
"Kayaknya kamu salah lihat deh, masa perempuan kayak Viona b aja sih," ucap Rea.
"Kamu tahu kenapa dia b aja bagiku?" tanya Alan.
"Gak tahu, karena apa emangnya?" tanya Rea.
"Karena aku udah punya perempuan yang cantiknya luar biasa bahkan wanita tercantik di dunia pun kalah, bahkan asal kamu tahu bidadari surga kalau melihat perempuan itu pasti akan tersenyum lalu pergi untuk menyampaikan pada seluruh penduduk muka bumi jika ada perempuan yang sangat cantik, para bidadari menyampaikan hal itu karena para bidadari takjub melihat kecantikan perempuan itu," ucap Alan.
Padahal Alan tidak menyebutkan namanya sama sekali, tapi Rea sudah merasakan panas di pipinya bahkan Rea sendiri menahan agar tidak senyum, "Kamu tahu siapa perempuan itu?" tanya Alan.
"Gak tahu, siapa emangnya?" tanya Rea, dengan menggelengkan kepalanya.
"Perempuan itu adalah Anindira Maheswari," ucap Alan.
Rea yang mendengar hal itu bingung mau merespon apa, mau marah, kecewa, sedih atau bagaimana karena benar juga anak laki-laki memang harus memuliakan ibunya bukan, jadi Rea untuk kali ini tidak mau protes.
"Kenapa diem aja?" tanya Alan.
"Gak kenapa-napa kok," ucap Rea dan berusaha untuk tersenyum meskipun saat ini hatinya sedang tidak baik karena jawaban Alan tadi padahal seharusnya Rea tidak perlu berlebihan seperti ini bukan.
"Jangan cemberut ya karena kecantikan Anindira Maheswari dan Edrea Aleta Bratadikara itu sama yang membedakan hanya umur saja, bagiku kalian berdua adalah perempuan tercantik," ucap Alan.
Setelah mendengar hal itu, Rea merasa senang. Aneh sekali itulah Rea, akhir-akhir ini Rea merasa sering mudah luluh karena ucapan Alan padahal sebelumnya Rea bodoh amat dengan ucapan Alan.
"Terus kalau Dea gimana?" tanya Rea.
"Ya, Dea Clarissa Dhananjaya. Jadi itulah tiga perempuan yang tercantik di dunia dan membuat para bidadari iri," ucap Alan.
"Jangan gombal terus, cepet masuk udah di tungguin Bunda di dalam buat makan malam," ucap kak Ray, yang berada tepat di belakang Alan dan Rea.
Alan ingin sekali mengumpat pada kakak iparnya itu karena sudah mengganggunya, "Kak Ray ganggu aja," ucap Alan.
"Nanti kalau mau gombalin Rea di kamar aja sekalian buat ponakan, cepet ke meja makan sebelum nasinya di habisin Gia," ucap kak Ray, lalu pergi meninggalkan Alan dan Rea.
"Lagi-lagi ada yang ganggu dan itu soal makan," ucap Alan, sontak saja Rea tertawa mendengarnya.
"Udah ayo makan bener kata kak Ray kalau nanti nasinya habis gara-gara Gia," ucap Rea dan masuk ke dalam rumah. Sedangkan, Alan sendiri hanya mampu mendengus kesal saja.
Rea saat ini sudah berada di meja makan bersama dengan Alan tentunya dan juga seluruh keluarganya, setelah beberapa saat kemudian mereka selesai makan dan saling mengobrol di ruang tamu karena jam masih pukul setengah 8 sehingga belum waktunya bagi orang-orang tidur.
"Oh iya, besok kan acara nikahannya anaknya Bu Vina, jadi kita sekeluarga ke sana ya soalnya kita di undang sama Bu Vina," ucap Bunda Nara.
"Males ah Rea," ucap Rea.
__ADS_1
"Kenapa gitu?" tanya Bunda Nara.
"Rea masih kesel sama Bu Vina yang sering banget nyinyirin Rea apalagi kalau Ra kerjanya pulang malem," ucap Rea.
"Gak boleh gitu, namanya kan Bu Vina gak tahu soal pekerjaan kamu," ucap Ayah Argi.
"Yaudah deh, Rea terserah mas Alan aja," ucap Rea.
"Cie cie yang udah manggil mas," goda Gia.
"Diem gak usah ikut campur jomblo," ucap Rea.
"Iya deh yang udah nikah, Gia mah sama Kaif aja yang jomblo," ucap Gia.
"Padahal Kaif diem loh," ucap kak Inez.
"Pokoknya kamu harus datang sama Alan, lagian kan kamu udah nikah jadi Bu Vina pasti gak bakal bilang apa-apa kok kalaupun Bu Vina bilang yang gak enak sama kamu nanti kamu bilang sama Bunda biar Bunda yang urus itu," ucap Bunda Nara.
