
Hari ini, Lea sudah berada di kantor setelah tadi ia diantar oleh sang suami, "Cie pengantin baru," goda Tyas.
"Apa sih gak jelas, udah sana kerja," ucap Lea.
"Capek gak lo Le?" tanya Tyas.
"Capek? maksudnya?" tanya Lea.
"Berapa lama laki lo gempur lo?" tanya Tyas.
"Makin ngawur nih anak, udah sana pergi," ucap Lea dan mendorong Tyas agar menjauh dari mejanya.
"Laki lo mantap kan?" tanya Tyas, yang semakin gencar menggoda Lea.
"Pergi gak," ucap Lea.
"Ck, iya iya gue pergi, tapi nanti cerita ya gimana," ucap Tyas dan pergi dari meja kerja Lea.
"Orang gila emang," gumam Lea dan ia pun fokus pada laporannya.
Beberapa saat kemudian, seseorang tiba-tiba menarik kursi yang ada di meja kerja depan tepatnya di depan meja kerja Lea dan mendekat pada meja kerja Lea.
"Kenapa?" tanya Lea, dengan malas saat melihat siapa pelakunya.
"Kenapa kamu 3 hari gak masuk?" tanya Mark.
"Bukan urusan lo," ucap Lea.
"Jelas itu urusanku, aku takut kamu kenapa-napa," ucap Mark.
"Ish, lo bisa gak sih. Gak usah deketin gue lagi, kan gue udah pernah bilang kalau gue gak nyaman sama lo dan gue risih kalau lo deketin gue terus, kalau lo deketin gue terus bisa-bisa gosip yang gak-gak bakal nyebar lagi," ucap Lea.
"Biarin aja sih," ucap Mark.
"Enak aja biarin, gak ya. Gue gak bakal biarin, gue gak ada rasa sama lo. Lo itu cuma rekan kerja gue doang dan gak ada hubungan apapun, apalagi lo yang nyebarin gosip gak jelas waktu itu, lain kali jangan kayak gitu," ucap Lea.
"Kamu punya pasangan ya sampe kamu kayak gini, biasanya juga kamu diem aja?" tanya Mark.
"Ya, kalau gue udah pasangan kenapa? gak terima?" tanya Lea.
"Ya, gak terimalah aku, kan aku udah naksir kamu lama eh kamunya malah punya pasangan," ucap Mark.
"Kalaupun gue gak punya pasangan, gue juga ogah sama lo," ucap Lea dan berdiri.
"Kamu mau kemana?" tanya Mark.
"Pergi, enek gue ngelihat lo," ucap Lea dan pergi meninggalkan Mark.
"Lea tunggu!" teriak Mark dan mengikuti Lea.
"Ish, jangan ngikutin gue," ucap Lea.
Lea benar-benar merasa risih dengan Mark, padahal ia sudah menolaknya beberapa kali, tapi tetap saja Mark terus mendekatinya. Mark sebenarnya tampan bahkan banyak pegawai di kantor uang menyukai Mark, tapi Mark justru menyukai Lea yang jelas-jelas selalu menolaknya dan tidak pernah bersikap lembut padanya.
"Kamu mau kemana? ayo aku temani," tanya Mark.
__ADS_1
"Gak usah, gue bisa sendiri," ucap Lea dan meninggalkan Mark.
"Huh, ditolak lagi," ucap Mark.
Lea pun menuju cafetaria untuk makan tentunya karena sejak tadi pagi ia fokus pada laporannya hingga tidak menyadari jika ternyata sudah jam setengah 11, sebab itu ia memutuskan untuk pergi ke cafetaria.
"Eh, ada Lea," sapa salah satu perempuan yang tak asing bagi Lea.
"Kenapa mau cari gara-gara?" tanya Lea.
Ya, perempuan yang baru saja menyapanya adalah Tari, pegawai yang tidak menyukai Lea. Sejak pertama kali Lea bekerja di kantor tersebut, Tari selalu mencari gara-gara pada Lea apalagi karena Mark menyukai Lea, karena tadi juga menyukai Mark sehingga Tari sering mencari gara-gara pada Lea dan le tentunya tidak akan tinggal diam jika diganggu, Lea bukan tipe orang yang diam saja kecuali jika dengan sang suami entahlah tiba-tiba nyalinya ciut. Mungkin karena Lea yang menyukai Noah sejak dulu, jadi ia sedikit lembut jika bersama dengan Noah.
"Gue cuma nyapa doang padahal, masa gitu doang sensi sih," ucap Tari.
"Kalau mau cari gara-gara nanti aja deh, gue laper soalnya mau makan," ucap Lea dan memakan makanan yang udah ia pesan tadi dan menghiraukan Tari.
