Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Pulang Kemana Nih?


__ADS_3

Rea masuk ke dalam rumah sakit dan ia merasa aneh karena semua orang yang ada di sana melihatnya dengan tatapan tidak suka, "Jadi, dia dokter Rea yang katanya kebanggaan rumah sakit," ucap salah satu dari mereka.


Rea mencoba diam dan mengabaikan bisikan-bisikan setan yang terkutuk, ia lebih memilih untuk berjalan menuju ruangannya. Sesampainya di ruangannya Rea dapat melihat Qilla yang sepertinya akan keluar dari ruangan, "La," panggil Rea dan menghampiri Qilla.


Namun, tetap saja tidak di respon oleh Qilla, bahkan Qilla saat ini sudah pergi meninggalkan Rea sendirian di ruangan, Rea hanya mampu menghela napas karena menghadapi sikap Qilla. Selama bersahabat dengan Qilla, ini adalah pertama kalinya ia dan Qilla tidak saling tegur sapa.


Rea pun memutuskan untuk memeriksa beberapa pasiennya yang sudah membuat janji temu dengannya, sedari tadi Rea merasa ada yang tidak beres karena orang yang masuk ke dalam ruang prakteknya selalu menatap tidak suka padanya hingga selesai memeriksa ibu tersebut tetap menatap sinis Rea. Rea mengabaikannya dan saat ibu tersebut menanyakan hal yang membuat Rea terkejut barulah Rea mulai menatap balik ibu tersebut.


"Dokter Rea kalau tidur biasanya berapa per jamnya?" tanya ibu tersebut pada Rea.


"Hah, maksud ibu apa ya saya kurang paham?" tanya Rea.


"dokter Rea lagi hamil kan?" tanyanya.


"Darimana ibu tahu kalau saya lagi hamil?" tanya Rea.


"Seluruh orang rumah sakit juga tahu kalo, dok. Lebih baik sekarang dokter jujur deh sama saya siapa ayah dari anak yang sedang dokter Rea kandung atau dokter Rea sendiri gak tahu ayahnya kalau gitu saya bantu cari ayahnya? dokter Rea tinggal bilang aja dimana dokter Rea menjajahkan tubuh dokter Rea?" tanya ibu tersebut.


Rea benar-benar merasa terhina dengan ucapan dari ibu tersebut, "Maaf ya, Bu. Saya gak pernah melakukan apa yang ibu tuduhkan, saya harap ibu tidak mengatakan hal yang tidak benar seperti itu karena nanti akan timbul fitnah," ucap Rea.


"Alah, dokter Rea gak perlu pura-pura saya tahu kok orang kayak dokter Rea yang luarnya aja baik, tapi ternyata dalamnya juga sama aja busuk. Udah ah saya bakal pindah ke dokter Andi saja, saya tidak mau di periksa sama dokter yang gak punya attitude," ucapnya dan pergi dari ruangan tersebut.


"Apa jangan-jangan semua orang natap gak suka ke gue gara-gara mereka mikir sama kayak ibu tadi?" tanya Rea, pada dirinya sendiri.


"Astaga, Re. Lo gak boleh mikirin kayak gitu lebih baik sekarang lo fokus ke baby," gumam Rea dan mengusap perut ratanya.


Rea benar-benar santai hari ini karena tadi Fafi mengatakan padanya jika beberapa pasien yang sudah membuat janji telah membatalkan janjinya dan telah pindah ke dokter atau rumah sakit lain, Rea menghela napas dan menatap jendela ruang prakteknya dan melihat jalanan yang cukup ramai.


"Kenapa jadi kayak gini? Qilla masih marah sama gue dan sekarang apa lagi banyak banget masalah gue padahal gue lagi hamil," gumam Rea.

__ADS_1


Meskipun tidak ada pasien lagi, Rea tetap berada di ruang praktek karena ditakutkan ada keadaan darurat dan mungkin saja Rea dibutuhkan. Benar saja beberapa saat kemudian, terdengar code blue dan dengan cepat Rea menuju lobby. Namun, sayang keberadaannya seolah tidak diinginkan karena saat Rea berusaha membantu justru orang-orang menghalanginya dan akhirnya Rea mengalah lalu kembali ke ruang prakteknya dengan perasaan campur aduk sedih, marah, kecewa rasanya Rea ingin mendorong mereka semua dari rooftop rumah sakit


"Batu gini aja udah mau nyerah pengen keluar dari rumah sakit, payah lo Re. Lo inget dulu lo mati-matian buat kuliah supaya lo bisa jadi dokter di Daiva General Hospital eh sekarang ada masalah kayak gini malah mau nyerah, lo kayak pengecut tau gak berusaha ngehindar dari masalah yang dihadapi," gumam Rea.


