Tentara Tampanku

Tentara Tampanku
Saya Tidak Bercanda


__ADS_3

Disisi lain Alan dan Nina sudah sampai di depan sebuah ruangan yang pintunya sedikit terbuka dan di dalam juga sepertinya ada beberapa orang karena baik Alan ataupun Nina dapat mendengar apa yang mereka katakan. Alan pun bersiap untuk masuk ke dalam ruangan tersebut, tapi ucapan perempuan dari dalam ruangan membuatnya berhenti dan menyimak apa yang sedang mereka bicarakan.


"Tadi dokter Shinta beneran pukul dokter Rea?" tanya seorang perempuan.


"Iya lah gue itu gak suka sama dokter Rea," ucap dokter Shinta.


"Kenapa? bukannya dokter Rea itu orangnya ramah ya?" tanyanya.


"Ya, gak suka aja lagian kenapa orang kayak dia di pertahanin di rumah sakit ini sih udah tahu dia cewek gatel suka main sama om-om, lihat aja gue bakal balas dendam dan buat dokter Rea di keluarin dari rumah sakit," ucap dokter Shinta.


"Tapi, emang anak yang di kandung dokter Shinta itu anak haram ya?" tanyanya.


"Iya lah, itu anak haram gak punya bapak," ucap dokter Shinta.


Alan benar-benar marah saat dokter Shinta mengatakan hal itu, dengan kasar Alan membuka pintu tersebut dan membuat suara yang cukup keras karena pintu tersebut bertubrukan dengan dinding. Tindakan Alan juga membuat semua orang yang ada di sana terkejut dan menatap Alan dengan tatapan kaget iya kagum juga iya.


"Kapten Alan? kenapa kapten Alan ada di sini? kapten Alan ingin menemui saya ya? kalau begitu kita bicara di luar saja," tanya Fafi dan menghampiri Alan.


Alan tidak merespon perkataan Fafi bahkan Alan tidak melirik Fafi sama sekali, ia memindai satu persatu wajah orang-orang yang berani menghina istri dan calon anaknya. Alan melirik ke arah Nina seolah meminta jawaban dimana dokter Shinta dan untung saja Nina paham, Nina pun memberitahukannya kepada Alan.


"Itu kapten Alan yang pake baju warna hijau," bisik Nina dan diangguki Alan.


Alan pun menghampiri dokter Shinta, ia berhenti tepat di hadapan dokter Shinta, "Jadi anda yang sudah melakukan tindakan kekerasan terhadap dokter Rea," ucap Alan.


"Ganteng banget," gumam dokter Shinta dan tentunya dapat di dengar oleh Alan bahkan semua orang yang ada di sana.


"Kapten Alan," panggil Fafi.


"DIAM!" bentak Alan.

__ADS_1


Semua orang yang ada di sana terkejut bahkan mulai takut karena sorot mata tajam Alan bahkan Fafi pun sedikit menjauh karena ia takut, tapi beda dengan dokter Shinta ia justru menatap Alan dengan kagum, "Suaranya seksi banget," ucap dokter Shinta dan berusaha menyentuh wajah Alan.


Dengan cepat Alan menepis tangan dokter Shinta dengan kasar, "Berani sekali anda melukai dokter Rea, saya sendiri sayang menjaga agar dokter Rea tidak terluka," ucap dokter Alan.


Dokter Shinta melihat ke arah Alan, "Dokter Rea lagi, malas sekali gue denger nama dia. Lebih baik kita kenalan aja aku Shinta salah satu dokter di sini," ucap dokter Shinta, yang kembali menatap Alan dengan tatapan kagum.


"Bahkan anda tidak pantas untuk berkenalan dengan saya," ucap Alan.


Dokter Shinta diam dan mengarahkan tangannya untuk menyentuh lengan akan. Namun, lagi-lagi Alan berhasil menepis, "Jangan kurang ajar saya di sini tidak main-main karena tindakan anda yang sudah keterlaluan. Saya akan laporkan anda ke pihak berwajib," ucap Alan.


Dokter Shinta yang mendengarnya pun tersadar, "Ke-kenapa aku harus di laporkan? aku tidak salah apapun," tanya dokter Shinta.


"Saya harap anda hadir di persidangan," ucap Alan dan keluar dari ruangan tersebut.


Alan berjalan dan di belakangnya diikuti Nina, dokter Shinta yang melihatnya pun lantas mengikuti Alan yang saya ini sudah sampai di lobby rumah sakit, "Tolong jangan laporkan aku ke pihak berwajib," ucap dokter Shinta.


