
Disisi lain, Noah yang baru saja datang pun menatap ke sekeliling kantin dan pandangannya tertuju sang istri yang tengah makan dengan sahabatnya.
"Loh, bukannya itu Lea kok dia bisa ada di sini?" tanya Tian, yang berada di samping Noah.
"Tunggu! jangan bilang kalau Lea itu anggota tim buat liputan di sini," ucap Bondan.
"Hem, dia bakal liputan di sini," ucap Noah.
"Wah, enak dong lo bakal ketemu terus sama istri lo," ucap Tian.
"Gue di sini buat jalanin tugas bukan buat jagain istri," ucap Noah dan mengambil makanan lalu duduk di kursi yang tersedia di sana.
Kursi yang di duduki Noah cukup jauh dengan Lea bahkan hampir pojok, berbeda dengan Lea yang berada di tengah.
"Kenapa makan di sini?" tanya Tian.
"Terus kemana? ke lapangan?" tanya Noah.
"Ya, ke sanalah sama istri," ucap Tian.
"Sama aja, sama-sama tempat makan. Lagian di sini kosong kalau di sana harus jalan jauh," ucap Noah dan melanjutkan makannya.
"Aneh nih orang, kalau istri gue ada di sini udah gue Pepet istri gue dan berduaan sama dia," ucap Tian.
"Itu lo bukan gue, gue masih ada tanggung jawab di sini dan gue juga yakin istri gue di sini punya tanggung jawab lain," ucap Noah.
"Dah lah lo bakal kalah kalau debat sama Noah," ucap Bondan.
"Untung sahabat sendiri," ucap Tian.
Merek bertiga pun mulai memakan makanan yang mereka ambil tadi, untuk Prabu sendiri saya ini tengah fokus pada prajurit karena memang tadi ia sempat telat dalam memberitahukan para prajurit dan alhasil ia pun harus melatih mereka sampai sekarang.
"Besok tim dapur sudah menyiapkan makanan buat tim liputan?" tanya Noah, pada Tian.
"Udah deh kayaknya, mungkin makanan mereka nanti sama kayak kita," ucap Tian dan diangguki Noah.
"Jangan gunakan timun," ucap Noah.
"Kenapa?" tanya Tian.
"Ada anggota tim liputan yang gak bisa makan timun, jadi gunakan bahan lain," ucap Noah.
"Siapa tuh?" tanya Tian, dengan nada menggoda Noah.
Noah menanggapi godaan dari Tian dan justru kembali memakan makanannya, tapi untung saja di sana ada Bondan sehingga Tian tidak sendirian.
"Ya, buat ayang lah. Kan Noah ada ayang di sini, kalau lo kan gak ada ayang di sini," ucap Bondan.
__ADS_1
"Iya ya, ayang gue di rumah lagi jaga anak," ucap Tian, dengan mendramatisir.
"Kalau kalian mau ngobrol di sini silahkan, gue pergi dulu," ucap Noah dan pergi meninggalkan kedua orang yang menatap kepergian Noah.
"Cepet banget tuh orang," ucap Bondan.
"Ayo, kita cepet makannya," ucap Tian.
Memang hari ini mereka terbebas dari aturan makan seperti pada umumnya yang begitu banyak dan cukup tidak menyenangkan jika harus di lakukan, tapi ya bagaimana lagi.
"Letnan Noah," panggil seorang perempuan.
"Ada apa?" tanya Noah.
"Perkenalkan saya Marsya, saya ketua tim pertama untuk liputan," ucap Bu Marsya.
Ya, perempuan itu adalah Bu Marsya.
"Terus ada apa ya?" tanya Noah.
"Tidak apa-apa sih, saya cuma pengen kenal sama letnan Noah saja," ucap Bu Marsya dengan malu-malu.
"Saya tidak membuka biro jodoh kalau mau kenalan cari saja biro jodoh di ponsel, tolong anda bersikap profesional," ucap Noah dan pergi meninggalkan Bu Marsya yang termenung melihat kepergian Noah.
"Tadi maksudnya letnan Noah apa coba, gue dikata gue mau cari biro jodoh. Buat apa gue cari biro jodoh kalau jodoh gue dia," gumam Bu Marsya.
Bu Marsya pun membalikkan badannya dan melihat siapa orang tersebut, "Maksudnya?" tanya Bu Marsya.
"Letnan Noah sudah menikah, lebih baik cari yang lain," ucap Tian dan setelah itu pergi bersama Bondan.
"Hah, letnan Noah udah nikah, masa sih," gumam Bu Marsya.
"Lo gak bilang kasar kan sama cewek tadi?" tanya Tian, yang sudah berada di samping Noah.
"Gak," jawab Noah.
