
Lea sendiri cukup risih saat tiba-tiba seorang pria datang dan duduk di sampingnya, "Lea ya," ucap pria tersebut.
"Iya, siapa ya?" tanya Lea.
"Perkenalkan saya Jay, salah satu tentara di sini," ucap Jay dan mengulurkan tangannya, tapi sayang Lea hanya menganggukkan kepalanya dan tidak menyambut uluran tangan dari Jay.
"Saya tidak perlu mengenalkan diri saya kayaknya, soalnya tadi anda sudah memanggil nama saya bukan," ucap Lea.
"Eh, iya juga ya," ucap Jay.
"Lebih baik anda jangan godain sahabat saya deh," ucap Tyas, yang berada di samping Lea.
"Kenapa begitu?" tanya Jay.
"Ya, karena Lea ini sudah menikah dan takutnya nanti pawangnya marah iya gak, Le," ucap Tyas.
"Yup bener, suami saya itu galak banget orangnya," ucap Lea.
"Masa sih, tapi saya mah gak masalah, saya mah gak takut sama suaminya Lea karena saya udah ketemu sama orang yang paling galak yaitu letnan Noah. Jadi, kalau masalah suaminya Lea sih gak masalah deh kayaknya," ucap Jay.
"Wah, suaminya Lea malah setara galaknya sama letnan Noah malahan lebih galak suaminya Lea deh," ucap Tyas.
"Ah gak mungkin lah," ucap Jay.
"Iya kok, suami saya itu galak banget," ucap Lea.
"Gak mungkin, pokoknya mah galakkan letnan Noah," ucap Jay.
"Segalak apa suami kamu?" tanya seorang pria, yang berada di belakangnya mereka.
Mereka bertiga pun membalikkan badannya dan menatap pria yang berdiri dengan gagah di belakang mereka.
"Eh, letnan Noah," sapa Jay.
"Kamu tadi bilang saya galak," ucap Noah, pada Jay.
"Bukan begitu letnan," ucap Jay, yang terlihat jelas jika ia tengah gugup menghadapi Noah.
"Kembali ke asrama dan latihanmu akan ditambah jadi pagi sore dan malam hari," ucap Noah.
"Baik letnan," ucap Jay dan pergi.
"Apa tidak keterlaluan sampai menambah latihan dia?" tanya Lea, yang sejujurnya ia tidak tega dengan Jay.
"Apa kamu memikirkan dia?" tanya Noah.
"Tidak, hanya saja aku kasihan liat dia," ucap Lea.
"Itu hal wajar bagi tentara," ucap Noah dan duduk di samping Lea.
"Sudah makan?" tanya Noah.
"Sudah," jawab Lea.
"Hari ini kamu dan anggota lainnya diberi kebebasan untuk beristirahat karena besok kamu pasti akan sibuk dengan liputannya, tapi kenapa kamu keluar asrama dan justru duduk di sini?" tanya Noah.
__ADS_1
"Aku mau keliling aja sih soalnya pemandangannya bagus dekat sama pantai," ucap Lea.
"Tapi, meksipun begitu tetap saja kamu harus istirahat yang cukup, aku gak mau kamu kelelahan besok dan seterusnya," ucap Noah.
"Siap letnan Noah," ucap Lea.
"Di sini aku bertindak sebagai suami kamu bukan letnan, aku mengingatkanmu untuk kebaikanmu," ucap Noah.
"Iya iya mas suami," ucap Lea dan membelai rahang tegas Noah.
Tenggelamkan saja Noah, bagaimana bisa Lea bersikap seagresif ini pada dirinya. Kalau tidak ingat saat ini mereka di pinggir lapangan, Noah akan menerjang ke saat ini juga. Bagaimanapun, tindakan Lea tersebut berhasil memancing gairah Noah.
"Tyas, bawa ke ke kamar dan kunci di sana jangan biarkan dia keluar buat jalan-jalan," ucap Noah dan segera pergi dari sana.
Saat ini wajah Noah benar-benar sudah merah akibat tindakan Lea, anehnya Noah tidak bisa menghentikan panas serta merah di wajahnya dan karena itulah Noah memilih pergi dari sana sebelum Lea mengetahui semuanya.
'Gila lo No, istri lo berhasil buat lo kayak gini,' ucap Noah, dalam hati.
"Ayo pergi," ajak Tyas.
"Tapi, gue masih pengen di sini," ucap Lea.
"Lo gak tau apa tadi sang raja udah nyuruh gue buat bawa sang ratu ke kamar," ucap Tyas.
"Ish, lo mah," ucap Lea.
Mau tidak mau, Lea pun pergi ke kamar bersama Tyas.
.
"Yas, lo buka deh. Siapa sih pagi-pagi kayak orang kesurupan gitu," ucap Lea.
"Lo aja, kan yang deket," ucap Tyas.
"Kita sama-sama deket, jadi lo aja ya," ucap Lea.