"Oke, tapi anda harus meminta maaf ke dokter Rea dan bersimpuh di depannya," ucap Alan.


Dokter Shinta berhasil membangkitkan marah Alan, banyak penghuni rumah sakit yang berkerumun melihat pertengkaran antara Alan dan dokter Shinta, "Apa anda bilang cewek gatel, bukankah anda sedang membicarakan diri anda sendiri dan atas dasar apa anda mengatakan jika dokter Rea adalah cewek gatel?" tanya Alan.


"Ka-kalau kami tidak percaya kamu bisa periksa sendiri karena saat ini si Rea itu lagi hamil, mungkin dia sendiri gak tahu siapa ayah dari anaknya karena terlalu sering bermain dengan banyak pria," ucap dokter Shinta. Dokter Shinta sebenarnya takut, tapi ia tetap berusaha kuat untuk menarik perhatian dari Alan.


Alan yang mendengarnya pun semakin emosi dan menghempaskan tubuh dokter Shinta dengan keras hingga dokter Shinta terjatuh dan mengenai kaki orang-orang yang tengah berkerumun tersebut, Alan menatap tajam dokter Shinta dan mendekat yang telah berani memegang tangannya.


"DOKTER REA ITU ISTRI SAYA DAN ANAK YANG DIKANDUNG DOKTER REA ADALAH DARAH ANAK SAYA!" teriak Alan.


Semua orang yang ada di sana terkejut mendengar pernyataan dari Alan, mereka tidak ada yang tahu mengenai status Rea yang sudah menikah, "Hah, kamu pasti bohong kan. Oh aku tahu kamu pasti lagi bercanda, hahaha lucu kamu makin suka deh aku sama kamu," ucap dokter Shinta.


"Dokter Rea tidak punya pasangan," ucap Fafi.

__ADS_1


"Anda tidak tahu apa-apa, jadi jangan sok tahu siap istri saya," ucap Alan.


"Alah, pasti anda ke sini cuma untuk membela dokter Rea kan?" tanya Laras.


"Ya, jelas saya di sini untuk membela istri saya," ucap Alan.


"Kamu jangan bercanda, beneran gak lucu loh," ucap dokter Shinta.


"Saya tidak bercanda dan anak yang tengah di kandung dokter Rea adalah anak saya. Saya menikah dengan dokter Rea dan melakukan hubungan layaknya suami istri dengan dokter Rea dan alhasil dokter Rea hamil, saya tidak terima karena anda menghina istri dan calon anak saya. Saya akan tetap melaporkan anda," ucap Alan.


"Jangan!" teriak seorang perempuan, yan tak lain adalah dokter Gabby.


"Lebih baik kita laporkan ke komite kedisiplinan terlebih dahulu baru setelah itu terserah kapten Alan mau melaporkan dokter Shinta," ucap dokter Gabby.


"Tidak bisa dokter Gabby, keputusan saya sudah bulat. Saya tidak terima karena istri dan calon anak saya di hina dengan orang yang lebih hina dari kotoran hewan," ucap Alan.


"Anda seorang tentara apa anda pantas mengatakan hal itu," ucap salah satu kerumunan tersebut.


"Saya di sini bukan sebagai tentara, tapi saya sebagai suami dari seorang perempuan yang dihina bahkan perempuan ini melukai istri saya hingga harus di rawat dan untung saja calon anak saya kuat, kalau sampai terjadi sesuatu dengan istri dan anak saya. Saya bisa melukai anda bahkan mengirim anda ke neraka," ucap Alan dan untuk kalimat terakhirnya ia sengaja membisikkannya ke dokter harinya alhasil hanya Alan dan dokter Shinta yang tahu.


"Tapi, istri dan calon anak anda baik-baik saja bukan," ucapnya.


"Tapi, apa anda yakin mental istri saya baik-baik saja. Anda dokter bukan harusnya nada yang lebih tahu," ucap Alan dan berhasil membuat orang tersebut diam.


"Dasar dokter tidak tahu diri, ah iya kalau anda mau menarik perhatian para pria lebih baik anda ke club malam dan bukan di rumah sakit atau kalau anda mau, saya bisa daftarkan anda ke tempat bilik cinta para tentara, anda pasti puas dengan pelayanan dari anggota saya," ucap Alan dan pergi dari kerumunan tersebut.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2