"Rea, semangat lo bisa. Lo kuat gak usah di dengerin omongan orang yang gak bener tentang lo, cukup lo dan tuhan yang tahu kebenarannya," lanjut Rea.


Rea tetap berada di ruang praktek hingga pukul setengah 5, hingga nada dering di ponselnya membuyarkan lamunannya dan segera Rea melihat siapa yang menelponnya, Rea tersenyum saya melihat nama kontak orang tersebut yaitu 'Mas Suami' bukan Rea yang menamainya, tapi suaminya sendiri yang mengubahnya. Rea baru ingat jika hari ini ia harus ke rumah Papa Aldi dan Ayah Argi. Rea pun melangkah menuju ruangannya untuk mengambil barangnya, karena tidak ada pasien lagi sehingga Rea sudah bisa pulang padahal biasanya jam segini Rea masih sibuk dengan pasien. Ya sudahlah Rea tidak mau terlalu memikirkannya biarkan saja semuanya terbukti dengan sendirinya lagipula Rea tahu kebenarannya.


Rea menghampiri Fafi yang tengah mengobrol dengan Laras, "Fi, saya udah tidak ada pasien lagi kan jadi saya akan langsung pulang," ucap Rea.


"Baik, dok," ucap Fafi.


Rea pun pergi meninggalkan Fafi dan Karas, sangat kentara wajah tidak bersahabat dari Laras. "Lo mending ganti dokter deh, masa sama dokter Rea sih nanti lo malah ketularan gatelnya lagi terus lo ikut-ikutan jadi j****g," ucap Laras.


"Iya sih, tapi dokter Rea baik banget loh gak tega aku," ucap Fafi.


"Tapi, lo mau jadi kayak dia ih kalau gue sih ogah," ucap Laras.


"Ish, lo mah ngeyel banget," ucap Laras.


Sejujurnya Rea masih dapat mendengar percakapan Laras dan Fafi, sejujurnya Rea merasa senang karena masih ada yang percaya padanya, Rea terus berjalan seolah-olah ia tidak mendengarkannya. Rea melangkahkan kakinya menuju ruangannya dan di sana sudah ada. Qilla, Nina dan beberapa dokter lainnya, Rea tidak memperdulikan tatapan mereka dan dengan santainya Rea mengambil barang-barangnya karena ia takut Alan menunggu lama di depan rumah sakit.


"Udah mau pulang dok?" tanya salah satu dokter.


"Iya," ucap Rea.


"Pulang kemana nih? ke hotel atau ke rumah atau ke rumah pacarnya?" tanya lagi.


"Yang jelas bukan ke rumah dokter kok, kalau begitu saya permisi," ucap Rea dan pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan sedih karena ia melihat Qilla yang masih bersikap acuh padanya.

__ADS_1


Selama perjalanan keluar dari ruang sakit banyak sekali yang menatapnya, Rea tidak masalah karena ditatap seperti itu lagipula sejak tadi pagi Rea selalu di tatap tidak suka seperti itu bukan.


"Wah, mau pulang nih si j****g," sindir dokter Shinta.


Rea hanya melirik sekilas lalu kembali berjalan meninggalkan dokter Shinta, "Dasar dokter gak tahu diri, lihat aja gue bakal aduin sikap kurang ajarnya sama atasan," ucap dokter Shinta.


Rea keluar dari rumah sakit dan melihat mobil Alan, dengan cepat Rea masuk ke dalam mobil tersebut rasanya ia tidak ingin lama-lama di rumah sakit, "Astaga, sayang jangan lari-lari, ingat kamu lagi hamil loh," ucap Alan.


"Hehehehe, lupa jiwa-jiwa atletnya keluar dengan sendirinya," ucap Rea.


"Gimana hari ini?" tanya Alan, yang sudah mengendarai mobilnya dan meninggalkan rumah sakit.


"Ya, gitu-gitu aja sih gak ada yang spesial," ucap Rea.


Rea tidak ingin Alan mengetahui masalahnya di rumah sakit, ia akan berusaha untuk meluruskan semuanya sendiri karena bagaimanapun Alan pasti punya banyak beban yang sedang ia pikirkan dan Rea tidak ingin menambah beban itu.


"Kamu sama Qilla gimana? udah selesai semuanya?" tanya Alan.


"Belum, tapi aku bakal usaha lagi kok," ucap Rea.


"Mau aku bantu jelasin semuanya ke Qilla?" tanya Alan.


"Nanti dulu deh, aku mau usaha sendiri dulu terus nanti kalau aku nyerah baru kamu bantuin aku ya," ucap Rea dan diangguki Alan.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2