"Lo nolak Mark lagi?" tanya Tari.
"Hem, kalau lo mau ambil, ambil aja gih. Gue gak mau," ucap Lea.
"Kalau udah bisa gue ambil dari dulu," ucap Tari.
"Tumbenan lo mau ngomong sama gue," ucap Lea.
"Ya, gue kasihan aja sama lo yang akan sendiri gak punya temen lo," ucap Tari, yang terkesan mengejeknya.
"Temen nah banyak, tapi gue lebih nyaman sama sahabat atau sama keluarga gue," ucap Lea.
"Mana sahabat lo sih Tyas Tyas itu?" tanya Tari.
"Lo ngusir gue?" tanya Tari.
"Gue gak ngomong lo ya, tapi kalau lo mau juga silahkan," ucap Lea.
"Oke, gue pergi. Tapi, awas aja lo ya," ucap Tari dan pergi meninggalkan Lea.
Setelah makan, Lea pun kembali pada pekerjaannya dan saat sore harinya Lea tiba-tiba terkejut saya melihat ponselnya yang berdering, "Ini kenapa kak Noah nelpon?" tanya Lea, pada dirinya sendiri dan mengangkat sambungan telepon tersebut.
^^^Halo, kenapa kak?^^^
Kamu udah selesai kerjanya?
^^^Iya, ini Lea udah siap-siap mau pulang, kenapa emangnya kak?^^^
Saya sudah ada di luar kantor kamu
^^^Hah! kakak udah di luar, kalau gitu sebentar kak.^^^
Setelah itu Noah pun memutuskan sambungan telepon tersebut. Sedangkan, Lea segera mengambil barang-barangnya dan berjalan keluar kantor dengan tergesa-gesa takut Noah menunggunya terlalu lama.
Benar saja Lea dapat melihat mobil Noah yang terparkir di luar kantornya, Lea segera masuk ke dalam mobil tepat di sebelah Noah, "Maaf ya kak lama, ngomong-ngomong kakak lama gak nunggu Lea nya?" tanya Lea.
"Gak kok, kita baru aja sampe," ucap seorang perempuan dari belakang.
Lea pun terkejut dan menatap perempuan yang berada di kursi belakang mobil sang suami, "Anda siapa?" tanya Lea.
__ADS_1
"Kenalin aku Ira," ucap Ira.
'Ira, itu kan nama perempuan yang kemarin nelpon kak Noah. Kok sekarang mereka bisa bersama, apa jangan-jangan Ira ini pacarnya kak Noah yang sebenarnya,' ucap Lea, dalam hati.
"Hei, kok ngelamun," ucap Ira.
"Eh, iya maaf," ucap Lea.
"Oh iya, Lea manggilnya kakak gapapakan?" tanya Lea.
"Gapapa dong, lagian aku juga seumuran sama Noah kok," ucap Ira dan diangguki Lea.
Noah pun mengemudikan mobilnya, "Loh kak kita mau kemana kok gak belok kanan? bukannya kalau ke apartemen itu belok kanan ya?" tanya Lea.
"Ternyata kamu orangnya cerewet ya," ucap Ira.
"Eh, iya kak," ucap Lea.
"Kita mau ke rumah Daddy," ucap Noah dan diangguki Lea.
Beberapa saat kemudian, mereka bertiga lun sampai di rumah Daddy Albert dan mommy Emma, "Aduh, sayangnya mommy udah datang," ucap mommy Emma dan memeluk Lea.
"Iya mom," ucap Lea.
"Eh, ada Ira juga ayo masuk sayang," ucap mommy Emma.
"Kamu mau makan apa biar mommy ambilin?" tanya mommy Emma.
"Gak usah mom, nanti Lea ambil sendiri aja," ucap Lea.
"Yaudah kalau gitu mommy lanjut siapin makan ya," ucap mommy Emma.
"Mau Lea bantuin mom?" tanya Lea.
"Gak usah sayang, tadi ada Ira kok yang bantuin mommy," ucap mommy Emma dan Lea pun mengangguk saja.
Padahal perasaannya sudah tidak tenang karena keluarga suaminya itu begitu akrab dengan Ira, Lea menatap Noah yang masih mengobrol dengan Daddy Albert.
"Kenapa?" tanya Noah.
"Gak kok kak," ucap Lea.
Lea ingin sekali bertanya, tapi selalu saja nyalinya ciut jika bersama sang suami, Lea takut Noah marah karena bertanya hal-hal pribadi.
"Mungkin istri kamu capek, kamu aja istirahat dulu. Terus nanti kalau semuanya siap bakal di panggil kok," ucap Daddy.
"Yaudah, kalua gitu Noah sama Lea ke kamar dulu dad," ucap Alan dan diangguki Daddy Albert.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1