Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
S2 - Syukurlah


__ADS_3

Malam harinya Lea sudah cantik dengan dress selutut berwarna navy dengan bahu terbuka, "Cantik banget anak bunda ini," ucap Rea.


"Bun, ini gak berlebihan ya, masa harus pake dress kayak gini sih," ucap Lea.


"Gak sayang, dress ini bagus banget sama kamu, bunda yakin nanti calon suami kamu pasti bakal suka deh," ucap Rea.


"Ish, bunda mah," ucap Lea.


"Udah siap?" tanya Alan.


"Udah kok, ayo berangkat," ucap Rea.


"Loh, Daisy sama Nial gimana?" tanya Lea.


"Daisy kan lagi ada diklat apa gitu terus Nial kan kalau Senin malam selalu ada latihan dan nginep di asrama," ucap Rea.


"Jadi, ini cuma kita bertiga aja?" tanya Lea dan diangguki Rea.


Mereka bertiga pun menuju salah satu restoran terkenal di di kota, "Calon suami Lea kaya ya kok makannya di restoran mewah?" tanya Lea.


"Ya, bisa di mewah sih, ucap Rea.


Beberapa saat kemudian, mereka bertiga pun sampai di restoran untuk makan malam dan bertemu dengan calon suami Lea, "Mereka udah sampe Mas?" tanya Rea.


"Iya, mereka udah sampe, yaudah ayo kita masuk," ajak Alan dan mereka bertiga pun segera masuk ke dalam restoran mewah tersebut.


"Maaf, kita telat," ucap Alan dan duduk di kursi yang kosong diikuti Rea dan Lea.


"Loh om Albert sama Tante Emma, kok bisa ada di sini?" tanya Lea dan menghampirinya merek berdua lalu memeluk dan menyaliminya setelah itu Lea kembali duduk di kursinya.


"Iya dong, tante kan pengen lihat Lea," ucap Emma.


"Bisa aja tante ini," ucap Lea.


"Noah mana?" tanya Alan.


Pertanyaan sang ayah tentunya membuat tubuh Lea menegang, ia lupa jika kedua orang di hadapannya ini adalah orangtua dari Noah, pria yang selama ini ia kagumi. Hingga lamunannya buyar saya mendengar suara seorang pria yang sangat tidak asing baginya dan Lea pun menatap pria tersebut yang saat ini juga menatapnya, "Maaf, saya telat," ucap pria tersebut dan duduk di kursi yang ada di hadapan Lea sehingga saat ini ke berhadapan dengan pria tersebut yang tak lain adalah Noah.


"Le," panggil Alan.


"I-iya Yah," ucap Lea dan menatap Alan.


"Kamu udah kenalkan sama Noah?" tanya Alan dan diangguki Lea.


"Yaudah, bagus kalau gitu," ucap Alan.


Lea pun mengerutkan keningnya dan menatap sang ayah dengan tanda tanya besar, tapi sang ayah justru cuek dan mengobrol dengan orangtua dari Noah, "Lea," panggil Noah.


"I-iya kak kenapa?" tanya Lea.


"Gapapa, cuma tes telinga aja," ucap Noah.


Jawaban Noah berhasil membuat Lea kesal, tapi tentunya tidak ia tunjukkan karena sejujurnya ke sampai sekarang masih takut dan gugup jika berhadapan dengan Noah entahlah apa alasannya Lea pun tak tau.

__ADS_1


"Yaudah, kita makan dulu ya," ucap Emma dan mereka pun memakan semua hidangan yang telah tersaji di atas meja.


Beberapa saat kemudian, mereka pun selesai makan dan mulai mengobrol, "Oh iya, jadi tujuan kita berada di sini karena ingin membahas mengenai perjodohan Noah dan Lea," ucap Albert.


Ucapan Albert tentunya membuat Lea terkejut, "Maksudnya om Albert apa ya?" tanya Lea.


Ia berusaha untuk berpikir positif mungkin saja Albert salah bicara, "Maksud saya, di sini saya dan keluarga saya ingin membahas mengenai perjodohan antara anak saya Noah dengan kamu Lea," ucap Albert.


"Om Albert kalian bercanda lucu ya, hahahaha," ucap Lea.


"Om tidak bercanda Lea," ucap Albert, dengan serius.


Lea pun menatap sang ayah meminta penjelasan dari ucapan Albert dan berharap apa yang ia dengar tadi adalah sebuah kebohongan.


"Iya sayang, benar apa kata Albert. Di sini kita memang akan membahas mengenai perjodohan kamu dan Noah," ucap Alan.


"Ta-tapi kamu kak Noah udah punya pacar," ucap Lea.


"Saya tidak punya pacar," ucap Noah, dengan wajar datarnya.


"Kamu kan udah nerima perjodohan ini, Le," ucap Rea.


