anak ya, yaudah kalau gitu gue tinggal," ucap Rea, lalu berjalan meninggalkan Nina.
"Rea!" pekik Nina.
Baru saja Rea berjalan beberapa langkah Nina sudah memanggil namanya dengan cukup keras yang membuat beberapa orang di sana melihat ke arah mereka berdua. Rea benar-benar ingin memakan sahabatnya itu, bagaimana tidak karena Nina saat ini mereka menjadi pusat perhatian di sana. Rea dengan cepat pergi meninggalkan Nina, tidak peduli dengan tatapan semua orang yang ada di sana.
"Rea! tungguin gue!' teriak Nina dan berlari mengejar Rea.
"Jangan keras-keras napa kalau manggil," bisik Rea, saat Nina sudah berada di sampingnya.
"Hehehehe, maaplah," ucap Nina.
Disisi lain Alan yang baru saja akan membuka pakaiannya tiba-tiba dikejutkan dengan teriakan seorang perempuan yang memanggil nama yang tidak asing baginya yaitu nama istrinya, dengan cepat Alan pun menatap Rea yang menunduk malu di sana. Setelah itu Rea berlari meninggalkan perempuan yang berada di sampingnya yang mungkin rekan sesama dokter.
Alan hanya tersenyum melihatnya, Alan ingin sekali mengatakan jika dirinya adalah suaminya, tapi ia takut jika Rea terkejut dan justru menjauhinya.
"Tapi, ngomong-ngomong siapa cewek yang tadi pake baju putih itu?" tanya Ryan.
"Kenapa lo tanya itu?' tanya Alan. Ia sangat tidak suka dengan pertanyaan dari Ryan.
"Ya, gapapa gue cuma tanya aja soalnya dia cantik banget," ucap Ryan.
"Oh, namanya itu dokter Rea. Dia yang tadi telat dateng nya," ucap Raka.
"Dia udah ke lo, Lan?" tanya Alvin.
"Belum, mungkin nanti setelah dia ke desa baru ngisi daftar hadir," ucap Alan.
__ADS_1
"Tumben banget lo gak tegur dia. Biasanya kalau ada yang telat dikit aja langsung lo tegur," ucap Alvin.
Alan hanya menatap Alvin tanpa mau merespon perkataan Alvin dan Alvin hanya dapat mengelus dadanya untuk sabar menghadapi sikap Alan yang kelewat cuek dan dingin. Meskipun begitu Alvin tahu jika Alan merupakan sahabat yang peduli karena apapun yang dihadapi oleh Alvin, Ryan, Alan selalu ada di barisan terdepan untuk membantu dan tak sungkan untuk menanyakannya terlebih dahulu. Bukan hanya pada mereka, tapi juga pada anggota timnya.
"Tapi, nih ya gue aku denger-denger kalau dokter Rea itu belum punya pacar bahkan ada beberapa dokter yang deketin, tapi katanya di tolak," ucap Raka.
"Lo kata siapa?" tanya Ryan.
"Kan sepupuku kerja di rumah sakit yang sama kayak dokter Rea," ucap Raka.
"Jadi apa sepupu lo kok sampe tahu gitu soal dokter Rea?" tanya Ryan.
"Dia jadi perawat sih, tapi katanya tuh dokter Rea salah satu dokter yang terkenal di rumah sakit dan hampir semua tenaga medis di sana tahu siapa dokter Rea," ucap Raka.
"Kayaknya gue bisa kali ya deketin dokter Rea, secara kan gue juga ganteng," ucap Ryan.
"Kayaknya lo gak bakal bisa deketin dokter Rea deh," ucap Alvin.
"Lah kenapa sih, lo pasti gak suka ya kalau gue punya pacar," ucap Ryan.
"Gak, bukan gue. Tapi, orang lain dan gue saranin buat lo gak deketin dokter Rea atau kalau gak hidup lo gak aman," ucap Alvin.
"Siapa orang yang mau ngehalangin gue?" tanya Ryan.
Semoga saran dari Alvin digunakan oleh Ryan kalau tidak Alvin yakin Ryan hanya akan tinggal nama saja.
Ya, Alvin sedari tadi melihat ekspresi Alan saat Ryan membicarakan mengenai Rea bahkan Alvin yang melihat hal tersebut merinding. Alvin rasa ada sesuatu yang Alan sembunyikan dan Alvin berpikir jika akan menyukai Rea.