"Rea terserah mas Alan aja," ucap Rea.
"Gimana mas Alan? kata mbak Rea terserah sama mas Alan?" tanya Gia, yang tentunya dengan nada menggoda Rea.
Padahal baru saja tadi Rea dan Gia berdamai, tapi Gia kembali berulah dan membuat perdamaian tersebut hancur, "Diem deh kamu gak usah godain kakak terus," ucap Rea dan Gia hanya tertawa.
"Kalau Alan sih gak masalah Bun," ucap Alan.
"Kalian hari ini nginep di sini kan?" tanya Ayah Argi.
"Iya Yah, kita hari ini nginep di sini kok soalnya kan kemarin udah di rumah Papa, jadi hari ini rumah Ayah," ucap Alan.
"Kok aku gak tahu," bisik Rea.
"Aku emang gak ngasih tahu kamu, tapi aku tahu kamu pengen tidur di sini kan," ucap Alan dan diangguki Rea.
"Kalau gitu nanti malam jangan keras-keras ya," ucap kak Ray.
"Keras-keras maksudnya?" tanya Rea.
"Ya, kalau mau malam pertama takutnya nanti Rea teriak terus Kaif bangun lagi," ucap kak Ray dan tertawa.
Rea benar-benar merasa jengkel dengan kakaknya itu, Rea langsung melempar bantal sofa ke wajah kak Ray dan berhasil mengenai wajah kak Ray yang menyebalkan bagi Rea. Kak Ray mengehentikan tawanya dan menatap Rea lalu kembali tertawa, namun hal itu tak lama karena Kaif tiba-tiba menangis di pangkuan kak inez.
"Kan kamu sih mas jangan ketawa kenceng-kenceng ini anaknya tadi mau tidur loh padahal," ucap kak Inez dan mulai menenangkan Kaif, tapi Kaif tidak berhenti menangis.
__ADS_1
"Hehehehe, maaf sayang ini gara-gara Rea tuh," ucap kak Ray dan Rea hanya menjulurkan lidahnya.
"Hayoloh kak Ray, Kaif nangis tuh. Udah kak nanti jangan bolehin kak Ray tidur di kamar suruh aja kak Ray tidur di luar kamar," ucap Gia.
"Jangan dong, nanti kakak gak bisa peluk istri kakak ini," ucap kak Ray, dengan wajah memelasnya.
"Alah, kak Ray mah lebay kan masih ada guling. Nanti gua pinjamin guling deh," ucap Gia.
"Bukan masalah itunya Gi, kamu sih gak tahu gimana rasanya tidur bisa meluk istri itu enak banget kamu tanya aja sama Ayah atau sama kakak ipar kamu," ucap kak Ray.
"Eh, kenapa bawa-bawa Ayah segala," ucap Ayah Argi.
"Kak Alan emang enak ya tidur sambil meluk istri?" tanya Gia.
"Em, gimana ya. Ya bisa di bilang enak sih," ucap Alan.
"Masa sih, kok Gia pengen ya," ucap Gia.
"Jangan, kamu nanti setelah sukses. Sekarang masih kecil Bunda gak mau kamu rusak," ucap Bunda Nara.
"Iya, Bunda. Gia tahu kok," ucap Gia.
"Bagus," ucap Bunda Nara.
Mereka terus membicarakan beberapa hal mulai dari kerjaan hingga nasihat dalam berumahtangga bagi Rea dan untuk Gia sendiri dia sudah masuk ke dalam kamar karena besok dia ada ulangan dan Kaif sudah tertidur di gendongan kak Ray setelah kak Ray menenangkannya tadi.
"Besok kalian gak perlu khawatir Bunda udah bikin baju seragam kok buat seluruh keluarga," ucap Bunda Nara.
"Kapan Bunda bikinnya?" tanya Rea.
"Dulu sih, rencananya baju seragam itu mau bunda gunain pas foto keluarga gitu, tapi karena Alan yang tiba-tiba ada tugas jadi gagal deh, makanya karena besok ada acara jadi kita gunain bajunya besok aja," ucap Bunda Nara.
"Bunda tahu ukuran bajunya suami Rea?" tanya Rea.
"Ya, tahu dong kan dulu Bunda sempat ngukur baju Alan buat bikin baju seragam," ucap Bunda Nara dan diangguki Rea.
"Emang gak bau gitu Bun?" tanya Rea.
"Kamu tenang aja gak bakal bau kok, orang udah bunda cuci beberapa hari yang lalu, lagian bunda juga pake pewangi yang tahan lama," ucap Bunda Nara.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.