"I-iya sih Bun, tapi Lea gak tau kalau orang yang dijodohin sama Lea itu Ka-kak Alan," ucap Lea.


"Memangnya kenapa kalau saya? kamu tidak mau menerima perjodohan ini?" tanya Noah.


"Bu-bukan gitu maksudnya saya kak, ta...," ucapan Lea terpotong karena emma menyela ucapannya.


"Berarti kamu terima perjodohan ini dong," ucap Emma.


"Syukurlah, kalau begitu kita tentukan saja kapan pernikahan mereka," ucap Emma.


"Katanya Noah akan ada tugas di wilayah konflik sebentar lagi," ucap Alan.


"Iya, om saya akan ditugaskan di wilayah konflik selama 8 bulan," ucap Noah.


"Kapan kamu berangkatnya?" tanya Rea.


"Besok, saya akan berangkat," ucap Noah.


"Kalau begitu gimana kalau pernikahannya kita adakan setelah Noah pulang dari tugasnya?" tanya Alan.


"Lama dong," ucap Emma.


"Gapapa, namanya juga tugas," ucap Albert.


"Hem, yaudah deh. Tapi, Lea gapapakan kalau nunggu Noah pulang?" tanya Emma.


"I-iya Tante gapapa kok," ucap Lea.


"Mulai sekarang panggil Mommy aja ya biar sama kayak Noah lagian kan sebentar lagi kamu bakal jadi menanti Mommy terus kalau manggil om juga manggilnya Daddy oke," ucap Emma.


"Iya, terus Noah juga mulai sekarang manggilnya ayah sama bunda ya biar sama kayak Lea," ucap Rea dan diangguki Noah.

__ADS_1


"Oke, manggilnya Mommy ya sayang," ucap Emma.


"I-iya Tan," ucap Lea.


"Kok Tan sih, Mommy sayang," ucap Emma.


"Eh, i-iya Mom," ucap Lea.


"Yaudah, kalau gitu semuanya akan Mommy urus pernikahan kalian, mulai dari akad dan resepsi untuk urusan kantor. Nanti diurus bertahap sampai Noah pulang," ucap Emma, yang diangguki Noah dan Lea.


Mereka pun terus mengobrol sampai tidak menyadari jika hari mulai gelap, "Udah malem kita pulang ya," ucap Rea.


"Oh iya, sampe lupa kalau udah malam. Gini aja gimana kalau Lea biar diantar Noah," ucap Emma.


"Ga-gak usah Mom, kan Lea pulangnya juga ke rumahnya ayah sama bunda," ucap Lea.


"Gapapa sayang, kamu pulangnya sama Noah aja ya, sekalian biar kalian berdua lebih akrab" ucap Emma.


"Ta-tapi...," ucapan Lea lagi-lagi terpotong, tapi kali ini oleh Noah.


"Yaudah, kalau gitu Noah sama Lea duluan ya Mom, Dad, Yah, Bun," ucap Noah dan menarik tangan Lea hingga sampai d parkiran.


"Masuk," ucap Noah, karena Lea hanya diam di depan mobilnya.


"I-iya kak," ucap Lea dan duduk di kursi depan mobil tersebut tepat berada di samping Noah.


"I-itu kak, Le-Lea gapapa duduk di sini?" tanya Lea.


"Hem," jawab Noah hanya dengan berdehem saja.


Setelah itu, suasana pun hening bahkan Lea dapat mendengar musik jam tangan yang digunakan Noah, "Loh, kak kenapa kita lewat sini? bukannya belok kanan?" tanya Lea.


Noah hanya diam dan terus berkendara bahkan ia tidak melirik Lea sedikitpun, 'Sabar, Le. Kak Noah emang kayak gitu,' ucap Lea, dalam hati.


Beberapa saat kemudian, merek berdua pun sampai di taman ibu kota, taman yang indah penuh dengan lampu bahkan di sana juga cukup ramai, "Turun," ucap Noah.


Lea pun turun dan menuju ke arah Noah yang saat ini tengah berada di depan mobilnya, "Kenapa kita ke sini kak?" tanya Lea lagi dan berharap Noah meresponnya.


"Pengen aja," ucap Noah.


Noah pun membuka jasnya dan memakaikannya pada Lea, "Pakai ini biar gak kedinginan, lagipula saya gak mau calon istri saya dilihat oleh orang-orang," bisik Noah.


'Tuhan bolehkah untuk kali ini Lea baper, Lea gak kuat!' teriak Lea dalam hati.


"Ayo," ajak Noah.


Merek berdua pun mengelilingi taman dan sesekali membeli beberapa cemilan di sana, meskipun begitu tidak ada obrolan sama sekali diantara mereka. Padahal Lea sudah berusaha untuk mengajak Noah mengobrol, tapi ya begitu lagi-lagi Noah hanya menjawabnya dengan singkat, pada dan jelas.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2