'Akhirnya lo suka sama perempuan Lan, gue kira lo suka sama salah satu anggota lo,' ucap Alvin dalam hati.
.
Rea, Qilla dan Nina saat ini sedang bersiap untuk menuju desa tempat bencana terjadi, "Nanti kita ke desanya jalan kaki atau naik kendaraan?" tanya Rea.
"Nanti kita pake mobil tentara yang belakangnya terbuka ituloh, ya kali kita jalan kaki. Bisa-bisanya kaki kita lecet pas sampe di sana," ucap Qilla.
"Emangnya jauh banget ya tempatnya?" tanya Nina.
"Ya, lumayan sih. Tadi aja pas dokter Gabby balik dia bilang kalau tempatnya lumayan jauh dan juga jalanan nya rusak," ucap Qilla.
__ADS_1
"Kenapa kita gak di dekat para warga aja ya? kalau kayak gini kan takutnya ada situasi darurat dan kita gak bisa sampe tepat waktu ke sananya?" tanya Rea.
"Mana gue tahu, lo tanya aja langsung sama kapten Alan. Oh iya gue lupa tadi kapten Alan bilang lo suruh ke ruangannya dia soalnya kan lo belum ngisi daftar hadir tadi," ucap Qilla.
"Ck, harus sekarang banget ya. Nanti ajalah selesai meriksa pasien," ucap Rea.
"Gue saranin sekarang aja deh, takutnya nanti kita pulangnya malam lagi terus nanti pasti kita capek deh jadi biar langsung istirahat gitu," ucap Qilla.
"Yaudah, kalau gitu gue ke ruangannya kapten Alan dulu, tapi ruangannya kapten Alan tuh dimana?" tanya Rea, yang sudah memegang gagang pintu.
"Lo tahu bangunan tingkat 2 yang ada di tengah itu gak?" tanya Qilla dan diangguki Rea.
"Nah, disitu ruangannya. Pokoknya nanti lo masukkan terus lo naik ke lantai 2 dan di pintunya ada tulisan kapten Alan gitu," ucap Qilla.
"Anterin dong, gue gak paham," ucap Rea.
"Gak mau ah tadi gue lihat banyak tentara yang masuk ke tempat itu," ucap Qilla.
"Ck, lo mah gitu, La. Na, aku anterin gue," ucap Rea.
"Gak deh, Re. Untuk kali ini gue takut kalau ketemu sama para tentara jodoh gue," ucap Nina.
"Masa gue sendirian sih, gue juga takut," ucap Rea.
"Udah Rea semangat ya, gak usah takut soalnya mereka gak gigit kok nanti kalau mereka gigit lo, lo teriak yang kenceng oke," ucap Qilla.
Mau tidak mau Rea pun akhirnya menuju tempat yang tadi di sebutkan Qilla sendirian, "Kok gue jadi takut gini ya, kalau gue diapa-apain gimana? mana gue belum ketemu sama suami gue lagi. Suami gue marah gak ya kalau gue mati atau dia justru bakal nikah lagi?" tanya Rea, pada dirinya sendiri.
Rea saat ini sudah berada di luar bangunan tersebut dan Rea dapat mendengar suara tawa dari dalam tempat tersebut, "Aduh, gimana dong?" tanya Rea.
Dengan keberanian tinggi, Rea pun mengetuk pintu dan tidak ada yang merespon hingga beberapa kali Rea mengetuk pintu tersebut, tapi lagi-lagi tidak ada yang merespon karena itu Rea pun dengan perlahan membuka pintu tersebut dengan pelan-pelan.
Rea sudah sepenuhnya membuka pintu tersebut dan Rea dapat melihat semua orang yang ada di dalam sana fokus pada dirinya, entahlah Rea tidak tahu harus merespon bagaimana. Ia hanya tersenyum canggung menatap orang-orang yang sejak Rea datang terus menatapnya. Namun, fokus mereka terpecahkan karena ucapan seseorang yang membuat mereka mengalihkan pandangannya dari Rea.
"Mata kalian mau di tusuk pake panah atau langsung ditembak pake pistol?" tanya seorang pria yang berdiri dari posisi tempat duduknya dan menghampiri Rea. Semua anggotanya merinding saat mendengar perkataan Alan yang terlalu menyeramkan untuk dibayangkan.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.