"Gak mau, gue masih ngantuk. Dah lah biarin aja," ucap Tyas.
Namun, baru saja mereka kembali mengarungi alam mimpi tiba-tiba pintu kamar tersebut kembali di gedor dari luar, "Ish, siapa sih yang gedor-gedor pintu dari tadi," ucap Tyas, dengan kesal dan berdiri.
Tyas pun akhirnya membuka pintu kamar tersebut, "Kenapa sih dari tadi gedor-gedor gak jelas gini? mau minta sumbangan apa gimana?" tanya Tyas, yang masih belum membuka matanya dengan sempurna.
"Berani ya kamu!" sentak perempuan yang berada di hadapan Tyas dan membuat Tyas tersadar.
"Eh, Bu tentara," ucap Tyas, dengan tersenyum.
"Mana teman kamu yang satunya?" tanya perempuan tersebut yang bernama Disna.
"Teman saya lagi tidur Bu tentara," ucap Tyas.
"Bangun!" teriak Disna dan berhasil membangunkan Lea.
"Ada apa ya Bu?" tanya Lea, dengan suara serak khas bangun tidurnya.
"Kalian berdua terlambat bangun," ucap Disna.
__ADS_1
"Terlambat bangun? tapi ini masih jam setengah setengah 5 bukannya ini malah terlalu pagi Bu," ucap Lea.
"Kalian mulai hari ini akan di latih seperti apa yang kami para tentara lakukan," ucap Disna.
Ucapan Disna sontak membuat Lea dan tyas terkejut dan menatap tidak percaya Disna.
"Kalian cepat bersiap-siap selama 3 menit dan berlari menuju lapangan karena semua teman kalian sudah berada di sana," ucap Disna.
Lea dan Tyas pun langsung mempersiapkan diri dan setelah semuanya siap mereka berdua berlari menuju lapangan dan benar saja ternyata di sana bukan hanya ada anggota tim kreatif mereka, tapi juga beberapa tim kreatif stasiun televisi lain serta jangan lupakan para tentara, baik tentara yang mengikuti kegiatan atau yang menjadi tim panitia pelaksana.
"Lari!" teriak Noah, yang berada di depan.
Lea dan Tyas pun berlari hingga berada di samping Noah, "Kenapa kalian terlambat?" tanya Noah, dengan tegas.
Lea dan Tyas yang mendengar suara tegas Noah pun takut bahkan mereka berdua saat ini sudah menunduk karena terlalu takut.
"Kalau ada yang hanya itu di jawab," ucap Noah, yang melihat keterdiaman Lea dan Tyas.
"Maafkan kami letnan, kami tertidur," ucap Lea.
"Kalian tau, kalian telat 20 menit," ucap Noah.
"Maafkan kami letnan Noah," ucap Tyas.
"Kalian berdua mendapatkan hukuman berdiri di pinggir lapangan sampai latihan selesai," ucap Noah.
"Baik, letnan Noah," ucap Lea dan Tyas.
Setelah itu, Lea dan Tyas pun berdiri di pinggir lapangan dan melihat rekan-rekannya yang duduk dan mendengarkan apa yang dikatakan Noah.
"Mulai saat ini, kalian akan mendapatkan pelatihan, pelatihan ini bertujuan untuk mengajarkan kalian semua kedisplinan. Meskipun kalian seorang jurnalis, tapi kalian juga butuh pelatihan seperti ini untuk meningkatkan kemampuan kalian dalam menghadapi segala tantangan yang ada," ucap Noah.
"Kalau kalian keberatan dan tidak suka, kalian dipersilahkan untuk pergi saat ini dan kembali ke kota. Tapi, jika kalian ingin melaksanakan pelatihan tersebut, maka kalian akan tetap di sini dan menerima semua pelatihan yang di berikan tim saya," ucap Noah.
Beberapa saat kemudian, suasana di sana hanya keheningan, "Apa tidak ada yang mau pergi dari sini?" tanya Noah.
Semua orang hanya diam dan tidak menanggapi perkataan Noah, "Kalau saya bertanya di jawab!" tegas Noah.
"Tidak letnan," ucap semua orang.
"Kalau begitu saya anggap kalian semuanya menyetujui peraturan yang saya dan tim tentara saya buat. Untuk peraturan kalian dapat melihat nanti di kamar kalian masing-masing, ada pertanyaan?" tanya Noah.
"Maaf, letnan Noah saya ingin bertanya untuk peliputan kami bagaimana?" tanya Pak Anton.
"Untuk peliputan, kalian tetap meliput seperti biasa hanya saja ada aturan yang harus kalian ikuti. Kalian bisa berkoordinasi dengan pak Dirga dalam masalah ini," ucap Noah.
"Baik, letnan," ucap mereka.
"Kalau begitu kalian bisa bersiap untuk apel pagi dan untuk yang telat kalian juga bersiap," ucap Noah dan pergi dari lapangan.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.