"Gak tuh anak ya kalau ngomong singkat, padat dan jelas," ucap Tian.
"Sabar, kita udah sama dia bukan satu atau dua tahun," ucap Bondan.
"Huh, untung gue sabar. Kalau Tama yang di sini gue yakin dia bakal marah-marah sama sikapnya si Noah," ucap Tian.
"Yang sabar cuma lo sama Andrew," ucap Bondan.
Ya, semua anggota tim sudah tau mengenai persahabatan antara Tian, Noah, Andrew dan Tama bahkan kadang-kadang Bondan dan anggota lainnya sering berkumpul bersama dengan Tama dan Andrew.
Karena hal itu, mereka sudah akrab seperti kenal sudah lama, bahkan mereka juga punya grup chat sendiri.
__ADS_1
"Sersan Carlos, bilang pada letnan Prabu untuk segera menyelesaikan latihannya karena hari ini masih weekend, suruh melanjutkannya besok," ucap Noah.
"Siap letnan," ucap Carlos.
Setelah itu, Noah memilih untuk kembali ke ruangan khusus untuk anggota inti dan itu termasuk Noah bukan. Di kegiatan kali ini Noah kembali dipercaya menjadi ketua pelaksana setelah ketua sebelum ia terkena sebuah masalah dan berakhir digantikannya dia.
Sebenarnya Noah tidak ingin menjadi ketua dalam kegiatan ini karena sudah dua tahun Noah menjadi ketua, tapi semua anggota sepakat jika Noah yang akan menjadi ketua pelaksana begitupun dengan jenderal yang secara langsung menghubungi Noah dan mengatakan jika ia mempercayakan semua kegiatan kali ini di tangannya.
Karena hal itu, mau tidak mau Noah pun menyetujuinya, walaupun itu bukan keinginan Noah, tapi ia tidak merasa terbebani menjadi ketua pelaksana karena semua anggotanya bekerjasama.
Tentu saja semua anggota bekerjasama, kalau tidak mereka akan kena amarah dari Noah. Mereka semua tau bagaimana tegasnya Noah dan bagaimana amarah Noah karena waktu pertama kali menjadi ketua dua tahun lalu, Noah juga sempat mengeluarkan amarahnya setelah kegiatan.
Noah menatap jendela yang cukup besar yang berada di ruangan tersebut, sehingga ia dapat melihat keluar dengan jelas.
Saat tengah melihat keluar tiba-tiba netranya melihat seorang perempuan yang sudah menjadi bagian dari hidupnya ya siapa lagi kalau bukan Lea.
Le tengah tersenyum bersama sahabatnya dan hal itu membuat Noah tanpa sadar juga ikut tersenyum walaupun samar, tapi tetap kelihatan. Untung saja di ruangan tersebut tidak ada siapa-siapa dan hanya ada dirinya sendiri karena Noah yakin jika anggotanya ada di sini, mereka kan menggoda Noah karena tersenyum sendiri tidak jelas.
'Cantik,' ucap Noah, dalam hati dan menatap istrinya yang tersenyum dan berjalan menuju pinggir lapangan tepatnya menuju pohon yang di sana terdapat kursi dibawahnya.
Saya tengah menatap Lea tiba-tiba saja Noah kepergok oleh Lea, ya Lea juga ternyata menatap Noah. Tapi, Noah tidak perlu takut karena kaca jendela tersebut tidak transparan sehingga Lea tidak dapat melihat jika Noah ada di dalam.
Tiba-tiba tatapan Noah berubah menjadi tidak suka pada objek di hadapannya lebih tepatnya pada seorang pria yang ia kenal. Pria tersebut mendekati Lea dan duduk di samping Lea mengajak sang istri mengobrol dan Noah tau jika istrinya itu risih dengan kedatangan pria tersebut.
"Ngapain si Jay di sana sih," gumam Noah.
"Gak usah cemburu kali," ucap Bondan.
Karena terlalu fokus pada sang istri, Noah tidak tau jika Bondan berada di sebelahnya dan mendengar apa yang diucapkannya Noah barusan.
"Dia istri gue dan si Jay deketin istri gue," ucap Noah.
"Iya, gue tau. Tapi, gue yakin Jay gak ada niatan buat jadi orang ketiga apalagi kalau tau lo itu suaminya Lea," ucap Bondan.
"Tapi, tetep aja," ucap Noah.
"Udah lebih baik kita ngurus buat tes besok," ucap Bondan.
Mau tidak mau pun Noah mengikuti Bondan untuk mengurus apa yang perlu dia urus, bagaimanapun Noah harus bersikap profesional dan tidak mengikut campurkan masalah pribadi ke dalam pekerjaannya.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1